Takut Kehilangan

1851 Words
Kimmy dan Salsa sedang menerka-nerka di mana kira-kira saat ini kekasihnya berada, walaupun mereka anak orang kaya, mereka tidak mempunyai kekuasaan seperti Andra yang hanya tinggal telepon untuk mendapatkan semua informasi yang diinginkannya. Apalagi bagi Salsa yang tidak pernah di anggap oleh keluarganya, membuatnya semakin tidak berdaya. Sedangkan untuk Kimmy sendiri hanya anak seorang manager keuangan di perusahaan milik keluarga Salsa. Dan selama ini ayahnya tidak pernah mengetahui kelakuannya yang cukup nakal, maka dari itu Kimmy tidak pernah mau meminta bantuan orangtuanya dalam hal yang menyangkut kenakalannya. Karena menurut ayahnya, berpacaran pun merupakan sebuah kenakalan. Salsa memilih membelokkan setir mobilnya ke sebuah pusat perbelanjaan, Kimmy yang semula melamun karena memikirkan siapa perempuan yang memanggil Hendrik dengan sebutan 'Sayang', seketika protes saat mobil sudah berhenti. "Lu ngapain kesini?" protesnya dengan menggerakkan ekor matanya kearah Salsa. "Daripada pusing mikirin cowok-cowok yang gak punya mata kayak pacar kita, mendingan kita manjain diri." Kimmy berpikir sejenak sebelum tersenyum setuju, "Bener juga sih, biarin aja mereka mau gimana. Toh kita juga bisa kok dapet yang lebih dari mereka." Kimmy berpikir jika ia cantik, sehingga masih bisa mendapat yang lebih segalanya dari Hendrik. "Tumben lu pinter," ledek Salsa. "Gue pinter dari orok, Bege! Semenjak temenan sama lu aja gue jadi b**o," balas Kimmy cuek. "Masa?" ledek Salsa. Mereka turun dari mobil, berjalan dengan tersenyum menuju area dalam Mall, mencari sesuatu yang sebenarnya mereka juga tidak tahu apa yang mereka butuhkan. Hal pertama yang mereka lakukan adalah masuk ke dalam restoran untuk mengisi perut terlebih dahulu. Setelah itu barulah mereka berkeliling ke dalam toko-toko pakaian, kosmetik dan aksesoris. Terakhir mereka memilih untuk menonton film sebelum mereka pulang. *** Sedangkan di balik jeruji besi keadaan Sheryl masih sama seperti kemarin. Sheryl tidak berhenti menangis membuat dua orang yang satu sel dengannya menjadi kesal. Mereka heran pada air mata Sheryl yang tidak ada habisnya. Kemarin Sheryl sempat tertidur, tapi begitu bangun ia kembali menangis dengan terus memanggil Mommy nya. Tangisannya begitu memilukan hati bagi setiap orang yang mendengarnya. "Mangkanya, Non. kalo gak mau dipenjara itu kelakuan kudu baik," kata salah satu wanita dengan rambut yang di kuncir seadanya. "Lu anak orang kaya ya?" sambung teman satunya yang berambut sebahu. Sheryl tetap tidak menjawab, ia merasa tidak pantas berada di tempat seperti itu dengan orang-orang yang tidak seharusnya berbicara dengannya. Egonya masih terlalu tinggi, ia masih merasa semua ini pasti hanya mimpi. Kedua wanita itu tidak lagi bersuara, mereka memilih membiarkan Sheryl yang masih sesenggukan dengan memeluk lututnya. Rambut panjangnya sudah begitu kusut, wajah yang biasa cantik mulus itu kini melebihi zombie. Di kulitnya terdapat beberapa bintik merah tanda cinta yang diberikan oleh nyamuk. Sungguh ia tidak pernah menyangka hidupnya akan sedramatis ini hanya karena gadis kampung seperti Gita. Sheryl ingin segera disidang agar ia bisa segera keluar dari tempat menjijikkan seperti ini. Sheryl yakin ayahnya bisa mengeluarkannya dari penjara. Selimut tebal tidak mampu menghangatkan tubuhnya yang terasa dingin, sungguh rasanya Sheryl lebih baik mati daripada harus terkurung seperti binatang seperti ini. *** "Alhamdulillah, hari yang sangat sempurna," kata Kiki begitu mereka duduk di atas gazebo yang sudah diisi dengan menu yang menggugah selera. Dua bakul nasi dengan ukuran kecil yang begitu lucu, ikan kakap bakar lengkap dengan saus kecap dengan potongan bawang merah, cabai rawit dan juga tomat. Cumi saus Padang, ayam tepung, gurame asam manis, tempe goreng kesukaan Gita, lalapan dan es teh manis sebagai minumannya. "Makan yang banyak, Ki. Biar jangan kurus kayak triplek," kata Hendrik dengan menyendokkan nasi ke piring dan memberikannya pada Kiki. "Siap! Kiki abisin gak apa-apa ya?" canda Kiki dengan menyendok cumi dan memasukkan kedalam piringnya. "Abisin, Dek. Kurang tinggal minta lagi," jawab Kenn. "Makan yang banyak, Kak." perintahnya pada Gita. "Ini juga mau," jawab Gita dengan mengambil cumi setelah Kiki. "Com lu mau makan apa?" tanya Rian yang dari tadi hanya melihat Oncom berdiam diri. "Gue bingung mau makan yang mana," jawab Oncom dengan ekspresi yang sangat menyebalkan bagi mereka semua. "Nasinya sesendok aja, ikannya ambil semua," balas Kiki yang membuat mereka semua mengangguk setuju. "Gak kenyang dong," jawab Oncom memelas. "Anca sia, Com. Embat weh kabeh," kata Gita memberikan saran. Oncom pun akhirnya mengambil nasi beserta lauk dengan lengkap, menjadikan satu dan diaduk hingga rata. "Bismillahirrahmanirrahim." Setelah mengucapkan kalimat pembaca doa Oncom mulai menyendokkan nasi beserta lauknya kedalam mulut. Menikmati makanan yang dimasak oleh koki terbaik di hotel Andra. "Makanan orang kaya mah beda ya," kata Oncom dengan mulut yang terus mengunyah. "Bedanya?" tanya Hendrik. "Enak," jawab Oncom jujur. "Tapi tetep lebih enak masakan Ibu Lurah Sutirah sih," sambungnya lagi, membuat mereka tertawa dan menyisakan kebingungan pada Kiki. "Gue gak percaya sih, soalnya 'kan belom pernah nyobain," balas Kenn sebelum memasukkan nasi kedalam mulutnya. Mereka memang belum pernah ke rumah Oncom, jadi belum pernah merasakan masakan Ibu Lurah Sutirah yang katanya enak. "Emak gue, Ki. Kalo lu bingung siapa itu Ibu Lurah Sutirah." Oncom yang mengerti kebingungan Kiki menjelaskan. Membuat Kiki akhirnya mengangguk mengerti. Mereka makan bersama dengan diiringi obrolan santai, hari ini Gita benar-benar melupakan keresahan hatinya yang memikirkan tentang kondisi Andra. Ikan bakar yang terasa manis begitu memanjakan lidahnya, mengabaikan bengkak di pipinya yang membuat matanya mengecil. Jika Gita, Oncom dan Kiki tidak memikirkan bengkak yang ada di pipi Gita, lain hal nya dengan Anak Onta yang berkali-kali melihatnya karena tidak tega. Gita bagaikan Anak kecil yang tinggal memakan ikannya, karena kali ini Hendrik yang bertugas mengambil daging ikan yang menempel dengan tulangnya. "Lu makan, Ta. Gue bisa sendiri Bege!" kata Gita yang melihat Hendrik hanya fokus membersihkan daging ikan dari tulangnya. "Udah lu makan dulu aja, gue mah gampang," balas Hendrik. "Dia mah lagi diet tau, Kak." Rian ikut mengambil lauk yang sudah dibersihkan oleh Hendrik. "Buat si Kakak, Bege!" serunya dengan mengeplak tangan rian. "Ngapain lu diet?" tanya Gita heran. Walaupun memang diantara Anak Onta nya badan Hendrik yang paling berisi dengan pipi yang lumayan chubby. "Orang gila lu dengerin," jawab Hendrik yang sudah selesai dengan kegiatannya. "Jangan diet-dietan, Kak. Kiki aja mau badan berisi susah," sambung Kiki. "Kalo bawaan susah, Ki. Kalo Dia emang harus dijaga pola makannya," jelas Kenn. Hendrik memang harus menjaga pola makannya, jika tidak tubuhnya akan membengkak. Calon dokter itu ingin tetap terlihat cool versinya sendiri. "Pantesan Kak Hendrik paling bohay diantara yang lain," goda Kiki yang membuat mereka semua tertawa. "Seksi kali, Dek. Masa bohay," balas Hendrik. "Emang beda ya?" tanya Kiki bingung. "Beda lah, Bohay mah hutuf depannya B, sexy mah huruf depannya S," sela Oncom. "Gak ada yang lebih spesifik apa, Com?" protes Rian. "Emang bener, 'kan?" "Serah lu, Com. Yang penting Oncom bahagia," balas Hendrik. Mereka kembali tertawa bersama, hingga makanan habis. Menikmati angin pantai yang terasa menyejukkan atas sinar matahari yang menyengat. Terlalu malas untuk melakukan permainan lainnya karena perut yang sudah kenyang. Mereka hanya mengobrol santai dibawah payung besar dengan ditemani kelapa muda. *** Andra yang mendengar jika saat ini Gita, Oncom, tiga Onta dan juga Kiki adik dari Gita sedang berada di hotel miliknya. Ingin rasanya Andra menelpon Gita untuk mendengar celotehannya, tapi lagi-lagi Andra harus bersabar dan harus mulai terbiasa. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menatap foto mantan kekasih kecilnya itu yang sedang tersenyum dengan manis. "Gue kangen sama lu, Kak. Baik-baik ya di sana." Andra mengusap foto Gita sambil tersenyum, juga menggulir-gulirkan cincin kaleng yang ada dijari manisnya. Hati dan pikirannya selalu ada pada Gita. Mulai bulan depan ia dan Getta akan melanjutkan pendidikannya di Singapore, atas perintah ayahnya. Getta harus mengikuti Andra, karena Getta berada di bawah tanggung jawab Adi Putra. Getta belum mengetahui jika dirinya pun harus ikut bersama dengan Andra, yaitu tinggal dan melanjutkan pendidikannya di negeri itu. "Nyet, ngelamun mulu lu." Getta dan Wildan masuk kedalam kamar Andra tanpa Permisi. Sedikit khawatir dengan sahabatnya yang tidak mau keluar. "Besok lu berangkat jam berapa?" tanyanya tanpa menghiraukan sapaan mereka berdua. "Si pikun! Tadi 'kan udah gue bilangin jam 10," jawab Wildan. "Sekalian pamit lu sama si Kakak kalo ketemu," katanya menunjuk pada Getta. Getta dan Wildan menatap bingung akan ucapan Andra, "Maksud lu?" tanya Getta heran. "Bokap belom ngomong sama lu?" Andra balik bertanya yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Getta. "Kita pindah kesini, kuliah kita dimulai bulan depan," jawab Andra dengan menatap ke depan, Getta terdiam mencerna perkataan Andra. "Maksudnya gimana?" tanya Wildan yang masih belum mengerti. "Ya, Lu bisa pulang besok, tapi minggu depan lu balik lagi kesini, bulan depan kita mulai kuliah disini. Bokap maksa buat mulai belajar ngurus Angkasa," jelas Andra yang membuat Getta mendengus kesal. "Gak mau gue. Apa-apaan, lu aja gue gak mau!" tolak Getta. "Lu nolak si Kakak yang bakalan kena imbasnya. Lu mau?" Andra memberikan pilihan yang membuat Getta bungkam. "Kapan Bokap ngomong begitu?" tanya Getta penasaran sekaligus kesal. "Kemaren pas lu berdua gak ada," jawab Andra dengan tersenyum miring. "Lu pikir gue bakalan diem aja kayak gini kalo bukan si Kakak yang dijadiin ancaman?" cibir Andra. "Aneh-aneh aja Bokap lu," heran Wildan. "Kenapa harus si Kakak coba yang dijadiin senjata," bukan hanya Andra yang tidak habis pikir mengapa harus Gita yang menanggung akibatnya. "Lu kira selama ini kita gak diawasin?" tanya Andra pada Getta yang selama ini menganggap bahwa Adi Putra tidak pernah mengawasinya. "Mangkanya buat sekarang gue cari aman dulu," karena Andra tidak mau terjadi hal buruk pada Gita. Cukup untuk saat ini, karena ulah mantan kekasih Rian yang cemburu pada Gita, yang membuat mereka harus berpisah dengan Gita. "Repot urusannya," sela Wildan dengan tersenyum sinis. "Mangkanya kenapa gue milih diem aja, karena lu juga tau gimana itu Aki-aki dengan kekuasaannya," balas Andra pada Wildan. Getta sedang memikirkan nasibnya, baru saja ia sombong pada Andra tentang dirinya yang akan menjadi lebih dekat dengan Gita. Sekarang rasanya ia di terjunkan dengan bebas dari atas tebing akan semua khayalannya. Dan ini semua berawal dari satu anak Cere yang tidak tahu diri bernama Sheryl Sheinafia. Contoh manusia yang tidak tahu diri dan bersyukur akan segala nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan dan juga manusia disekitarnya. "Gak usah ngelamun, Nyet!" tegur Andra yang membuyarkan lamunan Getta. "Tar gue ngomong sama Bokap buat lu gak dipindahin kesini." Getta memicingkan matanya ketika mendengar perkataan Andra, "Yakin lu?" "Emang gue pernah bohong?" tanya Andra balik. "Gak juga sih, cuma gue gak yakin aja. Lu tau sendiri gimana tuh sifat Aki-aki," jawab Getta. "Lagian gue aneh loh sama Bokap lu, kenapa baru sekarang coba ngancam begitu. Kenapa gak dari dulu kalo emang dia niat mindahin lu berdua," heran Wildan yang pikirannya belum sampai dengan cara pikir Ayah dari temannya itu. "Lu bloon apa b**o sih?" tanya Andra, "Dulu dia gak punya bahan buat ngancam gue. Sekarang dia tau apa yang buat gue takut kehilangan," jelas Andra membuka pikiran Wildan. Wildan terdiam mencerna semua ucapan Andra, mengangguk mengerti dengan semua penuturan Andra yang memang benar. Dulu Andra tidak takut kehilangan apapun setelah kedua orang tuanya berpisah, setelah sekian lama Andra baru mulai merasakan takut kembali kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupnya, pantas saja Ayahnya bisa mengancamnya. Wildan mengangguk mengerti, benar kata Andra, sejak orang tuanya berpisah memang ia seperti tidak memiliki rasa takut akan kehilangan. Andra selalu bertindak semaunya. Namun, tiga tahun terakhir ia mulai merasakan perasaan takut akan kehilangan dalam hidupnya. Dan itu semua karena Gita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD