Awal Perpisahan

1459 Words
Andra membuka matanya disaat orang-orang sedang tertidur, melirik ke kanan dan ke kiri, menyadari bahwa ia berada di rumah sakit yang entah di mana? Andra kembali memejamkan matanya dan berdoa dalam hati, semoga apa yang terjadi hanyalah sebuah mimpi buruk. Setitik air matanya jatuh saat ia mengingat bagaimana ia mendorong tubuh Gita, Kepalanya berdenyut nyeri, dadanya sakit ketika ia bernapas. Begitupun dengan perutnya yang memang terkena stang motor orang itu. Andra tidak membuka kembali matanya dan lebih memejamkan matanya untuk kembali tidur. Andra ingin mengistirahatkan dulu tubuhnya untuk saat ini. Baru saja ia bahagia dengan sikap Gita yang mau bermanja-manja dengannya, sekarang ia harus berpisah dengan Gita. Pantas saja perasaannya sedari pagi tidak enak, dan sikap aneh Gita yang menjadi sangat manja. Gita bahkan tidak menolak saat ia mengangkat tubuhnya untuk berputar, bahkan Gita mengaitkan tangan dan kakinya pada tubuh Andra. Hal yang tidak pernah Gita lakukan selama tiga tahun mereka dekat. Gita tertawa dengan senangnya pada saat itu, ia bahkan menyandarkan kepala pada dadanya untuk mendengarkan detek jantung Andra, dengan jahilnya meniup leher Andra yang membuat Andra menahan napas karena geli dan reaksi tubuhnya yang lain. Bagaimanapun Andra lelaki normal, walaupun umurnya baru 20 tahunan, mendapatkan perlakuan seperti itu dari gadis yang dicintainya membuat reaksi pada tubuh Andra yang lainnya. Entah bagaimana keadaan Gita saat ini, jam masih terlalu pagi untuk Anak Onta nya yang baru tertidur sekitar tiga jam yang lalu. Sehingga Andra tidak bisa bertanya tentang keadaan gadis tomboi pemilik hatinya tersebut. Andra tahu ini bukan di Indonesia, karena Andra bisa melihat dari canggihnya alat dan juga desaign kamar yang ditempatinya. "Woi bangun!" Andra mencoba membangunkan teman-temannya. Mencari tombol yang ada di samping brankar untuk merubah posisinya menjadi setengah duduk, tangannya yang panjang berhasil mendapatkan apa yang ia cari dan berhasil merubah posisinya saat ini. Andra menggapai buah Anggur yang ada di nakas kecil yang bisa dijangkau nya, mungkin itu pemberian teman ayahnya yang menjenguknya, dan pelaku yang membuka parcelnya tentu saja Wildan. Karena Wildan tidak suka melihat buah-buahan yang dibungkus menjadi parcel. Andra melemparkan buah kecil itu tepat mengenai kepala Getta, dan lemparan pertama tidak berhasil membangunkannya. Mengambil lagi dan melemparkannya lagi, kali ini berhasil. Getta bangun dengan mengusap-usap kepalanya, kepalanya menoleh ke arah kanan dan kaget mendapati Andra yang sudah berubah posisi berbaring nya. "Lu udah sadar," tanyanya dengan menghampiri Andra. "Belom," jawab Andra asal. "Si Pea. Gue panggil dokter dulu." "Ntar aja, gue di mana ini? Si Kakak gimana?" "Singapura, dia baik-baik aja, udah mulai kerja juga." "Alhamdulilah." "Gue panggil dokter dulu." Sebelum pergi Getta membangunkan teman-temannya yang langsung bangun ketika mendengar Andra sudah sadar. "Kapan sadarnya lu?" tanya Kenn . "Dari kemaren," jawab Andra santai. "Mana ada, dari kemaren gue disini lu kaga melek-melek," sela Wildan yang tidak melihat mata Andra terbuka sama sekali. "Kemaren malem gue sadar lu tidur. Lu semua datang aja gue tau sebenernya, cuma males buka mata aja. Lagian males ada Bokap gue," jawab Andra yang memang salah satunya malas bertatap wajah dengan ayahnya. Getta datang dengan diiringi dokter dan suster di belakangnya, dokter tersenyum melihat Andra yang sudah banyak bicara dan seperti tidak merasakan sakit. "How are you? Which part of the body hurt?" tanya dokter yang mungkin seusia ayahnya, dokter yang cukup tampan dengan kacamata yang menghiasi wajahnya. "Well, the chest when breathing, and the trobbing head hurt and stomach." Andra memberitahukan bagian tubuhnya yang sakit, seperti dadanya yang sakit saat bernapas, Kepalanya yang berdenyut nyeri juga bagian perutnya yang sakit. "For chest pain when breathing it's caused by two broken ribs on your left, for the head we will do Computerized Tomography scan. And for the stomach, it's because of the bruises caused by the impact of an object." Dokter itu menjelaskan keadaan Andra, juga menjelaskan perawatan yang akan ia gunakan untuk mengetahui apa yang terjadi pada kepala Andra. "Okay, when can i go home?" tanya Andra tidak sabar. Andra tidak betah dan ingin segera pulang ke tanah air. Andra ingin melihat bahkan memeluk gadis kesayangannya. Dokter terkekeh pelan mendengar pertanyaan Andra, anak dari salah satu temannya ini sangat tidak sabaran sekali. "Your body is healthy first, then you ask when you can go home." Andra mendengus, sungguh ia sangat tidak betah, Andra ingin segera menemui Gita. "I want to go back to Indonesia soon, give me a very effective medicine." Bukankah rumah sakit yang ia tempati saat ini begitu canggih? Tidak salah bukan jika Andra meminta obat yang paling manjur untuk kesembuhannya agar lebih cepat. "I Only give the medicin according to the dose your body needs, call me if something happens, I'II go first." Dokter itu kembali terkekeh pelan dengan sikap tidak sabar Andra. Ia hanya memberikan obat sesuai dosis yang diperlukan, tidak boleh kurang ataupun lebih. Semuanya sudah sesuai standar pengobatan yang diterapkan oleh rumah sakit. Setelah menjelaskan itu sang dokter pergi untuk memeriksa pasien lainnya. "Ok, thank you doctor." Getta mengantarkan dokter sampai ke depan pintu dan kembali menghampiri teman-temannya. "Pulang mulu yang ada di pikiran lu," gerutu Hendrik. "Emang lu betah di rumah sakit?" tanya Andra dengan meledek. "Ya kaga sih, tapi kan liat kondisi tubuh lu dong. Ya kali lu balik dalam keadaan kayak gini," jawab Kenn dengan kesal. "Lagian ngapain coba gue dibawa kesini segala. Kayak di Indonesia gak ada rumah sakit aja," gerutunya kesal. "Bokap lu panik banget pas dia tau kalo lu kecelakaan. Dia langsung nyuruh Pak Nelson buat nyiapin semuanya. Gue sama si Onta." jelas Wildan dengan menunjuk Getta. "Lainnya sama si Kakak. Lu juga sempet di rawat beberapa jam di rumah sakit yang sama kayak si Kakak sebelum dibawa kesini." "Siapa yang ngasih tau Bokap kalo gue kecelakaan? Lagian aneh, biasanya aja gak pernah peduli." Wajar jika Andra heran, karena selama enam tahun ayahnya tidak pernah menginjakkan kakinya di Indonesia. Seakan tidak peduli dengan anak-anaknya, dan sekarang hanya kecelakaan kecil menurut Andra, ayahnya harus begitu repot. "Namanya orang tua pasti panik lah. Aneh lu," kata Rian. "Oya, bener 'kan si Kakak gak kenapa-napa?" tanyanya lagi, Andra sangat ingin bertemu dengan Gita. "Kita telpon yuk," saran Hendrik. "Jangan, gue gak mau dia liat gue kayak gini, takutnya dia ngerasa bersalah." Andra sangat hapal bagaimana Gita dan pikirannya yang selalu menyalahkan dirinya untuk setiap kejadian yang berhubungan dengannya. "Pelakunya udah ketauan, dan lu tau motornya motor siapa?" tanya Kenn pada Andra. Bukan hanya Andra yang menggelengkan kepala, tapi Anak Onta yang lainnya juga. "Motor Mio punya lu yang buat tarohan." Kenn menunjukkan foto kiriman teman mereka pemilik arena Gokart di PIK, temannya itu yang mengecek CCTV jalan tersebut. Kenn juga yang mengawal kasusnya hingga selesai, karena Kenn sudah berjanji pada Gita. Mereka melihat dengan seksama foto yang sedikit buram, tapi benar kata Kenn, bahwa itu motornya yang ia berikan pada Raja Bola akibat kalah taruhan di Final Liga Inggris. Karena di bagian atas sebelah lampu terdapat stiker besar dengan tulisan GITA & ENAM ANAK ONTA, plus gambar seorang perempuan yang sedang memegang kepala Unta dengan kedua tangannya. Itu Stiker khusus yang mereka buat setelah nama Onta disematkan pada mereka semua. Stiker itu terdapat di semua kendaraan milik mereka, yang artinya stiker itu tidak dijual di manapun. "Siapa yang ngirim?" tanya Wildan. "Setra, mobil lu juga masih di sana," jawab Kenn. "Orangnya mana? Udah di tangkep 'kan sama Polisi?" tanya Andra lagi. Karena emosi, Andra menarik napas dan meringis karena dadanya kembali sakit. "Gak usah emosi," tegur Rian. "Orangnya lagi di interogasi sama polisi, gak mungkin 'kan kalo gak ada yang nyuruh," jawab Kenn setelah Andra kembali tenang. "Gue pengen tau siapa orangnya. Pastiin dia dapet hukuman yang setimpal buat semua perbuatannya." Andra menyerahkan semuanya pada Kenn. Andra juga yakin pasti orang tuanya juga mengurusnya dan tidak akan membiarkan pelakunya bebas, apalagi jika itu pesaing bisnisnya. "Lu tenang aja. Kita juga besok kudu balik lagi, Bokap juga nyerahin semuanya sama kita." Kenn, Hendrik dan Rian memang harus segera kembali. Jika Kenn karena harus mengurus kasusnya sampai tuntas, berbeda dengan Hendrik yang memang harus selalu menjaga nilainya, karena sama seperti waktu sekolah menengah atas, di universitas pun Hendrik mendapatkan beasiswa. Sedangkan Rian sendiri memang sudah di ultimatum oleh Maminya. Untuk Getta dan Wildan sendiri lebih memilih menemani Andra hingga sembuh. Kejadian itu pula yang menjadi awal berpencar nya Oncom, Gita dan Enam Anak Onta nya. Karena setelah kejadian itu semuanya berubah dan tidak pernah lagi sama seperti tiga tahun yang mereka lalui bersama, dengan rasa yang tidak bisa dijelaskan apalagi dijabarkan. Karena mereka sendiri pun tidak tahu bagaimana cara mendeskripsikannya, yang mereka tahu hanyalah ingin selalu melihat Gita bahagia, apalagi jika bahagia itu tercipta karena mereka. Dan rasa itu bukan hanya Andra yang merasakan, semua Anak Onta nya. Kebahagiaan dan kenyamanan Gita merupakan prioritas mereka. Karena ketika Gita bahagia mereka pun akan bahagia. Gadis tomboi pemilik senyum paling manis untuk para Anak Onta nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD