Stefani terdiam di depan pintu lift yang masih tertutup dengan rapat. Sebab di sana tertulis dengan jelas bahwa jika ingin menggunakan lift diwajibkan untuk scan ID card terlebih dahulu.
"Kenapa, Fan?" tanya Varo yang sudah berdiri di belakang gadis itu.
"Tolong," ucap Stefani sembari menunjuk tulisan yang membuatnya terdiam di sana.
Varo hanya tertawa kecil, kemudian ia menempelkan sebuah kartu yang ia bawa. "Ayok," ajaknya ketika pintu lift sudah terbuka.
"Gue turun sendiri aja," ucap Stefani.
"Gua mau antar elo sampai bawah," sahut Varo yang masuk ke dalam lift terlebih dahulu.
Stefani hanya menghela napasnya dengan panjang sebelum ia masuk juga ke dalam lift itu dan berdiri di samping Varo.
"Varo hari ini benar-benar berbeda. Dia lebih banyak diam. Beda dengan biasanya yang selalu bikin gue emosi dengan ocehannya," Stefani membatin.
Sesekali gadis itu melirik ke arah Varo yang berdiri tegak di sampingnya.
"Kenapa sih?" tanya Varo yang sadar bahwa sedari tadi Stefani meliriknya.
Stefani hanya menggelengkan kepalanya meski sejujurnya ada sebuah pertanyaan yang ia simpan di pikirannya.
"Kalau ada yang mau ditanyakan, tanyakan saja," ucap Varo.
"Lo hari ini banyak diam," ucap Stefani dengan nada bicaranya yang hampir tidak bisa didengar dengan jelas oleh Varo.
Varo hanya tersenyum tipis.
"Kenapa?" tanya Stefani yang kali ini memberanikan dirinya untuk menatap Varo lebih lama lagi.
"Enggak apa," sahut Varo.
"Apa karena elo beneran masih marah karena semalam?" tanya Stefani lagi.
"Siapa yang enggak marah ketika yang bukan kesalahannya dan malah dituduh bahwa itu adalah kesalahannya?" tanya Varo.
Ting! Pintu lift terbuka.
"Sana," ucap Varo sembari memajukan dagaunya, mengisyaratkan pada Stefani agar gadis itu segera pergi dari area kantornya.
"Maaf," ucap Stefani lagi.
Nampak jelas terlihat bahwa Stefani merasa sangat menyesal atas tindakannya semalam yang menuduh Varo sembarangan.
"Ingat janji lo tadi," ucap Varo sembari tersenyum menatap Stefani.
Stefani pun menganggukkan kepalanya dan ia pun berjalan meninggalkan area kantor Varo.
"Setahun pun akan gue lakukan, Varo. Asalkan elo mau memaafkan gue," lirih Stefani.
...
Stefani baru saja sampai di ruang kerjanya kembali setelah ia dari kantor Varo. Baru saja sampai dan Stefani sudah melihat Joanna yang duduk dengan santai di dalam ruang kerjanya.
"Enak banget santai di ruang kerja orang," sindir Stefani.
"Habisnya gue penasaran dengan hasilnya. Gue chat elo juga enggak dibalas," sahut Joanna. "Jadi, gimana? Dimaafin nggak?" tanyanya.
"Kayaknya masih dimasukin hati sama dia. Tadi aja dia enggak banyak bicara. Beda banget sama dia yang biasanya," sahut Stefani.
"Jadinya enggak dimaafin?" tanya Joanna lagi.
"Dimaafin," jawab Stefani. "Tapi bersyarat," sambungnya.
"Syaratnya?" tanya Joanna yang terlihat semakin penasaran.
"Gue harus antarin makan siang setiap hari ke dia selama sebulan," jawab Stefani apa adanya.
"Lo setujui?" tanya Joanna untuk yang kesekian kalinya.
Stefani menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia membenarkan ucapan Joanna itu. "Daripada gue terus-menerus merasa bersalah," ucapnya.
...
Edwin dan Gara seketika menjadi terdiam saat Varo menceritakan kejadian mulai dari Stefani yang menuduhnya asal sampai Stefani tiba-tiba saja datang ke kantornya untuk meminta maaf.
"Semalam gua langsung pergi karena Papa telfon dan ada kabar buruk di rumah. Lalu juga, gua diam aja bukan karena gua ambil hati kejadian itu. Tapi karena Mama lagi sakit," ungkap Varo.
"Mungkin ini juga cara Tuhan supaya Stefani enggak jutek lagi sama elo, Var," sahut Gara.
"Nah iya," timpal Edwin. "Gimana kabarnya Tante sekarang?" tanyanya.
"Mama sekarang sudah mulai baikan lagi. Enggak se-drop semalam," sahut Varo.
"Kalau elo kerjanya enggak bisa fokus karena mikirin Tante, lebih baik lo tinggal dulu," ucap Gara.
"Ada Papa kok di rumah," sahut Varo.
Gara dan Edwin sama-sama mencoba untuk menghibur Varo yang sedang dalam merasakan khawatir karena sang Mama sedang sakit.
...
Malam harinya, Stefani mendapat pesan singkat dari seseorang yang mengaku bahwa ia adalah Gara.
"Gara siapa woy?" tanya Stefani pada Joanna.
"Temannya Varo," jawab Joanna. "Kenapa memangnya?" tanyanya.
"Chat gue, ngakunya sih Gara," ungkap Stefani.
"Mana lihat," ucap Joanna yang kemudian mengambil alih ponsel milik Stefani dari tangannya.
Joanna pun membaca pesan itu. "Kalau mau datang ke sini sih datang aja kali. Enggak usah chat segala," gumam Joanna.
"Cemburu lo?" tanya Stefani sembari memasang ekspresi meledek.
"Ngapain?" tanya Joanna dengan sinis yang kemudian ia mengembalikan ponsel milik sahabatnya itu.
"Tenang saja, gue enggak akan ambil dia dari elo kok," ucap Stefani.
"Enggak lah!" sargah Joanna.
Saat kedua sahabat itu berdebat, sebuah panggilan suara masuk di ponsel milik Stefani.
"Kayaknya dia sudah di bawah," ucap Stefani. "Ayok ikut," ajaknya yang kemudian ia menarik tangan Joanna untuk ikut dengannya.
...
Sesampainya Joanna dan Stefani di ruang kafe, keduanya melihat Gara dan Edwin sudah duduk menunggu.
"Sudah pesan minum?" tanya Stefani yang kemudian ikut duduk di antara dua orang itu.
"Sudah, Stef," sahut Gara.
"Kenapa lo chat Stefani?" tanya Joanna.
"Jangan emosi dulu," sahut Gara. "Tadi gua dapat nomor Stefani dari Varo dan gua enggak tahu kalau elo ada di sini juga," ungkapnya.
"Terus?" tanya Joanna lagi.
"Karena aku juga perlunya sama Stefani, bukan sama elo," sahut Gara.
"Kenapa, Gar?" tanya Stefani yang mulai penasaran.
"Lo tahu alasan Varo enggak banyak omong hari ini?" tanya Varo.
Stefani menggelengkan kepalanya.
"Mamanya Varo sakit. Beberapa tahun ini keadaan Mamanya Varo memang sedikit lemah. Semalam pun Varo pergi karena dia dapat kabar dari Papanya kalau Mamanya tiba-tiba drop di rumah. Hari ini pun dia agak murung karena itu. Gua sama Edwin sudah berusaha untuk hibur dia supaya dia enggak kepikiran terus. Tapi nyatanya, dia masih saja murung. Bahkan enggak ada perubahan sedikitpun," ungkap Gara panjang lebar.
"Jadi itu alasannya," gumam Stefani.
"Mungkin dengan kesalahpahaman elo tentang semalam Varo yang tiba-tiba pulang karena marah itu salah tapi jangan sampai juga kebenaran ini malah membuat elo menjauh dari Varo," ucap Edwin. "Karena kami rasa, semangat Varo untuk saat ini adalah elo, Fan," sambungnya.
"Untuk saat ini dan tidak tahu dalam jangka waktu berapa lama," sahut Stefani sembari tertawa hambar.
Julukan playboy yang tersemat dalam diri Varo memang masih membuat Stefani merasa enggan untuk membuka hati untuk lelaki itu.
Stefani pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian gadis itu berdiri di ujung area kafe yang mana dari tempat itu bisa terlihat jalan raya yang ada di sana.
"Kalian enggak tahu bagaimana rasanya jadi gue. Ingin menghindari sakit hati tapi malah dipaksa mendekatinya," ucap Stefani.
"Maaf kalau kehadiran gua malah membuat elo merasa begitu."
Ucapan itu membuat Stefani menolehkan kepalanya ke belakang.
Bersambung...