Sheryl menangis sepanjang jalan menuju kantor polisi, perasaan gelisah nya mengapa menjadi seperti ini. Padahal ia sudah sangat yakin jika semuanya rapi dan tidak meninggalkan jejak apapun.
Sheryl berjanji dalam hati, jika sampai mereka tidak memiliki bukti yang kuat ia akan menuntut Kenn dan Hendrik atas pencemaran nama baik.
Namun, rasa takut kembali mendominasi hati dan pikirannya, bagaimanapun Kenn tidak akan mungkin menuduh tanpa bukti, sungguh saat ini Sheryl begitu ketakutan. Jika saja orang bayarannya tidak salah sasaran, dan jika saja Andra tidak menyelamatkan Gita, mungkin ia tidak akan mengalami ketakutan seperti saat ini.
Sheryl tidak akan berurusan dengan Angkasa Group, dan Sheryl tidak mungkin berurusan dengan polisi, ini semua salah Gita. Lihat lah, lagi dan lagi ini semua salah Gita. Sheryl juga sangat kesal dengan sikap ayahnya yang seolah tidak bisa berbuat apa-apa demi menyelamatkan dirinya, ayahnya memang sudah tidak peduli padanya, sungguh malang sekali nasibnya kali ini.
"Mamih Sheryl takut," ucapnya dalam hati.
Dulu selagi Mamih nya masih bersamanya, Mamih nya akan membela Sheryl mati-matian walau ia salah sekalipun. Tapi sekarang, wanita itu, hanya menangis entah dalam bentuk rasa apa. Apakah ia menangis hanya demi mendalami aktingnya, yang sebenarnya di dalam hatinya justru bahagia. Apakah ia benar-benar bersedih karena Sheryl di tangkap polisi.
Sepertinya opsi pertama lebih masuk akal, karena selama ini pun wanita itu hanya berpura-pura baik dihadapannya hanya untuk menarik perhatian semua orang. Sheryl dengan segala pemikiran buruknya memang tidak pernah berpisah.
Mobil yang membawa Sheryl telah sampai di parkiran kantor polisi, semua yang ada di dalamnya keluar, dua orang polisi di kanan dan kiri Sheryl menggiringnya masuk. Mobil Kenn dan juga mobil yang membawa Jafran sampai di sana secara bersamaan.
Kenn dan Hendrik keluar dan berjalan secara bersisian untuk masuk ke dalam, tanpa menoleh pada Jafran yang juga baru keluar dari mobilnya. Kenn benar-benar menunjukkan kekuasaannya kali ini, ia tidak bergeming dengan gertakan Jafran ketika di rumahnya.
"Sombong sekali dia," gerutu Jafran yang melihat sikap Kenn.
Jafran juga akhirnya masuk kedalam kantor polisi untuk mendampingi anaknya, di dalam sana sudah ada pengacara yang sudah dihubunginya untuk mendampingi anaknya.
"Bagaimana?" tanyanya langsung pada Budi yang baru keluar dari ruangan pemeriksaan.
"Semua bukti memang mengarah pada Nona Sheryl, Pak."
Budi telah memeriksa semuanya, dan memang semua bukti mengarah pada Sheryl, dari mulai plat mobil dan juga nomor yang di gunakan olehnya untuk menghubungkannya dengan Alex. Sedetail itu memang Kenn memeriksa semuanya.
"Anak itu memang keterlaluan," ujar Jafran dengan kesal.
Jafran berjalan masuk bersama Budi, di sebuah bangku terlihat Sheryl sedang dimintai keterangan oleh pihak kepolisian. Di sebelahnya ada Setyo pengacara dari Kenn.
"Apakah benar ini plat nomor mobil anda?" tanya penyedik pada Sheryl yang hanya diam saja. "Jawab!"
Setyo mengeluarkan kertas yang merupakan hasil print percakapan Sheryl dengan orang yang menghubungkannya dengan Alex. Sheryl tidak bisa mengelak lagi, ia hanya duduk menunduk dengan air mata yang terus mengalir dan sesenggukan.
"Baik, Anda resmi ditahan sampai putusan pengadilan nanti."
"Gak, saya gak mau di tahan. Saya gak salah, saya gak tau apa-apa."
Sheryl berteriak histeris begitu seorang polisi membawanya kebalik jeruji besi.
"Papah! Keluarin Sheryl dari sini, Pah. Sheryl gak salah," mohon nya pada Sang Ayah
"Kamu tenang aja, Pak Budi bakalan cari cara terbaik supaya kamu bebas dari segala tuntutan."
Jafran mencoba menenangkan Putrinya, walaupun dihatinya resah karena semua bukti sudah jelas mengarah pada Sheryl.
"Sheryl gak mau disini, Pah. Tempatnya bau, Sheryl gak mau, Sheryl gak bisa napas."
Melihat ruangan kecil yang hanya sebesar kamar mandinya, tidak ada barang apapun selain satu tikar lusuh. Sheryl sangat ketakutan membayangkan harus berada ditempat seperti ini walaupun hanya 1 jam.
"Kamu yang sabar, Papah bakal berusaha supaya kamu cepet bebas. Sekarang ini coba kamu renungi aja semuanya," balas Jafran dengan lembut.
"Aku mau keluar dari sini, Pah. Bukan mau denger ceramah Papah!" bentaknya yang tidak suka dengan nasihat sang Ayah.
"Terserah kamu, Papah pulang dulu. Kamu baik-baik disini."
Jafran yang memang mudah emosi begitu tidak suka ketika mendengar bentakan Sheryl. Ia memilih pergi daripada harus berdebat yang sudah pasti tidak ada ujungnya.
Jafran masih bisa mendengar Putrinya berteriak dan dibentak oleh seorang Sipir. Sesungguhnya hatinya sangat sakit harus meninggalkan putrinya seorang diri dengan kondisi ketakutan. Namun ia pun tak bisa berbuat apa-apa, biarlah itu akan menjadi tugas Budi.
***
Gita mulai merasa sepi ketika menyadari bahwa Anak Onta nya kini sibuk, terlebih setelah kecelakaan itu Andra seperti menghilang tanpa jejak. Getta dan Wildan pun belum kembali ke tanah air, hanya ada Hendrik, Rian dan Kenn yang kadang menemaninya.
Lebih sering Rian dan Hendrik, karena Kenn sibuk mengurus kasus kecelakaannya. Setiap kali ia menanyakan kabar Andra mereka hanya bilang Andra baik-baik saja, ingin rasanya Gita marah akan jawaban santai mereka, tapi selalu Gita tahan dan ingin melihat seberapa jauh mereka bisa menyembunyikan keadaan Andra padanya.
"Si Onta kapan balik?" tanyanya pada Rian yang kali ini menjemputnya.
"Kurang tau juga sih, cuma yang pasti dia masih dirawat. Tapi keadaannya udah stabil kok," jawab Rian seperti dua hari yang lalu.
"Gara-gara gue dia sampe kayak gitu. Gue ngerasa bersalah banget."
"Apa sih, Kak. Namanya juga kecelakaan, dia ngelakuin kayak gitu juga karena dia mau ngelindungin lu. Kita doain yang terbaik aja buat si Onta dan semoga pelakunya cepet di temuin. Lagian 'kan kita juga belum tau motifnya apa sampe orang itu mau nyelakain dia," balas Rian dengan merangkul bahu Gita. Saat ini mereka sedang berada di pinggir kali tempat biasa mereka nongkrong.
"Iya juga sih, tapi tetep aja kalo dia gak ngedorong gue harusnya gue yang ketabrak," balas Gita lagi.
"Udah jangan dipikirin. Sekarang yang bisa kita lakuin cuma berdoa," saran Rian yang tidak mau melihat Gita terus menerus menyalahkan dirinya. "Beli eskrim yuk," ajaknya dengan menarik pelan tangan Gita.
Mereka berjalan dan menyeberang untuk menuju minimarket, membeli eskrim cone coklat favorit Gita, Rian berharap suasana hati Gita akan kembali baik setelah memakan eskrim. Handphonenya berdering karena panggilan masuk dari Hendrik.
"Kenapa?" tanyanya langsung dan mengaktifkan mode speaker.
"Lu di mana?" tanya Hendrik balik.
"Di minimarket sama si Kakak."
"Kenapa, Ta?" tanya Gita.
"Tungguin disitu, gue sama si Onta mau kesitu. Mau beli apa?"
"Gak mau Apa-apa. Maunya ketemu lu aja," gombalnya pada Hendrik yang membuat Kenn mendengus.
"Oh! Jadi sama gue gak mau ketemu nih?" tanya Kenn berpura-pura merajuk.
"Onta 'kan sibuk, gak mau ganggu," sindir Gita.
"Apa sih, buat lu gue gak bakalan sibuk, Kak. Ciusan deh," balas Kenn yang paham dengan sindiran Gita. Satu minggu ini Kenn memang terlalu sibuk dengan kasusnya.
"Ya udah cepetan," kata Gita dengan manja.
"Siap Tuan Putri," balas Kenn dan Hendrik kompak.
Setelah itu mereka mematikan sambungan telponnya, Gita dan Rian melanjutkan memakan es krimnya. Menunggu selama sepuluh menit mobil Kenn sudah masuk ke area parkiran mini market.
Hendrik dan Kenn turun dengan gaya cool nya, kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya menutupi mata pandanya. Mereka berjalan ke arah Gita dan Rian yang sedang duduk di kursi yang tersedia.
"Lama ya?"
Tanya Kenn dengan mengecup puncak kepala Gita begitupun dengan Hendrik, hal yang selalu di lakukan oleh para Anak Onta nya, yang selalu mendapatkan protes dari Gita dan tidak pernah didengarkan oleh mereka semua.
"Sampe lumutan," jawab Gita penuh drama yang ditanggapi dengan kekehan pelan dari keduanya.
"Gimana, udah beres?" tanya Rian langsung.
Hendrik menggerakkan ekor matanya mengisyaratkan Rian agar tidak membahasnya di depan Gita, karena Gita pasti semakin merasa bersalah jika mengetahui jika Sheryl lah dalang dari semuanya.
"Belum, nunggu sidang putusan pengadilan," jawab Hendrik.
"Udah ketemu pelakunya?" tanya Gita penasaran, Kenn menganggukkan kepalanya, "Siapa?"
"Biasa, saingan bisnis Bokap nya si Onta," bohong Kenn.
Kenn melakukan itu agar tidak menjadi beban pikiran Gita yang sudah pasti akan kembali merasa bersalah.
"Tapi kok orang itu ngarahnya ke gue sih bukannya ke si Onta?" tanya Gita heran.
Karena motor itu diarahkan padanya bukan pada Andra. Andra mendorong Gita sehingga ia yang tertabrak.
"Kalo lagi kayak gitu gak mesti harus si Onta yang di targetin, Kak. Dia juga tau pasti si Onta bakalan nyelamatin lu makanya dia sengaja ngarahinnya ke lu. Karna kalo langsung ke si Onta 'kan dia udah antisipasi dan refleks'an orangnya."
Rian mencoba bermain dengan logikanya, dan berharap Gita tidak lagi menanyakannya detailnya.
"Gitu ya," balas Gita dengan mengangguk-anggukan pelan kepalanya.
"Udah jangan banyak pikiran, udah makan belom?" tanya Hendrik.
"Udah," jawab Gita singkat.
"Lu kok gak kerja?" tanya Kenn yang baru menyadari ini bukan hari libur.
"Tempat kerja gue lagi giliran pemadaman listrik hari ini, dari pagi sampe sore, jadi di liburin sama Kokoh."
Sedang ada pemadaman listrik bergilir memang untuk daerah Jakarta Utara, dan hari ini giliran sekitar tempat kerja Gita.
"Jalan-jalan yuk, mau gak?" usul Hendrik.
"Ke mana?" tanya Rian.
"Ke rumah lu aja yuk, Kak. Ajak si Oncom." Gita tampak berpikir sebelum mengiyakan ajakan Hendrik. Besok memang hari sabtu dan diliburkan juga oleh bos nya.
Gita akhirnya mengangguk menyetujui, "Gue telpon si Oncomnya dulu."
"Gue aja," cegah Kenn dengan langsung mencari kontak Oncom di handphonenya.
Setelah Oncom mengiyakan ajakan Kenn, mereka bersiap. Gita ikut ke rumah Rian terlebih dahulu untuk anak Onta nya bersiap, baru setelah itu pergi ke kontrakan Gita dan menjemput Oncom dikontrakkan nya.
Gita tidak pulang karena uangnya tidak cukup, dan jangan berpikir jika selama ini Gita menerima bantuan uang dari Anak Onta nya. Gita selalu menolak apapun pemberian Anak Onta nya, setiap barang yang diberikan oleh Anak Onta selalu di ganti olehnya, karena Gita tidak ingin disebut sebagai memanfaatkan mereka. Hal itu pula ia lakukan untuk menepis omongan orang yang mengatakan Gita aji mumpung.
Semua pemberian Anak Onta nya selalu di anggap hutang olehnya, dan Anak Onta tidak bisa protes akan hal itu. Namun ada juga beberapa barang yang tidak bisa di bayar oleh Gita, lebih tepatnya di tolak untuk dibayar, seperti kado ulangtahunnya.