Pura-pura Ngambek

1465 Words
Gita yang mendengar permintaan maaf Getta dan Wildan hanya mencebikkan bibirnya sebagai tanggapan. Gita akan memberikan pelajaran pada mereka berdua yang dengan sengaja tidak menghubunginya selama hampir sepuluh hari ini. Berkali-kali mereka berdua mengucapkan kata maaf dan mencoba memberikan penjelasan yang tidak didengarkan oleh Gita. Membuat kedua Anak Onta nya itu menghela napas kasar, Gita malah memilih pergi masuk ke dalam hotel untuk beristirahat. Sejujurnya bengkak di tulang pipinya semakin terasa berdenyut sakit, hanya saja ia tidak memberi tahu mereka semua. Gita tidak mau mereka semua panik, maka dari itu Gita lebih memilih berpura-pura tidak mau mendengarkan perkataan kedua Anak Onta nya yang sedang meminta maaf padanya. "Istirahat ya," kata Rian yang ikut berjalan bersama Gita. "Iya, Kita gak nginep, 'kan?" tanyanya pada Rian "Maunya sih nginep, tapi liat kondisi lu nya aja kayak gini. Liat sore aja ya," jawab Rian. Mereka memang sudah merencanakan tidak akan menginap tadinya, tapi Rian berpikir lagi karena melihat kondisi Gita. Mereka berjalan menuju hotel, setelah sebelumnya Rian meminta sandal pada pegawai hotel. Berjalan dengan mengikuti pegawai hotel yang menunjukkan kamar mereka, karena tadi begitu datang mereka langsung menuju area pantai. "Silahkan, Nona." Pegawai hotel membukakan pintu kamar untuk Gita. "Terima kasih," balas Gita dengan tersenyum. "Istirahat ya, mandi dulu tapinya. Bajunya udah ada di lemari," jelas Rian pada Gita sebelum Gita menutup pintu kamar. Rian kembali menuju area pantai untuk kembali bermain dengan yang lainnya. Kenn baru saja selesai menerima telepon entah dari siapa, sedangkan Oncom sedang berbicara dengan Getta. Kiki sendiri sedang merebahkan tubuhnya di kursi panjang di bawah payung besar dengan kacamata yang masih menempel di hidungnya. "Gimana si Kakak?" tanya Kenn begitu Rian mendudukkan dirinya di sebelah Kiki. "Mau istirahat katanya. Kita mau nginep apa pulang?" tanya Rian balik. "Tanya mereka dulu," jawab Kenn. "Dek mau nginep apa mau pulang?" tanya Rian pada Kiki. "Ngikut aja buntut mah," jawab Kiki enteng. "Mau nginep apa pulang, com?" Tanya Kenn pada Oncom yang baru datang setelah berbicara dengan Getta dan Wildan. Entah apa yang mereka bicarakan sehingga Oncom sedikit menjauh. "Si Gita gimana?" bukannya menjawab Oncom malah balik bertanya. "Lagi istirahat. Mau nginep apa balik aja?" tanya Rian lagi. "Kalo balik itu gimana sama pipi si Gita. Gue agak takut sama Bonyoknya," kata Oncom yang memang sedikit takut melihat reaksi orang tua Gita jika melihat kondisi anaknya seperti itu. "Emak sama abah mah woles kali, Kak. Namanya juga kecelakaan," sela Kiki sambil bangun dari rebahan nya. Mendengar kata kecelakaan membuat mereka semua terdiam karena mengingat kembali kecelakaan yang menimpa Gita, yang tidak diketahui oleh keluarganya dikampung. Kembali mereka memikirkan bagaimana reaksi orang tua Gita jika sampai mengetahui Gita hampir terluka parah, jika saja Andra tidak menyelamatkannya. "Kenapa pada diem?" tanya Kiki heran. "Ya udah kita nginep aja kalo gitu. Semoga besok udah gak bengkak, Kakaknya yang gak enak, Dek. Sama Emak-Abah," putus Kenn pada akhirnya. Lagipula Kenn ingin menikmati suasana pantai di malam hari untuk menenangkan pikirannya dari amarah yang kembali mendera nya, karena mengingat dalang dari kecelakaan yang menimpa dua orang yang disayanginya. "Okeh," balas mereka kompak. Mereka memang sudah meminta izin pada kedua orang tua Gita untuk menginap di kawasan pantai. Emak dan Abah Gita mengizinkannya, karena sudah mengenal dan juga percaya pada para Anak Onta dan juga Oncom. Ketika kemarin datang pun kedua orang tua Gita sempat bertanya kemana Wildan, Getta dan Andra, yang mereka jawab dengan kebohongan bahwa mereka ada acara keluarga. Itu semua sudah disepakati bersama ketika mereka masih di mobil, dan yang pasti ketika Chika tidur. Karena jika sampai Chika mendengarnya, maka sudah bisa dipastikan Chika akan menjawab sesuai apa yang ia ketahui. "Bentar lagi makan siang, kita bersih-bersih yuk." Hendrik berdiri dan mengulurkan tangannya pada Kiki. "Makannya di hotel gitu?" tanya Kiki sarat akan ketidaksetujuan. Saat ini mereka berjalan dengan bersisian menuju hotel. "Kiki maunya di mana?" tanya Rian dengan lembut. Mereka benar-benar menganggap Kiki seperti kedua Putri adik dari Rian dan Andra. "Di situ aja," tunjuk nya pada gazebo yang ada. Di depan gazebo itu ada ayunan yang beralaskan papan panjang yang cukup untuk dua orang. Ayunan yang dihias sedemikian cantik oleh pihak hotel. "Boleh, nanti kita makan di sana." Kenn menyetujui ide dari Kiki yang ingin makan dengan diiringi deburan ombak. "Ntaps lah!" seru Kiki dengan senang. Mereka meneruskan perjalanan menuju hotel, pegawai hotel menyerahkan sandal pada mereka semua sebelum memasuki area dalam hotel, membersihkan kaki terlebih dahulu barulah mereka masuk ke dalam hotel untuk menuju kamar masing-masing. Pegawai hotel memandu mereka untuk sampai ke kamar yang telah disediakan. "Silahkan, Tuan." Kenn, Hendrik dan Rian masuk setelah pegawai hotel itu membukakan pintu. Sedangkan Oncom dan Kiki sudah masuk ke dalam kamar yang ditempati Gita. "Terima kasih, tolong panggilkan Pak Surya kemari," perintah Hendrik pada pegawai hotel. "Baik, Tuan. Saya permisi dulu," pamitnya undur diri. Jam yang sudah menunjukkan hampir pukul dua belas siang membuat mereka segera bersiap. Rian mandi terlebih dahulu karena dirinya akan melaksanakan sholat dzuhur bersama ketiga gadisnya. Rian bagaikan seorang raja yang akan mengimami ketiga istrinya, itulah pikiran konyol yang sempat bersarang di otaknya. Pintu kamar diketuk dari luar, Kenn bangkit dari duduknya dan berjalan untuk membukakan pintu yang sudah dipastikan itu Surya sang manajer hotel. "Permisi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan. "Berapa kali saya bilang, Pak Surya. Jangan panggil kami Tuan. Kami tidak suka," balas Kenn sebelum menyampaikan maksudnya memanggil Surya. "Maaf, Tuan. Tapi saya takut tidak sopan," jawab Surya. "Saya gak mau denger lagi Pak Surya manggil kami Tuan. Oya, tolong siapkan makan siang untuk kami semua di gazebo belakang yang letaknya paling dekat dengan bibir pantai," perintah Kenn. Perintah dari Para Anak Onta dan juga Gita untuk semua pegawai hotel harus di ikuti. Karena Andra telah memberikan kebebasan pada mereka semua. "Lalu saya harus panggil apa?" Surya bingung sendiri sebenarnya untuk panggilan para Tuan muda dihadapannya ini. "Panggil nama aja. Abis sholat dzuhur kami mau makan disana,' perintah Kenn tidak ingin dibantah. "Baik, akan saya siapkan sekarang, permisi Tuan." Kenn memutar bola matanya jengah karena Surya kembali memanggilnya dengan sebutan Tuan. Setelah Surya pergi Kenn menutup pintu dan menunggu giliran untuk mandi, karena saat ini Hendrik yang sedang mandi. "Gue ke sebelah sholat di sono," pamit Rian yang sudah berpakaian rapi untuk sholat. Memakai koko putih, sarung coklat dan peci berwarna hitam. Sajadah kecil menggantung di tangannya, Rian memakai parfum dengan aroma minyak kasturi yang merupakan aroma kesukaan Rasulullah. Wanita yang melihat Rian saat ini pasti akan terpesona, wajah Rian bercahaya karena wudhu nya, penampilan Rian begitu menyejukkan mata, dan tidak akan pernah membosankan untuk dilihat. "Bareng woi!" cegah Kenn. Walaupun Kenn dan Hendrik non muslim, tapi mereka sangat suka memperhatikan Gita dan Anak Onta lainnya jika sedang sholat. "Cepetan udah masuk waktu dzuhur ini," balas Rian. Kenn buru-buru masuk ke dalam kamar mandi begitu Hendrik keluar, takut jika ia ditinggal sholat oleh mereka semua. Padahal ia hanya memperhatikan bukan melaksanakannya. Kurang dari 10 menit Kenn sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapi, celana selutut dengan polo shirt polos, mereka bertiga keluar kamar dan berjalan ke kamar sebelah. *** Oncom membukakan pintu kamar, begitu heboh ketika melihat penampilan Kenn. "MasyaAllah, lu ganteng banget, Ta!" decak kagum Oncom pada Rian. "Emang selama ini gue gak ganteng, Com?" tanya Rian dengan terkekeh. "Biasa aja sih," jawab Oncom. "Baru lu loh yang bilang biasa aja," balas Rian. Mereka masuk satu persatu, Kenn dan Hendrik duduk di sofa, sedangkan Rian mengambil tempat untuk mulai melaksanakan sholat bersama ketiga gadisnya. Sepuluh menit waktu yang mereka butuhkan untuk sholat dan dzikir pendek. Gita, Oncom dan Kiki mencium tangan Rian setelah mereka selesai dengan ibadahnya. "Edas! Raja Arab punya bini tiga." s Seru Hendrik yang memperhatikan mereka berempat, Rian seolah mempunyai tiga istri yang sangat akur. "Atuh! Nikmat Tuhan mana yang aku dusta kan coba? Wajah tampan, dompet tebal istri tiga. Sempurnanya hidupku," balas Rian dengan khayalannya. "Ngayal mulu hidup lu," Gita membuyarkan khayalan Ruan dengan melemparkan sajadahnya. "Mampus! Raja Arab kaga jadi," ledek Kenn dengan diiringi tawa yang lainnya. "Lu mah cocok banget Kak jadi istri pertama, galak banget soalnya," decak Rian. "MasyaAllah, Kak. Bengkaknya makin gede," perkataan Rian membuat Kenn dan Hendrik langsung menghampiri Gita. "Salepnya dipake gak?" tanya Kenn dengan mengelus pelan area pipi Gita yang bengkak. "Belom, 'kan tadi baru abis mandi." "Sini." Hendrik mengoleskan perlahan salep pada pipi Gita, sedangkan yang lainnya bersiap. Mereka keluar kamar secara bergantian, berjalan menuju area belakang hotel untuk makan siang. Di sana, di atas Gazebo sudah terdapat menu makan siang yang lengkap. Kiki berseru senang karena keinginannya terwujud, makan dengan ditemani suara deburan ombak merupakan hal yang selalu disukainya. Mensyukuri keindahan yang disuguhkan alam atas pemberian Tuhan. Kenn, Hendrik dan Rian bersyukur setidaknya Gita tidak terlalu memikirkan tentang keadaan Andra. Harapan para Anak Onta semoga Giga tidak lagi memikirkan tentang kondisi Andra. Walaupun kemungkinannya kecil. Mereka tidak mau Gita selalu terbebani akan hal itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD