Kehidupan yang seakan gelap tanpa warna mulai dirasakan Andra, ketika ia mulai memasuki pertengahan sekolah menengah pertama. Ketika ia yang harus terus menyaksikan orang tuanya berdebat untuk masalah yang tak pernah ia ketahui.
Beruntung ia memiliki teman-teman yang selalu ada disaat ia sedang berada di dalam suka maupun duka.
Kehidupan yang dahulu Andra jalani adalah kehidupan yang sempurna. Orang tua yang sukses dan harmonis, adik cantiknya begitu penurut, dan ia sangat menyayanginya. Andra pun anak yang baik serta cerdas. Namun semua berubah ketika kedua orang tuanya mulai berselisih paham entah karena hal apa.
Ketika ia duduk di bangku kelas dua SMP orang tuanya mulai cekcok dimulai dari debat biasa hingga debat dengan nada tinggi.
Hari itu hari dimana untuk pertama kalinya ia mendengar dan melihat langsung kedua orang tuanya bertengkar hebat dengan nada tinggi.
"Coba berhenti dengan segala gaya hidup kamu yang selalu ingin terlihat paling tinggi di antara mereka semua." Itu suara ayahnya.
"Emang kenapa kalo aku ngerasa paling tinggi dari mereka semua? Toh kenyataanya memang begitu, 'kan?" Ibunya membalas dengan nada cuek.
"Kamu sama gaya hidup kamu buat aku muak, lama-lama aku cape hidup kaya gini terus."
"Kamu kenapa sih selalu ngelarang-larang aku, selalu nyalahin aku, aku 'kan begini juga untuk citra keluarga kita."
"Aku nggak butuh citra keluarga, yang aku butuh istri yang selalu ada dan bisa menyayangi keluarganya, bukan hanya memikirkan citra keluarga."
"Terus aja semua kesalahan kamu lempar sama aku." Ibunya membalas dengan nada sengit.
"Kenyataannya gitu kok, semua awalnya memang salah kamu."
"Ya, dan kamu memang selalu benar, kamu egois, pernah nggak kamu lihat usaha aku sedikit saja." Ibunya membalas dengan nada putus asa.
"Terserah kamu, lakuin sesuka hati kamu, aku udah nggak peduli."
Andra mencoba menebak apa masalah sebenarnya, ketika ayahnya membuka pintu dan melihatnya, ayahnya menghampirinya.
"Ganti baju dulu, baru makan yah, kita makan sama-sama."
Setelah mengatakan itu ayahnya pergi, meninggalkannya yang masih diam mencerna segala yang terjadi.
Andra ingin bertanya ada apa? Tapi pertanyaan itu hanya terlontar dihatinya. Keluarganya yang begitu harmonis dan saling menyayangi mengapa hari ini terasa begitu berbeda.
Andra melangkah menuju kamarnya, mengganti baju dan kembali ke meja makan, ia harus mengisi perutnya sebelum mendengarkan kenyataan yang sebenarnya.
Sampai di meja makan ia melihat ayahnya sedang duduk sambil menatap makanan. Raganya duduk di kursi itu, tapi Andra tahu jiwanya melayang entah ke mana. Karena ketika Andra datang pun ayahnya tidak menyadarinya.
"Putri kemana, Yah?" pertanyaan Andra membuyarkan lamunan ayahnya.
"Lagi main sama teman-temannya."
Andra duduk setelah menyendok nasi beserta lauk yang ada. Untuk beberapa saat kedua lelaki berbeda generasi itu hanya diam. Dan ketika Andra menelan makanan di suapan kelima Andra berbicara.
"Andra nggak mau tanya ada apa antara Ayah dan Mamah, tapi Andra minta tolong kalau mau bertengkar jangan sampai Putri dan tetangga dengar, cukup Andra yang mendengarnya. Malu jika sampai harus didengar banyak orang," ucapan anaknya membuat Adi Putra tertohok.
Ia tidak menyangka anaknya yang selama ini hangat bisa menjadi dingin bagaikan es yang baru dikeluarkan dari kulkas. Andra berucap dengan nada yang begitu tenang dan ekspresi wajah yang datar.
"Maafkan, Ayah dan Mamah."
Adi putra sadar jika pertengkarannya mungkin saja bukan hanya Andra yang mendengarnya, mungkin saja tetangganya juga, karena mereka tadi bertengkar menggunakan nada tinggi karena terlalu emosi. Andra hanya diam tak menanggapi permintaan maaf ayahnya.
"Kami mungkin memutuskan untuk bercerai, Ayah sudah tidak bisa bertahan dengan semua obsesi mamah kamu, Ayah minta kamu dan juga Putri tidak membenci kami berdua." Andra menghentikan makannya setelah mendengar penuturan ayahnya.
"Itu hak Ayah dan Mamah. Jika memang kalian sudah tidak bisa bersama silahkan berpisah, tapi berpisah lah secara baik-baik, agar hubungan kita semua juga tetap baik. Dan juga jangan salahkan jika nanti sikap Andra berubah, bukan lagi jadi anak yang baik dan penurut, Andra kecewa." Setelah mengatakan itu ia pun berdiri, "Andra sudah selesai, Andra permisi ke kamar."
Adi Putra hanya diam melihat sikap tenang anaknya, Andra mengatakan dengan datar tanpa ekspresi apapun di wajahnya. Tetapi setiap perkataan nya mewakili rasa kecewanya.
Adi Putra hanya bisa menghembuskan napas lelahnya. Semua tidak akan terjadi jika istrinya bisa sedikit saja mengurangi obsesinya untuk menjadi seorang sosialita kelas tinggi.
Istrinya selalu berdalih untuk menjaga image keluarga, tapi sebenarnya adalah untuk mengikuti gaya hidupnya yang setinggi langit. Istrinya selalu ingin pamer kemewahan, selalu ingin dijunjung tinggi sebagai wanita terhormat.
Walaupun sebenarnya tanpa melakukan itu semua, keluarga mereka memang sudah menjadi keluarga terhormat. Bahkan ketika ia bersedekah dengan nilai yang fantastis pun bukan karena murni ingin beramal, melainkan ingin dipuji bahwa ia yang paling besar dalam beramal. Sehingga membuat Adi Putra geram akan tingkahnya.
"Ayah." Panggilan dari gadis kecilnya membuat lamunan Adiputra buyar.
"Putri dari mana?" Gadis kecil itu duduk di pangkuan ayahnya.
"Main sama Melin di rumahnya, Ayah ko jam segini udah di rumah, biasanya sore baru pulang?"
"Ayah mau main sama Putri."
Mata gadis kecil itu berbinar mendengar ayahnya mau bermain dengannya, karena biasanya hanya sore hari ayahnya akan bermain bersamanya.
"Beneran Ayah mau main sama Putri sekarang? Ayah nggak sibuk?" Adi Putra tersenyum mendengar pertanyaan polos anaknya.
"Nggak dong, mangkanya ayah ngajakin main sama Putri." Terdengar teriakan hore dari gadis kecilnya
Andra yang melihat antara ayah dan adiknya tersenyum pahit. Karena sudah bisa dipastikan setelah perceraian ayah dan ibunya mereka akan berpisah.
***
Ketika suatu hubungan harus diakhiri dengan perpisahan tentu saja itu akan menjadikan hal yang sangat menyakitkan.
Setelah Andra mengetahui bahwa ayah dan ibunya akan berpisah hari gelap Andra dimulai pada saat itu juga.
Andra sudah tidak bisa lagi melihat kebersamaan antara ayah dan ibunya. Andra sudah tidak bisa lagi bercanda dan tertawa bersama dengan ayah ibu dan adiknya. Andra sudah tidak bisa lagi berlibur bersama keluarganya, Andra sudah tidak bisa lagi merasakan kehangatan dalam keluarganya.
Dua minggu setelah Andra mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya, mereka mulai mengurus surat perpisahan.
Dan hari itu juga Andra merubah sikapnya menjadi pribadi yang terkesan dingin dan seperti berandalan.
Andra mulai mencari kesenangan sendiri untuk melampiaskan kekecewaannya pada kedua orang tuanya.
Setelah orang tuanya resmi berpisah mereka pergi meninggalkan indonesia, sedangkan Andra dan Putri tidak mengikuti ayah maupun ibunya, mereka berdua memilih tinggal bersama bibinya.
Ibunya memilih tinggal di Amsterdam sedangkan Ayah nya memilih menjalankan perusahaannya di Singapura. Sedangkan perusahaan yang berada di Indonesia dikelola oleh pamannya.
"Maafkan kami berdua, Nak."
Ayahnya berulang kali meminta maaf kepada anaknya karena harus meninggalkan mereka.
"Sudah, Yah, kami akan baik baik saja, jangan lupa kiriman untuk kami setiap bulannya."
Andra menanggapi dengan santai permintaan ayahnya. Sedangkan Putri masih berada dalam pelukan ibunya.
"Kenapa Putri nggak mau tinggal sama Mamah?" tanya ibunya dengan lembut.
"Putri tidak mau beradaptasi baru lagi, Mah. Putri akan baik baik saja disini sama kakak dan paman dan juga bibi."
Entah kenapa gadis berusia enam tahun itu tidak merasakan perasaan sedih sama sekali. Padahal kedua anak itu begitu dekat dengan orang tuanya, tetapi ketika orang tuanya memutuskan untuk berpisah mereka tidak menentang dan juga tidak menangis. Seolah mereka mengerti jika itu adalah pilihan terbaik untuk kedua orang tuanya. Mereka lebih memilih tinggal bersama paman dan bibinya.
"Dan juga kalau Putri tinggal sama Mamah nanti Ayah sedih, begitupun sebaliknya. Jadi Putri lebih baik di sini saja, kalau Ayah dan Mamah kangen, tinggal datang kesini." Jawabnya dengan nada ceria.
Dan setelah hari itu kehidupan Andra yang hangat dan damai berubah menjadi kehidupan yang terasa gelap tanpa warna.
Andra mulai mencoba kegiatan baru untuk menghilangkan rasa sedihnya.
Kegiatan yang menghabiskan uang puluhan bahkan sampai ratusan juta hanya untuk satu kali permainan. Bertaruh bola atau yang disebut judi bola.
Sekali bertaruh minimal lima juta untuk satu kali pertandingan. Dan Andra lebih banyak kalah daripada menang. Kegiatan itu baru diketahui oleh teman-temannya sekitar satu tahun terakhir.
Mereka tidak bisa mencegah Andra karena itu sudah menjadi hobinya. Mereka juga tahu itu adalah bentuk kekecewaan Andra terhadap orang tuanya. Kegiatan itu berlangsung hingga empat tahun lamanya.
***
Memiliki teman yang menemani disaat suka maupun duka, merupakan salah satu anugerah yang harus sangat disyukuri. Dan Andra sangat amat mensyukuri hal itu.
Sajak mengetahui kegiatan baru Andra yang sering menghabiskan uang untuk bertaruh bola. Rian, Kenn, Getta, Hendrik dan Wildan mulai mengontrol setiap kegiatan Andra. Mereka mempersempit ruang Andra dari pengawasan mereka. Setiap hari ada saja yang mereka lakukan agar Andra tidak pergi ke tempat haram tersebut.
Seperti malam ini, berbagai Alasan telah Andra keluarkan untuk bisa lepas dari mereka.
"Woy, ayolah gue mau pulang ini." Rengeknya yang dari tadi ditahan oleh mereka.
"Pulang ke rumah gue, yang ada ntar lu keluyuran lagi," tegas Rian.
"Putri sendirian di rumah." Alasannya lagi.
"Gue udah telepon tante Rena, Putri udah tidur, lagian di rumahkan Putri nggak sendirian." Hendrik menimpali.
"Ya...ya...ya, hayo pulang deh." Pasrah Andra pada akhirnya.
"Bagus, 'kan makin sayang gue kalo lu nurut gini," ucap Getta sambil mencolek dagunya.
"Geli, setan!" serunya kesal.
Membuat mereka semua tertawa. Setelah nya mereka pergi menuju rumah Rian.