Berlibur

1527 Words
Gita, tiga Anak Onta, Kiki dan Oncom kini sudah menginjakkan kakinya di atas lembutnya pasir pantai. Kiki berseru senang akan hal itu, memakai kacamata hitam dengan kaos pendek juga celana selutut. Kiki tipe orang yang percaya diri dibandingkan dengan Gita. Kiki tidak malu memakai kacamata hitam untuk melindungi matanya walaupun di keramaian. Mereka berjalan secara berpasangan, Kiki dengan Hendrik, Kenn dengan Oncom dan Gita dengan Rian. Mereka berjalan santai menuju gulungan ombak yang sedang berkejaran. Rian bahkan mengangkat Gita secara tiba-tiba ketika ombak hampir menyentuh kakinya, membuat Gita memekik kaget dan menimbulkan perhatian yang lainnya. "Kaget, Onta!" serunya setelah Rian menurunkannya. Rian hanya tertawa tanpa membalasnya. "Naek banana boat yu?" ajak Kiki. "Emang berani, Dek?" tanya Hendrik tidak yakin. "Emang kenapa gak berani?" tanyanya balik dengan nada menantang. "Cakep, yuk kita siap-siap." Hendrik mengajak Kiki ketempat banana boat, diikuti oleh Gita, Oncom, Hendrik dan Kenn. "Siapa yang bawa boat nya?" tanya Kenn pada Hendrik dan Rian. Banana boat yang tersedia merupakan fasilitas dari hotel, boat nya pun bisa di kemudikan oleh tamu hotel maupun oleh pegawainya. Semua Anak Onta tentu bisa mengendarai speed boat tersebut. "Pegawainya aja, kita naik banana nya bareng-bareng." Saran dari Rian yang di setujui oleh mereka semua. Kenn memanggil pegawai hotel, setelah itu mereka bersiap bersama. Mereka memakai pelampung terlebih dahulu, Kenn memeriksa pelampung yang dipakai oleh Gita untuk memastikan Gita memakainya sudah benar, begitupun dengan Hendrik yang memeriksa pelampung milik Kiki, disusul Rian yang memeriksa pelampung milik Oncom. Mereka mulai menaiki posisi masing-masing. Kenn berada di urutan paling depan, disusul oleh Gita, Rian, Kiki, Oncom dan Hendrik yang berada di urutan paling belakang. "Siap ya, jangan lupa pegangan." Intruksi dari Rian. Mereka semua berpegang pada lubang yang tersedia di masing-masing tempat. Begitu pegawai hotel mulai menjalankan speed boat nya mereka mulai berteriak, apalagi ketika boat bergerak semakin kencang dan berbelok. Rencananya mereka akan dijatuhkan Setelah dua kali putaran ketika sampai sedikit ketengah. Dan benar saja, ketika boat dan balon bentuk banana nya berada sedikit ditengah, sang pengemudi dengan boat yang kencang dengan sengaja membelokkan setirnya sembilan puluh derajat membuat mereka semua berteriak. Namun sayang, kejadian tak terduga ketika mereka jatuh tidak bersamaan. Kenn dan Gita jatuh terlebih dahulu, ketika Gita sudah akan muncul kepermukaan barulah Rian terjatuh dengan posisi kepala terlebih dahulu. Sehingga terjadilah bentrokan antara pipi Gita dan kepala Rian yang begitu keras, karena walaupun di dalam air, mereka bisa mendengar suara bletak yang cukup keras. Gita merasa gelap di dalam air, Kenn yang mendengarnya segera mencari Gita. Kenn menarik Gita ke dalam pelukannya. "Kak," panggil Kenn pelan. Gita mengerjapkan matanya beberapa kali, pipinya berdenyut dan kepalanya pusing. "Lu gak apa-apa?" tanya Kenn khawatir. "Gak kok," jawab Gita cepat. Boat yang tadi menjatuhkan mereka datang untuk menjemput, Kenn membantu Gita naik ke atas boat, disusul yang lainnya. "Tadi suara apa?" tanya Oncom yang juga mendengar bunyi dari bentrokan pipi Gita dan kepala Rian. "Pegang kepala gue, Com." Rian menundukkan kepalanya pada Oncom. Oncom merabanya dan merasakan sedikit benjolan. "Kepala lu?" tanyanya heran. Rian mengangguk, "Sama si Kakak," tunjuk nya pada Gita. "Lu apanya?" tanya Kiki pada Gita. "Nih!" Gita menunjuk pipinya yang sebelah kanan. "Kencang banget itu bunyinya. Abis ini langsung periksa ya," perintah Hendrik. "Siap, Bos!" Gita menunjukkan sikap hormatnya pada Hendrik. Mereka sudah sampai di tepi pantai, Hendrik turun terlebih dahulu dan membantu Kiki, Oncom dan Gita untuk turun. Hendrik langsung membawa Gita menuju hotel untuk di periksa. Kenn memerintahkan pegawai hotel untuk memanggilkan dokter agar Gita segera di periksa. Sedangkan mereka tetap bermain dengan senangnya, hanya Hendrik dan Gita yang kembali ke hotel. Rian, Kenn Oncom dan Kiki tetap berada di kawasan pantai meneruskan permainan. Bukannya mereka tidak khawatir, justru hal itu dilakukan agar tidak menimbulkan rasa khawatir berlebihan pada Kiki, juga Gita yang tidak suka jika mereka panik. "Ini dikompres pake es dulu ya, terus di olesin salep ini buat meredakan pembengkakkan. Ini pasti bengkak, ini juga kayaknya tulang pipinya retak deh," kata dokter yang memeriksa Gita. "Ini antibiotik di abisin ya, sama obat ini kalo lagi nyeri aja." Dokter wanita yang tidak diketahui namanya itu memberikan obat untuk diminum Gita. "Terima kasih, Dokter." ucap Hendrik. "Sama-sama, kalo gitu saya permisi dulu." Dokter itu pun pergi dengan diantarkan oleh petugas hotel. "Sakit ya?" tanya Hendrik yang melihat pipi Gita mulai membiru dan bengkak. Kulitnya yang coklat terkena paparan sinar matahari pantai membuat kulit Gita semakin bertambah coklat. "Mayan sih nyut-nyutan," jawab Gita dengan menekan es batu di atas pipinya. "Ke sana lagi yuk," ajaknya yang masih ingin bermain di pantai. "Istirahat aja lah. Puyeng 'kan pasti itu kepala?" "Gak Kok, Hayu ke sana lagi." Gita meninggalkan Hendrik untuk kembali menuju pantai, Hendrik berdecak karena Gita tidak mendengarkan perintahnya. "Tunggu, Kak." Hendrik menyusul Gita sudah menjauh karena Gita berlari . Gita melihat teman-temannya dan juga adiknya sedang bermain bola dengan sistem hukuman. Kali ini Rian yang sedang dalam masa hukumannya karena bola yang di kakinya berhasil direbut oleh Oncom. Mereka bermain secara melingkar, permainan yang di awali dengan suit tangan, di mana yang kalah suit dialah yang dihukum. Oncom kalah suit di awal permainan, sehingga Oncom harus dihukum dengan cara merebut bola dari kaki ke kaki. Oncom berhasil merebut bola yang di oper oleh Rian pada Kiki. Sehingga kali ini Rian lah yang dihukum. Banyak pengunjung yang memperhatikan mereka, terutama pengunjung wanita yang begitu terpesona pada Kenn dan Rian. Penampilan mereka berdua membuat para wanita hampir saja meneteskan air liurnya. Kenn hanya menggunakan kaos oblong berwarna putih, celana pendek selutut dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya. Sedangkan Rian menggunakan kaos oblong berwarna blue ocean dipadukan dengan celana pendek berwarna putih, pun kacamata hitam yang melekat di hidung bak perosotan anak TK. Penampilan mereka berdua begitu memukau bagi para kaum hawa, sangat kontras dengan Kiki dan Oncom. Kedatangan Gita disambut oleh mereka semua, menghentikan sejenak permainan karena menanyakan kondisi Gita terlebih dahulu. "Bukannya istirahat aja, Kak." Kenn menghampiri Gita terlebih dahulu, memeriksa keadaan pipi Gita yang terlihat lumayan bengkak. "Udah gak apa-apa kok," balas Gita yang merasa dirinya baik-baik saja. "Gue ikutan," katanya dengan semangat. "Kenapa lari sih?" tanya Hendrik yang baru sampai. "Masih sakit?" tanya Rian, melihat pipi Gita yang mulai membiru dan lumayan bengkak. "Mayan, tapi gak apa-apa kok. Ini siapa yang Ucing?" Gita menanyakan siapa yang sedang di hukum. Kata ucing berarti menunjukkan orang yang sedang dihukum. "Gue," unjuk Rian dengan mengacungkan jari telunjuknya. "Lu kalah?" ledek Hendrik dengan menggelengkan pelan kepalanya, "Masa ia lu kalah sama Oncom. Menyedihkan." Rian mendengus mendengar ledekan Hendrik, "Lu gak tau aja ternyata mereka pinter maen bolanya," jawab Rian. "Atuh juara satu lomba tujuh belasan dong gue mah," sela Oncom bangga. "Lawan siapa, Com?" tanya Kenn. "Emak-Emak berdaster lah," jawabnya langsung. "Wow! Menakutkan," balas Hendrik membuat mereka tertawa. "Maen lagi gak nih? Kak Rian 'kan masih dihukum." Kiki menyela obrolan mereka. "Maen lah," jawab Kenn. "Lu bertiga suit dah," perintah Kenn pada Rian, Hendrik dna Gita. Hompimpa alaihum gambreng Mak Ipah pake baju rombeng Ke pasar gombrang gambreng Yang kalah jadinya goreng Tangan Hendrik dan Gita menengadah, sedangkan tangan Rian telungkup, yang artinya Rian kembali kalah dan harus menjalankan hukuman lagi. "Mampus!" seru Hendrik. "Yeay!" seru Gita senang. "Aelahh gue kalah lagi aja," gerutu Rian. "Sabar adalah kunci, Kak." Kiki menepuk pelan bahu Rian yang membuat mereka terkekeh. "Bijak sekali, Dek. Mau gantiin Kakak gak?" balas Rian. "Gak, Kak. Makasih," balasan Kiki membuat mereka kembali menertawakan Rian. "Yuk mulai," intruksi Oncom. Mereka kembali membentuk lingkaran, Rian berada di tengah dengan bola dikakinya. Rian mulai mengoper bola pada Gita dan segera berlari untuk merebutnya. Gita tak kalah siap, begitu bola dihadapannya ia menendang ke arah Kenn. Rian kembali berlari ke arah Kenn. Bola di kaki Kenn kembali ditendang olehnya mengarah pada Oncom, lagi-lagi Rian harus berlari ke arah Oncom, begitu Rian sudah mendekat Oncom kembali menendang bola menuju arah Kiki, Rian berlari ke arah Kiki dan Kiki menendang ke arah Hendrik. "Semangat, Kak Rian!" teriak Kiki yang melihat Rian ngos-ngosan akibat berlari ke sana kemari. "Cape oyy!" keluh Rian dengan menundukkan kepalanya. "Ayo, Ta. Semangat!" teriak Gita. "Weh ini bola kaga mau diambil?' ledek Hendrik dengan menggulir-gulirkan bola dengan kakinya. Rian kembali berlari untuk mengambil bola, Hendrik langsung menendangnya ke arah Kenn. Tendangan Hendrik sudah diperkirakan oleh Rian. Jadi sebelum bola sampai di kaki Kenn sudah didapatkan oleh Rian terlebih dahulu. Maka dari itu Hendrik akhirnya kalah dan dihukum, menggantikan Rian yang akhirnya bebas. Mereka meneruskan permainan hingga mereka merasa lelah, terutama Gita yang pipinya membengkak yang membuat matanya sipit sebelah. Rian mengajak mereka semua untuk beristirahat, karena melihat kondisi Gita yang sepertinya sudah kelelahan. Mereka berjalan menuju kursi dengan payung besar untuk tempat beristirahat. Mereka tetap berada di pantai, karena masih ingin meneruskan permainan. Kali ini mereka berjalan dengan posisi yang berbeda, Kiki, Hendrik dan Oncom berjalan bersisian dengan posisi Hendrik berada di tengah, mereka bertiga memimpin jalan. Sedangkan Rian, Gita dan Kenn berada di belakang mereka. Rian di sebelah kanan Gita dan Kenn berada di sebelah kirinya. Rian dan Kenn bahkan menggenggam tangan Gita, Gita seperti anak kecil yang dituntun oleh orangtuanya ketika berada di keramaian. Sedangkan Hendrik bertingkah bagaimana raja minyak yang dikelilingi oleh dua wanita sekaligus, karena tangannya merangkul bahu Oncom dan Kiki secara bersamaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD