Setelah merasa puas berdebat dengan Varo melalui sambungan telfon, Joanna pun memutuskan sambungan telfon itu dan mengembalikan ponsel milik Stefani.
"Anaknya bener-bener minta dipukulin sama orang sekampung," ucap Joanna.
"Bisa-bisanya gue kenal sama makhluk seperti Varo," gumam Stefani.
"Namanya juga takdir, Fan," sahut Joanna. "Lo pernah dengar kalau buaya sudah menemukan pawangnya maka ia akan jinak nggak?" tanyanya.
"Maksud lo, gue ini pawangnya buaya begitu?" tanya Stefani.
"Ibaratnya aja, Fan," sahut Joanna.
"Gue sudah tahu bagaimana dia, Jo. Jadi, sekalipun dia meyakinkan gue bahwa dia akan berhenti untuk terus memainkan hati perempuan, akan sulit untuk gue percaya," ucap Stefani.
"Kalau lo coba dulu?" tanya Joanna.
"Lo pikir perasaan itu bisa dibuat untuk coba-coba?" tanya Stefani kembali.
"Daripada kalian terus begini, 'kan?" sahut Joanna.
"Enggak lah. Biarkan saja begini. Daripada akhirnya nanti gue terbawa perasaan," ucap Stefani kemudian ia kembali fokus pada pekerjaannya.
Joanna hanya diam, ia tidak ingin mengganggu Stefani yang sedang fokus bekerja.
...
Saat jam makan siang tiba, Stefani meminta pada salah satu karyawannya untuk mengantar makan siangnya ke dalam ruang kerjanya saja. Stefani pikir, yang mengetuk pintu adalah karyawannya yang akan mengantar makan siangnya.
Rupanya Stefani salah, seorang yang baru saja membuka pintu ruang kerjanya dan berjalan menghampirinya adalah Varo.
"Tadi gua sudah ketuk pintu loh, dan elo suruh masuk," ucap Varo yang tahu bahwa Stefani akan memarahinya.
Varo meletakkan nampak berisi makan siang milik Stefani ke atas meja yang berhadapan langsung dengan sebuah sofa panjang.
"Gua bantuin karyawan lo buat antar ini," ucap Varo.
"Terima kasih," ucap Stefani dengan penuh penekanan.
"Dalem banget bilang terima kasihnya," gumam Varo.
"Lalu, keperluan lo ke sini apa lagi?" tanya Stefani.
"Hanya ingin mengobrol dengan elo selama jam istirahat makan siang," sahut Varo.
"Penting atau enggak?" tanya Stefani lagi.
"Ngobrol santai aja, Fan," sahut Varo.
"Gue enggak ada waktu, pekerjaan gue banyak," ucap Stefani lagi.
Stefani pun beranjak dari kursinya, kemudian gadis itu berjalan mendekati Varo. Mulanya Varo berpikir bahwa Stefani berkenan untuk berbincang sebentar dengannya.
Namun, rupanya perkiraan Varo salah. Stefani malah menarik Varo agar keluar dari ruang kerjanya. Kemudian, Stefani mengunci pintu ruang kerjanya agar tidak ada yang bisa masuk.
...
"Kalau gua yang begitu, gua bakalan malu untuk balik lagi," ucap Gara ketika ia mendengar cerita dari Varo.
"Lagian lo, bener-bener berubah setelah kenal dengan Stefani," timpal Edwin.
"Pokoknya prinsip gua masih sama dengan yang dulu," sahut Varo. "Gua akan mengejar dia sampai gua bisa masuk ke dalam kehidupannya," sambungnya.
"Kalau gagal?" tanya Gara.
"Namanya Gara memang suka nyari perkara, ya. Pengin banget gua kirim ke mars aja," kesal Varo.
"Gua bantuin yuk," sahut Edwin.
"Kalau hal begini, kalian selalu kompak," ucap Gara.
"Karena elo memang pantas dikeroyok," sahut Edwin.
Sementara Edwin dan Gara berdebat, diam-diam Keenan pergi dari sisi kedua sahabatnya itu. Sebab sekarang ini mereka sedang makan siang di restoran milik Stefani.
"Kayak ada yang enggak beres," ucap Edwin.
"Personil kita kurang sebiji, kawan," sahut Gara.
"Alamat disuruh bayar nih," gumam Edwin. "Tunggu, gua cari Varo dulu," ucapnya pada Gara sebelum ia pergi juga.
"Kurang ajar, ya!" kesal Gara./
Pada akhirnya, Gara lah yang membayar semua makan siang yang mereka bertiga makan tadi.
...
Malam ini, Stefani nampak malas untuk keluar dari dalam ruang kerjanya meski lima menit lagi cafe and resto miliknya akan tutup.
Sebuah panggilan suara masuk di ponselnya. Gadis itu hanya menatap layarnya yang menampakkan nama Varo yang tertera di sana.
Sampai beberapa kali Varo mencoba menghubungkan sambungan telfon dengan Stefani, namun Stefani enggan menerimanya.
Kemudian, sebuah pesan singkat masuk.
"Ban mobil elo kayaknya ada yang sengaja ngempesin. Turun sini."
Stefani langsung mengernyitkan dahinya, kemudian tanpa pikir panjang ia segera berjalan menuju tempat di mana ia memarkirkan mobilnya.
Sesampainya di tempat parkir, Stefani melihat Varo yang sibuk memeriksa ban mobil milik Stefani yang semuanya kempes.
"Lo kenapa sih? Perkara enggak gue hiraukan, elo jadi sampai melakukan hal ini?!" tanya Stefani yang berpikir bahwa Varo lah yang membuat semua ban mobilnya menjadi kempes.
"Gua aja enggak tahu, Fan. Gua baru sampai dan lihat ban mobil elo kempes semua," sahut Varo membela diri.
"Enggak usah munafik lo!" kesal Stefani. Kemudian ia berjalan kembali masuk ke dalam arena cafe and resto.
"Kalau enggak percaya, lo periksa aja CCTV," ucap Varo sembari menatap punggung Stefani.
Stefani baru teringat akan hal itu. Ia segera kembali ke ruang kerjanya untuk membuka rekaman CCTV yang ia pasang di area parkir.
Stefani melihat dengan jelas, ada seorang perempuan yang nampak familiar di matanya.
"Dia bukannya yang sewa toko di samping?" gumam Stefani. "Kenapa dia jadi kempesin ban mobil gue deh?" herannya.
Sesaat setelah Stefani melihat rekaman CCTV, ia pun teringat bagaimana ia membentak Varo tadi. Ada rasa bersalah yang meliputi hatinya sekarang.
Stefani mengambil barang yang memang harus ia bawa pulang, kemudian ia berjalan dengan cepat menuju lantai bawah.
Namun sayang, Stefani tidak menemukan siapa-siapa lagi di sana. Orang yang ia cari pun sudah tidak ada di sana.
Stefani lantas menelfon Joanna untuk meminta tolong menjemputnya.
...
"Jadi, ban mobil elo dikempesin sama orang yang punya toko di sebrang. Tapi elo nyangkanya Varo yang melakukannya?" tanya Joanna untuk memastikan setelah ia mendengar cerita dari Stefani yang cukup panjang tadi.
"Iya, Jo," sahut Stefani. "Makanya sekarang gue merasa enggak enak hati sama Varo. Mana tadi ucapan gue kayak kasar banget lagi," sambungnya.
"Coba aja ketemuin dia besok," usul Joanna.
"Rencananya sih begitu," sahut Stefani.
"Ini hanya semisal, ya, Fan," ucap Joanna.
"Apaan?" tanya Stefani yang penasaran.
"Kalau semisal Varo benar-benar sakit hati dengan tuduhan elo, gimana?" tanya Jonna.
Seketika itu juga, Stefani nampak berpikir dengan panjang. Ia memang salah karena sudah menuduh Varo tanpa mendapatkan bukti yang kuat.
"Fan," panggil Joanna lagi.
"Mungkin gue akan minta maaf terus sampai dia mau memaafkan gue," sahut Stefani dengan tegas. "Jiwa positif thinking gue juga mengatakan kalau Varo pasti akan memaafkan gue," Sambungnya.
"Percaya diri sekali Ibu ini, ya," sindir Joanna.
"Besok gue minta maafnya gimana ya?" tanya Stefani sembari berpikir.
"Bawakan makan siang saja ke kantornya," usul Joanna.
"Maunya gue bawain dia sarapan aja kali ya," sahut Stefani. "Biar simpel, Jo. Cuman roti sama kopi doang," sambungnya.
"Sekalian pengiritan ya, Fan," ucap Joanna.
"Kalau makan siang, gue masaknya juga pasti bakalan ribet banget. Kerjaan gue masih banyak," sahut Stefani.
"Terserah elo, Fan. Yang penting elo datang ke dia dengan niat elo mau minta maaf," ucap Joanna.
Stefani hanya menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia memahami ucapan Joanna itu.
Bersambung...