Varo masih nampak kesal dengan kejadian beberapa jam yang lalu. Di mana saat momen senangnya diusik oleh sang mantan kekasih. Mungkin memang benar jika seorang playboy macam Varo tidak akan stuck di satu perempuan saja.
Namun, bagi Varo, mendapatkan hati seseorang yang nampak tidak tertarik dengannya adalah sebuah tantangan baru.
...
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Fani baru saja mengunci pintu tokonya dan bersiap hendak pulang.
Namun, di saat Fani hendak memasuki mobilnya, ia melihat Varo yang sedang setengah berlari menghampirinya.
“Fan, tunggu!”
Fani menutup kembali pintu mobilnya dan ia menunggu Varo yang berlari menghampirinya.
“Kenapa?” tanya Fani seraya mengernyitkan dahinya dengan sempurna.
“Lo sudah mau pulang?” tanya Varo.
Fani hanya menganggukkan kepalanya.
“Mau bareng?” tawar Varo.
“Lo katarak, ya?” tanya Fani.
“Maksud lo?!” tanya Varo dengan nada suara yang terdengar tidak percaya dengan pertanyaan yang dilontarkan Fani barusan.
“Lo lihat kalau gue bawa mobil, ‘kan? Dan elo juga pasti bawa mobil, ‘kan? Bagaimana caranya bareng kalau kita bawa mobil masing-masing?” tutur Fani.
“Iring-iringan aja,” sahut Varo.
“Memangnya kita searah?” tanya Fani lagi.
“Rumah lo di mana?”
“Dasar modus! Bilang aja mau tanya alamat gue,” timpal Fani.
Varo yang merasa ketahuan dengan modusan yang dibuatnya, ia hanya bisa terkekeh sekarang.
“Lebih baik kalau elo pulang duluan sana. Jangan sampai elo ikutin gue sampai rumah,” ucap Fani sebelum ia memasuki mobilnya dan menurunkan kaca mobilnya.
“Bareng woy!” pekik Varo kemudian ia berlari kembali ke area kantornya untuk mengambil mobilnya.
Melihat adanya celah, Fani langsung menancapkan gasnya dan meninggalkan Varo.
“Enggak tahu aja kalau gue juara F1 dulu,” sungut Varo ketika ia melihat mobil Fani melengos pergi.
Varo terus mengarahkan mobilnya ke mana mobil Fani menuju. Lelaki itu semakin gigih mengejar cintanya.
Sementara itu, Fani nampak kesal ketika ia menatap kaca tengah mobilnya dan mendapati sebuah mobil sedang berada tepat di belakangnya. Mobil itu nampak mengikuti Fani dan Fani tahu siapa pemiliknya.
“Kenapa harus sebegitunya sih? Lama-lama gue jadi risih, tau nggak?” Fani menggerutu sendirian. Perlahan ia menaikkan laju mobilnya.
...
Sampai saat Fani menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Fani langsung keluar dari mobilnya itu dan menatap mobil yang sedari tadi mengikutinya. Tatapan Fani tergambar jelas kalau ia sedang kesal dengan pemilik mobil berwarna hitam itu.
Pemilik mobil itu pun keluar juga dari mobilnya dan menghampiri Fani. Raut wajahnya tidak menggambarkan kalau ia merasa bersalah dengan Fani.
“Kenapa berhenti di sini?” tanyanya yang tak lain adalah Varo. Lelaki itu nampak cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Lo tanya kenapa, Varo?! Usia elo itu berapa sih sebenarnya? Masa enggak paham?” tanya Fani dengan nada suaranya yang terdengar dingin.
“Gue enggak mau kalau elo pulang dengan enggak selamat. Apalagi ini sudah malam,” jawab Varo.
“Gue sudah biasa pulang jam segini, Varo. Lagipula jalanan juga masih ramai. Jangan terlalu lebay,” ucap Fani.
Varo nampak kehabisan kata-kata untuk menyahut. Lelaki itu berpikir apa lagi yang harus ia katakan. Namun, ia tidak menemukannya di dalam pikirannya.
“Lebih baik lo pulang sebelum gue marah beneran sama elo,” ucap Fani, kemudian ia memasuki mobilnya kembali.
Fani tidak langsung melajukan mobilnya, gadis itu nampak memperhatikan Varo yang masih berdiri di luar. Karena kesal, Fani menekan klaksonnya dan membuat Varo terkejut.
Varo langsung memasuki mobilnya dan menancapkan gasnya meninggalkan Fani yang masih memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
Setelah beberapa menit kepergian Varo, barulah Fani menginjak pedal gasnya. “Kalau begini terus, bisa stress gue,” gerutunya.
...
Sesampainya di apartemen, Fani langsung menyambungkan panggilan telfon dengan Joanna. Gadis itu menyalakan mode pengeras suara agar ia bisa sembari memakai skin care.
"Apa, Fan? Varo ganggu elo lagi?"
"Kali ini lebih parah, Na. Varo ikutin gue masa."
"Segitunya?"
"Segininya!"
"Maaf, Fan. Gue ketawa dulu sebentar."
"Lo teman macam apa? Hah?"
"Mohon maaf nih, lo lucu banget, Fan. Sumpah."
"Lucunya di mana sih?"
"Lo itu jomblo berapa tahun? Sampai-sampai dikejar cowok dan elo malah lari. Cowok ganteng pun."
"Sudahlah. Lo makin lama makin menyebalkan."
Steffani pun memutuskan sambungan telfonnya dengan Joanna.
...
Keesokan harinya.
Saat Steffani baru saja sampai di tokonya, ia langsung berjalan menuju ruang kerjanya. Sebab, gadis itu tahu bahwa Varo akan datang ke toko menghampirinya.
Bahkan, Steffani meminta pada karyawannya untuk mengatakan bahwa ia tidak bisa diganggu.
Sampai saat siang menjelang, Joanna yang datang ke toko, ia langsung memasuki ruang kerja Steffani.
"Gue pikir siapa tadi main nyelonong aja," gumam Steffani.
"Lo ngambek sama gue, Fan?" tanya Joanna kemudian ia duduk di sofa panjang yang letaknya berdekatan dengan mej kerja Steffani.
"Enggak," jawab Steffani dengan singkat.
"Terus, kenapa tadi lo suruh anak buah lo supaya bilang kalau ada yang cari elo, mereka harus bilang kalau elo enggak bisa diganggu?" tanya Joanna.
"Lo enggak lihat kalau gue lagi kerja?" tanya Steffani. "Kalau ada yang nyari gue dengan keperluan yang enggak penting, sama aja gue buang waktu," sambungnya.
"Jadi, kedatangan gue ke sini membuat pekerjaan elo terganggu?" tanya Joanna.
Steffani yang tadinya mmefokuskan pandangannya ke layar laptop miliknya, kini ia mengalihkan pandangannya untuk menatap Joanna.
"Lo paham maksud gue atau enggak?"
Joanna nampak berpikir untuk beberapa saat, kemudian ia teringat akan sesuatu. Suatu hal yang membuat Steffani bersikap begini.
"Karena Varo?" tebak Joanna.
"Jangan sebut namanya," sahut Steffani kemudian ia kembali fokus pada layar laptopnya.
Joanna terkekeh geli. Ia benar-benar tidak menyangka jika Steffani sekesal itu pada Varo.
Baru beberapa menit setelah Steffani dan Joanna membahas Varo, lelaki itu kini menelfon Steffani. Steffani tidak menolak sambungan telfon yang ditujukan Varo padanya, tetapi ia menerimanya. Namun, ia malah menyerahkan ponselnya itu pada Joanna.
Joanna mengernyitkan dahinya. Namun, hanya dengan raut wajah Steffani, Joanna paham dengan apa maksud dan kehendak sahabatnya itu.
"Hallo."
"Ini siapa?"
"Lo yang nelfon, kok elo yang tanya?"
"Gue tahu suara Steffani bagaimana."
"Fani sibuk, enggak bisa diganggu."
"Sibuk ngapain?"
"Lo pikir lah, Varoooo. Toko ini enggak akan berjalan dengan baik kalau Steffani enggak bekerja. Lagian lo aneh, CEO tapi kerjaannya gangguin orang."
Steffani yang menyimak pembicaraan Joanna dan Varo, sesekali ia terkekeh karena Joanna berhasil membuat Varo terdiam.
To Be Continued...