Ketakutan

1540 Words
Sheryl mendengus kesal ketika mengingat bukan Gita yang tertabrak oleh orang bayarannya, melainkan Andra. Mengumpat kesal dengan meneriaki makian pada Andra di dalam kamarnya. Malam itu Sheryl langsung pergi setelah orang bayarannya menjalankan tugasnya, walaupun targetnya salah. Setelah kejadian itu Sheryl tidak pernah keluar rumahnya selain untuk bersekolah, dan akan berada di dalam kamarnya selama seharian penuh. Sheryl hanya akan keluar jika perutnya merasakan lapar yang teramat. Sebenarnya Sheryl sedang di landa rasa takut, walaupun ia menyadari tidak ada yang melihat semua kejadian itu. Sheryl juga sedikit merasa bersalah, ya walaupun hanya sedikit. Ia membenarkan perkataan Kimmy, yang menyebutnya keterlaluan jika harus bermain dengan keselamatan seseorang. Nasi sudah menjadi bubur, dan ia sudah tidak bisa berbuat apapun. Sheryl benar-benar bermain bersih, ketika ia menghubungi orang bayarannya ia menggunakan kartu baru dengan registrasi asal, dan ketika menemui orang itu untuk menyerahkan uang bayarannya, karena orang itu tidak memiliki rekening bank Sheryl menggunakannya masker, kacamata hitam dan juga selendang yang menutupi kepalanya. Sehingga orang itu tidak pernah melihat wajahnya. Jadi menurutnya sudah sangat aman, tapi entah mengapa tetap saja hatinya tidak tenang. Apa mungkin karena kali ini ia benar-benar keterlaluan dan jahat sehingga hatinya gelisah seperti ini. Handphonenya berdering menandakan adanya panggilan masuk, nama Kimmy tertera di Handphonenya. Sheryl tidak berniat untuk mengangkatnya, karena pasti kedua temannya itu hanya akan menceramahi dirinya, dan akan menanyakan ini dan itu yang membuat kepalanya pusing. Namun pada akhirnya Sheryl mengangkat juga panggilan dari temannya itu, karena Kimmy dan Salsa terus menerus menelponnya secara bergantian. "Ada apa sih lu berdua?" ketusnya tanpa sapaan terlebih dahulu. "Ke mana aja lu?" Kimmy tak kalah ketus tanpa menjawab pertanyaan Sheryl. "Antartika. Ya di rumah lah, emang gue mau ke mana?" "Kenapa lu gak masuk sekolah?" "Males! gak ada yang bikin semangat," jawabnya santai. "Si b**o! Lu sekolah nyari ilmu apa nyari cowok?" tanya Kimmy dengan emosi. "Dua-duanya lah, lu gak pernah denger pepatah apa? Sambil menyelam minum air. Yang artinya di sekolah itu gak cuma nyari ilmu, nyari cowok juga. Ilmunya dapet pacar juga dapet," jawab Sheryl santai. Di antara mereka bertiga Kimmy memang yang paling benar dalam urusan sekolah, dalam artian Kimmy benar-benar mencari ilmu, dan untuk pacar hanya sebagai penyemangat baginya. Sedangkan untuk Sheryl dan Salsa sekolah hanya untuk mendapatkan ijazah, yang terpenting ada penyemangat cowok-cowok ganteng untuk mereka. Semenjak Anak Onta lulus Sheryl mulai malas-malasan dalam bersekolah. "Menyelam sambil minum air itu lu kelelep b**o! Sama kayak sekolah lu yang cuma nyari pacar doang, gak mau belajar ya gak bakalan lulus lu," balas Kimmy dengan kembali emosi. "Serah lu, gue lagi males ngapa-ngapain. Jangan ada yang ke rumah gue. Awas aja kalo lu berdua sampe ganggu hidup gue," ancamnya yang tahu bahwa kedua temannya itu akan mendatanginya. Sheryl sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun saat ini. Kamarnya bagaikan memiliki gravitasi kuat yang selalu menahannya untuk tetap berada di sana. "Percaya diri amat lu, orang kita mau ke Mall pulang sekolah." Kimmy memang sengaja ingin memancing Sheryl keluar dengan mengatakan bahwa mereka akan pergi ke pusat perbelanjaan. Karena biasanya Sheryl akan sangat semangat jika mendengar kata Mall. "Terus mau apa lu nelponin gue? Gue gak bakalan tergoda, enakan juga tidur." Sheryl tidak peduli, karena saat ini ia hanya butuh ketenangan bukan keramaian. Dan rumahnya yang sepi merupakan tempat yang pas untuknya saat ini. "Ya cuma buat manas-manasin lu aja sih," jawab Kimmy dengan tertawa. Sheryl mendengus mendengar tawa Kimmy, "Gue gak tergoda, pokoknya gue lagi gak mau kemana-mana. Gue cuma mau di kamar mengurung diri, sebelum Kak Rian datengin gue dan ngajak balikan titik," balasnya tidak peduli dengan godaan Kimmy. "Istighfar woi! Gue takut lu stress gegara di putusin sama Kak Rian. jangankan ngajak balikan, justru dia pesta putus dari lu." Kimmy dan Salsa kembali tertawa setelah meledek Sheryl. "Dih! Lu gak tau aja, kita liat nanti. Gue yakin Kak Rian bakalan ngajak balikan sama gue," ucapnya dengan percaya diri. "Serah lu, gue gak mau ketularan stress. Gue cuma berdoa semoga Kak Hendrik gak mutusin gue, karena gue gak nyari masalah sama si Gita," balas Kimmy cuek. "Bangke emang ya, bukannya prihatin malah ketawa di atas penderitaan gue lu!" serunya dengan kesal. "Lagian lu dibilangin ngeyel. Gue sering bilang, jangan cari perkara sama si Gita. Walau bagaimanapun kita itu cuma status doang buat mereka, sedangkan si Gita itu tetap jadi prioritas mereka." Bukan sekali Kimmy mengingatkan pada Sheryl akan arti Gita untuk para Anak Onta nya. Namun Sheryl tetap tidak mengindahkan perkataannya, sehingga saat ini ia yang harus menanggung sendiri akibatnya. Karena posisi Kimmy dan Salsa saat ini masih aman-aman saja, walaupun tetap menjadi nomor dua untuk kekasihnya. "Bodo amat. Gue gak mau kayak lu semua yang cuma diem aja saat pacar lu malah memprioritaskan cewek lain daripada lu yang pacarnya sendiri," jawabnya tidak peduli. "Iya ngelawan yang mengakibatkan kandasnya hubungan cinta lu sama sang kekasih dan akhirnya buat lu gila!" teriak Kimmy dengan diakhiri tawa yang lebar. "Bae-bae bunuh diri, Jeng!" ledek Salsa dengan kembali tertawa. "Emang temen Bangke lu semua!" Sheryl mematikan sambungan teleponnya karena kesal. Menggerutu sendiri dengan memukul-mukul boneka monyet yang dibelikan oleh Rian karena dirinya merengek. Saat itu mereka pergi menonton berdua, dan lagi-lagi karena ia yang merengek pada Rian, sehingga mau tidak mau Rian menurutinya. Sheryl kembali mengenang kebersamaannya dengan Rian, yang semuanya selalu atas paksaan darinya. Dan selalu dengan izin dari Gita. Sampai saat ini, Sheryl masih bertanya bagaimana perasaan mereka sebenarnya pada Gita. Terlalu sulit di mengerti untuk pikiran dangkalnya. Sikap para Anak Onta yang seolah-olah tidak akan mengizinkan seekor semut pun menggigitnya, apalagi menyinggung dan melukai nya secara langsung. Sheryl tidak bisa membayangkan apa yang akan mereka perbuat padanya, jika sampai mereka tahu bahwa Sheryl lah yang telah mencelakai Gita yang digagalkan oleh Andra. Sheryl juga mengetahui jika Andra dibawa ke Singapura oleh ayahnya untuk mendapatkan perawatan terbaik, karena Salsa memberitahukan padanya. Menurut informasi dari Salsa, Kenn yang sedang menangani kasusnya, dan Kenn juga berjanji akan menemukan dalangnya. Itulah yang membuat Sheryl ketakutan saat ini, walaupun ia yakin bahwa ia tidak meninggalkan jejak apapun, tapi tetap saja ia tidak tenang. Sheryl tahu siapa Kenn, anak dari pemilik Arial Life & Tools, perusahaan raksasa yang berpusat di Jepang. Ditambah yang ia celakai adalah Andra, pewaris dari Angkasa Group, perusahaan properti yang menggurita. Sudah bisa dipastikan bahwa mereka akan menyelidiki kasusnya sampai tuntas. Dan saat ini opsi persaingan Bisnis lah yang membuat Andra dicelakai orang. Sekali lagi, itu hanya opsi pertama, karena semuanya akan berubah setelah penyelidikan secara mendetail. Sheryl tidak pernah tahu motor yang digunakan orang bayarannya itu adalah motor bekas Andra, di mana di atas motor itu tertempel stiker yang hanya dimiliki oleh kendaraan para Anak Onta. Hal itu memudahkan Kenn dalam melakukan penyelidikan. *** Dilain tempat, Kenn, Rian dan Hendrik sedang mengurung seseorang yang merupakan pelaku dari kecelakaan yang meninpa Gita dan Andra. Kenn bahkan tidak bisa menahan emosinya saat laki-laki berumur 30 tahunan itu dibawa secara paksa oleh anak buahnya. Postur tubuhnya sama dengan laki-laki yang berada di dalam rekaman CCTV yang berada di lokasi kejadian. Badannya sedikit besar, tingginya dibawah Hendrik, memakai topi dan berkulit coklat. Laki-laki yang di panggil dengan nama Alex di kelompoknya, laki-laki yang berstatus duda dengan satu orang anak. Kenn menghmpirinya, tanpa aba-aba Kenn langsung menghajar pipinya yang sebelah kanan menggunakan kepalan tangannya. "Siapa yang nyuruh lu?" tanyanya dengan dingin. "Gak tau," jawab Alex dengan meringis pelan. "Jawab b*****t!" bentak Kenn tidak sabar. "Gue gak bakalan nyerahin lu ke polisi sebelum gue puas," ancamnya dengan seringai jahat. Rian cukup ngeri juga melihatnya. Selama ini Kenn terkenal cuek dan selalu tenang, tapi kali ini sepertinya ia tidak bisa menahan emosinya. "Gue gak tau, sumpah!" Keukeh nya yang memang tidak mengetahui siapa yang menyuruhnya. Kenn kembali melayangkan tinjunya pada pipi sebelah kirinya, hingga mengeluarkan darah di sudut bibirnya. "Gue gak tau, Anjing!" bentak Alex dengan marah. Posisinya masih duduk tersungkur akibat tinjuan yang dilayangkan oleh Kenn. "Wow! Masih berani lu ngebentak gue," ledek Kenn dengan tersenyum miring. "Mangkanya lu jangan ngeyel, gue udah sumpah gak tau. Cewek itu cuma telpon, pas ketemu juga dia pake masker, kacamata item sama selendang yang nutupin rambutnya. Yang pasti dia pake mobil Jazz merah , platnya B. 1 TCH." Mendengar penjelasan Alex, Para Anak Onta saling pandang. Mereka tengah berpikir dengan kata cewek itu yang artinya kemungkinan dalangnya bukan dari kalangan saingan bisnis ayahnya Andra. Kenn langsung mengeluarkan handphonenya, menelpon seseorang untuk mengecek nomor polisi yang disebutkan oleh Alex. "Bawa dia ke kantor polisi," perintah Kenn pada kedua orang anak buahnya. Alex kembali di paksa untuk berjalan. "Lepasin gue woi! Gue cuma di suruh," teriak Alex pada Kenn. "Gue udah tau siapa pelakunya," ucap Kenn dengan pandangan lurus ke depan. "Siapa?" tanya Hendrik dan Rian kompak. "Mantan lu," jawab Kenn tanpa ekspresi. "Maksudnya si Sheryl?" tanya Rian tidak percaya. "Emang siapa lagi mantan lu selain dia?" tanya Kenn heran. "Gak ada sih. Tapi masa iya dia sampe ngelakuin itu?" tanyanya masih tidak percaya. "Kalo gak percaya kita ke kantor polisi sekarang." Kenn berdiri yang diikuti oleh Rian dan Hendrik. Mereka akan memastikan hasil pemeriksaan polisi pada plat mobil yang digunakan orang yang menyuruh Alex. Alex memang selalu menghapalkan plat nomor kendaraan orang yang menyuruhnya. Itu karena jika dirinya ditangkap seperti ini, bukan hanya dia yang menderita sendiri di balik jeruji besi, walaupun ia telah di bayar sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD