Surat Perjanjian Pinjam

1564 Words
Malam panjang dengan begitu nelangsa harus dilalui oleh Sheryl dibalik jeruji besi, matanya perih dengan kepala berdenyut nyeri akibat terlalu lama menangis. Ibu sambungnya baru saja pulang setelah membawakannya makanan dan selimut. Bajunya sudah berganti dengan baju tahanan berwarna navy pudar, baju yang begitu menjijikkan baginya, baju yang membuat kulit mulusnya terasa gatal. Air matanya tidak berhenti mengalir dari kedua sudut matanya, belum sehari ia berada di balik jeruji besi itu, tapi rasanya sudah seperti satu tahun saja. Sheryl begitu menyesal karena telah menuruti sifat sombongnya yang merasa terkalahkan oleh gadis kampung dengan dandanan tomboi. Egonya tidak terima jika ia kalah dengan gadis kampung itu, karena selama hidupnya apapun harus ia dapatkan, termasuk perhatian Rian dan para Anak Onta lainnya. Gara-gara Gita ia tidak bisa mendapatkan semua itu, gara-gara Gita ia diledek oleh teman-temannya. "Mih, tolong Sheryl. Sheryl takut," gumamnya dengan mengeratkan pegangan pada selimutnya. Ia akan berada di sana selama pengadilan belum memutuskan apakah ia bersalah atau tidak. Selalu Mamih nya yang akan ia panggil disaat ia merasa ketakutan, wanita yang selama tiga tahun terakhir pergi meninggalkannya tanpa pernah kembali. Walaupun sudah ada Ibu sambung yang begitu perhatian dan terlihat sangat menyayanginya, tapi bagi Sheryl sikap wanita itu hanya topeng. Sheryl yakin wanita itu sedang berpesta atas musibah yang menimpanya. "Kalian jahat! Aku gak salah," lirihnya hingga tanpa sadar ia pun terlelap dibalik selimutnya. Lantai dingin yang hanya beralaskan tikar tipis membuatnya enggan untuk merebahkan tubuhnya. Sheryl lebih memilih untuk duduk dengan memeluk kedua lututnya, wajahnya ia tenggelamkan diantara lutut dengan selimut tebal membalut tubuhnya. *** Kimmy dan Salsa hanya bisa menunduk pasrah ketika ia di interogasi oleh ayah Sheryl, mereka baru mendengar jika Sheryl dibawa oleh polisi atas tuduhan penganiayaan berencana. Kedua teman Sheryl itu sedih ketika temannya ditangkap oleh polisi. Hendrik dan Getta tidak memberitahu itu pada mereka yang merupakan kekasihnya. Bahkan selama satu minggu ini semua pesan dan panggilan telpon pun selalu diabaikan oleh Hendrik dan Getta. Sebenarnya Salsa dan Kimmy bukan hanya sedih mengetahui jika Sheryl berada di balik jeruji besi, mereka lebih sedih memikirkan kelanjutan hubungannya dengan kekasihnya, mereka takut jika Hendrik dan Getta berpikir jika mereka berdua ikut dalam rencana Sheryl. Sungguh jenis pertemanan yang menyedihkan. "Om tanya sama kalian berdua. Apakah kalian tahu semua rencana Sheryl kali ini? Tolong jawab jujur, Om mohon." Salsa dan Kimmy menggelengkan kepalanya lemah, bagaimanapun mereka tidak boleh terseret dalam kasus ini. Salsa lebih memikirkan nasibnya jika sampai ia mempermalukan nama keluarganya. Ia berkelakuan baik saja tidak dianggap, apalagi jika sampai ia melakukan kejahatan. Mungkin orangtuanya langsung mencoretnya dari daftar kartu keluarga. "Kita gak tau, Om. Karna udah satu minggu juga kita gak ketemu sama Sheryl," jawab Kimmy. "Om dapet laporan kalo kamu kirim uang dalam jumlah cukup besar itu buat apa?" tanya Jafran lagi. Ia telah menyelidiki dan mendapatkan Salsa mengirimkan uang dalam jumlah yang cukup besar pada Sheryl. "Dia minjem sama aku, Om. Katanya buat benerin mobilnya, kita juga pake surat perjanjian kok. Karena itu 'kan tabungan aku buat ke Jerman, mangkanya aku kasih dia tenggat waktu dua bulan. Ini surat perjanjiannya. Bukannya aku itungan sama temen, aku cuma mau ngajarin dia tanggung jawab aja kok," jawab Salsa dengan mengeluarkan surat perjanjian yang waktu itu mereka sepakati. Jafran mengambilnya dan membaca dengan seksama, di sana tertulis dengan lengkap isi surat perjanjiannya dan alasan Sheryl meminjaminya. Pihak 1 : Investor Nama : Salsabila Dewanti Pihak 2 : Peminjam Nama : Sheryl Sheinafia Dengan menggunakan surat perjanjian ini, pihak pertama yang bernama Salsa Dewanti meminjamkan uang sebesar Rp.50.000.000. Yang terbilang Lima Puluh Juta Rupiah. Kepada pihak kedua yang bernama Sheryl Sheinafia untuk reparasi mobil. Jangka waktu pinjam yang harus dikembalikan adalah dua bulan setelah hari ini. Sekian surat perjanjian ini yang dibuat dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya. Jakarta, 03 Maret 2011. Surat yang ditandatangani di atas materai oleh keduanya dan juga dua orang saksi, yaitu Kimmy dan juga penjaga Villa milik Salsa. Jafran begitu geram membacanya. Sheryl sampai berani meminjam uang dengan nominal cukup besar untuk anak seusianya, dan harus berbohong hanya demi ego nya. Jafran menyesal tidak mengambil alih tanggung jawabnya dalam mendidik Sheryl, dan lebih menyerahkannya untuk dididik oleh Kakak iparnya yang ternyata sumber dari semua kehancurannya. Selama ini Jafran hanya fokus pada pekerjaan dan mencari istrinya yang baru tiga tahun lalu ditemukan lagi olehnya. Andai saja Jafran bisa membagi waktunya dengan Sheryl, mungkin anak satu-satunya itu tidak akan mengalami hal seperti ini. "Kenapa kalian gak kasih tau Om dari awal?" "Salsa 'kan gak tau Om kalo Sheryl minjem duit itu buat bayar orang, yang Salsa tau dia pengen ganti Velg sama ganti cat mobilnya." Untung saja Salsa sudah mempersiapkan jawaban yang tepat dan cukup masuk akal menurutnya. "Kita juga gak dibolehin bilang sama Om apalagi Tante karna katanya nanti dia dimarahin," sambung Kimmy. "Kami gak nyalahin kalian. Sekarang kalian boleh pergi," usir wanita yang mereka tahu itu Ibu tiri Sheryl. Salsa dan Kimmy bangkit lalu menyalami tangan kedua pasangan paruh baya itu. Mereka berjalan keluar dan langsung masuk ke dalam mobil Salsa, dengan segera Salsa menginjak pedal gas nya. Mereka bisa bernapas lega akhirnya karena sudah keluar dari rumah Sheryl yang cukup mencekam. Rumah yang tidak pernah terasa hangat walaupun semua penghuninya sangat baik. "Untung gue pinter udah nyiapin semuanya. Gila 'kan kalo sampe kita kebawa-bawa masalah ini," ujar Salsa dengan tetap fokus pada jalanan. "Huh, gila sih tuh anak. Udah dibilangin malah ngeyel," balas Kimmy. Mereka sudah mengingatkan pada saat itu, tapi Sheryl tidak mau mendengarkan dan malah mengatai mereka dengan kata cemen dan penakut. Jadi jangan salahkan mereka jika saat ini mereka tidak peduli akan masalah Sheryl, karena masalah mereka saja sudah cukup banyak, jadi mereka tidak mau menambahkannya lagi. Terutama masalah dengan kekasihnya, yang sampai saat ini belum ada kabar. "Kak Hendrik ada ngabarin lu gak?" Kimmy menggelengkan kepalanya pelan dengan diiringi tarikan napas kasar. "Chat gue aja semua gak dibales, telpon gak diangkat." "Ke mana ya mereka? Kak Getta juga gak ada kabar soalnya. Gue datangin tempat nongkrongnya juga gak pernah ada," balas Salsa yang memang beberapa kali mendatangi tempat tongkrongan mereka. "Apa kita tanya si Gita aja?" saran Kimmy. "Ya udah coba lu telpon," perintah Salsa. Kimmy mengeluarkan handphone-nya dan mencari nama Gita yang ia tulis dengan kata nama 'Monster' dan langsung memencet tombol panggil. Panggilan terhubung, di dering keempat Gita baru mengangkatnya. "....." "Waalaikumsalam, Lu lagi ngapain?" jawab Kimmy dengan diiringi pertanyaan ketika Gita menyapanya. "....." "Cowok gue lagi sama lu gak?" tanya Kimmy dengan menenkan kata kepemilikannya pada Hendrik. "...." Kimmy dan Salsa mendengar Gita berteriak memanggil Hendrik, Salsa mendengus ketika Gita memberikan handphonenya pada Hendrik. Lagi dan lagi kekasihnya lebih memilih bersama Gita dibandingkan dengan mereka. Jangankan untuk mengajak jalan-jalan, bahkan untuk membalas pesannya pun tidak. Sedangkan dengan Gita mereka malah sedang bersenang-senang saat ini. Salsa bisa mendengar adanya suara deburan ombak, yang pasti mereka sedang berada dikawasan pantai, membuatnya semakin geram. Sebenarnya wajar jika Sheryl sampai ingin mencelakai Gita, karena menurutnya Gita telah merebut semua perhatian dan kasih sayang kekasihnya. "Halo, Kakak ke mana sih? Seminggu loh gak ada kabar. Chat telpon aku gak ada yang dibales," rajuk Kimmy yang tidak ditanggapi oleh Hendrik. "....." "Aku masih pacar kamu loh," geram Kimmy. "......" Kimmy mendengar suara seorang wanita yang memanggil Hendrik dengan sebutan sayang dengan manja, membuat matanya melirik Salsa dengan tatapan bingung. Juga sambutan Hendrik pada wanita itu yang membuat Kimmy menggelengkan kepalanya tidak percaya. Bahkan Hendrik mengatakan ia hanya seorang teman. Itu bukan suara Oncom, karena Kimny mengenal suara Oncom apalagi Gita. Itu suara wanita yang berbeda. Kimmy mengepalkan tangannya menahan marah dan kesal. "Itu siapa, Kak?" tanyanya setelah Hendrik meminta wanita itu pergi. "....." Jawaban Hendrik membuat Kimmy tidka bisa menahan marahnya. "Kakak jahat banget sih? Salah aku apa? Kakak di mana? Aku mau ketemu." Kimmy sudah tidak bisa mentolerir sikap Hendrik yang tidak menganggapnya ada, bahkan saat ini Hendrik sedang bersama wanita lain. Ini semua pasti ulah Gita, mungkin Gita mengenalkan temannya pada Hendrik sehingga mereka bisa bersama saat ini. Dan lihat sekarang, Hendrik bukannya menjawab malah mematikan sambungan teleponnya. Kimmy kesal, kimmy marah, tapi sayang ia tidka bisa berbuat apa-apa. "Gila! Cowok lu selingkuh secara terang-terangan coy!" Salsa mengompori Kimmy yang sedang menahan marah. "Diem Bangke!" bentaknya yang tidka suka mendengar tawa dari Salsa. "Lu kira cowok lu gak?" tanyanya dengan tersenyum sinis. "Gue gak denger suara cowok gue tuh," balas Salsa cuek. "Lu pikir Kak Getta gak bakalan ikut gitu kalo si Gita ikut? Otak dipake buat mikir realistis. Begonya si Sheryl jangan lu ikutin," balas Kimmy memanas-manasi Salsa. Salsa tampak berpikir, benar yang dikatakan oleh Kimmy. Getta tidak mungkin akan berdiam diri jika Gita pergi berlibur. Bukan hanya Getta tapi semua Anak Onta nya. Berarti saat ini nasibnya sama dengan Kimmy, kekasih mereka lebih memilih liburan dengan wnaita lain tanpa menghiraukan perasaan mereka. Hendrik bahkan tidak marah ketika wanita tadi memanggilnya dengan kata -Sayang- malah Hendrik membalasnya dengan mesra. Salsa mencengkeram erat kemudinya, menahan marah dan kesal dengan pikiran yang melintas di kepalanya. Lagi-lagi ini semua karena gadis tomboi dari kampung itu. Dan lagi-lagi nasibnya harus sama seperti Kimmy yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan kesal Salsa menginjak pedal gas lebih dalam, menyalurkan kekesalan di jalan raya. Salsa tidak memikirkan tentang keselamatannya, otaknya dan hatinya saat ini mendidih karena kelakuan kekasihnya. Sedikitpun mereka tidak dianggap, Salsa dengan jelas mendengar bahwa Hendrik mengaku Kimmy hanya temannya saja pada wanita yang memanggilnya dengan manja. Baik Salsa maupun Kimmy sadar jika cinta yang dipaksakan memang menyakitkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD