Bab 1 – Taman yang Layu

911 Words
Pagi datang dengan langkah pelan di sudut kota kecil itu. Matahari menyapa lembut, menyusup di celah-celah jendela toko buku yang berdiri tenang di ujung jalan. Debu tipis menempel di kaca, seperti enggan beranjak, menjadi saksi bisu atas waktu yang tak henti berjalan. Daru berdiri di balik meja kasir, menatap keluar jendela. Matanya tertuju pada pot bunga kering di sudut trotoar. Daun-daunnya telah gugur, batangnya mulai menghitam di beberapa bagian, menyerah pada musim yang tak lagi ramah. Sudah berbulan-bulan pot itu di sana, ditinggalkan pemiliknya, seolah-olah mewakili sesuatu yang juga mati di dalam diri Daru. Ia mengembuskan napas perlahan. Lima tahun sejak Ratih pergi, tetapi rasa kosong itu seperti baru kemarin datang. Waktu memang terus maju, tapi sebagian dirinya tertinggal di masa lalu. Toko buku ini—warisan dari istrinya—adalah satu-satunya yang tersisa dari kenangan mereka. Setiap rak, setiap buku, setiap aroma kertas tua, mengandung jejak tangan Ratih. Pria 40 tahun ini melangkah menuju rak buku tua di pojok ruangan. Ia mengusap sampul sebuah buku puisi usang yang Ratih sukai. Judulnya samar karena pudar termakan waktu. Tangan Daru terhenti di sana. Tak ada niat membacanya, hanya ingin merasakan kehadiran yang hilang. Pintu toko berderit pelan. Pak Wirya masuk dengan langkah santai, wajahnya menyunggingkan senyum ramah yang biasa. "Pagi, Ru," sapa Pak Wirya. Daru mengangguk kecil. "Pagi, Pak." Pak Wirya meletakkan dua gelas kopi di atas meja. Uapnya mengepul, mengisi ruang dengan aroma hangat. Mereka duduk di bangku kayu, tak banyak bicara. Begitulah hubungan mereka—tenang, lebih banyak berbagi diam. "Saya lihat bunga di depan toko itu masih kering saja," kata Pak Wirya tiba-tiba, menatap ke luar jendela. "Kasihan, seperti menunggu seseorang menyiramnya, tapi tak pernah ada." Daru tersenyum kecil, getir. "Mungkin memang sudah waktunya mati, Pak." Pak Wirya mengaduk kopinya perlahan. "Ada tanaman yang tampaknya mati, tapi sebenarnya akarnya masih kuat di bawah tanah. Hanya butuh waktu untuk tumbuh lagi." Daru diam. Kata-kata itu mengendap dalam pikirannya. Ia tahu Pak Wirya tak sekadar bicara tentang bunga. "Hidup itu seperti bunga, Ru. Kadang kita lihat semua layu, seperti tak ada harapan. Tapi kalau sabar, kadang-kadang bunga baru tumbuh di tempat yang tak kita sangka," lanjut Pak Wirya, suaranya tenang seperti aliran sungai. Daru tak langsung menanggapi. Ia menyesap kopinya, pahit yang biasa, seperti hidupnya sekarang. Sejak Ratih pergi, ia tak lagi tahu cara menikmati manis. Setelah Pak Wirya pergi, Daru kembali ke meja kasir. Ia memandangi rak-rak yang dipenuhi buku. Pelanggan jarang datang, terutama pagi begini. Tapi Daru tetap membuka toko setiap hari, lebih sebagai ritual ketimbang harapan. Siang merambat perlahan. Panas matahari memantul di kaca jendela. Daru keluar sebentar untuk membetulkan papan nama toko yang mulai miring. Langkahnya terhenti di depan pot bunga kering itu. Ia jongkok, menyentuh batang yang rapuh di ujungnya. Daun-daunnya telah menjadi keriput cokelat. Namun, saat jemarinya menyentuh tanah di dalam pot, ia merasakan sesuatu—sedikit lembap. Akar itu mungkin masih hidup. Tapi Daru tak tahu apakah ia punya tenaga untuk menyiramnya. Sore itu, hujan turun tiba-tiba. Deras. Daru berdiri di balik pintu toko, menatap tetes-tetes air membasahi jalanan. Hujan selalu membuat pikirannya mengembara lebih jauh. Ke masa-masa ketika Ratih menyukai hujan. Mereka biasa duduk di teras rumah, minum teh, bercerita tentang hal-hal kecil. Ratih akan menatap hujan seperti menatap sesuatu yang magis. Daru memejamkan mata. Ia rindu tawa itu. Bunyi bel di pintu membuatnya tersentak. Seorang gadis muda setengah kuyup berdiri di sana, membawa payung yang tak mampu melawan angin. "Permisi, boleh berteduh sebentar?" Daru mengangguk. Gadis itu masuk, mengusap rambutnya yang lembap. Wajahnya ceria meskipun pakaiannya basah. Ada rona kehidupan yang kontras dengan toko ini yang penuh bayangan kenangan. "Makasih, ya, Pak. Saya tadi nggak nyangka hujannya deras banget," katanya ramah. Daru hanya tersenyum tipis. Ia bukan tipe yang pandai mengobrol dengan orang asing. Si gadis berjalan di antara rak buku, sesekali memegang buku dan membaca sekilas. Daru memperhatikannya dari meja kasir. Ada sesuatu pada cara gadis itu menyentuh buku—perlahan, seperti menghargai setiap halamannya. Beberapa menit berlalu. Hujan mulai reda. Gadis itu menghampiri meja kasir. "Saya nggak beli apa-apa, cuma numpang berteduh. Maaf ya," katanya sambil tersenyum. Daru menggeleng. "Tidak apa-apa." Gadis itu melirik keluar. "Bunga itu... sudah lama kering, ya?" tanyanya sambil menunjuk pot di depan toko. Daru terdiam sejenak. "Iya, sudah lama." "Tapi, mungkin dia masih bisa hidup, lho," kata gadis itu ringan, seperti hal biasa. "Kadang bunga cuma butuh seseorang yang percaya dia bisa tumbuh lagi." Daru menatap gadis itu. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi terasa menembus lapisan luka di hatinya. Gadis itu pamit dan pergi, meninggalkan aroma samar hujan dan sesuatu yang aneh—seperti harapan yang hampir ia lupakan. Daru kembali duduk di bangku kayu. Ia memandangi pot bunga itu sekali lagi. Tangan Ratih yang dulu menanam bunga di sana. Daru teringat tawa istrinya saat pertama kali menanamnya, "Biar depan toko kita nggak kelihatan suram." Tapi sejak Ratih pergi, Daru tak pernah benar-benar memperhatikannya lagi. Ia membiarkannya kering, sama seperti ia membiarkan hatinya. Malam merayap pelan. Toko sudah ditutup, dan Daru duduk di meja makan di rumah kecilnya. Di dinding, foto pernikahannya bersama Ratih masih tergantung. Senyum Ratih seakan menyapa, tapi juga mengingatkan. Daru meraih secangkir teh hangat. Ia menatap cangkir itu lama, lalu menghela napas. Esok pagi, ia akan membeli sekantong tanah baru. Dan mungkin, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia akan menyiram pot bunga itu. Karena di balik batang yang tampak mati, bisa jadi akar masih bertahan. Dan mungkin, Daru juga bisa belajar hidup lagi. Seperti taman yang layu, menanti hujan pertama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD