Sedangkan di lain tempat di daerah Jakarta. Enam remaja laki-laki tengah berkumpul di sebuah cafe untuk membahas destinasi libur kenaikan kelas Mereka.
Andra, Rian, Getta, Kenn, Hendrik dan Wildan mulai membahas tempat tujuan mulai dari tempat yang ada di dalam maupun luar negeri, tetap tidak ada yang cocok dengan keinginan mereka. Bukan karena mereka tidak memiliki uang. Uang bukan lah masalah untuk mereka.
Walaupun mereka masih berstatus pelajar dengan seragam putih abu-abu, dompet mereka cukup tebal jika hanya untuk sekedar liburan. Baik itu di dalam maupun luar negeri.
Terlahir dari keluarga kaya membuat mereka dengan mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tetapi ternyata materi tidak cukup memberikan mereka rasa bahagia, hidup mereka terasa kosong.
Contohnya Andra, broken home membuatnya kecewa terhadap kedua orang tuanya, dan lebih memilih menghamburkan uang dengan cara berjudi bola. Mendapatkan kiriman yang tidak sedikit setiap bulannya dari Mama dan Papanya.
Menjadi pewaris resmi dari Angkasa Group, menjadikan Andra hidup sesukanya dan seperti berandalan. Berpenampilan sederhana dengan menggunakan celana jeans dan kaos polos, memiliki banyak jerawat dengan rambut berantakan. Andra hidup sesuka hatinya, tidak pernah menunjukan wibawa seorang pewaris perusahaan besar seperti Angkasa Group.
Orang yang tidak mengenalnya akan menilai dia hanya seorang laki-laki dari kalangan menengah ke bawah. Namun masih ada satu hal baik yang ia miliki, yaitu soal pendidikan, Andra tidak pernah main main dengan pendidikan nya.
Akan tetapi sampai jam menunjukkan pukul 23.00 wib mereka belum menemukan kesepakatan ke mana mereka akan berlibur, dan memutuskan untuk pulang ke rumah pribadi Rian.
Mengenai anak Mami satu ini, Ia selalu berkata jika bisa gila jika tidak berteman dengan mereka. Berbanding terbalik dengan Andra yang tidak merasakan kasih sayang kedua orang tuanya.
Rian justru merasa hidupnya terkekang dengan aturan-aturan yang ditetapkan oleh Mami nya. Mami nya selalu menilai seseorang dari status sosial.
Contoh nya ketika pertama kali melihat penampilan Andra, Mami nya jelas menunjukan rasa tidak sukanya, karena berpikir Andra dari anak keluarga miskin.
Tetapi setelah dijelaskan bahwa Andra pewaris dari Angkasa Group, barulah sikapnya berubah menjadi hangat.
Menjadi anak laki-laki satu-satunya membuat hidupnya merasa monoton, karena selalu diatur dan diawasi oleh Mami nya. Rian berpikir Mami nya bukanlah memberikannya kasih sayang, tetapi justru mengekang. Namun, itu hanya disampaikan kepada teman -temannya, karena bagaimana pun Rian tidak berani menentang semua aturan yang telah ditetapkan oleh Mami nya, bahkan masalah jodoh sekalipun.
"Balik yu," ajak Rian yang bosan karena tidak menemukan tempat liburan yang cocok.
"Ps aja yu?" tanya Getta menimpali.
"Ke rumah siapa?" pertanyaan dari Kenn.
"Gue aja lah," jawab Rian.
"Berangkat!" seru Hendrik semangat.
"Duluan lah, gue masih ada janji."
"Nggak bisa, balik bareng-bareng, jangan judi mulu, masih kecil juga gimana udah gede, mau jadi apa loh?" cegah Rian.
"Tuh dengerin kata pak Ustadz." Wildan menimpali ucapan Rian.
"Dih bawel lu. Kayak emak-emak kurang belanjaan," jawaban dari Andra.
"Masih mending kayak emak-emak kurang belanjaan ya dari pada kurang belaian."
Dengan kompak mereka tertawa mendengar balasan dari Rian.
"Sialan lu," kesal Andra.
"Udah hayu balik, daripada di ceramahin satu dekade lu." Wildan menimpali seraya mendorong bahu Andra menuju mobilnya
Sesampainya di rumah Rian, mereka menyiapkan playstation dan siap bertempur. Mereka memainkan pertandingan bola, Serie pertama dalam pertandingan kali ini adalah antara Getta melawan Hendrik, dan syarat jika kalah harus membersihkan seluruh rumah Rian, tentu saja pertandingan yang cukup heboh.
Bertanding bola dengan menggunakan stick tangan itu selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan, mereka dibagi menjadi dua team.
Team A terdiri dari Getta, Andra dan Wildan.
Sedangkan team B terdiri dari Rian, Kenn, dan Hendrik. Mereka bertanding dengan klub favorit masing masing. Setelah menyeting klub masing masing mereka mulai bertanding.
"Are u ready, Boy?" tanya Hendrik yang telah bersiap.
"Always!" jawab Getta singkat.
"Siapin tenaga buat bersihin ini rumah besok pagi oke, Boy."
Getta mendengus, "Bacot dih!"
Dan dimulailah pertandingan, seketika suasana menjadi sangat berisik oleh teriakan-teriakan dan u*****n dari bibir masing-masing.
"Gett, kalo lu sampe kalah, gue bacok lu.
Gett." Seru Andra mengancam.
"Selow aja sih. Bentar lagi juga dia game over," balas Getta sambil melirik Hendrik.
"Dih! So banget deh, liatin aja siapa yang bakalan menang, gue bilang siapin tenaga buat besok bersihin rumah Pak Ustadz."
Hendrik balas menantang.
"Pada ngebacot mulu dih. Maen aja yang bener," seru Rian menengahi.
"Tuh dengerin kata pak Ustadz," balas Wildan setelah meminum minuman soda nya.
"Ambilin makanan woy! laper ini. Tuan rumah kaga peka banget sih," seruan Kenn di angguki semua.
"Delivery order aja lah, kulkas kosong, belum belanja gue."
Jawab Rian jujur, karena memang sudah dua minggu Rian tidak belanja kebutuhan dapur.
Walaupun masih berstatus SMA Rian memang sudah difasilitasi rumah pribadi, mobil, motor, uang saku yang lebih dari cukup oleh orang tuanya. Dua kali dalam seminggu Elah wanita sekitar 40 tahun yang akan membersihkan rumahnya.
"Gett, ke kiri Gett, lu gimana sih?" seru Andra dengan kesal.
"Itu Messi nya di majuin Hen. Jangan dibelakang mulu," Seru Rian dengan semangat.
"Itu tahan, itu tahan si Ronaldo nya Hen." Seru Wildan dengan kesal. Dan Gol teriakan Getta, Andra, dan Wildan bersamaan.
"Ah, gimana sih lu?" seru Kenn lagi dengan kesal.
"Apa gue bilang, selow aja."
Getta berkata sambil mencolek dagu Hendrik dengan senyuman menggodanya, membuat Hendrik mendengus.
"Si gila!" balas Hendrik tidak terima.
"Ya udah gue lawan siapa nih?" tanya Kenn mengambil stick dari Hendrik.
"Gue lah," jawab Wildan dengan semangat.
Setelah menyeting klub masing-masing dimulai kembali pertandingannya.
"Tuan rumah jangan lupa siapin alat buat besok ok." Wildan berseru dengan menaik-turunkan alisnya menggoda Rian.
"Oh! jangan harap saya akan memberikan kesempatan Anda menjadi pemenang, Tuan." Balas Kenn tidak terima.
"Eh tadi gue sengaja ya ngalah buat lu seneng." Hendrik mengelak kekalahannya.
"Ya elah Udah kalah masih aja kaga terima." Getta berucap sambil melemparkan sebutir kacang.
"Berisik lu semua, gw kaga bisa konsentrasi ini." Kenn berbicara tanpa menoleh.
"Maen mah maen aja sih. Ga usah ngoceh," balas Andra dengan santai.
Tiba tiba wildan berseru dengan heboh.
"Gol!"
"Kenn!" geram Rian karena Kenn kalah, sedangkan Wildan berdiri dan mengangkat kedua tangannya menandakan jika ia berhasil.
Selanjutnya Andra, Wildan dan Getta berjoget ala bebek untuk merayakan kemenangan mereka. Mereka bertiga serempak bernyanyi.
"Potong bebek angsa masak di kuali, siap bersih-bersih di rumah sendiri, sapu ke kiri, sapu ke kanan lalalalalala."
Setelahnya mereka bertiga tertawa puas, ketika melihat wajah kesal lawannya, terutama wajah Rian.
Sedangkan Rian, Kenn, dan Hendrik menatap mereka dengan pandangan kesal, mereka harus menyiapkan tenaga untuk membersihkan rumah Rian.
"Gara-gara lu berdua ini, gw harus bersihin rumah." Rian menatap Hendrik dan Kenn dengan sengit. Mereka berdua tidak menghiraukan ocehan Rian.
"Tidur lah besok harus kerja," kata Kenn dengan semangat.
Menit berikutnya Hendrik berteriak, "Woy lu bertiga bener-bener ya! Astaga!"
Melihat Getta, Andra dan wildan melemparkan cangkang kacang dengan sembarangan membuat rumah menjadi semakin kotor.
"Wih selow, besok pagi 'kan ada kang bersih-bersih."
Jawaban santai dari Wildan membuat mereka mendengus kesal, hal itu membuat team A tertawa bahagia.
"Tidur sono, besok kan jadi relawan kebersihan." Ejekan Getta dihadiahi cangkang kacang dari Rian.
"Gue balik lah," ucapan Hendrik mendapatkan tatapan horor dari Kenn dan Rian.
"Gue kempesin ban motor lu dua-duanya."
Ancam Kenn dan Hendrik meringis sambil mengacungkan jari tengah dan telunjuk nya membentuk huruf V.
Hari hari yang mereka lewati tidaklah mudah, mereka menguatkan satu sama lain, Mereka lebih dekat dari saudara bahkan orang tua masing-masing.