Tampak seorang gadis tengah tertidur dengan kepala yang sudah terpapar beralaskan kedua tangan yang dilipat di atas meja. Di sekelilingnya hanya tampak kursi dan meja tak berpenghuni, di kesunyian ruang kelas hanya ada seorang gadis yang sedang pulas menikmati tidurnya.
Tok!
Tok!
"Assalamu'alaikum, Nabila!". Panggil Nisa dari luar seraya mengetuk pintu rumah yang sudah terbuka.
"Wa'alaikumussalam kak Nisa! Cari kak Nabila ya?" Jawab Asma dari dalam berlari menghampiri Nisa
"Iya nih dek kakakmu masih sarapan ya?"
"Eh nak Nisa, masuk sini sarapan dulu!".
Panggil Hasan Abi nya Nabila yang tiba-tiba lewat dari arah belakang Nisa.
"Duh Abi, kirain siapa tiba-tiba muncul dari belakang Nisa". Pungkas Nisa terkejut.
"Kamu ini masih muda kok sudah kagetan". Ujar Hasan mengejek seraya menertawakan Nisa.
"Yee Abi tuh!, sudah tua masih main tanah. Wlee". Balas Nisa menjulurkan lidahnya tanpa ragu kepada laki-laki paruh baya yang menertawakannya tadi.
"Kamu tuh ya seneng banget ngeledek abi." Pungkas hasan menjewer telinga Nisa yang terbalut hijab.
"Ampun abi, sakit!!". Imbuh Nisa meringis, Hasan pun melepaskannya dan terkekeh melihat sahabat putrinya meringis kesakitan.
"Abi duluan yang ejek Nisa tadi. Lagian abi juga ngapain main tanah?! Tuh lihat wajah sama pakaian abi kan jadi kotor!" pungkas Nisa lagi seraya jarinya menunjuk pipi, kening, dan juga pakaian Hasan yang sudah di hiasi tanah.
"Abi tuh, tadi sedang berkebun, makanya pakaian abi jadi kotor". Ujar Hasan menjelaskan.
Asma hanya cekikan melihat Nisa dan Abi nya saling berdebat tak mau mengalah.
Hasan adalah pribadi yang Humoris, tegas dan bijaksana. Dari luar memang terlihat bak singa yang hendak menerkam, sangar juga buas. Tapi jika sudah mengenalnya, Hasan sangat terlihat berbeda dari penampilan luarnya, sering bercanda, juga mudah akrab dengan siapa saja.
"Masya Allah, ini ada apa sih ribut-ribut??! Kedengaran loh sampai dapur bunda". Ujar Rahma yang keluar dari dalam rumah.
"Abi nih Bun, jewer Nisa". Adu Nisa merengek kepada ibu sahabatnya seraya berlindung di balik bahu Rahma.
"A-bi..." Seru Rahma lembut menyisipkan senyum kepada suaminya.
"Haha, iyaa iya, maaf ya Nisa Abi sudah jewer Nisa. Haha". Pungkas Hasan meminta maaf namun masih terkekeh puas.
Nisa hanya diam menyunggingkan bibirnya dua senti.
"Maafin Abi ya Nisa, Abi memang suka bercanda. Oh iya, kamu kesini pasti cari Nabila ya?".
"Iya bun!, masih sarapan ya?".
"Nabila sudah berangkat Nisa, pukul enam pagi tadi".
"Hah, mau apa berangkat pagi-pagi buta?"
"Semalam dia kebablasan tahajud Nisa, karena takut ketiduran makanya berangkat lebih awal, jadi tidurnya mau di rapel aja di kampus. Begitulah kurang lebihnya yang Nabila sampaikan ke bunda". Jelas Rahma.
"Dasar Nabila aneh sama anehnya kaya abi". Imbuh Nisa mengejek kembali Hasan yang baru duduk di kursi namun agak jauh dari tempat berdirinya Nisa dan Rahma.
"Kesini kamu, biar Abi tarik lagi telinga mu yang sebelah". Teriak Hasan tampak bola matanya yang hampir keluar sembari mengangkat tubuhnya dari tempatnya duduk sebab mendengar ucapan Nisa.
"Bunda, bunda aku pamit ya, bahaya ada singa yang lagi marah. Nanti aku di makan lagi". Ungkap Nisa mencium punggung tangan Rahma.
"Assalamu'alaikum bunda, dah Asma". Tambah Nisa seraya melarikan diri takut di kejar Hasan.
"Abi jangan makan Nisa, Nisa masih mau nikah dulu. Dah Abi". Teriak Nisa dari atas sepeda motornya dengan tersenyum lebar sambil melambaikan tangan ke arah Hasan yang sudah tolak pinggang karna gagal mengejar Nisa.
"Awas ya kamu!! kalau kesini lagi Abi jewer dua telingamu!!!". Ucap Hasan terbangun dari kursinya berkacak pinggang.
Rahma dan Asma terkekeh melihat keduanya.
#Kampus
Terdengar suara langkah kaki menyusuri lorong kelas. Langkahnya terhenti ketika sampai di depan kelas yang sudah sedikit terbuka.
"Assalamualaikum". Terdengar sayup-sayup suara seorang pria yang hendak memberi salam kedalam ruangan yang di sangka kosong tak berpenghuni, namun netranya terkejut melihat seseorang yang tengah tertidur.
"Hmm, sudah ada penghuninya ternyata". Ujarnya mengangkat alis dan menarik senyum tipis di bibirnya.
Diraihnya tas selempang yang bertengger di bahu kirinya, diletakkannya di atas meja khusus pengajar. Ia berdiri dari meja pengajar memandangi sosok penghuni kelas.
"Padahal ini masih pukul 07.00, dan kelas baru akan dimulai pukul 08.15. itu artinya masih 1 jam 15 menit lagi. Sungguh murid yang luar biasa". Ujarnya bernada kagum seraya melihat ke arah jam tangan miliknya.
"Tapi sedang apa tidur di kelas?? Apa- sebaiknya aku bangunkan saja!". Tambahnya lagi bergumam.
Ia melangkah menuju kursi tersebut. Seseorang yang dilihatnya mengenakan sweater dengan kepala yang sudah terbalut kupluk dari sweater nya, ia tidak mengetahui bahwa yang sedang tertidur adalah seorang wanita. Laki-laki itu berniat membangunkannya, namun ketika menyadari sosok yang tertidur adalah Nabila, ia malah terduduk di dekat Nabila dan tertegun melihat Nabila tertidur pulas.
"B-bukankah ia gadis itu?!" Ujarnya menelan ludah, terkejut.
"Apa yang-? Ah, apa ia siswi sini??". Pungkasnya bertanya tanya.
Nabila membuka sedikit matanya namun agak sulit karena rasa kantuknya. Netranya menangkap sosok laki-laki yang tidak asing.
"Sepertinya pernah lihat, siapa ya?..". Ucap Nabila lirih masih setengah sadar.
"Ustadz!. Ibrahim Yu-Yusuf?". Pungkas Nabila lirih
"Di kampusku...?" Ucapnya lagi masih dalam keadaan berusaha melawan kantuknya.
Saat Nabila sedang asik mengucek kucek matanya dan tengah mencoba sadar dari kantuk beratnya, Ibrahim segera menghindar dari pandangan Nabila. Ia segera meraih tas yang tadi sudah diletakkannya di meja dan pergi dari ruangan. Ia sendiripun heran, kenapa ia harus pergi keluar kelas dan menghindar dari Nabila.
"Kenapa aku harus pergi, memangnya aku salah apa? Seharusnya aku tadi cukup pindah saja ke meja ku. Bukan malah keluar ruangan gini". Batin Ibrahim bergumam kikuk.
***
Ruang kelas sudah mulai ramai berdatangan siswa-siswi Universitas Amar Maruf. Nisa berlari menyusuri ruang kelas, saat ia melangkah menaiki anak tangga, langkahnya terhenti ketika netranya tak sengaja berpapasan dengan sosok laki-laki tinggi yang tengah menuruni anak tangga dan berlalu melewatinya.
"Hah, Ustadz Ibra.." Batin Nisa terperangah namun segera ditutup oleh tangannya, dan langsung menoleh ke arah sang ustadz.
"Ustadz.." Panggil seseorang dari bawah.
"Ya Ustadz". Balas Ibrahim mendekati.
"Bagaimana, sudah ketemu kelasnya Ustadz Imran?".
"Sudah Ustadz".
"Ustadz Imran berpesan, kira-kira beliau akan digantikan ustadz Ibrahim kurang lebih selama tiga bulan, sesuai jadwal ustadz Imran sepekan tiga kali. Nanti usai mengajar langsung ke ruang dosen akan saya berikan jadwal lengkap hari apa saja ustadz Ibrahim harus mengisi di kelas psikologi". Jelas Imam panjang kali lebar.
Nisa masih menghentikan langkahnya di tangga, seraya menguping pembicaraan Ibrahim dan Imam.
"Baik pak dekan".
"Apa?? ustadz Ibra dosen pengganti psikologi? Kok bisa?? Nabila harus tahu!".
Nisa yang terkejut mendengar percakapan keduanya segera melanjutkan langkahnya dengan berlari setelah mendapatkan informasi ia berniat mengatakannya kepada sahabatnya.
"Hush, ustadz saja! Kita ini kan satu perguruan tidak perlu sebut jabatan". Imbuh Imam sungkan, dan hanya di balas senyum lebar oleh Ibrahim.
"Baik ustadz Ibra, lima menit lagi jadwal kelas pertama ustadz. Selamat, dan semangat mengajarnya, semoga di permudah di hari pertama dan hari hari berikutnya". Tambah Imam menyemangati.
"Aamiin, siap pak dekan, terimakasih atas dukungannya". Balas Ibrahim kembali menggoda rekannya.
Imam hanya tersenyum dan memberi tinjuan kecil di lengan kekar Ibrahim.
#Dikelas
Nabila baru saja tersadar dari tidur pulasnya dan masih mengucek kucek matanya, netranya melihat bayang-bayang sosok wanita yang tengah berlari ke arahnya.
"Nabila. Nabila, Nabila Lo harus tahu!"
Pungkas Nisa dengan nafas terengah-engah.
"Atur nafas dulu Nisa, baru bicara!".
Sementara Nisa tengah mengatur nafasnya Nabila mengacuhkan sahabatnya dan mencoba kembali membaca bahan presentasi miliknya .
"Mau tahu siapa dosen pengantinnya?".
Pungkas Nisa mendekatkan wajahnya.
Dan Nabila yang enggan mendengarkan celoteh sahabatnya itu memutar matanya ke arah luar pintu kelas berpapasan dengan sosok laki-laki yang datang dan hendak masuk kedalam kelas psikologi.
"Ustadz Ibrahim Yusuf,?!" Ujar keduanya berbarengan.
"Loh kok kamu tahu?". Pungkas Nisa seolah memahami ekspresi wajah Nabila yang terperangah dan mengalihkan pandangannya ke arah yang sama.
"Berarti yang aku lihat tadi bukan mimpi. Dan itu benar-benar ustadz Ibrahim!!, pagi tadi?! disini??! menatapku???". Batin Nabila.
Bersambung...