Ketika ayam berkokok dengan nyaring di handphone milik Rian, sudah bisa dipastikan bahwa waktu telah menunjukkan pukul 04.45 wib. Itu tandanya Rian harus segera bagun dan melaksanakan ibadah sholat subuh.
Rian memang selalu menyetel alarm dengan bunyi suara ayam berkokok. Karena pendengarannya sangat peka terhadap bunyi satu itu, entah karena alasan apa ia pun tak tahu. Hanya saja kupingnya akan selalu menyambut bunyi hewan itu dengan segera.
Rian bangun dan duduk bersila di antara para sahabatnya untuk mengumpulkan nyawanya. Jika menginap mereka memang selalu tidur di lantai secara bersamaan. Ia mencari keberadaan Andra untuk membangunkannya dan melaksanakan sholat subuh berjamaah. Karena Hendrik, Wildan, Getta dan juga Kenn beragama Non Muslim.
Jam menunjukkan pukul 05.30 wib. Setelah melaksanakan shalat subuh bersama Andra, Rian membangunkan Hendrik dan juga Kenn, sedangkan Andra melanjutkan kembali tidurnya bersama Getta dan Wildan. Dengan malas akhirnya Kenn dan Hendrik bangun untuk memulai pekerjaan mereka.
Elah datang pukul 07.00 wib karena memang ini jadwalnya membersihkan rumah Rian. Melihat para tuan muda sedang membersihkan rumah membuat Elah tersenyum, hal tersebut sudah biasa dilihatnya. Perempuan paruh baya tersebut hapal kegiatan mereka, jika sudah seperti itu tandanya mereka kalah dalam permainan.
Elah menghampiri bukan untuk membantu melainkan untuk menggoda mereka.
"Eleh...eleh...Nu karesep pasti kalah taruhan ya?" tanyanya dengan nada menggoda.
"Udah deh Mbah jangan ganggu kita, mendingan Mbah ke pasar buat belanja terus bikinin kita sarapan oke, ini uangnya."
Rian mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah untuk dibelanjakannya. Elah menerima uang tersebut dan memberikan hormat layaknya prajurit kepada Rian.
"Siap laksanakan komandan." Sikap Elah membuat mereka tertawa.
"Cape gila." Hendrik mengeluh setelah satu jam membersihkan rumah Rian.
"Ini semua gegara lu berdua maen nya kaga bener," hardik Rian dengan sengit.
"Dih ustadz marah-marah bae." Kenn datang sambil menjatuhkan dirinya di sofa.
"Kerjain mereka bertiga yu." Hendrik memberikan saran dengan menaikan kedua alisnya.
"Caranya?" tanya Rian.
"Sini gue bisikin." Mereka berbisik mendengarkan ide konyol Hendrik.
"Setuju!" seru mereka bersama.
Mereka bertiga menyiapkan bahan yang akan digunakan untuk menjahili team A.
"Andra bagian gue."
Hendrik berkata setelah mendapatkan bahan yang akan digunakan untuk menjahili Andra.
"Getta bagian gue," kata Kenn.
"Oke cunguk Wildan bagian gue." Rian.
Setelah siap mereka pergi menuju kamar tempat team A tertidur. Mereka akan melaksanakan misi balas dendam atas kekalahan tadi malam.
"Psstt … Jangan berisik ya." Hendrik menginterupsi dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir.
"Lu yang berisik congek." Rian berkata dengan kesal.
Dengan perlahan mereka mendekati Andra, Getta dan Wildan yang masih tertidur dengan pulas nya.
Andra yang tertidur dengan posisi tengkurap memudahkan Hendrik untuk menempelkan cream wax pada betisnya, sudah bisa dipastikan ketika bangun Andra akan mengamuk.
Wildan dengan posisi tidur terlentang memudahkan Rian untuk menaburkan garam di bibirnya.
Getta dengan posisi miring memudahkan Kenn untuk meniupkan priwit nya.
Hendrik telah siap untuk menarik kain wax yang telah ditempelkan di betis Andra. Kenn telah bersiap dengan priwit di bibirnya, Rian telah bersiap dengan garam ditangannya.
"Gue itung sampe tiga oke." Rian dan Kenn mengangguk setuju.
"Satu...dua...tiga."
Priwit berbunyi tepat di kuping Getta, garam ditaburkan tepat di bibir Wildan, dan Hendrik telah mencabut kain wax yg ada di kaki Andra.
Andra meringis memegangi betisnya yang sakit, Getta menggosok-gosok kupingnya yg berdengung, dan Wildan berlari ke kamar mandi untuk membuang garam yg ada di mulutnya.
Sedangkan para pelakunya langsung kabur setelah berhasil membuat mereka terbangun paksa dan marah.
"Eh anak setan! Sialan betis gue kaya b*****g kaga ada bulunya."
Andra memang selalu menjaga bulu kakinya, karena menurutnya laki-laki yg tidak memiliki bulu kaki itu seperti wanita, dan Andra membenci hal itu.
Sedangkan Wildan baru keluar dari kamar mandi setelah beberapa kali berkumur untuk mengurangi rasa asin di mulutnya.
"Sial emang itu anak tiga."
Wildan menggerutu setelah berhasil menghilangkan rasa asin pada mulutnya.
"Sial kuping gue pengang ini."
Getta membuat kepalan di jarinya dan meniup tepat di sela bolong antara jari telunjuk dan ibu jari, lalu ia bawa ke kupingnya untuk mengurangi dengung di kupingnya. Hal itu cukup membantu kuping yang berdengung karena mendengar suara berlebih.
"Turun yuk, mau gue kasih cabe itu mulutnya." Andra berjalan dengan kesal.
Sedangkan di ruang tengah Hendrik, Rian dan Kenn sedang tertawa mengingat ekspresi ketiga temannya.
"Eh anak setan sialan lu ya semua."
Andra Getta dan Wildan berlari dari tangga untuk menghampiri mereka bertiga. Team B yang sedang tertawa jahat tidak bisa melarikan diri dari Team A.
Wildan masuk ke dapur dan mencari cabe.
Sedangkan Getta dan Andra telah menyekap Team A.
"Ampun yang Mulia hahaha." Kompak mereka bertiga tertawa.
Wildan datang dengan seringai kecilnya.
"Nih."
Wildan menyerahkan cabe kepada Andra dan Getta. Sedangkan Wildan sendiri memegang sejumput garam untuk Rian, karena Rian alergi pedas.
"Woy mau diapain itu cabe?" tanya Hendrik panik.
"Mau gue jadiin lipstik buat bibir lu!" jawab Andra santai.
"Gue nggak mau masuk rumah sakit ya gegara cabe." Rian berkata tak kalah panik.
"Lama dih, hayu mulai."
Tangan mereka bertiga sudah diikat sehingga mereka bertiga hanya pasrah, terlihat jelas raut panik di wajah Rian ketika melihat Getta menyodorkan cabe.
Getta dan Andra memotong cabe menjadi dua dan di oleskan pada bibir Kenn dan Hendrik secara bersamaan.
"Huhh..hah...pedes gila udah woy!" teriak Hendrik ketika biji cabe di tempel di bibir nya.
"Ampun Gila, serius ini bibir gue berasa kebakar."
Kenn berkata sambil mencoba meniup-niup bibirnya. Tetapi Andra, Wildan dan Getta nampak tak peduli.
"Giliran gue."
Seru Wildan mendekati Rian, mata Rian melotot gusar ketika Wildan mengeluarkan sejumput garam.
"Buka mulut kamu, Sayang." Wildan berkata dengan menggoda membuat mereka tertawa secara bersamaan.
"Asin b**o. Cuih...cuih."
Beberapa kali Rian meludah membuang garam yang ada di mulutnya. Dan segera berlari menuju wastafel. Tapi karena tangannya yang terikat membuatnya kesulitan untuk mengambil air. Hal itu semakin membuat mereka semua tertawa.
"Woy udah woy ampun dih." Kenn berkata ketika bibirnya semakin panas terasa terbakar.
Andra Getta dan Wildan tertawa senang melihatnya. Melihat bibir Kenn dan Hendrik yang sudah memerah seperti memakai lipstik membuat Wildan mendekati dan menggodanya.
"Ih! Bibirnya merah banget sih, jadi gemes deh." Wildan berkata sambil menoel-noel bibir Kenn dan Hendrik.
"Geli Njir! Sini mau gue cipok kaga lu, biar berasa hotnya." Hendrik menjawab dengan Kesal.
"Ini belum seberapa ya, daripada bulu kaki gue yang ilang gegara lu cabut paksa." Andra berbicara sambil memutarkan potongan cabe di bibir Hendrik.
"Ingat ya pembalasan itu lebih menyenangkan, apalagi kalau kita punya kartu matinya." Serempak Getta, Andra dan Wildan tertawa dengan puas.
Setelah mereka puas barulah Ikatan ketiganya dibuka, Hendrik dan Kenn langsung berlari menuju kulkas, untuk mengambil es batu dari cetakan dan di oleskan di sekitar bibirnya yang panas terbakar.
"Waktunya penilaian hasil kerja." Getta berkata sambil beranjak dari duduknya.
"Yoks kita keliling, kalo masih ada debu maka ini harus dibersihkan ulang oke!"
Wildan berkata dengan santainya. Membuat Rian, Hendrik dan Kenn melotot tak terima.
"Enak aja, kaga bisa, dikira kaga capek apa gue. Lagian yang nilai tuh Mbah Elah bukan Lu orang ya!" Protes Rian dan langsung disetujui oleh Hendrik dan Kenn.
"Oke kalau memang seperti itu, Tuan." Andra, Wildan dan Getta bersuara kompak.
"Tapi lu bertiga ga boleh ke mana-mana sampe Mbah datang, yang ada rumah gue kotor lagi karena ulah lu pada!"
Rian berkata seraya mendudukkan diri di sebelah Getta. Begitupun dengan Hendrik yang duduk di sebelah Wildan, dan Kenn di sebelah Andra. Hal itu disengaja agar team A tidak melakukan kecurangan terhadap team B, yang nantinya harus membersihkan ulang rumah Rian.
Mbah Elah sudah terbiasa menjadi juri untuk pekerjaan para tuan mudanya yang kalah. Wanita paruh baya itu selalu bahagia jika berada di tengah-tengah para tuan mudanya. Selain mereka tampan, kaya juga tidak sombong dan tidak pernah memandang rendah seseorang dari kastanya. Mereka sangat sopan terhadap Elah maupun siapapun yang lebih tua. Mereka baik dan tidak pelit. Tidak jarang wanita paruh baya itu menjadi bahan kejahilan dan ke gombalan para tuan mudanya.
Seperti dua minggu kemarin saat Elah sedang membersihkan seisi rumah, tanpa diminta mereka membantu Elah. Dan menyuruh wanita paruh baya itu untuk memasak, sedangkan tugasnya membersihkan rumah digantikan oleh mereka.
Setelah semua bersih dan makanan siap mereka beserta Elah makan bersama. Setelah selesai makan mereka masing-masing mencuci piring kotor bekas makan.
Dan setelahnya mereka mengobrol di ruang keluarga rumah Rian dengan mengajak Elah.
"Mbah sini Mbah, duduk sini."
Panggil Rian menepuk sofa singel yang kosong. Elah yang baru saja menyajikan minuman pun menuruti perintah Rian.
"Apa Kasep?" Panggilan keramat Elah untuk para Tuan mudanya.
"Preet! Kasepak kuda kali Mbah." Hendrik menampik panggilan si Mbah untuk Rian. Membuat semuanya tertawa.
"Mbah perawatan dimana sih? Ko cantik amat." Getta memulai gombalannya pada si Mbah.
"Aduh... Mbah mah sudah kebal sama godaan si Aden Getta!"
Selain panggilan Kasep Elah juga selalu memanggil mereka dengan sebutan Aden. Sontak mereka semua kembali tertawa.
"Getta serius Mbah. Si Mbah emang cantik kok, 'kan perempuan, kalo Getta bilang Mbah ganteng baru salah."
"Tuh 'kan, untung hati Mbah gak lembek, jadi gak mempan sama perangkap gombalan Aden." Lagi mereka hanya bisa tertawa mendengar kilahan Elah.
"Cie… udah bisa ngeles sekarang si Mbah." Hendrik menambah godaan pada Elah.
"Udah kebal dong," jawabnya dengan bangga, membuat para Tuan mudanya tertawa bersamaan. "Ya udah Mbah mau pulang dulu, udah beres semua 'kan kerjaannya?" Elah bertanya pada dengan menatap Rian, yg tandanya meminta izin, karena Rian sang rumah.
Rian menganggukkan kepalanya, "Ya udah Mbah pulang aja, mau Rian anter ga?" tawar nya yang langsung ditolak oleh Elah.
"Ga usah Den, Mbah juga mau ke pasar dulu buat masak di rumah."
Terlihat Andra mengeluarkan dompet dan mengambil dua lembar uang berwarna merah, setelahnya diberikan pada Elah.
"Ini buat Mbah, lumayan buat tambahan."
"Atuh si Aden Andra mah ngasih uang melulu sama si Mbah, bukannya ditabung saja."
Walaupun berkata demikian tetap saja Elah menerima uang tersebut. Karena bagaimanapun Elah menolak Andra maupun yang lainnya pasti tetap menyelipkan uang tersebut.
"Ya udah Mbah pulang dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah mendengar jawaban dari para Tuan muda, Elah pergi meninggalkan rumah Rian.
Sedangkan para tuan muda melanjutkan perbincangan mereka untuk membahas kembali rencana liburan mereka.