Setelah puas bermain oper bola, kini Gita, Oncom, Kiki dan ketiga Anak Onta sedang duduk di bawah payung besar dengan kelapa muda yang tersedia di atas meja. Kenn meringis ngilu melihat pipi Gita yang semakin bengkak, Rian sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi antara ia dan Gita.
Awal pertemuannya dengan Gita karena kecerobohan adiknya yang membuat kepala Gita benjol. Kali ini pun Gita terluka bahkan matanya sampai sipit sebelah karena bentrokan dengan kepalanya.
Rian tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya, karena jujur kepalanya saja benjol dan terasa nyut-nyutan, apalagi Gita yang sampai bengkak dengan warna biru gelap seperti itu.
"Sakit banget ya, Kak?" tanya Rian dengan rasa yang ngilu.
"Nyut-nyutan doang sih," jawab Gita jujur, karena memang tidak terlalu sakit, "Lagian 'kan udah minum obat tadi. Jadi gak terlalu sakit," sambungnya lagi.
"Bener obatnya udah diminum?" tanya Kenn untuk memastikan.
Walaupun Gita tidak susah jika meminum obat tetap saja Kenn harus memastikannya. Karena terkadang Gita menyepelekan rasa sakitnya.
"Udah, orang gue yang ngawasin," sela Hendrik sebelum Gita menjawabnya.
Bukan hanya tiga Cere yang iri pada Gita, bahkan Kiki pun sedikit merasa iri dengan keberuntungan Kakaknya yang berpenampilan tomboi itu.
Diperlakukan sebegitu istimewanya oleh para Tuan Muda adalah harapan untuk semua wanita, dan Gita mendapatkan semua itu. Lihatlah penampilan ketiga teman kakaknya itu, hampir semua gadis yang ada memperhatikan mereka bertiga. Ada yang secara terang-terangan melihatnya, ada yang hanya mengintip melalui ekor matanya. Apalagi para Abege-abege yang masih haus akan wajah-wajah pangeran tampan.
Handphone milik Hendrik dua kali berdering, dan Hendrik hanya meliriknya tanpa mau repot-repot mengangkat panggilan telepon dari Kimmy, yang masih berstatus sebagai kekasihnya.
"Angkat, Ta. kesian cewek lu," perintah Gita yang di abaikan oleh Hendrik.
"Males, Kak. Panas kuping gue," kilah Hendrik.
Padahal Hendrik tidak pernah bertelponan lebih dari lima menit dengan Kimmy, karena baru satu menit saja kupingnya sudah terasa panas. Berbeda jika ia berbicara dengan Gita, entah itu secara langsung maupun di telpon. Seberapa lama pun kupingnya masih terasa damai saja.
"Alesan aja lu," balas Gita, "Tuh 'kan jadinya telpon gue anak Cere nya."
"Bilang aja gue gak sama lu," pinta Hendrik.
Gita mengangkat panggilan dari Id yang ia beri nama 'Cere 2' yang artinya Panggilan itu berasal dari Kimmy.
"Halo assalamualaikum," sapanya seperti biasa.
"...."
"Lagi liburan, ada apa?" tanya Gita yang sebenarnya sudah tahu alasan Kimmy menelponnya untuk menanyakan Hendrik.
"......"
"Tunggu bentar, gue panggil dulu." Gita berpura-pura memanggil Hendrik dengan cara berteriak
"Onta!"
Hendrik berdecak pelan karena Gita malah memanggilnya.
"Kenapa, kak"."
Hendrik pun pada akhirnya harus berpura-pura tidak tahu jika Kimmy menelponnya.
"Cewek lu telpon."
Gita menyerahkan ponselnya pada Hendrik, yang di terima dengan penuh keterpaksaan olehnya.
"Halo, kenapa?" tanya Hendrik tanpa basa basi.
"...." Hendrik menjauhkan kupingnya karena tidak mau mendengarkan ocehan Kimmy.
Oncom berinisiatif untuk menjahili Kimmy, Oncom menyuruh Kiki untuk memanggil Hendrik dengan mesra. Hendrik menyetujuinya. Awalnya Kiki tidak mau, tapi atas permohonan dari Hendrik akhirnya Kiki pun mau. JKarena jika menggunakan suara Oncom Kiki sudah sangat hafal.
"Gak mau ah, ntar Kak Hendrik berantem lagi sama ceweknya," tolak Kiki ketika Oncom membisikkan rencananya.
"Gak apa-apa, Dek. Sengaja malah biar mereka berantem."
Rian ikut meyakinkan Kiki untuk mengikuti rencana Oncom. Kenn juga mengangguk pada Kiki, untung saja Gita pergi, jadi mereka bisa menggunakan Kiki untuk mengerjai Kimmy. Jika ada Gita sudah pasti Gita akan melarangnya.
Akhirnya Kiki memberanikan diri untuk mengikuti rencana Oncom dengan memanggil Hendrik dengan kata yang menggelikan.
"Sayang!" panggilnya pelan.
Hendrik mengisyaratkan agar lebih keras sedikit panggilannya.
"Sayang! Telpon dari siapa sih?" panggil Kiki dengan nada merajuk. Kenn, Rian dan Oncom menahan tawanya melihat akting Kiki yang merajuk.
"Sebentar ya, Sayang. Temen aku," balas Hendrik yang berhasil memancing amarah Kimmy.
Intonasi suara Kimmy meningkat begitu mendengar suara Kiki yang memanggil Hendrik dengan panggilan mesra. Bahkan Hendrik tidak mengakuinya sebagai kekasih, melainkan sebagai temannya. Hendrik tidak peduli akan hal itu, Hendrik mematikan sambungan teleponnya sepihak, malas mendengarkan ocehan Kimmy yang sungguh tidak penting untuknya.
"Kiki gak enak loh sama pacarnya Kak Hendrik," ujar Kiki setelah Hendrik menyimpan handphone Gita.
Mereka semua tertawa. Kiki bingung sendiri melihatnya, Kiki berpikir mereka mungkin sedang bertengkar sehingga Hendrik melakukan hal itu.
"Gak usah dipikirin, Dek. Dia minta putus itu lebih baik," kata Kenn dengan mengacak rambut Kiki.
"Jahat dih," balas Kiki yang tidak mau bertanya lagi.
Mereka semua tertawa, menyisakan Kiki dengan kebingungan nya. Akhirnya Rian menceritakan semuanya pada Kiki. Kiki mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti, pengaruh Gita ternyata sangat besar pada para Anak Onta. Anak Onta nya bahkan menuruti semua keinginan Gita walaupun mereka harus tersiksa dalam hal perasaan. Kakaknya memang patut di contoh dalam hal berteman.
"Jangan dipikirin, Dek." Kenn mengacak rambut Kiki lagi yang setengah kering.
***
Getta dan Wildan kembali menghubungi Gita, tapi lagi-lagi Gita tidak mengangkatnya, mungkin Gita marah pada mereka karena selama mereka menemani Andra mereka belum pernah mengabari Gita.
"Si Kakak marah kali ya?" tanya Getta pada Wildan yang kali ini mencoba menghubungi Kenn.
"Bisa jadi sih. Selama disini kita gak pernah ngehubungin dia," jawab Wildan. "Ini juga si Onta gak ada yang di angkat. Lagi pada ngapain ya mereka?" giliran Wildan yang bertanya.
"Coba telpon Pak Davae buat cek lokasi mereka," perintah Getta.
Wildan mengotak ngatik handphonenya untuk mencari kontak salah satu orang yang bekerja di Angkasa. Langsung mendial panggilannya. Davae mengangkat telponnya di dering ketiga.
"Halo, siang Pak," sapa Wildan begitu Davae mengangkat panggilannya.
"Siang. Kenapa Wil?" tanya Davae langsung.
"Wildan mau minta tolong cek'in lokasi si Kenn," jawab Wildan tanpa basa basi.
"Oh! tunggu sebentar, gak usah dimatiin."
Davae langsung mengotak ngatik komputernya, kurang dari lima menit ia sudah menemukan titik lokasi dimana Kenn berada saat ini.
"Lokasinya dikawasan pantai Anyer, di Angkasa Hotel."
Wildan dan Getta saling pandang ketika mendengar dimana lokasi keberadaan Kenn saat ini.
"Oke, makasih Pak."
"Sama-sama, saya matiin dulu ya." Wildan mengangguk pelan, membuat Getta menendang pelan kakinya.
"Sakit, Nyet!"
"Lagian kayak orang b**o pake acara ngangguk segala."
"Refleks."
"Si Onta lagi ngapain ya di Anyer?"
"Nih kalo Onta satu itu denger, ngamuk pasti dia."
Andra pasti akan mendengus kesal jika mengetahui bahwa mereka berlibur, yang sudah bisa dipastikan bersama Gita.
"Gue telpon Pqk Surya."
Getta mengambil handphonenya yang berada di atas meja, ia akan menelpon Surya yang merupakan Manager hotel yang berada di Anyer untuk memastikan Kenn bersama siapa saja.
"Halo, selamat siang, Pak Surya."
"Halo, selamat siang, Tuan Getta. Ada yang bisa saya bantu?"
"Kenn ada disitu?"
"Tuan Kenn, saya cek terlebih dahulu, Tuan. Saya baru datang setelah survei lokasi tadi. Jadi tidak mengetahui siapa saja tamu yang datang."
"Saya tunggu."
Getta menunggu sekitar lima menit lamanya, karena Surya harus menelpon bagian resepsionis terlebih dahulu.
"Halo, Tuan."
"Ya."
"Tuan Kenn, Tuan Hendrik, Tuan Rian, Nona Gita dan dua garis lainnya ada disini sedang bermain di area pantai."
"Tolong sampaikan sama mereka suruh telpon saya, saya tunggu."
"Baik Tuan. Akan saya sampaikan secara pribadi."
"Oke terima kasih."
Getta mematikan sambungan teleponnya setelah Surya membalas dengan kata sama-sama. Getta dan Wildan sedang menunggu Anak Onta lainnya untuk menelpon mereka. Jika sampai 10 menit mereka tidak menelpon juga, maka ia akan kembali menelpon Surya.
"Edem lah mereka holiday kaga ngajak-ngajak," kata Wildan dengan cemberut.
"Gara-gara cewek sialan satu itu aktivitas kita keganggu semua," geram Getta bermaksud pada Sheryl.
Karena jika saja tidak ada hal seperti ini, maka sudah bisa dipastikan mereka akan berlibur bersama, bersenang-senang dengan Gita dan juga keluarganya.
"Emang sialan tuh cewek," balas Wildan yang juga sangat kesal.
***
Setelah meminum air kelapa muda yang membuat tubuh mereka segar, mereka kembali melanjutkan permainan. Kini mereka akan bermain bola Voli, team A terdiri dari Rian, Hendrik dan Kiki, sedangkan team B terdiri dari Kenn Gita dan Oncom.
Gita cukup mumpuni dalam hal bermain bola voli, saat sekolah dulu ia menjadi kapten team kelasnya. Tiang ring yang tinggi merupakan hambatan terbesar baginya karena tidak pernah bisa melakukan smash, yang terkadang membuatnya kesal.
Meminta pegawai hotel yang selalu berada di dekat mereka atas perintah Kenn sebagai wasit, hal itu sengaja dilakukan oleh Kenn agar ketika mereka membutuhkan sesuatu mudah memintanya.
"Siap?" tanya pegawai hotel yang bertugas sebagai wasit.
"Siap!" mereka menjawab kompak.
Putaran pertama bola berada di team A, Rian bertugas untuk melakukan gerakan Servis atau gerakan awal dalam permainan bola voli. Pukulannya mengarah pada Oncom, dan diterima dengan baik oleh Oncom lalu di oper pada Kenn.
Bola dikembalikan oleh Kenn ke team A yang langsung diterima oleh Hendrik dan langsung dikembalikan lagi pada team B. Kali ini Gita yang menerima, Gita mengoper bola pada Oncom, Oncom menerimanya dan kembali mengoper pada Kenn yang diterima oleh Kenn untuk melakukan gerakan Spike/smash.
Kenn melakukan gerakan Smash perlahan karena yang ditujunya adalah Kiki, jika terlalu kuat Kenn takut Kiki tidak bisa menahannya. kiki yang memang tidak bisa bermain bola voli tidak mampu menerima serangan dari Kenn, yang mengakibatkan team B menang 1 angka dari team A.
"Satu-kosong," teriak Wasit.
"Yeay!" teriak team B dengan bangga.
"Kak Kenn mah curang, nyerangnya sama Kiki," seru Kiki yang mengetahui bahwa Kenn sengaja menyerangnya.
"Oh! Tidak bisa begitu Jumsanah! Dalam permainan kita bebas memilih lawan," balas Oncom.
"Tenang, Ki. Nanti kita bales," hibur Hendrik pada Kiki.
Mereka melanjutkan permainan dengan bola berada di team B. Oncom kali ini yang melakukan servis, tapi sebelum Oncom memukul bola, manager hotel menghampiri mereka dan menghentikan permainan.
"Maaf, Tuan. Tadi Tuan Getta telpon, katanya suruh telpon balik." Surya menyampaikan pesan dari Getta sambil menyerahkan handphone milik Kenn.
"Iya, Pak." Kenn menerima handphonenya.
"Saya permisi kalo begitu, selamat bersenang-senang."
"Ya," balas Kenn dengan senyum sekilas. "Kepo sekali para manusia ini," ujar Kenn pada Anak Onta yang berada di negeri tetangga itu.
"Jangan di telpon, biarin aja. Biar mereka penasaran," kata Gita yang diliputi rasa kesal pada sebagian Anak Onta nya.
"Kalo gak ditelpon nanti Pak Surya yang dimarahin. Sayang!" sela Hendrik yang sudah tau kelakuan teman-temannya.
"Ya udah telpon, tapi bilangin gue gak ada. Males ngomong sama mereka," putus Gita akhirnya.
Kenn mendial nomor Getta, dering pertama sudah langsung diangkat oleh Getta dengan memberikan semburan melalui suara yang membuat Kenn terkikik geli.
Mendengar Getta dan Wildan yang mengoceh kesal karena telponnya tidak diangkat, sedangkan di sebelahnya Gita sedang mencebikkan bibirnya ketika Getta dan Wildan menanyakan dirinya.