Perkenalan

1983 Words
Matahari perlahan naik ke peraduan nya dan mulai menyapa penduduk bumi, menenggelamkan bintang dan bulan yang menemani indah nya malam. Gita yang sudah bangun dari pukul 04.45 subuh tadi, kini tengah bersiap menyiapkan mental dan tenaga nya untuk memulai hari baru, dia tau setelah hari ini hidup nya tidak akan sama seperti sebelum nya. Dia sudah tidak bisa tidur di siang hari kecuali hari minggu, dia tidak bisa bersantai setelah mengerjakan pekerjaan nya jika bukan jam 12.00 siang. Tapi tidak apa-apa, ini keputusan nya, Gita harus mandiri, mungkin satu minggu pertama dia akan menyusahkan Kakak nya lagi dengan berbagai kebutuhan nya, seperti makan dan minum. Gadis itu hanya membawa uang dua puluh ribu rupiah dari rumah, dan sekarang uang itu hanya sisa sepuluh ribu, karena kemarin ia membeli minuman dan tahu ketika perjalanan. Kedua kakaknya bekerja di tempat yang sama, tempat ia juga nanti akan bekerja. Mereka penjahit nya dan katanya Gita akan ditempatkan jadi tukang potong hasil jahitan Mereka. Setelah dirasa penampilannya rapi ia bermonolog sendiri. "Ayo Gita semangat, siap bekerja, gajian, semangat!" Ucapnya sambil mengepalkan tangan dan meninju ke udara. Dan setelah nya ia turun kebawah menunggu kakak nya. Tepat di jam 07.35 mereka berangkat menuju tempat kerja baru untuk Gita, tidak butuh waktu lama hanya 10 menit berjalan santai mereka sudah tiba, begitu sampai beberapa orang yang bekerja disini mulai bertanya pada Yola. "Anak baru Yol?" tanya salah satu wanita yang Gita kira berumur 35 tahun, dengan badan yang sedikit gemuk. "Iya Mbak. Adek saya dari kampung " jawab Yola, dan Perempuan itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Setelah menyimpan sandal di loker Gita mengikuti kakaknya naik ke lantai tiga, karena tempat produksi nya ada di lantai tiga. Konveksi ini memproduksi pakaian dalam khusus Bra, dan dibagi menjadi 2 team, yaitu team Eksport dan team Lokal. Gita ditempatkan di team Lokal karena masih baru, sedangkan kedua kakak nya berada di team Eksport karena ia sudah bertahun tahun kerja disini. Gita diperkenalkan pada mandor bagian team Lokal, beliau orang China bernama Ci Lichu, dan mulai mengajarkan apa yang harus ia kerjakan dengan bahasa Indonesia yang masih berantakan dan cadel. "Lu mulai kerjain ini barang, ingat ukuran nya, jangan potong sembarangan, harus ikutin ukuran nya oke, lu orang paham, 'kan? Kalo nggak tau jangan takut buat nanya oke." Ucapnya sambil mempraktekan cara memotong dan menjelaskan ukuran, ia mengangguk mengerti. "iya Ci." Setelah Gita mempraktekan memotong dan dirasa Gita sudah paham Ci Lichu pun pergi sambil sedikit memijat bahunya, kesan pertama yang didapat menyenangkan dan orang orang nya pun baik baik, jadi Gita berpikir pasti betah kerja disini. *** Hari berganti begitu cepat yang dirasakan Gita, ini adalah hari sabtu, Gita bersorak sebelum berangkat kerja "Yes! Hari ini gajian." Seru nya tidak sabar, pekerjaan nya cukup menyenangkan dengan orang orang yang menyenangkan pula, Gita tidak hanya memotong, Bos tempat nya bekerja meminta Gita untuk belajar menjahit, "Gita, Gita, lu orang harus belajar jait, biar kaya kakak lu yang pinter-pinter jait lah, lu anggap kursus gratis, diluar lu halus bayar, tempat saya lu gratis, asal lu mau, minta ajarin kakak lu." Begitulah ucapan nya tiga hari setelah ia bekerja di sana, si Bos yang diperkirakan berumur 45 tahunan, beliau masih terlihat tampan, kadang gadis itu terpesona melihat nya jika beliau memakai pakaian resmi. Seperti biasa Gita berangkat bersama kakak nya Hani. Karena Yola berangkat bersama suaminya, dan seperti biasa pula selama perjalanan Gita hanya diam karena kakak nya sama sekali tidak mengajak dia berbicara, Hani sibuk berbicara dengan teman teman nya. Jam pun menunjukan pukul 14.00 yang artinya waktunya pulang, jika di hari biasa jam pulang adalah pukul 16.00 maka hari sabtu disebut setengah hari yaitu jam 14.00, dan Gita tidak langsung pulang seperti biasa nya, karena hari ini Gita gajian dan ini gaji pertama nya, yang sudah ia hitung akan mendapatkan gaji sebesar seratus delapan puluh ribu karena ia dibayar sehari tiga puluh ribu rupiah dan ia senang untuk itu. Begitu nama nya dipanggil oleh bos yang biasa dipanggil Koko, Gita menerima uang darinya yang dijepit menggunakan staples berikut kertas kecil dengan tulisan nama, jam kerja, hari dan nominal. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih dan bersyukur. Setelah nya ia bergegas pulang, karena Hani sudah menunggu nya. Namun, baru setengah perjalanan Hani menyuruhnya pulang sendiri karena katanya dia akan bermain ke kontrakan temannya dan Gita hanya mengiyakan. Sesampainya di Kontrakan Gita bergegas menemui Yola dan menyerahkan gaji pertamanya kepada sang kakak, karena itu pesan dari Ibunya. Nanti Yola yang akan mengaturnya, membagi untuk biaya makan dan kebutuhannya satu minggu ke depan, untuk menabung membayar kontrakan, dan sisanya ditabung untuk dikirimkan kepada orang tuanya dikampung. *** Jika perasaan sepi melanda, terkadang hidup terasa sangat monoton, bergerak disitu situ saja. Seperti yang Gita rasakan sekarang, dua bulan hidup di Jakarta Gita mulai terbiasa sendiri jika malam hari. Seperti malam ini, setelah melaksanakan sholat isya ia duduk sendiri di atas pagar balkon kamar kontrakan yang amat sangat minimalis. Ditemani sebotol minuman berkarbonasi dan sebungkus kacang dengan lambang burung terbang. Hal ini sudah jadi rutinitasnya selama sebulan terakhir karena tidak ada lagi hal yang bisa ia kerjakan, teman akrab nya bekerja hanya Rini yang biasa dipanggil Oncom. Jika malam hari ia tidak diperbolehkan main ke kontrakannya, karena jauh dan mereka hanya saling berbalas pesan. Dan ya bulan lalu, ia membeli handphone second merk Esia, atau yang lebih sering di sebut handphone sejuta umat oleh teman-teman di pabrik, dengan harga sembilan puluh ribu rupiah. Sebenarnya ia tidak terlalu butuh, tapi kata Yola untuk penghilang sepi, sungguh pengertian sekali kakak nya yang satu itu. Setelah menghabiskan satu botol minuman soda dan menyisakan sedikit kacang, Gita melangkah ke kamar mandi dan menyikat gigi. Setelah selesai dan langsung bersiap merebahkan diri di atas bantal tempatnya bercerita. Dari mulai memasuki kelas empat Sekolah dasar Gita memang memiliki kebiasaan bercerita pada bantal ataupun guling, entah mengapa ia merasa mereka bisa mendengarkan keluh kesahnya. Namun, dia akan kesal sendiri saat dia meminta pendapat mereka hanya diam saja, tapi setelah dia menyadari mereka benda mati, baru dia sadar jika tidak mungkin mendapatkan solusi dari mereka. Malah mungkin jika mereka bisa bicara dia yang akan menjerit ketakutan hahaha. Seperti sekarang setelah dia bercerita pada bantal yang menemaninya selama dua bulan ini, Gita mulai menutup mata untuk mengarungi alam mimpi dan menyiapkan hari esok untuk menjalani rutinitas seperti biasanya. *** Matahari dengan malu-malu mengintip penduduk bumi. Bersiap merangkak sedikit demi sedikit ke peraduannya untuk menyapa semua makhluk hidup. Menghadirkan semburat oranye kemerahan yang membuat langit menjadi indah, bagaikan sebuah lukisan. Sungguh maha karya ciptaan Tuhan yang sempurna. Gita tengah menyaksikan lukisan Tuhan yang maha sempurna itu dari balkon kamarnya, Walaupun kamarnya sangat minimalis beruntung berada tepat di sebelah balkon kecil itu, setelah puas Gita pun bersiap siap untuk memulai hari. Pukul 12.00 wib adalah jam yang sangat dinantikan para karyawan pabrik seperti Gita. Setelah mengisi perut yang keroncongan di salah satu warteg langganan nya bersama Oncom, bergegas Gita menarik teman nya itu untuk kembali ke pabrik untuk segera melaksanakan sholat dzuhur. Walaupun Gita tidak memakai hijab seperti yang dianjurkan agama, tetapi Gita tidak pernah meninggalkan kewajiban nya sebagai umat muslim. Jam menunjukan pukul 12.30 wib, itu artinya masih ada 30 menit untuk sekedar merebahkan tubuh untuk istirahat. Baru sekitar lima menit Gita merebahkan tubuh di samping Oncom tiba-tiba Nung dari bagian potong jarum dua menghampirinya. "Git, gue punya temen cowok, minta dikenalin sama cewek, lu mau ga kalo misalnya gue kenalin ke dia, namanya Andra anak Kotu." Nung bertanya setelah duduk di sampingnya. Gita diam sebentar sebelum menjawab, Gita memikirkan baik dan buruknya terlebih dahulu. Barulah ia memberikan jawabannya setelah dirasa cukup berpikir. "Oke, kenalan doang,'kan?" "Iya, kenalan dulu aja, cocok ya lanjut." Setelah itu Nung berdiri dan hendak beranjak. "Nomer lu udah gue kasiin ya ke dia." Setelah nya Nung pergi. Dua jam kemungkinan, pekerjaan Gita hari ini tidak terlalu banyak, jadi Gita bisa bersantai. Ketika Gita sedang menunggu bahan potongannya yang masih di jahit, handphonenya bergetar tanda adanya pesan yang masuk. 021xxxxxxx88: Hay, Gita ya, temennya Nung? Me: Juga, yups. Ini pasti Andra, 'kan? 021xxxxxxx88: 100 untuk Anda, Nung udah cerita 'kan tentang gue? Me: Cerita apa ya? Andra: "Cerita apa aja, misalnya gue ganteng gitu hahaha." Me: Pede gila, tapi kata Nung gue suruh liat sendiri aja. Andra: Oh … Jadi ceritanya mau langsung ketemu nih? Me: Gue ga bilang ya kalo mau ketemu! Andra: Tapi gue mau ketemu, gimana dong? Me: Lanjut malem ya, gue lagi kerja, bye! Dan setelah perkenalan singkat itu, mereka berlanjut. Kedekatan mereka via sms maupun telepon menjadi semakin intens. Selama satu bulan ini mereka semakin akrab. Gita pun merubah panggilan untuk Andra, Gita memanggil Andra dengan sebutan Anak Onta, dan Andra memanggil Gita dengan sebutan Gigit. Malam sepi selama dua bulan terakhir tidak dirasakan lagi oleh Gita, karena Andra dengan rutin menelponnya. Andra dengan segala ucapan konyol nya sering kali membuat Gita tertawa. Seperti malam ini, mereka sedang melakukan panggilan telepon. "Gigit, gue mau nanya boleh ga." "Tanya apaan?" "Kalo gue bilang i love you, lu bakalan jawab apa?" Gita tersenyum di seberang telpon, entah untuk yang kesekian kali nya Andra menanyakan hal itu. "Lu mau nya gue jawab apa?" Andra berdecak, "Ck! Lu mah gitu mulu,setiap gue nanya, pasti balik nanya lagi! gue mau nya lu jawab love you to Andra, begitu 'kan asik." Gita tertawa, selalu senang membuat Andra kesal seperti sekarang ini, dan jawaban Gita pada akhirnya selalu sama. "Tarik mang Edoy, hahaha." "Oke sekarang ganti pertanyaan, "Seorang pria terjebak di dalam gua, ia kebingungan karena gua tersebut gelap. Di tangannya ada lilin dan obor. Apa yang harus ia nyalakan terlebih dahulu? Gue mau jawaban ya bukan bentuk pertanyaan lagi!" ucapnya dengan tegas. Gita tertawa mendengar nada tegas Andra, lucu sekali teman selulernya itu. "Jawaban gue penting ya?" Andra kembali berdecak "Ck! lu mah, gue bilang jawab pertanyaan gue Gigit, bukan malah balik nanya lagi! Kalo ada disini gue gigit beneran lu." Gita semakin terbahak mendengar Andra yang bertambah kesal. "Oke, gue jawab. Dan jawabannya nyalain obor lah, biar lebih terang. puas lu!" "Salah," jawab Andra cepat "Lah. terus apaan dong? Masa iya lilin, lilin 'kan cahayanya kecil, mendingan obor cahayanya gede." "Jawabannya adalah korek api!" Gita berpikir sejenak untuk jawaban yang Andra berikan, "pilihannya 'kan cuma obor sama lilin, Onta!" "Lilin sama obor yang ada di tangannya Gigit, sedangkan korek api ada di kantong celananya. Coba lu pikir walaupun ada lilin dan obor apinya dari mana?" Gita tertawa lagi mendengar celotehan Andra, Andra memang jenis lelaki yang menyenangkan, mampu diajak diskusi. Walaupun mereka hanya mengenal via suara dan chat sms, tapi mereka merasa nyaman, dan mereka sudah memberi tahu penampilan masing-masing. Agar jika suatu saat bertemu tidak ada kebohongan dari penampilan. Karena di jaman sekarang kan banyak orang antara foto dan asli bagaikan langit dan bumi. "Onta… Onta, gue nggak tau ya kalo misalnya lu udah ketemu gue dan liat wujudan gue yang mungkin nggak sesuai sama bayangan lu, sikap lu masih konyol kaya gini apa nggak!" "Kalo gue sih udah tau ya sama lu, pendek, kecil, item, kalo kerja pake kaos, celana skater balibong yang beda-beda, rambut pendek kaya cowok gitu, 'kan?" Andra menjawab dengan detail tampilan dari Gita, karena memang sebenarnya Andra sudah mengetahui semua tentang Gita, tanpa Gita sadari, sedangkan Gita tidak pernah mengetahui siapa Andra sebenarnya. "Cie, tau banget kaya nya sama gue, dapet info dari Nung ya?" Andra menggeleng kan kepala seakan Gita bisa melihat nya, "Nggak lah, gue kan bisa liat lu." "Wah, berarti lu paranormal dong? Ngeri dih gue, tar lu liat yang lain lain lagi." balasan dari Gita membuat Andra tertawa. "Dikit sih. Hahaha." "Sialan lu, Udah ah gue mau tidur dulu, " dan mereka tertawa bersama. "Ya udah, jangan lupa mimpiin gue ya." "Wujud lu aja gue ga tau, Ta! Gimana gue mau mimpiin lu?" Andra tersenyum yang bisa dirasakan oleh Gita "Ya udah gue aja yang mimpiin lu." "Oke." Seperti biasa, setelah selesai bertelepon dengan Andra, gadis itu akan tersenyum sampai menuju alam mimpi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD