Bab 2 Pertemuan Empat kandidat suami yang tidak diidamkan

1031 Words
Satu minggu setelah Sesya kembali dari pertemuan dengan kakeknya Sesya kembali lagi ke Jakarta Sesya datang dengan baju terbaiknya kemeja putih polos, rok midi biru dongker, dan flat shoes cokelat yang ia beli tiga tahun lalu. Rambutnya ia ikat setengah. Ia tidak memakai banyak riasan karena dua alasan: pertama, ia tidak terlalu bisa; kedua, ia tidak terlalu mau. Kalau mereka suka aku, mereka suka aku apa adanya. Itu prinsip yang terdengar bagus. Masalahnya, "apa adanya" Sesya hari itu termasuk noda kecil saus tomat di ujung lengan baju karena ia sempat membantu Bu Ijah di warung sebelum berangkat. Pak Hendra melihat noda itu, menutup matanya, dan memilih untuk tidak berkomentar. Flasback Enam Tahun lalu Dari kecil Sesya diajarkan hidup sederhana di kampung oleh kedua orang tuanya dan diasuh olek nenek dari keluarga ibunya ketika umur 12 tahun karena kedua orang tuanya meninggal yang dikabarkan kecelakaan . Sesya dibawa neneknya bukan kakeknya dari ayahnya karena neneknya berfikir memberikan kehidupan yang damai.Yang mana sangat berbeda dari lingkungan kakeknya yang difikir itu berbahaya tapi neneknya tetap tidak pernah memberikan informasi apapun kepada Sesya karena berfikir untuk kebaikannya.Yang mana Sesya tidak tau menahu tentang kedua orang tuanya dia berfikir kedua orang tuanya kecelakaan dan memang sering pergi untuk kerja diluar kota karena jualan grosir sayur Kembali ke masa kini di ruang pertemuan di lantai dua Istana Pradana terasa seperti ruang sidang. Empat pria duduk berjajar di satu sisi meja panjang. Sesya duduk sendirian di sisi lain, dengan Kakek di ujung tengah seperti hakim yang sedang memimpin persidangan. Sesya menatap keempat pria itu bergantian. Yang pertama tampan, cool, tatapan dingin seperti lemari es yang baru dibuka duduk dengan tangan terlipat di atas meja. Rambut hitamnya rapi. Ekspresinya seperti orang yang dipaksa datang ke acara yang ia benci. Yang kedua senyum lebar, bahu santai, rambut sedikit acak-acakan dengan gaya yang kelihatan disengaja sedang memainkan bolpoin di jarinya sambil sesekali lirik-lirik ke Sesya dengan ekspresi seperti sedang menilai menu restoran. Yang ketiga postur tegak seperti tiang bendera, rahang tegas, ekspresi flat tapi mata selalu bergerak memindai ruangan duduk dengan punggung benar-benar lurus. Punggungnya lebih tegak dari kursinya. Yang keempat wajah lembut, kacamata tipis, senyum tipis yang terasa tulus satu-satunya yang mengangguk sopan ketika Sesya masuk tadi. "Baik," kata Sutrisno. "Ini Sesya, cucu saya. Sesya, kenalkan empat kandidat yang sudah Kakek pilih." Pria pertama Arka Santoso, anak konglomerat transportasi berbicara duluan. "Dengan hormat, Pak Sutrisno," suaranya datar, "saya keberatan dengan proses ini. Saya tidak berniat dijodohkan dengan gadis yang......" matanya melirik sekilas ke Sesya, "yang belum saya kenal." Sesya menatapnya. "Kamu juga belum aku kenal. Kita impas." Arka berbalik menatapnya. Sedetik. Dua detik. Ia tidak menjawab. Tapi rahangnya sedikit mengencang. Pria kedua Natha Kusuma, anak pengusaha makanan dan entertainment langsung nyengir. "Arka bener sih. Kita emang belum kenal. Tapi..." ia menegakkan badan, "...nggak ada salahnya berkenalan dulu, kan? Siapa tahu cocok." Ia melempar senyum ke Sesya. "Nama kamu Sesya? Cantik juga ya orangnya." "Natha." Sutrisno menatapnya. "Iya Pak, saya serius." "Kamu bilang seminggu lalu kamu bisa dapat cewek yang lebih keren." Natha terbatuk. "Itu... konteks berbeda, Pak." Sesya mengangkat alis. "Konteks berbeda gimana?" "Maksudnya lebih keren dalam artian... uh..." Natha mengetuk meja pelan-pelan. "Dalam artian kamu justru paling keren karena kamu beda. Unik. Simple. Itu nilai plus" "Berhenti," kata Sesya dengan nada datar. "Kamu makin dalam." Natha menutup mulutnya. Pria ketiga Gavin Wiranto, anak panglima militer berbicara dengan nada resmi seperti sedang membacakan laporan. "Saya menghormati Bapak Sutrisno dan keputusan beliau. Namun secara logis, pernikahan yang didasarkan pada pertemuan singkat dan perjodohan keluarga memiliki tingkat keberhasilan yang tidak dapat diprediksi dengan akurat tanpa data psikologis yang memadai" "Gavin," potong Sutrisno. "Ya, Pak?" "Kamu mau atau tidak?" Gavin terdiam. "Saya... tidak menolak untuk mempertimbangkan." "Itu artinya mau." "Itu artinya mempertimbangkan." Sesya menopang dagu dengan tangannya. Pria ini berbicara seperti kamus berjalan. Yang terakhir Elang Saputra, anak pemilik jaringan rumah sakit dan hotel sejak tadi hanya diam. Ketika semua mata tertuju padanya, ia meletakkan tangannya di atas meja dengan tenang. "Saya harus jujur," katanya pelan. "Waktu pertama disampaikan tentang perjodohan ini, saya berniat menolak." Ruangan hening. "Tapi..." ia menatap Sesya, dan untuk sesaat ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang sulit dibaca sesuatu antara heran dan tertarik, "...saya rasa saya bisa mengubah pikiran itu." Sesya mengedipkan mata. "Oh." Elang tersenyum tipis. "Kalau Sesya bersedia." Sesya menoleh ke tiga pria lainnya bergantian Arka yang masih berwajah dingin, Natha yang masih mencoba recover dari kalimat bencana sebelumnya, Gavin yang sedang menatap udara kosong sambil sepertinya menghitung probabilitas sesuatu. Lalu ia menatap kakeknya. "Kek," katanya pelan, "boleh Sesya tanya satu hal?" "Tentu." "Kalau Sesya pilih tidak ada dari mereka berempat... apa yang terjadi?" Sutrisno meletakkan cangkir tehnya. "Saham Pradana Group akan diwariskan ke yayasan, bukan ke kamu." "Sesya nggak ngerti sistem saham." "Artinya kamu tidak mendapat warisan." Sesya mengangguk pelan. "Oke. Sesya nggak butuh warisan sebenernya, Kek." Ruangan kembali hening. Kali ini lebih panjang. Natha berbisik ke Arka, "Dia serius?" Arka tidak menjawab. Tapi tatapannya ke Sesya berubah sedikit saja, nyaris tidak terlihat dari dingin yang datar menjadi dingin yang... penasaran. Sutrisno menghela nafas kalau saja kesehatan kakek dan neneknya baik baik saja dia tidak akan menitipkan cucu kesayangan ke empat kandidat calon suami yang mungkin bukan idaman Sesya tapi karena dia berfikir hidup nya tidak lama lagi dan tidak tau cucu kesayangan ini akan seperti apa kedepannya kalau tidak ada yang menjaga akhirnya kakeknya cepat cepat mencari kan pendamping agar menjamin keselamatan Sasya dari semua ancaman yang sasay tidak ketahui.Senyum getir kakeny terbit dan bilang "Sesya..kamu sudah membaca dokument nya kan." Sesya menatap kakeknya dan hanya mengela nafas. Dia tidak bisa menolak permintaan kakeknya karena takut dikutuk menjadi kayak malin kundang. Selain itu Sasya berfikir kakek permintaan kakek yang terakhir kalinya Tak lama kakeknya menatap Sesya lalu menatap keempat pria di hadapannya. "Enam bulan " kata kakeknya itu adalah waktu yang diberikan kakeknnya untuk memilih diantara empat kandidat ini. Ia menghela napas lebih dalam lagi dan perlahan, melirik noda saus tomat di lengan bajunya yang tadi ia pikir tidak ada yang lihat tapi ternyata Elang sedang menatapnya dengan senyum yang susah payah ia sembunyikan. Sesya menatapnya. Elang langsung mengalihkan pandangan ke arah lain, berpura-pura batuk kecil. Ya Allah. Enam bulan yang sangat panjang. . . Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD