Bab 1
Sesya Pradana tidak pernah merasa hidupnya spesial.
Pagi itu sama seperti pagi-pagi biasanya. Ia bangun jam lima, menyeduh teh hangat untuk neneknya, lalu duduk di beranda kecil sambil membaca buku yang sudah ia pinjam tiga kali dari perpustakaan kelurahan. Judulnya Memasak dengan Hati. Halaman dua ratus tiga sudah ia hafal.
"Sesya, tolong belikan tempe di warung Bu Ijah," suara neneknya memecah ketenangan.
"Siap, Nek."
Sesya meletakkan buku, mengenakan sandal jepit birunya yang satu talinya sudah sedikit copot, lalu berjalan menyusuri gang sempit di depan rumahnya. Rumah mereka sederhana. Cat temboknya sudah mengelupas di beberapa sudut. Pot bunga berjajar rapi di depan pintu itu kreasi Sesya sendiri setiap akhir pekan.
Tidak ada yang menyangka gadis dengan sandal jepit copot itu adalah cucu tunggal Bapak Sutrisno Pradana pemilik Pradana Group, konglomerat dengan aset terbesar ketiga di negara ini.
Sesya sendiri pun tidak terlalu paham soal itu.
Maksudnya, ia tahu kakeknya kaya. Tapi "kaya" bagi Sesya artinya bisa beli bakso dua mangkuk sekaligus. Bukan... ini.
Sore itu, sebuah mobil hitam mengkilap berhenti tepat di depan gang sempit tempat Sesya tinggal. Kaca jendela turun pelan, dan seorang pria paruh baya berpenampilan rapi melongok keluar dengan ekspresi yang sangat tidak cocok dengan lingkungan sekitarnya.
"Di sini?" bisik pria itu pada sopirnya.
"Koordinat GPS menunjukkan lokasi ini, Pak Hendra."
Pak Hendra — asisten pribadi Sutrisno Pradana — menelan ludah. Ia turun dari mobil, melangkah hati-hati menghindari genangan air bekas hujan semalam, lalu mengetuk pintu rumah nomor tujuh.
Tok tok tok.
Pintu dibuka oleh seorang gadis dengan celemek bermotif kucing, rambut dikuncir asal, dan noda tepung di pipi kirinya.
"Iya, cari siapa?"
Pak Hendra menatapnya lama.
"Nona Sesya Pradana?"
Sesya mengernyit. "Iya. Kenapa? Saya salah parkir?"
"Anda tidak punya kendaraan."
"Nah, itu jawaban pertanyaannya."
Pak Hendra menarik napas panjang. Dua puluh tahun bekerja untuk keluarga Pradana, dan inilah momen paling aneh dalam kariernya.
"Kakek Anda meminta Anda untuk datang ke kediaman beliau. Sekarang. Ada hal penting yang perlu dibicarakan."
Sesya menatapnya sebentar, lalu menoleh ke dalam rumah. "Nek! Sesya pergi dulu ya!"
"Makan siang dulu!"
"Nanti Sesya makan di sana!"
"Di mana?"
Sesya menoleh ke Pak Hendra. "Di mana?"
"Di... Istana Pradana. Kawasan PIK."
Sesya kembali menoleh ke dalam. "Di Menteng, Nek! Fancy kayaknya!"
Istana Pradana.
Sesya berdiri di depan gerbang besi setinggi empat meter dengan ornamen emas di ujungnya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa sandal jepitnya mungkin perlu diganti dulu sebelum masuk.
"Ini... rumah Kakek?"
"Salah satu kediaman beliau," jawab Pak Hendra dengan nada datar.
"Salah satu."
"Benar."
Sesya menghela napas. "Oke. Aku rasa selama ini definisi 'kaya' yang aku pakai perlu direvisi besar-besaran."
Di dalam ruang makan yang ukurannya hampir sama dengan lapangan basket, Sutrisno Pradana lelaki tujuh puluh tahun dengan rambut putih rapi dan mata tajam yang selalu terlihat sedang menghitung sesuatu duduk di ujung meja panjang.
Sesya duduk di ujung satunya.
Mereka saling menatap melewati rentang meja yang isinya piring-piring kosong berkilau dan rangkaian bunga segar.
"Kau sudah dua puluh dua tahun," kata Kakek akhirnya.
"Iya, Kek. Ulang tahun Sesya bulan lalu. Kakek nggak kirim kado."
"Aku mengirim uang."
"Oh." Sesya mengernyit. "Rekening Sesya kosong terus, jadi Sesya kira itu salah transfer dan Sesya kembaliin."
Sutrisno menutup matanya sebentar. "Kau mengembalikan transferan dua ratus juta rupiah."
"Sesya kira itu kecelakaan."
Hening.
Panjang sekali.
"Sesya," kata Sutrisno akhirnya dengan suara yang berat seperti orang yang sedang menahan sesuatu entah tawa entah tangis, "Kakek sudah memutuskan saatnya kau menikah."
Sesya hampir tersedak air minumnya.
"Hah?"
"Kau akan diperkenalkan pada empat kandidat. Mereka semua dari keluarga yang Kakek percaya. Kau punya waktu enam bulan untuk mengenal mereka, dan di akhir masa itu, kau akan memilih satu."
"Tapi Kakek aku bahkan baru tahu rumah Kakek ada di sini"
"Kau tahu di mana rumah Kakek."
"Aku pikir itu ruko biasa yang kebetulan besar"
Sutrisno menatapnya panjang. Lalu, sangat pelan, sudut bibirnya bergerak naik.
"Kau benar-benar anak ibumu," gumamnya.
Sesya tidak tahu itu pujian atau bukan. Tapi perutnya sudah terasa aneh sejak kata menikah keluar dari mulut kakeknya.