Perkembangan Kasus

1892 Words
Malam ini langit begitu cerah dengan bintang yang mengelilingi bulan. Gita, Kiki, Oncom dan Anak Onta kembali menuju pantai setelah melaksanakan sholat isya dan makan malam di hotel. Kiki kembali berseru senang saat kakinya kembali menginjakkan pasir putih. Salah satu impiannya akhirnya terwujud, yaitu bermain di pantai pada malam hari. Hal sederhana sebenarnya, tapi begitu susah untuk diraih Kiki. Karena selama ini, jika ia ke pantai pasti pulang pergi, tidak pernah diizinkan untuk menginap. Selain ilmu beladiri nya belum lulus, Kiki juga masih terlalu kecil menurut orang tuanya. Padahal untuk postur tubuh lebih menang Kiki daripada Gita. Banyak orang yang mengira jika Kiki adalah Kakaknya, dan Gita adiknya. "Bikin api unggun ya, Kak." Pinta Kiki setelah mendudukkan diri di atas bangku kayu panjang yang tadi siang mereka pakai. "Emang bisa bikinnya?" tanya Rian. "Gak sih," jawabnya enteng. Jika Gita anak Pramuka ketika di sekolah dulu, maka berbeda dengan Kiki yang tidak suka, dan lebih memilih kegiatan seni sebagai pelajaran tambahannya. Jadi untuk hal seperti itu Kiki tidak bisa, maka yang akan maju Oncom dan Gita. "Kayunya juga gak ada," kata Gita. Hotel tempat milik Andra memang tidak terdapat ranting yang jatuh, karena pegawai hotel selalu sigap membersihkannya. Kebersihan area pantai dan kenyamanan adalah hal utama yang diterapkan Angkasa Hotel. "Gue panggil pegawai hotel dulu." Hendrik mengeluarkan handphonenya dan menelpon pegawai hotel, langsung meminta ranting kayu untuk membuat api unggun. "Tunggu bentar." Tidak lama empat orang pegawai hotel datang, dua orang membawa ranting kayu, satu orang membawa makanan dan minuman dan satu orang membawa gitar dan karpet untuk alas mereka. "Terima kasih," ucap Rian sambil menerima gitar. "Sama-sama, Tuan." Pegawai hotel kembali setelah menyerahkan korek gas, karena Oncom yang akan menyalakan api unggun nya. Mereka mulai duduk di karpet secara melingkar dengan posisi selang-seling. Gita duduk disebelah Rian, Oncom, Hendrik, Kiki, dan berakhir dengan Kenn yang duduk disebelah Gita. Seperti biasa mereka akan bernyanyi bersama sesuai lagu yang mereka bisa. Gita merebahkan tubuhnya di atas karpet, kepalanya berada di atas paha Rian. Dengan memakai jaket musim dingin dari bulu bebek milik Kenn. Tubuhnya yang tidak kuat dingin, apalagi dengan angin pantai, juga pipinya yang bengkak membuat tubuhnya lelah. Kenn sengaja membawa jaket musim dinginnya, karena Jika hanya jaket biasa, Gita akan tetap kedinginan. Jaket yang hanya sebatas paha Kenn itu meliputi tubuh mungil Gita. Kiki dan Oncom berduet menyanyikan lagu yang berjudul Rahasia Indah yang dibawakan oleh Krisna Newspectrum feat Ale feat Andra & the back Bone. Dan diteruskan dengan lagu lainnya, hingga jam menunjukkan pukul sebelas malam barulah mereka masuk kedalam hotel. Gita yang ternyata tidur membuat Kenn menggendongnya hingga kamar. *** Getta dan Wildan telah sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta. Di luar Rian sudah menjemputnya, Hendrik sedang mengikuti tes untuk mempertahankan beasiswa, sedangkan Kenn sedang merangkum bukti-bukti yang akan membuat Sheryl tidak bisa mengelak dengan semua perbuatannya. Getta dan Wildan memundurkan jadwal penerbangannya, karena Getta harus bernegosiasi terlebih dahulu dengan Ayah Andra untuk tempat tinggalnya. Saat ini mereka sedang berada di kafe sekitar bandara, Rian memang menunggu mereka di kafe, karena dirinya tidak mau menjadi bahan tontonan para wanita-wanita yang terkadang dengan sengaja berjalan di depannya. "Gimana keadaan si Onta?" Tanya Rian begitu Getta dan Wildan duduk dihadapannya. Rian sudah memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua. "Alhamdulillah udah mendingan," jawab Getta yang sudah memiliki keputusan untuk hidupnya ke depan. "Alhamdulilah kalo begitu. Si Kakak mikirin dia mulu," balas Rian. "Kebiasaan emang, padahal bukan salahnya. Lu gak bakal percaya sama kabar yang bakalan gue kasih," sambung Wildan yang membuat Getta menghembuskan napasnya kasar. Rian menaikkan sebelah alisnya tanda heran, Rian menebak jika kali ini terjadi masalah serius. "Kabar apa?" "Si Onta gak boleh balik kesini, mulai bulan depan dia udah masuk kuliah di sana." Rian tersedak jus mangga yang sedang diminumnya mendengar perkataan Getta "Maksudnya?" tanyanya masih belum mengerti. "Sampe dia sembuh total dia gak boleh balik kesini, terus dia udah harus belajar ngurus Angkasa pusat, dia ngelanjutin kuliah di sana." Wildan meminum jus alpukat nya sebelum melanjutkan, "Kalo dia gak nurut tarohannya si Kakak," sambungnya dengan mengaduk-aduk minuman dengan sedotan. "Ko jadi si Kakak sih?" Rian masih belum paham akan semuanya. "Bokap tau kalo kita semua, terutama si Onta takut kalo si Kakak kenapa-napa. Maka dari itu si Kakak dijadiin senjata supaya si Onta nurut. Lu tau sendiri setelah ortunya pisah dia udah gak punya rasa takut kehilangan, sekarang 'kan dia punya rasa takut itu," jelas Getta, Rian mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. "Dan lu tau?" tanya Wildan pada Rian. "Tau apa?" sela Rian sebelum Wildan kembali meneruskan perkataannya. "Dia juga ikut dipindahin," lanjut Wildan dengan nada meledek. "Gak usah ketawa, Bangke!" kesal Getta. "Lagian gue gak jadi, 'kan." "Bukan gak jadi, Nyet! Tapi di tunda." Wildan yang memang mendengarkan pembicaraan Getta, Andra dan Ayahnya tadi pagi. "Tapi 'kan waktunya seterah gue," balas Getta. "Malem kita kumpul, ada yang mau gue sampein," lanjut Getta membuat Wildan dan Rian saling pandang. "Apaan?" tanya Wildan dan Rian secara bersamaan. "Tar malem juga lu tau," jawab Getta penuh teka-teki. "Kayak cewek lu maen rahasia-rahasian," decak Rian yang tidak menyukai teka-teki dalam hidupnya. Entah mengapa, bagi Riam teka-teki itu bukan tantangan, hanya sebuah rahasia untuk membingungkan. Tidak menguji adrenalin, hanya membuat penasaran, dimana jika hasilnya tidak sesuai ekspektasi hanya akan menimbulkan rasa yang sia-sia dan jika sudah mengetahuinya pun tidak ada rasa bangga yang teramat dalam diri. Itulah pemikiran Rian tentang kata 'Teka-Teki'. "Gue pengen lu semua taunya bareng. Si Onta juga kita telpon tapi jangan sampe ketauan si Kakak, dia ngelarang kita buat ngasih kabar apapun sama si Kakak." Wildan menyampaikan pesan dari Andra yang memang melarang mereka semua untuk memberitahukan keadaan Andra pada Gita, bahkan tentang semua keputusan yang sudah diambilnya. "Orangnya nanya-nanyain mulu tau, gue sama si Onta kadang bingung kudu jawab apalagi. Soalnya waktu hari apa gitu, gue lupa. Si Kakak kayak yang marah pas kita jawab keadaannya baik-baik aja," kenang Rian. "Pasti dia penasaran banget," balas Getta. "Balik yuk, cape gue. Pengen ketemu si Kakak," ajak Wildan yang mendapat toyoran di kepalanya dari Rian. "Cape istirahat b**o! Ngapain ketemu si Kakak?" tanya Rian. "Obat dari rasa cape dia tuh," jawab Wildan yang dimaksudkan pada Gita. "Malem gue aja yang jemput si Kakak sama si Oncom," kata Getta ketika mereka berjalan keluar Kafe. "Kumpul di mana?" tanya Wildan. "Di rumah si Onta aja. Di rumah lu terlalu banyak kenangannya," jawan Getta. "Lebay banget sih," balas Rian. "Bener 'kan? Kalo sekarang-sekarang kita kumpul di rumah lu tar dia liat semua koleksi kita pas bareng-bareng. Tar dianya sedih lagi. Lagian di rumah si Onta 'kan view-nya mantap," jawab Getta. Rumah Kenn yang memang menghadap langsung ke arah pantai, dengan dekorasi rumah yang sangat nyaman membuat semua orang akan betah berada di sana, dan benar kata Getta, jika di rumah Rian terlalu banyak kenangan mereka semua. Hal itu akan membuat Gita sedih, jadi untuk saat ini mereka lebih memilih berkumpul di rumah Kenn dahulu. "Iya juga sih," setuju Rian setelah mencerna semua perkataan Getta. Mereka berjalan menuju parkiran, Rian duduk di balik kemudi, Getta di sampingnya dan Wildan di belakang. Wildan sengaja memilih area belakang karena ingin merebahkan tubuhnya dengan lurus. Rian membawa mobilnya menuju rumah Kenn langsung, karena di sana Kenn sedang bersama pengacara yang mengurus kasus kecelakaan Andra. Wildan dan Getta ingin mengetahui langsung perkembangannya. Wildan bahkan sudah menambahkan beberapa tuntutan pada sang pengacara untuk menambah hukuman Sheryl, yang salah satunya adalah tuntutan tentang kerugian waktu. Dimana karena perbuatan Sheryl waktu mereka terbuang sia-sia, dan keadaan mereka berubah. Wildan tidak menyukai hal itu, tapi tuntutan itu tidak disetujui oleh para Anak Onta yang lainnya, karena jatuhnya terlalu kekanak-kanakan dan membuat Wildan mendengus kesal. Di jalan mereka juga membeli beberapa makanan dan minuman untuk nanti malam, Getta akan memberikan kejutan untuk mereka semua, terutama untuk Gita. Hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh mereka apalagi Gita, karena sesungguhnya Getta melakukan itu semua untuk Gita. Mobil yang dikemudikan oleh Rian sudah berbelok ke komplek perumahan elit yang ditempati oleh Kenn, Rian membuka kaca mobil untuk menunjukkan wajah pada security. Hal itu berguna untuk keamanan kompleks, security yang sudah menghafal satu persatu wajah mereka langsung membuka portal gerbang, membiarkan mobil Rian masuk setelah itu kembali menutup portal. Rian membunyikan klakson ketika sampai di depan rumah Kenn, gerbang terbuka secara otomatis setelah security memencet tombol untuk membukanya. Rian memasukkan mobilnya dengan kembali membunyikan klakson sebagai tanda permisi pada sang penjaga keamanan rumah Kenn. Di sebelah mobil Kenn terdapat satu sedan berwarna hitam metalik milik sang pengacara, Rian memarkirkan mobilnya tepat di sebelahnya. Mereka turun bersamaan dan langsung masuk untuk bergabung dengan Kenn dan juga sang pengacara. "Sore Om," sapa mereka kompak pada Setyo. "Sore juga, langsung kesini?" tanya Setyo pada Getta dan Wildan. "Iya, Om. Udah sampe mana kasusnya?" tanya Getta. "Udah cukup sih semua buktinya, sidangnya tiga hari lagi. Si Hendrik kemana?" tanya Setyo yang tidak melihat Hendrik. "Masih ikut tes," jawab Rian. "Kira-kira hukumannya sesuai gak?" tanya Getta. "Cukup buat dia sama keluarganya nangis," jawab Setyo ringan. "Pastiin aja emang kayak gitu," sela Wildan. Mereka terus membahas lebih lanjut tentang sidang Sheryl yang akan diadakan tiga hari lagi. Membuat mereka semua tersenyum dengan bukti yang ada. Setelah itu Setyo pamit undur diri. "Gue mau nyiapin balkon dulu," kata Getta sambil berdiri dan melangkah menuju balkon rumah Kenn yang menghadap langsung ke arah pantai. "Ngapain lu?" tanya Kenn yang tidak ditanggapi oleh Getta. "Katanya ada kabar yang mengejutkan dari dia," jawab Rian yang masih kesal dengan teka-teki yang diberikan oleh Getta. "Apaan?" tanya Kenn lagi. "Kalo gue tau gak mungkin gue juga penasaran kayak gini," jawab Wildan. Menyingkirkan terlebih dahulu rasa penasaran akan berita dari Getta. Kenn, Wildan dan Rian memilih untuk mandi, agar tubuh dan pikiran mereka kembali segar. *** "Yeay! Om Gentong!" sorak Chika yang baru melihat Getta kembali. Chika langsung memeluknya begitu Getta berjongkok untuk menyeimbangkan tinggi mereka. "Om, Om. Kata Om Kenn Om Getta ke luar negeri ya?" tanyanya heboh. Getta mengangguk membenarkan. "Terus Oleh-oleh buat Ace mana?" pintanya dengan mengulurkan tangan kanannya. "Yah! Lupa gak kebawa," godanya yang membuat Chika mengerucutkan bibirnya. "Om gak asik!" Chika melepaskan dirinya dari dekapan Getta karena kesal. "Baru datang Gett?" tanya Yola yang baru datang dari warung belakang langsung. "Gimana kabar si Onta?" tanyanya lagi bermaksud pada Andra. "Iya, Teh. Alhamdulillah udah mendingan. Tinggal proses pemulihan," jawab Getta setelah mencium punggung tangan Yola. "Si Aa ke mana, Teh?" tanyanya pada pada suami Yola. "Palingan juga di dalem. Ajak masuk dulu, Ce. Si Om nya," perintah Yola pada Chika. "Males ah. Ace mau maen aja, Om Gentong gak bawa oleh-oleh." Getta tertawa mendengar gerutuan Chika, "Lemes amat sih ini mulut?" tanyanya dengan mencomot bibir Chika. "Tuh oleh-olehnya," tunjuk Getta pada paper bag yang ada di atas bangku kayu panjang. "Alhamdulillah," kata Chika dengan menengadahkan kedua tangannya mengucap syukur. "Achu ada gak?" "Achu di atas," jawab Chika yang sedang membuka paperbag nya. "Ya udah Om ke atas dulu." Chika tidak menjawab, hanya mengangguk. Sudah tidak peduli dengan Getta karena sudah mendapatkan hadiah yang berupa boneka barbie dengan set alat masaknya. "Teh, ke atas dulu ya." Izinnya pada Yola. "Iya, kalo tidur gebrak aja." Deretan kamar Gita memang seperti kedap suara, karena Gita tidak bisa mendengar suara dari luar, begitupun orang yang di luar tidak bisa mendengar suara dari dalam. Sehingga Gita tidak bisa mendengar celotehan Chika yang heboh akan kedatangan Getta. Membuat Gita kaget ketika Getta membuka pintu dan mendapatkan sosok tampan Getta dengan tersenyum menggodanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD