Informasi tentang pelaku yang membuatnya harus berjauhan dari Gita sudah sampai di telinga Andra. Andra hanya diam dengan menahan kesal yang membuat otaknya mendidih. Ingin rasanya ia pulang te tanah air saat ini juga untuk menghabisi pelakunya.
Namun, Andra tidak bisa, karena mau tidak mau Andra harus tinggal di sana untuk sementara waktu atas ancaman ayahnya. Kerusakan tulang rusuk bagian depan yang cukup parah membuat ayahnya menjadi sangat khawatir.
Getta dan Wildan bahkan begitu kaget saat mengetahui siapa dalang dari kecelakaan yang menimpa Andra. Mereka tidak habis pikir dengan Sheryl yang sampai melakukan hal gila seperti itu, dengan alasan yang tidak masuk akal hanya karena cemburu, karena dirinya masih remaja, cinta yang dimilikinya pun hanyalah cinta anak sekolah pada umumnya, dan seharusnya seperti itu.
Karena jika hanya perkara cemburu untuk anak seusianya masih terbilang labil seharusnya. Namun Sheryl melakukan hal yang sudah di luar batas dari usianya sendiri.
Menurut logika mereka, seseorang melakukan hal seperti itu ketika mereka berada di fase benar-benar kecewa akan cinta. Sedangkan di umur Sheryl yang masih belasan belum saat nya memendam rasa sakit hati karena cinta, bahkan sampai harus bermain dengan keselamatan seseorang.
Di umurnya yang masih anak sekolah itu, rasa patah hatinya baru sekilas dari cinta monyet nya saja. Tidak sampai patah hati yang berlebihan, bahkan menaruhkan nyawa seseorang.
Sheryl mungkin tidak pernah mendengar pepatah mengatakan sepandai-pandainya tupay melompat, suatu saat ia akan jatuh juga.
Begitupun dengan semua kelakuannya, serapi dan sebersih apapun ia melakukan kejahatan, suatu saat akan terbongkar juga. Apalagi ia berurusan dengan pewaris dari Angkasa Group, yang sudah pasti tidak akan melepaskannya begitu saja.
Pikirannya yang masih labil dan didukung dengan sifat manjanya yang belum bisa mengendalikan emosi, hingga tanpa berpikir jauh Sheryl melakukan apa yang menjadi kepuasan hatinya saja. Dan sekarang ia harus merasakan bagaimana sulitnya hidup dalam sebuah tahanan.
"Enaknya di apain yah tuh Anak Cere?" tanya Andra setelah membaca semua laporan dari Getta.
Saat ini mereka bertiga berada di apartemen mewah Andra yang berada di kawasan Orchard Road.
"Biarin diproses secara hukum aja sih. Gak perlu ikut-ikutan jadi orang gak bermoral juga," jawab Wildan bijak.
Menurutnya biarlah hukum yang bertindak, sebagai pembelajaran untuk hidup Sheryl yang lebih baik.
"Gak asik aja gitu kalo gue gak ikut sekalian. Oya, Si Kakak tau siapa pelakunya?" tanyanya lagi.
"Gak, si Kakak taunya kalo ini karena saingan bisnis, kayak gak tau aja gimana orangnya. Apalagi kalo sampe tau yang ngelakuin tuh Cere, pasti dia bakalan kepikiran terus," jawab Getta. Mereka semua tahu bagaimana pikiran Gita yang selalu menyalahkan dirinya sendiri.
"Calon istri gue emang terlalu bersih hatinya," kata Andra dengan tersenyum.
Andra begitu merindukan gadis kecilnya itu, ingatannya berputar saat malam di mana sebelum kecelakaan itu terjadi. Gita yang entah mengapa begitu manja terhadapnya, Gita yang seolah tau jika itu pertemuan terakhir mereka sehingga membuatnya ingin bermanja-manja dengan Andra.
Gita yang selalu menepis jika mereka merangkul bahunya, malam itu bahkan dengan sengaja menggendongkan dirinya seperti koala pada Andra, dengan jahilnya meniup leher Andra.
Mereka bahkan menyatukan kening, jika saja Gita tidak menolaknya, sudah pasti Andra akan menyatukan bibir mereka. Roll film di kepala Andra buyar seketika karena panggilan dari Getta.
"Woy! Wah gila gue rasa nih anak," seruan Getta membuat Andra mendengus.
"Apa sih lu? Ganggu gue aja," gerutunya dengan kesal. Bayangan Gita di malam itu buyar karena Getta.
"Lagian kayak orang gila senyum-senyum sendiri," balas Wildan yang sedang berkirim pesan dengan Rian.
"Lu kapan balik ke Indo?" tanya Getta. Karena ia dan Wildan akan pulang lusa.
"Gak tau, Aki-Aki itu gak ngebolehin gue pergi," jawab Andra yang memang saat ini dalam penjagaan ketat. Ayahnya bahkan menyiapkan bodyguard di depan apartemen nya.
"Ntaps lah, gue mau pulang besok. Kangen sama si Kakak," goda Wildan yang pasti membuat Andra kesal.
"Bawa dia kesini kek. Gue kangen," katanya dengan lirih.
Andra menarik napasnya pelan, menandakan sebuah beban besar tengah di tanggungnya.
"Kalo dia mau gue bawa kesini. Kalo gak mau ya gimana lagi." Getta mengedikkan bahunya, tahu sekali bagaimana sifat dan sikap Andra dan Gita.
"Culik aja kalo gitu," balas Andra dengan santainya.
"Si Pea!"
Wildan melemparkan bantal sofa yang langsung di tepis oleh Andra. Hal itu justru membuatnya meringis karena gerakan refleks tangannya yang terasa hingga ke dadanya.
"Masih sakit, Nyett?" tanya Wildan sedikit cemas.
"Lu macem-macem," tegur Getta yang melihat Andra meringis.
"Asli ya gue kayak orang penyakitan sumpah," kesal Andra dengan keadaannya.
"Sadar diri woi! Emang lu sakit," balas Wildan cepat.
"Si Bege!" Seru Getta.
"Besok lu berangkat jam berapa?" ingin rasanya Andra kabur, tapi nantinya akan menyulitkan semua orang.
Jadi untuk saat ini Andra memilih menurut saja terlebih dahulu, lagipula ia juga ingin memupuk rindu hingga menjadi gunung, supaya disaat bertemu nanti ia akan melepaskan rasa rindu itu dengan bahagianya.
"Pesawatnya jam sepuluh," jawab Getta.
"Beliin si Kakak Oleh-oleh," pintanya pada mereka berdua.
"Oleh-oleh apa?" tanya Wildan bingung.
"Lu tau sendiri si Kakak gak suka sama hadiah-hadiah gitu," sambung Getta.
"Gue aneh sama cewek satu itu, Kenapa sih gak pernah mau kalo gue kasih apapun. Sekalinya diterima malah dianggap hutang," heran Andra dengan sifat Gita. Entah karena Gita malu, sungkan atau apapun itu.
"Justru itu yang buat dia beda, calon pacar gue emang Emejing," balas Getta dengan tersenyum.
"Gue bunuh aja mau gak lu?" tanya Andra.
Wildan tertawa mendengarnya, "Emang kenapa, Ta? Itu juga calon pacar gue loh," tambahnya semakin menggoda Andra. Masih sangat posesif memang Andra pada Gita.
"Mati aja lu berdua," dengus Andra dengan merebahkan dirinya pada sandaran sofa.
"Dih, Sewot! Udah mantan woi, jadi si Kakak statusnya jomblo!" tegas Wildan dengan menekan kata terakhirnya.
"Serah lu berdua, pergi sono. Jangan balik lagi," usir Andra.
"Telpon si Kakak ah."
Getta mengeluarkan handphonenya dan mendial nomor Gita, dua kali panggilannya tidak di jawab oleh Gita.
"Ke mana ya?" tanyanya dengan terus menelpon.
Andra di sebelahnya hanya diam dengan memperhatikan Getta yang masih mencoba menghubungi Gita.
Wildan pun mengeluarkan handphonenya dan mendial nomor Oncom, sama seperti Gita Oncom pun tidak menjawab panggilannya.
"Si Oncom juga gak di angkat sih."
"Lagi kerja, jangan di ganggu." Andra berpikir positif jika Gita dan Oncom sedang bekerja.
"Jadi gak sabar pengen cepet besok. Supaya cepet ketemu calon pacar." Getta menyandarkan punggungnya dengan senyum seolah membayangkan hal yang bahagia.
"Mati aja lu berdua," kesal Andra kembali mengatakan itu dan berjalan menuju kamarnya.
Wildan dan Getta tertawa dibuatnya, sikap posesif Andra pada Gita masih sama seperti mereka berstatus pacar dahulu. Gita yang membagikan perhatiannya selalu mendapatkan protes dari Andra.
Gita benar-benar sudah menjadi sumber kebahagiaan untuk Andra. Entah sampai kapan Andra akan ditahan oleh ayahnya, dan akan menanggung rasa rindu terhadap gadis manis pujaan hatinya.
"Tarohan yuk. Sampe kapan dia bisa ditahan sama Bokap?" Wildan sampai ingin bertaruh untuk Andra.
"Paling juga seminggu dia udah kabur," kata Getta dengan memejamkan matanya.
"Perkiraan gue sih gak lebih dari sebulan," balas Wildan dengan memandangi pintu kamar Andra.
Mereka berdua yakin Andra tidak akan sanggup dalam kekangan ayahnya, dan juga tidak akan bisa berlama-lama jauh dari Gita. Tanpa mereka tahu ancaman Adiputra yang sebenarnya.
***
Di dalam kamarnya kini Andra tengah melamun, duduk di sebuah kursi yang berada di balkon kamarnya, melihat lurus ke depan dengan pandangan yang kosong. Sungguh ia tidak betah berada di tempatnya saat ini, tapi ancaman ayahnya tidak bisa disepelekan olehnya.
Walaupun selama hampir sepuluh tahun ini mereka tidak dekat layaknya ayah dan anak, tapi Andra sangat hafal dengan tabiat ayahnya yang tidak bisa dibantah jika sudah memutuskan sesuatu dengan ancaman. Andra menarik ingatan pada obrolannya dengan sang ayah dua hari yang lalu, dimana Getta dan Wildan sedang tidak bersamanya.
"Ayah gak izinin kamu balik ke Indonesia sebelum kesehatan kamu pulih total."
Andra sempat tersenyum ketika mendengar ucapan bernada khawatir dari ayahnya. Andra berpikir hanya sampai kesehatannya pulih, setelah itu ia akan kembali ke tanah air dan berkumpul seperti sediakala bersama Gita dan yang lainnya. Namun ucapan berikutnya membuatnya tersenyum sinis dengan wajah datar.
"Dan juga kamu sudah harus mulai belajar mengurus Angkasa, Ayah sudah semakin tua dan ingin segera menghabiskan masa tua dengan tenang, tanpa harus pusing dengan pekerjaan yang setiap hari tak pernah ada habisnya. Apa kamu gak kasian sama Ayah?" tanyanya dengan menatap wajah Andra yang penuh dengan jerawat.
"Gak usah ngatur-ngatur hidup Andra. Andra gak mau, dan juga Andra bisa mulai belajar ngurus perusahaan di Indonesia. Jadi gak perlu harus ditahan disini," jawab Andra dengan tenang dan mengalihkan pandangannya untuk menatap jendela.
Obrolan sore di ruang tamu yang tidak pernah diinginkan oleh Andra. Andra paling tidak suka jika sudah diingatkan tentang belajar mengurus perusahaannya.
"Ayah gak yakin di sana kamu mau belajar, karena selama ini kamu cuma kumpul-kumpul sama temen-temen kamu. Ayah juga bakal mindahin Getta kesini, karena dia juga anak Ayah. Kalo kamu masih nolak perintah Ayah, resikonya ditanggung sama Gita."
Adi Putra bangun dari duduknya setelah menyampaikan itu. Andra tersenyum sinis mendengar ancaman dari ayahnya.
"Terserah," balasnya tenang dan pergi terlebih dahulu menuju kamarnya.
Ayah dan anak itu tidak pernah berbicara berdua seperti itu setelah sekian tahun, dan sekali nya mereka berbicara bukan obrolan menyenangkan antara ayah dan anak. Melainkan ancaman yang membuat Andra semakin tidak menyukai hidupnya. Andra tidak akan bertanya darimana ayahnya mengetahui tentang para Anak Onta dan juga Gita, karena selama ini ayahnya pasti mengutus orang untuk memantaunya, karena bukan hal aneh untuk itu semua.
Andra hanya tidak habis pikir mengapa ayahnya harus mengancamnya melalui Gita. Mengapa harus keselamatan Gita lagi yang berada dalam ancaman untuk kesalahan yang tidak pernah dilakukan olehnya.
Andra akan melakukan apapun demi keselamatan Gita, mau tidak mau Andra harus menuruti keinginan ayahnya demi keselamatan Gita. Untuk saat ini biarlah Andra hanya memantau Gita dari jauh saja, yang terpenting Gita selalu aman dan dalam pengawasannya.
"Boleh gak sih gue sumpahin tuh Aki-Aki," gerutunya dengan kesal jika mengingat tentang semua ucapan ayahnya.
Jika saja tidak dosa, mungkin Andra akan menyumpahi ayahnya itu. Tidak seharusnya ayahnya itu mengatur hidupnya setelah selama ini tidak pernah memperhatikannya.