Chapter 5

1141 Words
Varo memuji sekelompok gadis-gadis yang telah memberikannya sebuah jaket kemarin. Selayaknya Varo yang memang mudah bergaul, ia nampak dengan santainya berbincang dengan para gadis itu. “Kalian pesan sana. Biar gua yang teraktir hari ini,” ucap Varo. “Beneran, Kak?” “Iyaa. Sana,” sahut Varo. Sekelompok gadis itu pun langsung berjalan menuju lantai 3, tempat yang sudah mereka hak pateni sebagai tempat yang wajib mereka tempati jika mereka berkunjung di sana. “Akhirnya, mereka menjauh juga,” gumam Varo dengan suaranya yang terdengar begitu lega. “Tuan Varo, mau minum apa?” tanya Fani dengan setengah meledek lelaki itu. Varo lantas menyatukan gigi atas dan gigi bawahnya untuk menunjukkan kepada Fani bahwa ia sedang kesal dengan gadis di hadapannya sekarang. Fani yang melihatnya, ia hanya tertawa karena tingkah Varo yang nampak lucu hari ini. “Fani? Varo?” Pekikan itu keluar dari mulut seorang gadis yang baru saja memasuki Stanna kafe and resto. Varo dan Fani pun mengarahkan pandangan mereka ke arah sumber suara. Keduanya mendapati Leanna yang sedang berjalan mendekati mereka. “Leanna?” ucap Fani yang tak kalah terkejut ketika ia mendapati teman kuliahnya itu berada di sana. Leanna langsung berjalan menghampiri Fani dan Varo yang tiba-tiba saja memasang raut wajah yang serius. Padahal, sebelumnya mereka memasang raut wajah yang sangat riang. “Kalian ... kenapa nampak begitu akrab?” tanya Leanna yang sudah berdiri di hadapan teman kampusnya dulu dan juga mantan kekasihnya itu. “Kamu bisa lihat sendiri, Na. Kantorku dan tempat ini letaknya besebrangan. Jadi wajar saja jika aku dan Fani akrab,” jawab Varo. “Dia siapanya elo?” bisik Fani kepada Varo. “Mantan,” jawab Varo dengan berbisik juga. Leanna nampak menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Matanya nampak menatap Varo dan Fani secara bergantian. “Ayok duduk supaya ngobrolnya enggak tegang begini,” ucap Fani yang berusaha mencairkan suasana. Fani langsung berjalan menggiring Varo dan Leanna ke sebuah table yang masih kosong. “Varo, aku tahu aku salah kemarin. Aku sama dia juga sudah putus beberapa menit setelah kamu pergi. Sekarang, bisa balikan sama aku, ‘kan? Aku masih sayang sama kamu. Pun juga, aku sama dia hanya main-main.” “Main-main? Semudah itu kamu bilang?” “Aku tahu aku salah. Makanya aku ingin memperbaiki kesalahanku, Varo.” “Kalau aku mau balikan sama kamu, sama saja dengan aku membaca buku yang sama sebanyak 2 kali. Ending-nya sudah akan tertebak, Na.” Fani hanya diam di antara kedua orang yang sedang mencoba mediasi untuk hubungan mereka ini. Hubungan yang Fani sendiri pun enggak tahu apa sebabnya mereka putus. Yang Fani tangkap dari berdebatan mereka adalah, Leanna menduakan Varo dan Varo tahu itu. “Sekali aja, Varo. Aku mohon.” “Kamu tahu aku, ‘kan? Bahkan, perempuan yang enggak pernah punya salah pun pernah aku putuskan dan enggak pernah aku ajak balikan lagi. Apalagi kamu yang punya kesalahan seperti kemarin. Bahkan untuk melihat wajah kamu saja, rasanya aku muak, Na.” Leanna nampak kehabisan kata-kata, gadis itu hanya bisa menundukkan kepalanya sekarang. Ia benar-benar telah menyesali perbuatannya kemarin. “Kalian sudah pacaran berapa lama?” tanya Fani. “Jangan mencoba untuk menyatukan kami, Fan. Itu sudah enggak akan mungkin. Karena gua enggak akan pernah memberi ruang lagi untuk orang seperti dia,” sahut Varo kemudian ia pergi dari hadapan kedua gadis ini. Fani beralih tempat duduk, ia mengambil kursi yang ada di samping Leanna. Melihat Fani yang ada di sampingnya, Leanna pun menyandarkan kepalanya ke bahu Fani dan ia menangis. “Gue benar-benar menyesal, Fan. Gue tahu kalau apa yang gue lakukan kemarin adalah salah. Gue hanya ingin memperbaikinya sekarang.” “Elo juga enggak bisa memaksakan Varo, Na. Kamu lihat Varo bagaimana, ‘kan? Ini semua hanya bisa elo jadikan pembelajaran untuk ke depannya. Supaya elo bisa belajar untuk menghargai cowok.” ... “Gue juga enggak begitu akrab dengan Leanna dulu. Hanya sebatas teman sekelas. Enggak lebih. Jadi, gue merasa kalau gue enggak berhak ikut campur ke dalam urusannya,” pungkas Fani kepada Joanna yang saat ini sedang berada di dalam ruang kerja Fani. “Bagus! Lo memang harus begitu menghadapi mereka,” sahut Joanna. “Lah, kenapa?” tanya Fani bingung. “Karena dari yang gue lihat, Varo ada perasaan sama elo,” jawab Joanna dengan berbisik. “Perasaan suka?” tanya Fani seraya mengernyitkan dahinya. Joanna menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia membenarkan ucapan Fani. Pada kenyataannya, Fani juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Joanna. Namun, Fani enggan berniat untuk membalas cintanya Varo. Sebab, Fani tahu se-playboy apa seorang Varo. Fani yang melamun seraya memainkan sebuah pulpen di tangannya mampu membuat Joanna bertanya-tanya apa yang ada di dalam pikiran sahabatnya itu. “Lo tahu, Na? Varo adalah seorang playboy. Bahkan, cewek enggak salah apapun saja, bisa diputusinya dengan alasan bosan. Apalagi cewek dengan kesalahan, bisa-bisa dibuangnya jauh-jauh,” ungkap Fani. “Varo itu – playboy?” tanya Joanna yang sedikit tidak percaya. “Benar!” jawab Fani. Joanna nampak sedikit tidak percaya dengan apa kenyataan yang ada. Seorang Varo – ternyata adalah seorang playboy. “Mungkin, kalau diihat, dia cukup tampan dan mapan. Tapi, untuk apa itu semua kalau hatinya enggak pernah betah dengan 1 cewek, ‘kan?” tanya Fani. “Ada benarnya juga ucapan elo itu,” gumam Joanna. “Makanya gue enggak mau terlalu membuatnya berharap dengan gue,” ucap Fani lagi. “Tapi, karena elo meminta gue untuk memperlakukannya layaknya teman, ya gue lakukan.” “Kayaknya salah deh,” gumam Joanna. “Kalau ternyata dengan elo memperlakukannya begitu, lalu dia terbawa perasaan, bagaimana?” tanyanya. “Harusnya jawabannya sudah ada di elo. Elo yang kasih saran, ‘kan?” sahut Fani. “Ganti cara lain deh,” usul Joanna. “Berdoa aja, semoga gue enggak sampai jatuh cinta sama playboy macam Varo,” ucap Fani seraya terkekeh. Joanna langsung mengaminkan doa Fani dengan suara yang sedikit keras. Sebagai sahabat, tentu saja Joanna enggak mau kalau sahabatnya itu jatuh ke hati seorang playboy. Seorang sahabat yang sayang dengan sahabatnya yang lain – tidak akan pernah bisa melihat sahabatnya tersakiti hatinya. Bahkan tidak hanya Joanna yang bersikap begitu ke Fani, Fani sendiri pun bersikap sama halnya dengan Joanna. “Pokoknya, lo kunci dulu deh pintu hati elo serapat mungkin,” ucap Joanna. “Biar Varo enggak bisa masuk,” sambungnya. Mendengar ucapan itu yang keluar dari mulut Joanna, Fani pun langsung tertawa dengan keras. “Gue serius loh!” kesal Joanna. ... “Kenapa kelihatan enggak semangat? Bukannya tadi habis ke tempat Fani, ya?” tanya Gara yang melihat Varo berada di ruang kerjanya. “Tadinya gua senang. Tapi kesenangan gua diusik oleh Leanna,” jawab Varo. “Maksud lo? Leanna datang ke tempat Fani juga?” tanya Gara. “Begitulah,” jawab Varo seadanya. “Wajar sih. Mereka teman sekampus, ‘kan?” To Be Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD