Bab 3 – Pertemuan di Antara Buku dan Bunga

844 Words
Larinda berdiri di depan rak-rak tua yang penuh dengan buku-buku lawas. Jemarinya perlahan menelusuri punggung-punggung buku yang berdebu, seakan meraba jejak waktu yang tertinggal di sana. Aroma kertas tua bercampur kayu lapuk memenuhi paru-parunya. Ada rasa nyaman yang tak ia duga, seperti menemukan rumah kecil di tengah kebisingan kota. Toko buku ini—meski terlihat sederhana dengan cat dinding yang mulai pudar—memiliki kehangatan yang berbeda. Seakan tiap sudutnya berbisik pelan, "Berhenti sejenak, ceritakan lukamu padaku." Di balik meja kasir, Daru memperhatikannya diam-diam. Sosok wanita itu berbeda dari pengunjung lainnya. Bukan karena ia mencolok, melainkan justru karena kesederhanaannya. Rambut hitam sebahu yang diikat asal, blus putih polos dengan sedikit noda cat di pergelangan tangan, dan mata yang seperti menyimpan hujan—teduh, tapi penuh jejak air mata yang pernah jatuh. Larinda terlihat tekun memilih buku, namun sesekali mencatat sesuatu di buku sketsanya. Daru penasaran. Ia mengenali jenis orang seperti Larinda—mereka yang mencari pelarian dalam lembar-lembar kertas, berharap menemukan sesuatu yang bisa merawat luka. Ia menata ulang beberapa buku di meja, berpura-pura sibuk, padahal ia tengah mencuri pandang. Cincin di jari manisnya masih tersemat. Sudah lima tahun sejak Ratih pergi, tapi ada saat-saat seperti ini—ketika ia merasa bersalah hanya karena memperhatikan seseorang lebih dari sekadar pembeli. Larinda menghela napas, lalu melangkah ke arah meja kasir. "Permisi," suaranya lembut, sedikit ragu. "Ada buku tentang flora atau bunga-bunga, mungkin yang klasik?" Daru menatapnya sebentar sebelum menjawab, "Ada. Di rak bagian belakang, sebelah kanan. Buku-buku botani lama." Larinda mengangguk, tersenyum kecil, lalu beranjak. Daru mengikuti langkahnya dengan ekor mata. Di bagian belakang toko, Larinda menemukan apa yang dicarinya. Buku-buku dengan sampul kusam, ilustrasi bunga yang pudar termakan usia, namun tetap terlihat indah. Ia mengangkat satu buku dengan hati-hati, seperti memegang benda rapuh. Jari-jarinya menyentuh gambar bunga edelweis di halaman pertama—bunga abadi, yang bertahan di puncak gunung, melewati badai dan angin dingin, namun tetap berdiri tegak. Daru tiba-tiba berdiri di belakangnya. "Itu buku favorit istri saya," ucapnya pelan, hampir berbisik. Larinda menoleh, sedikit terkejut. Ada keheningan singkat. "Istri saya. Dia suka bunga edelweis," lanjut Daru. Suaranya kaku, seperti sedang menguji dirinya sendiri apakah ia mampu mengucapkan nama itu tanpa rasa nyeri. Larinda mengangguk pelan, seolah memahami sesuatu yang lebih dalam daripada yang terucap. "Bunga yang kuat, ya?" Daru tersenyum tipis. "Bunga yang bertahan. Tapi tetap bisa layu, kalau dicabut dari tempatnya." Keduanya terdiam. Di luar, suara gerimis mulai terdengar, mengetuk-ngetuk atap seng toko buku. Larinda membalik halaman-halaman buku itu, lalu mengeluarkan sketsa bunganya sendiri dari buku catatan. Beberapa coretan bunga liar, dan di antaranya ada bunga edelweis yang belum selesai. Garis-garisnya masih ragu, seperti hatinya. "Boleh saya lihat?" tanya Daru. Larinda menyerahkan sketsa itu. Daru mengamati dengan seksama. "Indah," komentarnya singkat, tapi tulus. Larinda tersipu, tapi juga merasa diterima. Ia tak tahu mengapa, tapi pujian itu berarti lebih dari sekadar penilaian atas gambar. "Saya menggambar bunga karena... entah kenapa saya merasa mereka mengerti saya. Bunga tumbuh meski tanahnya tandus, meski hujan terlalu deras. Mereka tak menyerah. Saya ingin seperti itu," ucap Larinda pelan, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri. Daru mengangguk. Ia mengerti. Mereka sama-sama sedang belajar bertahan. "Dulu, istri saya sering bilang, 'Taman yang indah bukan karena tak pernah hujan, tapi karena ada orang yang bersedia merawatnya setiap hari,'" kenang Daru. Larinda menatap Daru. Ada sesuatu di matanya—kehangatan yang perlahan muncul di balik kabut duka. Hujan semakin deras di luar. Udara di dalam toko menjadi lebih dingin, tapi percakapan mereka menghangatkannya. Daru berjalan kembali ke meja kasir, mengambil sebuah buku tua dengan sampul berwarna cokelat muda. Judulnya samar karena waktu telah menggerusnya, tapi Larinda bisa membaca sepotong kalimat di bawahnya: Flora yang Bertahan di Musim Kering. "Buku ini... mungkin bisa jadi inspirasi," ujar Daru, menyerahkan buku itu pada Larinda. Larinda menerimanya dengan senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. "Terima kasih." Mereka berdiri berhadapan. Dua orang yang sama-sama memikul masa lalu, tapi menemukan secercah kelegaan dalam sebuah pertemuan sederhana. Saat Larinda membayar bukunya, Daru mencatat harga dengan tangan yang sedikit gemetar. Ada sesuatu yang asing, namun menyenangkan, mengisi dadanya. Larinda melangkah keluar dengan buku di pelukannya, berhenti sejenak di ambang pintu sambil menatap hujan. Ia menoleh ke belakang, "Saya akan sering datang... kalau tidak keberatan." Daru menahan napas sesaat, lalu tersenyum. "Saya tunggu." Larinda mengangguk, lalu berjalan pergi, menerobos gerimis kecil. Daru memandangi punggung Larinda yang menjauh. Ada rasa bersalah karena hatinya bergetar, tapi juga ada harapan yang pelan-pelan tumbuh—seperti tunas kecil di taman yang layu. Ia kembali duduk di kursi kayu di depan toko. Di sudut jalan, pot bunga yang kering masih ada di sana. Tapi kali ini, Daru melihatnya dengan cara yang berbeda. Mungkin, suatu hari nanti, bunga itu akan hidup lagi. Ia menatap cincin di jarinya. Ratih akan selalu menjadi bagian dari dirinya, tapi mungkin... mungkin ada ruang lain di hatinya untuk sesuatu yang baru. Bukan untuk menggantikan, melainkan untuk melanjutkan. Karena cinta yang abadi bukan berarti tak pernah layu. Cinta yang abadi adalah yang terus tumbuh, meski hujan, meski badai, meski pernah patah. Daru menghela napas panjang. Di dadanya, sebuah taman kecil mulai bersemi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD