Prolog

256 Words
Di dalam hatinya, ada sebuah taman sunyi yang dulu penuh warna. Mawar-mawar merah yang ia tanam bersama istrinya dulu mekar begitu indah, merebakkan wangi kebahagiaan. Namun, waktu adalah angin dingin yang pelan-pelan menggugurkan kelopak itu satu per satu. Hingga hari itu tiba—saat wanita yang ia cintai pergi untuk selamanya—taman itu berubah menjadi tanah yang bisu. Dedaunan kering berserakan, dan mawar-mawar itu layu. Di tengah reruntuhan itu, ada satu bunga abadi yang tetap berdiri. Bunga yang tak pernah mati—cinta untuk istrinya. Bertahun-tahun, ia menjaga bunga itu. Ia menyiramnya dengan air matanya sendiri, berbicara padanya setiap pagi, meyakini bahwa meski tubuh istrinya telah menyatu dengan tanah, cinta mereka tetap hidup dalam kelopak abadi itu. Lalu, di suatu senja, angin membawa benih baru. Tunas kecil muncul di sudut taman yang selama ini ia abaikan. Seorang wanita lain hadir dengan hangatnya. Tunas itu mulai tumbuh pelan-pelan, menghadirkan warna yang dulu sempat ia lupakan. Namun, ia gemetar. Tangannya ragu menyentuh daun muda itu. "Bukankah aku telah berjanji menjaga bunga abadi ini? Akankah aku mengkhianatinya dengan membiarkan bunga lain tumbuh di sini?" Ia takut. Takut jika memberi ruang bagi tunas baru, ia akan mengabaikan bunga abadi yang selama ini ia rawat dengan seluruh hidupnya. Tapi, bukankah cinta yang sejati tidak meminta taman itu kosong selamanya? Bukankah bunga abadi itu tidak menuntut agar ia menutup hatinya rapat-rapat? Mungkin, bunga abadi itu bukan untuk merantai, melainkan untuk menjadi saksi—bahwa cinta bisa hidup berdampingan dengan cinta yang baru. Bahwa hati yang pernah patah tetap bisa mekar kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD