Chapter 4

1139 Words
Gosip tentang Varo yang kembali memutuskan hubungannya dengan kekasihnya kembali menjadi topik hangat setelah beberapa bulan ini gosip tentangnya mereda. Namun, lelaki yang mendapatkan gosip begitu, ia nampak biasa saja. Bahkan saat para karyawannya menggosipkannya, ia tidak pernah mengambil tindakan. Karena, menurut Varo, itu adalah hak semua orang yang bisa menilai orang lain. Sore ini, Varo dan kedua sahabatnya kembali mengunjungi Stanna kafe and resto. Ketiga sekawan itu langsung berjalan ke lantai 3. Nampaknya mereka sudah jatuh cinta dengan lantai 3 yang dibuat Steffani sebagai tempat tongkrongan anak muda ini. “Nampaknya mereka bukan orang sembarangan.” “Apa mungkin kalau mereka adalah teman baik owner tempat ini?” “Gue rasa, iya. Lihat saja, mereka sama berwibawanya dengan Kak Fani.” Ucapan dari beberapa orang itu sampai ke telinga Varo. Namun Varo hanya tersenyum. Pujian seperti itu memang sering keluar masuk di telinganya. “Lihat, Kak Fani mendatangi mereka.” “Kak Fani cantik banget hari ini.” “Pasti bajunya mahal.” “Warnanya gue sukaaa.” “Hai, kalian. Bagaimana tempat barunya?” tanya Fani ke sekumpulan remaja yang sudah memujinya habis-habisan tadi. “Bagus banget, Kak. Enggak nyesal ke sini terus,” sahut salah satunya. “Syukur deh. Selamat menikmati, ya,” ucap Fani. Fani lantas menghampiri Varo, Edwin dan Gara. Tidak hanya Fani, ada Joanna yang juga ikut bersamanya. Para remaja itu terus menatap ke arah meja yang di sekelilingnya ada Fani, Joanna, Varo, Edwin dan Gara. “Perkenalkan, dia Joanna, teman gue,” ucap Fani seraya tersenyum dengan begitu manis. “Siapapun antar gua ke rumah sakit sekarang. Gua rasa kalau gula darah gua tinggi banget ini,” ucap Gara. Plak! Satu tamparan keras mendarat di dahi Gara yang pelakunya tidak lain adalah Varo. “Sabar, orang ganteng enggak boleh emosi,” sungut Gara. “So, kita semua berteman, ‘kan?” tanya Joanna. “Jelas dong. Enggak perlu dipertanyakan lagi,” sahut Edwin. Joanna nampak tersenyum seraya menatap Edwin yang menjawab pertanyaannya tadi. “Jangan sampai ada yang duluan pacaran sebelum Varo,” ucap Gara. “Bukannya Varo punya pacar, ya?” tanya Joanna. “Baru putus sehari yang lalu,” sahut Edwin. Joanna dan Fani hanya diam, mereka enggan untuk menyakan lebih dalam karena mereka pun belum kenal ketiga lelaki itu dengan baik. Salah seorang karyawan Fani datang dengan beberapa gelas kopi di atas nampak. Tidak lupa ada beberapa cemilan kecil di sana. Semua itu Fani siapkan untuk Varo dan teman-temannya yang lain. “Pantesan elo enggak ada tanya mau minum apa. Ternyata sudah disiapkan,” ucap Varo. “Tapi, elo enggak masukin racun, ‘kan?” tanya Gara. “Kenapa tanya begitu?” timpal Joanna. “Karena kan kami bertiga sering ngerusuh ke sini. Takutnya Fani jadi keganggu terus berencana ... ya gitu ... “ sahut Gara. “Enggak mungkin lah Fani kasih racun ke kalian bertiga,” sungut Joanna. “Sudah, Na. Jangan emosian gitu lah. Mereka juga cuman bercanda kali,” ucap Fani menengahi. “Tapi gue enggak suka dengan cara mereka bercanda. Kayak nuduh orang sembarangan,” sahut Joanna. “Tanggung jawab, Gar,” ucap Varo kepada Gara. “Lo pikir gue hamil apa? Butuh tanggung jawab segala,” timpal Joanna. “Astaga! Teman gue begini banget kelakuannya. Kadang waras, kadang enggak,” gumam Fani. “Lo ngomong apa sih?” tanya Joanna seraya menatap Fani yang duduk di sampingnya. “Enggak, Na. Gue enggak ngomong apa-apa,” jawab Fani seraya terkekeh. ... Setelah berkumpul dengan Fani sore itu, Varo semakin percaya diri bahwa ia akan bisa dengan mudahnya mendapatkan hati Fani. Tersenyum, menatap gelas berisi air putih, itu yang dilakukan Varo malam ini di apartemennya. Lelaki itu nampaknya sudah dimabuk cinta oleh paras ayu yang dimiliki Fani. Ting! Nong! Ting! Nong! Ting! Nong! Bel pintu apartemen Varo dibunyikan oleh seseorang. Hal itu membuat Varo tersadar dari lamunannya. Lelaki itu lantas langsung berjalan menuju pintu utama. “Kenapa, Mas?” tanya Varo kepada salah seorang petugas apartemen yang sudah berdiri di depan pintu. “Ini ada paket, Pak,” sahut petugas apartemen itu. Varo berterima kasih seraya mengambil alih paket yang di atasnya tertera namanya itu. Setelah petugas apartemen itu pergi, Varo pun kembali masuk ke dalam. Lelaki itu nampak penasaran dengan isi dari kotak berukuran sedang yang dikirim seseorang untuknya itu. “Masa karena gua sekarang temenan sama Fani, terus gua jadi punya fans sih?” gumam Varo. Sebuah jaket jeans berwarna biru muda menjadi isi dari kotak itu. Di dalamnya ada sebuah kertas kecil yang terselip. Varo meraihnya dan membaca apa yang tertulis di atas kertas itu. “Hai, Kak Varo. Ini dari kami. Yang duduk di dekat meja Kak Varo dan Kak Fani sore tadi. Maaf kalau isinya tidak begitu mewah. Kami harap, Kak Varo menyukainya.” Benar, itu adalah ulah sekumpulan remaja yang beberapa jam lalu ia temui di Stanna kafe and resto. “Kapan mereka belinya coba? Jangan-jangan, setelah dari kafe, mereka langsung ke mall buat beli ini,” Varo nampak menebak. Sekumpulan remaja tanggung itu membuat Varo terkagum. Hanya dengan namanya, mereka bisa tahu di mana Varo tinggal. “Baiklah, akan gua tunjukkan bahwa orang-orang di sekitar elo pun nampak menyukai jika kita berdua memiliki hubungan yang lebih dari sekadar teman, Fan,” ucap Varo seraya menatap jaket pemberian orang-orang yang sepertinya adalah fans Fani. Meski Fani bukanlah seorang artis maupun semacamnya, Fani nampak begitu disukai oleh orang-orang di sekitarnya. Apalagi dengan orang-orang yang sering datang ke tempat usahanya. Fani yang memang notabennya adalah gadis yang ramah dengan semua orang, tentu saja ia akan bersikap sangat baik. Apalagi ia tidak akan pernah ingin melihat costumer kafe dan restorannya menjadi jera untuk berkunjung kembali jika sikapnya tidak baik. ... “Kak, kemarin kami kirimin Kak Varo jaket,” ucap remaja yang tempo hari begitu senang ketika melihat Fani dan Varo berkumpul di meja yang sama. “Lalu?” tanya Fani. “Apa Kak Varo ada mengatakannya ke Kak Fani?” tanyanya . Fani menggelengkan kepalanya. Sebab, Varo memang tidak ada mengatakan apapun tentang jaket pemberian beberapa remaja itu. Saat gadis-gadis itu hendak menanyai Fani lagi, seorang lelaki yang baru saja membuka pintu masuk dan melenggang mendekati Fani -membuat mereka terkagum. Parasnya semakin menawan kala ia mengenakan jaket jeans itu. Dia tidak lain adalah Varo. “Kak Varooo!!!” pekik gadis-gadis itu. Fani yang melihatnya hanya bisa menahan tawanya. Entah sekelompok gadis-gadis itu yang terlalu berlebihan menanggapi Varo atau memang kenyataannnya jika paras Varo layak untuk masuk layar televisi. “Selamat, elo di sini sudah jadi seleb,” ucap Fani seraya terkekeh. “Gara-gara elo nih, sekarang gua jadi punya fans,” bisik Varo yang sudah berdiri di samping Fani. “Untung aja di sini masih sepi,” bisik Fani kepada Varo. “Kalau rame, pasti orang-orang mengira kalau elo beneran seleb. Terus mereka akan random minta foto bareng.” To Be Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD