Pagi itu, Larinda duduk bersila di lantai kamar barunya. Cahaya matahari menyelusup perlahan di antara tirai jendela, menyorot cat tembok yang mulai pudar. Kos sederhana milik Bu Sari ini bukanlah istana, tapi di sini, Larinda bisa menarik napas lega.
Tak ada lagi suara bentakan, tak ada piring pecah, tak ada bayang-bayang Aditya—mantan suami—yang menghantuinya. Hanya ada suara burung gereja di atap, dan sisa rintik hujan tadi malam yang menetes perlahan dari talang bocor.
Wanita 32 tahun ini memandang dinding kosong di hadapannya. Di sana, nanti, ia ingin menempelkan lukisan-lukisan bunga buatannya—tanda bahwa hidupnya bisa mulai ia warnai sendiri. Tanpa campur tangan siapa pun.
Larinda meraih sekotak cat air yang tersimpan dalam koper. Kuas tipis di jemarinya mulai menari, menciptakan kelopak demi kelopak bunga di atas kanvas kecil. Warna merah muda untuk harapan, kuning pucat untuk kesedihan yang perlahan memudar, dan hijau lembut untuk kekuatan yang ia cari.
Tangannya berhenti. Mata Larinda mengamati goresannya. Bunga itu tampak mekar, tetapi ada satu kelopak yang patah. Ia menghela napas. Luka-luka dalam dirinya masih terpantul di sana.
"Bangun pagi-pagi sudah melukis aja, Mbak Larinda."
Suara lembut namun hangat itu datang dari ambang pintu. Bu Sari berdiri dengan daster motif bunga-bunga kecil, rambut disanggul seadanya. Di tangannya, ada sepiring pisang goreng yang masih mengepulkan asap.
"Ah, Bu Sari. Iya, lagi coba-coba aja, Bu," jawab Larinda sambil tersenyum kecil.
Bu Sari meletakkan piring itu di meja kecil sudut kamar. "Makan dulu, jangan sampai perut kosong. Kalau cuma ngelukis bunga tapi kamu nggak makan, nanti kamu sendiri yang layu," ujarnya bercanda.
Larinda tertawa kecil, tetapi kalimat itu menancap pelan di hatinya. Lalu, setelah Bu Sari pergi, Larinda mencicipi pisang goreng hangat itu. Rasanya manis, renyah, dan menghadirkan rasa rumah yang lama tak ia rasakan.
Di dunia ini, ternyata masih ada yang sesederhana memberi pisang goreng dengan tulus.
Siang menjelang, Larinda melangkah ke kafe kecil di pojok jalan—tempat sahabatnya, Rania—bekerja sebagai barista. Aroma kopi bercampur wangi kayu manis menyambutnya. Rania melambaikan tangan dari balik meja kasir, rambutnya dikuncir kuda, wajahnya berseri seperti biasa.
"Mbak Rinda! Duduk situ aja, ya. Aku buatin favorit kamu, caramel latte, kayak dulu!" serunya.
Larinda mengangguk, lalu memilih duduk di dekat jendela. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan sketsa bunga yang tadi pagi ia gambar. Di kafe ini Larinda akan habiskan waktu bekerja—berkutat dengan kanvas, pensil, dan kopi hangat.
Rania datang membawa pesanan. "Masih suka gambar bunga, ya? Kenapa sih, selalu bunga?" tanyanya sambil duduk di seberang.
Larinda menatap hasil coretannya. "Karena bunga selalu bertahan. Meski dipetik, dipatahkan, atau diterpa angin, mereka tetap mekar. Aku ingin jadi seperti itu."
Mata Rania melembut. Ia tahu cerita di balik kalimat itu. Ia tahu bagaimana Larinda menghabiskan tahun-tahun terakhir bersama Aditya—lelaki yang awalnya terlihat seperti surga, tapi perlahan menjelma menjadi badai yang merontokkan setiap kelopak harapan di hati Larinda.
"Sekarang kamu udah bebas. Kamu bisa jadi apa pun yang kamu mau. Kamu bisa jadi bunga yang nggak bakal dipatahkan siapa-siapa lagi," kata Rania pelan.
Larinda tersenyum, meskipun ada sisa perih yang masih mengendap di sana.
"Kadang aku mikir, Ran... aku ingin punya bunga yang abadi. Bunga yang nggak akan pernah layu, apa pun yang terjadi," ucap Larinda lirih.
Rania menatapnya lama, lalu menghela napas. "Mungkin abadi itu bukan soal bunga yang nggak layu, Mbak. Tapi bunga yang mau tumbuh lagi, meskipun berkali-kali dipatahkan."
Larinda tercenung. Kata-kata itu seperti mengetuk ruang kosong di hatinya.
Petang menjelang, Larinda berjalan kaki pulang melewati toko buku kecil yang terletak di seberang kafe, tempat Rania bekerja.
Hujan gerimis turun perlahan, menciptakan aroma tanah basah yang ia sukai. Di depan toko itu, seorang pria duduk di kursi tua, menatap pot bunga kering di tepi trotoar.
Pandangan mereka sempat beradu sekilas. Larinda tersenyum kecil, lalu melanjutkan langkahnya.
Ia pernah masuk ke toko itu beberapa kali, mencari buku tentang tanaman untuk ilustrasinya. Pemiliknya, pria berusia empat puluhan dengan mata yang menyimpan sesuatu—kesedihan mungkin.
Ia tak banyak bicara, tapi ada ketenangan dalam caranya merapikan buku atau menyusun tumpukan majalah lama.
Larinda menoleh lagi. Daru masih di sana. Diam. Seperti menunggu sesuatu yang tak kunjung kembali.
Sesampainya di kamar, Larinda menatap bunga di atas kanvas tadi pagi. Kali ini ia menggambar sesuatu yang baru. Sebatang bunga kecil yang tumbuh di antara retakan tanah kering.
Lalu, di bawah gambar itu, ia menulis dengan tinta hitam:
Bunga yang abadi adalah yang berani tumbuh, meski tanahnya retak.
Larinda menyandarkan tubuhnya ke dinding. Angin malam menyelinap masuk melalui celah jendela. Di luar, hujan masih turun perlahan.
Ia tahu, perjalanannya untuk sembuh masih panjang. Bekas luka di hatinya mungkin tak akan hilang sepenuhnya. Tapi malam itu, Larinda merasa ada sesuatu yang mulai bergerak di dalam dirinya.
Seperti akar yang perlahan menyusup ke dalam tanah, mencari kehidupan baru.
Esoknya, Larinda kembali ke kafe Rania, membawa sketsa barunya. Ia berniat mencari buku referensi tentang bunga liar untuk ilustrasi berikutnya.
"Aku mau mampir ke toko buku itu, Ran. Kamu tau kan, yang di seberang kafe ini?" tanyanya.
Rania tersenyum penuh arti. "Oh, toko Mas Daru. Iya, aku tau. Baik kok orangnya, cuma agak... dingin mungkin?"
Larinda terkekeh. "Kayaknya dia lebih mirip tanah yang kering. Tapi siapa tahu, kalau disiram air hujan, bisa jadi subur lagi."
Rania tergelak. "Yaudah, siram aja sekalian pakai senyummu."
Larinda ikut tertawa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawa itu terasa lepas.
Siang itu, Larinda berjalan ke toko buku Daru dengan langkah yang lebih ringan. Di tasnya, ada sketsa bunga yang baru. Di hatinya, ada harapan yang perlahan mekar.
Ia tidak tahu apakah ia akan menemukan bunga abadi yang ia cari.
Tapi ia tahu, ia sudah berani mulai menanamnya.