Chapter 5 (Qadarullah)

1083 Words
"Uztadz Ibrahim Yusuf.." Mata Nabila terperangah mendapati sosok seseorang yang di tariknya adalah Ibrahim Yusuf sang ustadz pujaan sahabatnya. "Kamu?" Pungkas Ibrahim sedang mengigat tatapan sendu Nabila. Sepertinya aku pernah melihat mata teduh ini. Batin Ibrahim. Tatapan mereka terhenti tatkala keduanya menyadari posisinya yang nyaman namun terlarang. "Astaghfirullah aladzim. Maaf". Ujar keduanya bersamaan seraya menjauhkan tubuh masing-masing dan saling membuang pandangan. Keduanya nampak canggung sehingga Nabila merunduk malu. Sebab wajahnya yang putih bersih, pipi merona Nabila tergambar jelas di wajah cantiknya. Ibrahim kembali memberanikan diri memandangnya, sampailah netranya pada sosok gadis cantik dengan pipi merona sedang merunduk di hadapannya. "Kamu.." Ucap Ibrahim kembali terhenti tatkala pekikan seorang wanita memanggil gadis di hadapannya. "Nabil-a". Panggil Nisa terhenti ketika melihat sahabatnya bersama ustadz pujaannya. "Kang mas ustadz??" Pungkas Nisa terperangah. "Ma-af?". Lagi-lagi sang ustadz dibuat heran akan perkataan ambigu yang membuat pikirannya traveling. "E-hah. M-maksud saya ustadz Ibrahim". Sahut Nisa tersadar. "Kok Nabila bisa sama pak ustadz?". Timpal Nisa melanjutkan. "Ah, iyaa tadi.." Lagi-lagi ucapan ustadz Ibrahim terpotong. "Aa.. mmh, i-iya tadi beliau kebetulan lewat pas aku lagi nunggu kamu, Nis". Pungkas Nabila mempersingkat. Ibrahim tersenyum menanggapi perkataan Nabila yang memotong ucapannya. Terlihat wajah polos Nabila yang merona sedang salah tingkah akan ucapannya, membuat sang ustadz melepaskan tawa kecil di bibirnya. Nisa yang melihat Ibrahim seolah terhipnotis akan senyuman mautnya, sampai ia terlupa berkedip. "Sekali lagi maaf ustadz, kalau begitu kami permisi". Nabila berpamitan dengan mata yang merunduk tak tentu arah tak berani menatap Ibrahim. "Nis, Nis.. Nisa! ayo!!" Gumamnya di telinga Nisa, sembari tangannya menarik-narik lengan baju milik Nisa. "Hah. Be-bentar bil, jarang-jarang nih". Jawab Nisa masih senyum-senyum menatap Ibrahim. "Nisa, ayo! Jangan bikin malu!" Bisik Nabila kesal menarik lengan baju Nisa. "Ustadz pamit dulu yah". Ujar Nisa lembut masih dalam lamunannya menatap Ibrahim. Ibrahim menanggapi keduanya dengan senyum. "Ih, Bila. Jangan tarik tarik dong malu tau di lihatin kang mas ustadz". "Kang mas, kang mas. Kamu tuh yang bikin malu! Manggil ustadz centil gitu!!". "Yee biarin, cemburu kamu? Awas ya jangan coba-coba naksir juga loh sama kang mas ustadz ku. Kalau tidak NASA end!" Ucap Nisa serius melepaskan tangan Nabila yang masih menarik-narik lengan baju miliknya. "Nisa.. Nisa sak karepmu!". Singkat Nabila menatap Nisa seraya menggelengkan kepalanya. Dan berlalu meninggalkan Nisa. "Bila aku serius loh!". Balas Nisa mengejar langkah Nabila. "Iya iya terserah". Ungkap Nabila menyudahi. #Disisi lain Ibrahim yang masih di tempat semulanya setia memandangi Nabila yang hampir sudah tak terlihat. Benar sekali, wanita itu adalah orang yang sama yang menabrak ku siang tadi saat sholat Jum'at. Pantas saja terasa tidak asing dengan sorot mata teduh itu. Jadi, namanya Nabila?!. Batin Ibrahim menyisipkan senyum tipis di bibirnya. *** "Assalamu'alaikum, hmm sepertinya semua sudah tidur." Gumam Nabila melihat seisi rumah sepi dan dalam keadaan lampu yang di matikan. Untungnya Nabila sudah membawa kunci serep jaga-jaga apabila ia akan sampai rumah larut malam, jadi ia tidak perlu membangunkan kedua orangtuanya agar membukakan pintu untuknya. Langkahnya hati-hati ketika menyusuri sebuah pintu. Ia kayuh gagang pintu dengan perlahan agar tak menimbulkan suara bising. Di lihatnya Asma yang sudah tertidur lelap tanpa mengenakan selimut, Nabila meraih selimut di sisi ranjang untuk menyelimuti tubuh mungil adiknya. "Ya Allah, lindungilah adikku dari gangguan setan yang terkutuk, dan dari mimpi buruk karenanya. Kasihanilah ia sebanyak engkau mengasihi ibu bapak ku. Ampunilah dosanya dan tetapkanlah iman Islamnya saat Engkau menghidupkannya hingga Engkau mematikannya kembali. Aamiin". Nabila bermunajat dan mencium kening adiknya. Nabila masuk kedalam kamarnya setelah berwudhu dan melepas jilbabnya, kini ia sudah menganti pakaiannya dengan pakaian tidurnya. Tergerai Surai hitam panjang lurus namun ikal dibagian bawahnya. Nabila membuka tirai yang menutupi jendela geser yang terletak di dekat meja belajarnya. Ia menggeser kursi belajarnya mendekat ke jendela. Sinar bulan yang terlihat bulat sempurna bersinar terang tepat di depan kamarnya, Nabila membuka sedikit jendelanya sehingga angin malam menyelusup masuk kedalam kamarnya, menerpa wajah cantiknya dan mengibaskan rambutnya yang indah. "Malam ini, bintangnya terhampar indah. Bulannya juga bersinar sangat terang, angin malam terasa sejuk dan tenang. Sungguh, nikmat Allah yang mana lagi yang hendak kami dustakan". Takjub Nabila seraya menatap langit merasakan setiap hembusan angin yang menerpanya. Nabila terenyuh dalam buaian angin malam, sampai disaat ia menutup matanya, ia teringat kejadian dimana ia menarik Ibrahim Yusuf, sang ustadz muda nan tampan bak opa-opa Korea yang di ceritakan sahabatnya tadi. "Masya Allah, kok rasanya d**a gak karuan gini yah. Ini pasti perbuatan setan, makanya hati ku gelisah. Sebaiknya aku sholat malam lalu tidur, agar hatiku kembali tenang". #Ditempat Lain "Subhanallah Indahnya bulan malam ini". Ucap Ibrahim seraya menghentikan langkahnya dan menatap langit. Terlihat senyum tipis di bibirnya, netranya terenyuh menatap bulan yang bersinar terang malam itu. Tanpa sadar ia terbuai akan lamunan yang mengingatkannya pada Nabila. "Bulannya indah, mengingatkan ku pada gadis tadi, teduh namun bersinar dan menyejukkan hati". Gumamnya menatap lembutnya sinar bulan yang menyusup manik-manik matanya. "Astaghfirullah, pikiran apa ini. Sadar Ibrahim! Setan sedang menggoda mu. Sebaiknya aku lanjutkan tujuan ku untuk sholat malam di masjid". Imbuh Ibrahim melanjutkan niatnya bermalam di masjid. Ibrahim memang sering bermalam di masjid dan pulang setelah menyampaikan kuliah subuh. Setelah sampai kerumah ia hanya menganti pakaiannya saja lalu pergi lagi untuk mengisi banyak kajian serta aktivitas lainnya yang berkaitan dengan banyak ummat. Dari langit tampak dua insan yang sedang serempak menyembah Rabb-nya di keberadaannya masing-masing. Dalam keheningan malam, Nabila dan Ibrahim nampak khusyuk mengiba kepada Sang Penciptanya. Terlihat derai air mata mengalir di setiap bait-bait doa yang tak tersirat lisan keduanya. Hanya Allah yang Maha Esa, yang mengetahui apa yang dinyatakan dan apa yang tersembunyi. "Masya Alloh!!, aku keasyikan tahajud. Sekarang udah pukul, 04.01". Ujar Nabila tersentak lesu memandangi jam weker panda yang berada di nakasnya. "Itu artinya lima menit lagi akan masuk waktu subuh. Hhhmptt, aku belum sempat tidur". Terdengar helaan nafas panjang keluar dari mulutnya. "Kalau aku tidur setelah subuh. Aku pasti kesiangan, aku ada kelas pagi hari ini. Dan hari ini-". Tambahnya lagi terputus-putus seketika matanya terbelalak. "Jadwal aku presentasi!!!". Pungkasnya terbangun dari duduknya yang masih bersimpuh di atas sajadah ia berlari kecil menuju meja belajar. Sesampainya Nabila meraih kalender duduk dan memastikan tanggal yang sudah di tandai sebelumnya. "Ya Allah, ini hari persentasi ku. Bahannya sudah siap, tapi aku baru mempelajarinya separuh. Bagaimana ini" "Pak Imran sangat selektif akan penilaian, bila beliau tahu aku tidak menguasai materi ku, bisa bisa aku harus mengulang ". Ucapnya seraya mengigit gigit kuku ibu jari miliknya. "Duhai Rahman, bantulah aku menguasai materi ku mudahkanlah lisan ku. Semoga aku gak mengantuk saat aku mempelajari materi ku lagi". Batin Nabila mengiba kepada sang Illahi. Bersambung ..❤️
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD