Brugh “Astagfirullah.” Ashraf menarik lengan Almahira membuat perempuan itu jatuh terduduk di atas pangkuannya. Ia semakin berani setelah kejadian di kampus tadi. Bahkan Ashraf memeluk pinggang Almahira agar istrinya tidak bisa lari. “Pak, lepasin Almahira!” “Kenapa buru-buru banget sih?” Almahira menelan ludahnya kasar. Kenapa semuanya jadi seperti ini? Ingatan tentang kejadian di kampus tadi belum sepenuhnya hilang, dan sekarang Ashraf kembali mengulangi hal yang sama. Bahkan sekarang dengan kesadaran penuh. “Almahira mau istirahat, Pak!” ucapnya dengan nada gugup “—“ Ashraf terdiam. “Coba lihat saya!” pinta Ashraf Almahira menggelengkan kepalanya. Ia tidak berani menatap wajah Ashraf. Jantungnya tidak aman jika bertatapan dengan mata teduh milik suaminya. Almahira membe

