Bab 4 Yang Paling Ribut dan Yang Paling DiamKandidat kedua datang Rabu.

1072 Words
Kalau Arka datang dengan mobil hitam senyap, Natha datang dengan... musik. Sesya mendengarnya dari dalam rumah — bass yang bergetar pelan dari speaker mobil yang parkir di mulut gang. Lalu suara tawa. Lalu suara Pak Hendra yang dengan sabar menjelaskan bahwa volume harus dikurangi karena ini kawasan perumahan. Lalu hening. Lalu Natha muncul di depan pintu dengan jaket bomber kuning cerah, celana jeans, sneakers putih, dan senyum yang sudah terpasang bahkan sebelum pintu dibuka penuh. "Hei! Sesya, kan? Natha"Ia mengulurkan tangan. "Kita belum sempat kenalan beneran waktu di sana. Yang minggu kemarin itu agak... intense ya suasananya." Sesya menjabat tangannya. "Iya. Duduk dulu?" "Oh boleh, boleh—" Natha melangkah masuk dan langsung matanya berkeliling ke seluruh ruangan dengan rasa ingin tahu yang tidak ia sembunyikan sama sekali. "Wah, rumahnya cozy banget. Eh, itu foto kamu waktu kecil ya? Yang pake topi jerami itu?" "Iya." "Imut banget." Natha nyengir. "Ekspresinya serius banget untuk anak kecil." "Waktu itu aku lagi kesel karena es krimku jatuh." "Doh, itu tragedi beneran." Natha duduk di sofa dengan cara yang langsung membuat sofa itu terasa seperti sudah ditempatinya bertahun-tahun. "Eh, rumahnya wangi. Masak apa?" "Kue." Mata Natha berbinar. "Kue apa?" "Brownies." "Bisa minta?" Sesya menatapnya. "Kamu baru sampai dua menit." "Iya tapi perutku udah sampai dari tadi." setelah menghabiskan setengah loyang kue browines dengan tidak tahu malunya padahal baru berkunjung mereka akhirnya pergi ke mal — pilihan Natha, dengan alasan "biar santai, nggak perlu formal-formal" yang Sesya terima karena memang ia juga tidak suka yang formal-formal. Natha ternyata adalah tipe orang yang tidak bisa berjalan diam. "Eh, itu sepatu bagus. Eh, itu kedai baru. Eh, kamu suka bubble tea? Yang taro itu enak. Eh, tapi kalau kamu suka original—" "Natha." "Hm?" "Napas dulu." Natha tertawa. "Sorry, sorry. Aku emang gini orangnya. Berisik." "Aku tahu." "Mengganggu?" Sesya berpikir sebentar. "Tidak. Tapi melelahkan." Natha tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Jujur banget. Aku suka." Ia melirik ke arahnya. "Kebanyakan orang pura-pura tidak terganggu karena takut aku tersinggung." "Kalau kamu tersinggung karena kejujuran, itu masalahmu," kata Sesya ringan. Natha berhenti berjalan. Sesya beberapa langkah ke depan baru sadar dan menoleh. "Kenapa?" "Tidak ada," kata Natha. Tapi senyumnya berubah — lebih kecil dari biasanya, tapi entah kenapa terasa lebih nyata. "Lanjut yuk." Di food court, walaupun Natha bisa memesan reservasi khusus dan private karena pesan dari mami tercinta bahwa Sasya dibesatkan dari nenek yang sederhana sehingga Natha harus menyesuaikan dengan Sasya agar tidak mencolok dan Sasya nyaman bersamanya akhirnya dia searching di chat GBT cara dating kalangan menengah serta sederhana dan inilah hasilnya pergi ke foodcourt dan Natha memesan untuk keduanya tanpa bertanya lebih dulu pada Sasta lalu langsung menyesal. "Eh wait, kamu nggak alergi seafood kan?" "Tidak." "Syukurlah." Ia meletakkan nampan. "Kalau iya, aku udah pesan yang salah dan itu akan jadi kenangan pahit pertemuan kedua kita." "Pertemuan pertama," koreksi Sesya. "Yang di sana kemarin tidak dihitung." "Kenapa tidak dihitung?" "Karena kamu bilang bisa dapat cewek yang lebih keren." Natha menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Kamu masih ingat itu." "Memori aku bagus." "Itu musibah." "Buat kamu, iya." Natha mengintip dari sela jarinya. "Oke. Aku minta maaf resmi. Waktu itu aku bicara sebelum mikir. Kebiasaan buruk yang sudah sering ditegur Mami aku." Sesya mengangguk pelan. "Aku terima." Natha menurunkan tangannya. "Secepat itu?" "Kamu minta maaf dengan tulus. Kenapa harus lama-lama?" Natha menatapnya dengan ekspresi yang agak aneh — seperti orang yang baru menemukan sesuatu yang tidak ia sangka ada di hatinya. "Sesya," katanya kata Natha setelah sebentar sebentar melirik Sesya, "aku rasa kita bisa jadi teman yang sangat baik." "Teman?" "Dulu aku pikir itu akan jadi titik akhir." Natha tersenyum, kali ini ada nada yang sedikit berbeda dan serius. "Sekarang aku tidak yakin." Sesya memilih untuk fokus pada makanannya dan tidak menanggapi. Tapi sudut bibirnya bergerak naik sedikit. setelah itu Sesya bertanya "Apakah kamu sebelumnya tau mau dijadikan kandidat suami? " " hmmm tidak" kata Natha " Trus kenapa kamu mau melanjutkan ketemu aku? " "Karena mamiku yang menyuruh" "Kamu takut sama mamamu? " "Aku sayang banget sama mamiku dan ibumu adalah sahabat nya mamiku, dan kata mami dulu aku sering dititipkan ke ibumu kalau pas lagi ke luar negri karena kerjaan nya. Hanya ibumu yang dipercaya mamiku" "Apa cuma itu? " tanya Sesya "tidak karena aku yakin kita bisa menjadi teman yang baik kedepannya" Jumat adalah giliran Elang. Tidak ada musik. Tidak ada kucing yang mengikuti. Tidak ada nenek yang menginterogasi soal gaji — karena Elang datang membawa buket bunga lavender kecil yang ia berikan ke nenek Sesya lebih dulu sebelum menyapa Sesya, dan nenek Sesya langsung menatapnya seperti menatap manusia sempurna yang turun dari langit. "Nak ini siapa?" bisik nenek ke Sesya. "Salah satu kandidat, Nek," bisik Sesya balik. "Yang ini boleh," kata nenek dengan nada final seperti hakim ketok palu. Sesya menutup matanya. Elang pura-pura tidak dengar sambil tersenyum tipis. Mereka pergi ke toko buku. Itu pilihan Elang — ia bertanya lebih dulu, "Sesya suka ke mana?" dan ketika Sesya menjawab toko buku, ia langsung mengangguk tanpa ekspresi berlebihan. Di dalam toko, mereka berpisah secara alami — Sesya ke rak fiksi, Elang ke rak sains dan biografi. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Tidak ada yang merasa perlu mengisi keheningan dengan kata-kata. Sesya menemukan novel yang sudah lama ia cari. Ia membalik buku itu, membaca sinopsisnya, lalu tanpa sadar bergumam, "Akhirnya." "Sudah lama dicari?" Sesya mendongak. Elang berdiri di sebelahnya, memegang dua buku tipis, menatap novel di tangan Sesya. "Beberapa bulan. Stoknya selalu habis." Elang mengangguk. Ia tidak berkata wah kebetulan atau aku juga suka buku itu seperti yang mungkin orang lain katakan untuk mencairkan suasana. Ia hanya menatap sampulnya sebentar. "Bagus pilihan kamu," katanya akhirnya. "Penulisnya detail dalam riset historisnya." Sesya menatapnya. "Kamu baca buku ini?" "Setahun lalu." "Gimana endingnya?" Elang menatapnya dengan ekspresi datar. "Tidak akan aku spoiler." Sesya tersenyum. Elang balik tersenyum — dan berbeda dari Natha yang senyumnya lebar dan ramai, senyum Elang justru pelan dan tenang seperti sore yang tidak terburu-buru. Di kasir, Elang membayar buku Sesya sebelum Sesya sempat mengeluarkan dompet. "Hei" "Sudah." "Aku bisa bayar sendiri." "Aku tahu." Elang menerima kantong dari kasir dan menyerahkannya ke Sesya. "Tapi aku ingin." Sesya menatapnya. "Terima kasih," katanya akhirnya. "Sama-sama." Elang mulai berjalan ke pintu. "Kalau sudah selesai baca, ceritakan pendapatmu." Sesya mengikutinya. "Emang kita masih ketemu?" Elang menoleh sedikit. "Aku harap begitu." Sesya tidak menjawab. Tapi sepanjang perjalanan pulang, tanpa ia sadari, jarinya terus memainkan tali kantong buku itu. . . Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD