Stefani nampak sangat gugup saat ia sudah berdiri di depan gedung kantor Varo. Ia pun menghela napasnya dengan panjang sebelum melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam gedung.
Stefani lebih dulu menghadap seorang resepsionis untuk menanyakan apakah Varo berada di dalam kantor atau tidak.
"Apa Ibu sudah ada janji dengan Pak Varo?"
"Belum, Mbak."
"Mohon maaf sebelumnya, Bu. Peraturan di kantor ini, harus sudah membuat janji sebelum bertemu dengan direktur utama kami."
"Terima kasih, Mbak," ucap Stefani kemudian ia berjalan menjauhi meja resepsionis itu.
Stefani mengeluarkan ponselnya dari dalam saku rok jeans yang ia kenakan, kemudian gadis itu menelfon ke nomor Varo. Beberapa kali Stefani menelfon namun tidak mendapat jawaban atas sambungan itu.
Stefani pun akhirnya memutuskan untuk mengirim sebuah pesan singkat pada Varo yang mengatakan bahwa dirinya berada di lobby kantor namun tidak bisa masuk karena belum membuat janji sebelumnya.
Hampir sepuluh menit Stefani menunggu di kursi yang disediakan di lobby, akhirnya ia melihat Varo berjalan keluar dari area kantor.
Stefani bergegas berdiri dan melambaikan tangannya ke hadapan Varo.
Varo yang melihatnya, ia segera menghampiri gadis itu.
"Kenapa?" tanya Varo dengan nada bicaranya yang terdengar begitu cuek.
Stefani memperlihatkan paper bag yang ia tenteng sedari tadi. "Gue bawain makan siang buat lo. Sekalian ada yang mau gue omongin," ucapnya.
"Ayok ikut gua," ajak Varo yang kemudian ia berjalan lebih dulu.
Stefani pun berjalan mengikuti Varo, Ia yang tadinya berjalan di belakang lelaki itu, karena Varo memperlambat langkahnya, Stefani pun mengambil tempat di samping Varo.
"Mau ngomongin apa?" tanya Varo setelah ia dan Stefani masuk ke dalam lift.
"Enggak enak ngobrol sambil berdiri begini," sahut Stefani.
Varo hanya melirik Stefani sekilas, sedari ia tahu bahwa Stefani datang ke kantornya, lelaki itu merasa heran.
Sesampainya di dalam ruang kerja Varo, Stefani pun menata semua makanan yang ia bawa ke atas meja yang berada di hadapan sofa panjang.
"Mau ngomongin apa?" tanya Varo yang kemudian duduk di sofa panjang itu.
"Gue mau minta maaf soal semalam," sesal Stefani.
Seketika itu juga, Varo menaikkan alis sebelah kanannya.
"Gue nuduh elo sembarangan tanpa melihat bukti nyatanya," ucap Stefani lagi.
"Owh," singkat Varo yang kemudian ia mulai menyantap makan siang yang Stefani bawakan.
"Dimaafin nggak?" tanya Stefani.
"Hm," sahut Varo.
"Jawabannya itu iya atau enggak, bukan hm," ucap Stefani lagi.
Varo tidak mengatakan apapun, ia malah menarik Stefani agar duduk di sampingnya.
"Jawab, Alvarooo," ucap Stefani yang nampak sudah hendak marah dengan lelaki itu.
Tatapan Varo yang nampak teduh membuatnya mengurungkan rasa marahnya itu.
"Porsi segini enggak akan bisa gua habiskan sendiri," ucap Varo. "Makan juga lo, setelah itu baru gua jawab pertanyaan lo tadi," sambungnya.
"Tadi pagi aja gue enggak bisa makan perkara mikirin kesalahan gue, apalagi sekarang, yang gue sendiri pun belum tahu dimaafin atau enggak," ucap Stefani dengan nada bicaranya yang sangat pelan.
"Gua akan memaafkan elo kalau elo mau setiap jam makan siang antar makanan ke sini," sahut Varo. "Selama sebulan aja kok dan gua akan bayar. Tapi harus elo yang antar," sambungnya.
"Sebulan aja?" tanya Stefani.
"Kalau bisa sih selamanya," sahut Varo sembari tertawa kecil. "Makan yang banyak. Tadi pagi katanya enggak bisa makan, 'kan?" sambungnya.
Stefani pun mulai ikut makan, sebab ia memang membawa untuk porsi dua orang.
"Terus tadi gue nelfon elo berkali-kali, kenapa enggak diangkat?" tanya Stefani.
"Tadi gua ada rapat."
"Jadi, gue gangguin elo kerja?"
"Enggak karena rapatnya sudah selesai."
"Yang bener."
'Iya, Faniii. Jangan bikin gua emosi sampai gua mengurungkan niat gua untuk memaafkan elo."
Fani hanya memajukan bibirnya, kemudian ia meraih sebotol air putih yang juga ia bawa tadi.
Melihat Stefani yang kesusahan membuka tutupnya, Varo pun mengambil alih dan membantu Stefani membukanya.
"Terima kasih," ucap Stefani setelah Varo mengembalikan botol itu dengan keadaan tutupnya yang sudah tertutup.
Varo hanya menganggukkan kepalanya dan ia kembali melanjutkan makannya.
"Biasanya elo banyak ngomong, Var," ucap Stefani lagi.
"Malas ngomong kalau lagi makan. Takut keselek," sahut Varo. "Lalu, siapa pelaku yang membuat ban mobil elo kempes?" tanyanya.
"Orang toko bunga," jawab Stefani.
"Yang di sini?" tanya Varo.
Stefani pun menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia membenarkan ucapan Varo barusan.
"Setelah ini, lo ikut gua untuk hampiri dia," ucap Varo.
"Ngapain?" tanya Stefani sembari mengernyitkan dahinya.
"Untuk menanyakan kenapa dia berlaku begini ke elo," jawab Varo.
"Tokonya saja tutup," ungkap Laura dengan santai.
Varo pun meraih ponsel yang sedari tadi ia letakkan di sampingnya, kemudian ia menelfon seseorang untuk mencari tahu di mana keberadaan pemilik toko bunga yang semalam membuat ban mobil Stefani kempes semua.
"Enggak perlu segininya juga, Varo. Toh pas nanti tokonya buka, gue bisa hampiri dia dan menanyakan dengan baik-baik," ucap Stefani setelah ia melihat Varo selesai menelfon.
"Hal begini harus ditegasin, Fan," sahut Varo.
"Gue hanya takut kalau dia akan semakin membenci gue kalau begini caranya," lirih Stefani.
"Alasan dia membenci elo, apa coba gua tanya?" tanya Varo.
"Mungkin karena gue orang baru di sini dan gue sudah bisa gaet banyak pelanggan termasuk karena gue bisa dekat dan bisa elo jadikan sebagai katering kantor elo," jawab Stefani.
"Dia membenci karena dia iri dan dengki. Sudah sebuah keharusan kita untuk menegur orang seperti dia. Karena kalau dibiarkan, maka dia akan semakin melunjak," sahut Varo.
"Yasudah, terserah elo aja," sahut Stefani yang pasrah dengan Varo yang tidak bisa diberitahu olehnya.
"Kenapa lo?" tanya Varo sembari menatap Stefani.
"Gue cuman takut aja, Varo. Usaha yang gue bangun dengan keringat gue selama ini akan dipandang buruk hanya karena gue labrak orang yang sengaja kempesin ban mobil gue," sahut Stefani.
"Elo enggak salah, Fan. Jadi, enggak ada yang perlu lo takutkan," ucap Varo yang mencoba untuk memberi pengertian kepada Stefani. "Kita juga boleh terus berbuat baik kepada orang lain, asalkan orang itu adalah orang yang tepat," sambungnya.
"Nyatanya gue berbuat baik kepada orang yang enggak tepat," sahut Stefani.
"Nah, itu sadar," ucap Varo.
"Lo tahu nggak siapa?" tanya Stefani.
"Yang bikin ban mobil elo kempes lah," sahut Varo dengan percaya dirinya.
"Salah," sahut Stefani. "Itu elo," sambungnya.
Kemudian, Stefani langsung beranjak dari tempat duduknya dan ia berjalan dengan cepat keluar dari ruang kerja Varo. "Gue duluan, bye!" ucapkan sebelum ia menutup kembali pintu ruang kerja Varo yang ia buka agar ia bisa keluar dari dalam sana.
"Bodoh! Enggak tahu apa kalau turun-naik lift harus pakai ID card," gumam Varo yang kemudian ia beranjak juga dari tempat duduknya dan berjalan dengan santai keluar dari ruang kerjanya untuk menghampiri Stefani agar gadis itu tidak kesusahan saat hendak keluar dari gedung kantor miliknya.
Bersambung...