Penangkapan

1524 Words
Rian menggelengkan kepalanya tak percaya dengan semua bukti yang dilihatnya dari kepolisian. Satu minggu pasca kecelakaan yang menimpa Gita dan Andra, Kenn berhasil mengumpulkan semua bukti. Kini mereka hanya tinggal menunggu polisi untuk menangkap Sheryl yang merupakan seorang anak dari pemilik hotel ternama di Indonesia, dan merupakan salah satu kolega dari Adi Putra. Penangkapan yang penuh drama karena sanggahan dari Sheryl dan kedua orang tuanya. Jafran ayah dari Sheryl berkali-kali menghalangi pihak kepolisian untuk membawa anaknya pergi menuju kantor polisi untuk pemeriksaan. Begitupun dengan Widia yang merupakan ibu sambungnya yang bahkan sampai pingsan, ketika Sheryl di giring menuju kantor polisi dengan kedua tangannya diborgol. Kenn dan Hendrik ikut dalam penangkapan Sheryl, yang berkali-kali merengek pada mereka berdua, dan membantah semua tuduhan. "Percaya sama aku, Kak. Aku gak tau apa-apa, aku bahkan gak tau kalo si Gita kecelakaan sama Kak Andra," katanya waktu itu dengan bersimbah air mata. Kenn dan Hendrik hanya diam tanpa menjawab apapun. "Kalian siapa sebenarnya? Kenapa kalian menuduh anak saya?" bentak Jafran pada Kenn dan Hendrik. "Saya Kenneth Arial Rasyad. Anak dari Samuel Arial Rasyad yang merupakan pemilik dari Arial Life & Tools," jawab Kenn dengan nada dingin. Tatapan Kenn bahkan begitu mengintimidasi mereka semua. "Dan saya tidak mungkin menuduh tanpa bukti. Jika Anda terus menghalangi, maka saya pastikan anda akan menerima akibatnya," ucap Kenn dengan tegas. "Dan satu lagi yang harus anda tahu siapa orang yang dicelakai oleh Putri Manja anda itu. Dia adalah Andra Adi Putra Angkasa, pewaris tunggal Angkasa Group yang merupakan Investor di hotel anda bukan?" Seketika Jafran terdiam mendengar ucapan Kenn yang diakhiri dengan senyum miringnya, ia tidak menyangka Putrinya harus berurusan dengan pewaris Angkasa Group. "Papah." Panggilan Sheryl menyadarkan Jafran dari keterkejutannya, Jafran tidak bisa berbuat apa-apa sekarang, karena berurusan dengan Adi Putra Angkasa merupakan kesalahan terbesar dalam kelangsungan bisnisnya nanti. Untuk saat ini biarlah Sheryl di proses dahulu, dan benar kata Kenn yang tidak akan menuduh tanpa bukti, toh nanti Sheryl akan bebas jika bukti tidak cukup kuat dan dinyatakan tidak bersalah. Jafran juga berpikir mungkin ini jalan untuk Sheryl berubah untuk semua sikap egoisnya. "Baik, silahkan bawa Putri saya pergi. Tapi ingat! Jika sampai putri saya terbukti tidak bersalah maka saya akan menuntut balik kamu, atas tuduhan pencemaran nama baik," ucap Jafran dengan tegas. Walaupun ia pasrah tetap ia harus mengancam untuk wibawanya dan menenangkan Putrinya yang sedang dilanda ketakutan. "Saya tunggu," balas Kenn santai, setelah itu mereka pergi dengan Sheryl yang terus beeteriak. "Kak Kenn, Kak Hendrik. Aku gak tau apa-apa, Kak. Tolong jangan kaya gini," ujarnya lagi dan lagi. "Lu jelasin di kantor Polisi," balas Kenn datar dan pergi menuju mobilnya. "Parah! Masih kecil aja begitu kelakuannya, apalagi udah gede coba?" kata Hendrik heran. "Anak kurang kasih sayang ya gitu. Gue tau silsilah keluarga dia yang penuh dengan drama," balas Kenn yang memang mengetahui bagaimana keluarga Jafran Sudirno. Keluarga penuh drama dengan segala halnya. "Tau banget lu kayaknya?" "Sok polos lu." Kenn menjalankan mobilnya mengikuti mobil polisi, diikuti pula mobil Jafran di belakangnya. Sheryl akan di periksa terlebih dahulu, walaupun semua bukti sudah mengarah padanya, tetapi mereka tetap harus mengikuti prosedur hukum. Kenn tahu bahkan sangat yakin jika Jafran pasti akan menyediakan pengacara terbaik untuk anak manjanya itu. Namun Kenn juga tidak akan kalah siap, karena ia pun telah mengutus seorang Setyo Latief pengacara dari Angkasa Group yang merupakan pamannya sendiri. Setyo merupakan pengacara yang cerdas dengan selalu mengandalkan bukti konkret dan terpercaya, bukan dengan cara licik yang dimanipulasi. Setyo tidak akan menerima tawaran jika kasus yang akan ditanganinya memang berlawanan dengan hukum. "Kira-kira siapa yang bakal ngedampingin tuh bocah?" Hendrik menerawang siapa yang akan di utus oleh Jafran untuk membela anak manjanya. "Siapapun dia, gue pastiin gak bakalan menang. Bukti kita udah lebih dari cukup buat dia mempertanggungjawabkan perbuatannya," jawab Kenn dingin. Entah mengapa sikap Kenn benar-benar menjadi dingin dan datar semenjak ia menangani kasus kecelakaan Gita dan Andra, bukan hanya pada orang lain, bahkan terkadang pada Anak Onta yang lainnya juga jika ia lupa. Hanya pada Gita Kenn tidak pernah menunjukkan sikap dingin dan datarnya itu. "Muka lu kayak Es, Bege!" kata Hendrik yang kembali melihat jawaban dingin Kenn. "Gue bawaannya kesel mulu serius," jawabnya yang memang sadar kadang tidak bisa menempatkan diri dengan kekesalannya. "Tapi kalo sama si Kakak gak pernah." "Gak tau gue juga, kalo sama dia gak pernah lupa dan gak pernah bisa juga nunjukin sikap dingin." Bukan hanya Kenn tapi semua Anak Onta nya pun merasakan hal yang sama. Tiga tahun mereka dekat dengan Gita, belum pernah sekalipun mereka marah pada Gita, lebih tepatnya tidak bisa. Walau terkadang kesal dengan sikap Gita yang terlalu baik pada setiap orang, dan sikap Gita yang selalu menolak setiap pemberian mereka. "Pernah gak lu mikir sama kayak orang lain?" tanya Kenn yang membuat Hendrik mengerti. "Gue sih gak percaya sama hal-hal kayak gitu ya." Hendrik mengerti pertanyaan Kenn yang menjurus tentang pikiran orang lain pada Gita, yaitu memakai ilmu mistis agar mereka semua terpikat. "Gue juga gak. Lu tau kalo Mami nya si Rian datengin orang pinter semacem kiyai gitu buat liat si Kakak pake begituan apa kaga?" Hendrik melotot mendengar perkataan Kenn, "Kata siapa lu?" tanyanya bingung, darimana Kenn mendapatkan kabar seperti itu. "Pembantu yang ada di rumahnya. Inget gak waktu kita ke rumahnya sama si Kakak pas terakhir kalinya?" tanya Kenn yang di angguki oleh Hendrik. Gita memang sudah tiga kali ikut bermain ke rumah Rian. Dan pertemuan pertama dengan Erika penuh dengan penilaian yang membuat Erika yakin jika Gita dari kalangan atas, sedangkan pertemuan kedua Erika mengetahui jika Gita tidak selevel dengannya karena waktu itu Erika sedang berada di Jakarta, dan mendengar jika Gita sedang lembur yang ternyata hanya bekerja di konveksi bra. Melihat bagaimana sikap anaknya dan juga Anak Onta lainnya memperlakukan Gita yang sepertinya sangat mereka sayangi, membuat Erika curiga dengan itu semua. Erika menganggap jika Gita memakai pelet atau ilmu mistis untuk menarik perhatian mereka semua. Dari sana Erika mendatangi orang pintar untuk mengetahui apa yang dipakai Gita sehingga membuat para Tuan Muda begitu menyayanginya. Erika harus kecewa dengan jawabannya, karena Gita tidak pernah memakai apapun dalam hal mistis. Bukan hanya pada satu orang pintar, tapi tiga sekaligus dengan jawaban yang sama. "Waktu itu gue mau ke kamar mandi, lu semua ada di belakang. Gue gak sengaja denger dua pembantunya lagi ngomongin si Kakak. Dan yang satunya bilang kalo Nyonya nya udah ngedatengin tiga orang pinter buat liat apa yang dipake sama si Kakak buat narik perhatian kita semua. Dan lu mau tau jawabannya apa?" Hendrik menggelengkan kepalanya dengan polos. "Si Kakak bersih, gak pernah pake ilmu-ilmu kayak gitu buat dapetin perhatian kita." Hendrik tersenyum, "Gue sih emang udah yakin jawaban nya gitu. Soalnya yang gue tau, kalo orang yang pake pelet kayak gitu gak bakalan lebih dari 40 hari reaksinya kalo dapet beli. Sedangkan kalo dia ngerjain sendiri itu bisa lebih lama selagi masih terus dia kerjain," balas Hendrik yang mengetahui itu semua dari Emaknya Gita. Karena waktu itu mereka kembali main ke rumah Gita dan menepati janjinya pada Kiki untuk membawanya ke pantai. "Tau dari mana lu?" "Dari Emaknya si Kakak. Waktu itu lu gak ada pas si Emak ngejelasin tentang hal mistis kayak gitu. Bahkan ya kata si Emak, ada orang yang puasanya sampe sehari semalem dan bukanya cuma pake lada putih tiga biji, nasi sesuap kecil, garem sama aer putih setengah gelas, udah gitu puasa lagi." Hendrik menceritakan apa yang pernah di ceritakan oleh Emak Gita. Hal mengerikan menurutnya, saat itu Hendrik, Andra, Rian dan juga Wildan yang mendengarkan. Sedangkan Kenn dan Getta sedang berkelana di kebun untuk memetik pepaya setengah matang yang akan digunakan untuk bahan rujak. "Aneh-aneh aja ya manusia itu." Balas Kenn yang juga tidak habis pikir untuk orang-orang yang melakukan hal seperti itu. Menurutnya sia-sia jika efeknya hanya sebentar. "Nah itu, makanya orang yang ngomongin si Kakak itu orang sirik doang sih kalo menurut gue. Inner beauty mereka gak keluar karena hati mereka yang kayak gitu," kata Hendrik dengan bijak. Karena memang di mata para Anak Onta, Gita sangat berbeda dengan gadis lain. Gita cantik dengan versinya sendiri, senyumnya mampu membuat orang lain terkena serangan diabetes jika terlalu sering melihatnya, karena di dalam senyum Gita terdapat kandungan gula yang begitu banyak, sehingga menimbulkan rasa manis yang teramat. Gita dengan kesederhanaan dan apa adanya membuat para Anak Onta begitu menyayanginya, juga Gita yang selalu mengajarkan hal-hal baik dan positif pada mereka semua. Setiap senyuman yang terukir dari bibir Gita memberikan kehangatan pada hati mereka. Setiap tawa yang keluar dari bibir Gita selalu menular pada mereka. Setiap tingkah Gita selalu menjadi daya tarik tersendiri untuk mereka. Panggilan Onta yang disematkan oleh Gita pada mereka terasa begitu spesial dan membuat mereka bahagia. Gita adalah sumber kebahagiaan bagi para Anak Onta nya, maka dari itu Kenn begitu marah ketika mengetahui Sheryl ingin mencelakai Gita yang justru mengenai Andra. Kenn akan memastikan bahwa Sheryl tidak akan bisa mengelak dengan semua bukti yang ada, Sheryl akan menerima hukuman akibat dari perbuatannya sendiri. Sekaya apapun Jafran, tetap masih jauh lebih kaya Andra dan juga Kenn, dan dengan kekuatan uang, Kenn akan membuat semua proses nya menjadi mudah dan singkat. Kenn akan memastikan Sheryl menyesal karena sudah berani bermain-main dengan keselamatan Gita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD