Gita sedang mendengarkan musik melalui handphone yang terpasang headset, bernyanyi dengan suaranya yang pas-pasan bagi orang yang mendengarnya. Ketukan pintu kamar tidak terdengar olehnya, alunan musik barat dari grup band Evanescence yang berjudul Bring Me To Life diikuti olehnya, dengan merentangkan kedua tangannya, matanya terpejam membayangkan ia sedang terjun dari atas gedung.
Di luar Getta tersenyum mendengar suara gadis manis kesayangannya sedang melakukan konser tunggal di dalam kamar kecilnya. Getta membiarkan Gita menyelesaikan konsernya terlebih dahulu sampai ia puas. Setelah Gita tidak lagi bernyanyi barulah Getta kembali mengetuk pintu kamarnya dengan memanggil namanya.
"Kak," panggilan ketiga kalinya.
Gita mendengarkan dengan seksama panggilan dan ketukan pintu itu, untuk memastikan bahwa ketukan dan panggilan itu ditujukan padanya. Gita melepaskan headset nya, bangun dan berjalan untuk membuka pintu, menampilkan reaksi bingung saat melihat sosok tampan Getta di depan pintu kamarnya yang tengah tersenyum sok manis menurutnya.
"Lu udah pulang?" kalimat pertama yang ia tanyakan pada Getta.
"Gue disini berarti gue udah pulang dong," jawab Getta berjalan dua langkah ke dalam dan mendudukkan dirinya di atas karpet.
Jam baru menunjukkan pukul 18.20 Wib, Getta memang sengaja menjemput Gita lebih awal, karena Gita tidak mengetahui kepulangannya.
"Ini kenapa?" tanya Getta khawatir melihat pipi Gita memar.
"Lu mau ngapain kesini?" tanya Gita dengan ketus tapi diiringi senyum kecilnya.
Gita tidak menghiraukan pertanyaan bernada khawatir dari Getta. Gita masih kesal dengan mereka semua yang tidak memberikan kabar apapun ketika mereka berada di Singapore.
"Judes amat, Bu. Gak kangen sama gue yang ganteng ini?"
Getta semakin semangat untuk menggoda Gita yang sedang marah, yang entah mengapa terlihat lucu. Gita tidak bisa marah, jikapun marah selalu diiringi dengan senyum kecil.
"Ini kenapa?" tanyanya lagi.
"Ogah banget kangen sama orang yang gak kangen sama gue," jawab Gita dengan menyandarkan tubuhnya pada triplek pembatas kamar. "Kepentok sama si Onta Rian kemaren pas di pantai," jawab Gita malas.
"Gue kangen loh serius," balas Getta dengan mengacungkan jari membentuk huruf V. "Tapi tadi si Onta gak kenapa-kenapa? Lu kok gini? Kepentok sama apanya?"
Getta sangat penasaran, karena wajah Rian mulus-mulus saja. Sedangkan pipi Gita memar malah sudah menghitam, juga sedikit bengkak.
"Bodo amat! Sama kepalanya pas dijatohin dari banana boat," balas Gita acuh.
Getta tersenyum mendengar penjelasan Gita, walaupun sedang marah Gita tetap menjawab semua pertanyaannya.
"Bisa sampe begini sih? Sakit pasti ini," heran Getta sambil mendekat dan mengusap pelan. "Sakit ya? Udah diobatin?"
"Namanya juga kecelakaan, biasa aja. Udah," jawab Gita masih dengan nada ketus.
"Siap-siap gih," perintah Getta.
"Gak mau," tolak Gita.
"Ayo cepetan, kita masih harus jemput si Oncom. Tar dia ngoceh kalo kita telat," rayu Getta yang tidak di dengarkan oleh Gita.
"Ya udah jemput si Oncom sono kalo lu takut telat. Ngapain juga jemput gue," balas Gita tidak peduli, malah sekarang Gita memainkan ponselnya.
"Marah beneran nih ceritanya?" tanya Getta polos.
"Au ah gelap," jawab Gita acuh.
"Ayolah, Sayang. Jangan marah-marah tar jeleknya ilang loh," rayu Getta yang membuat Getta memanyunkan bibirnya.
"Di mana-mana kalo ngerayu itu yang bagus-bagus, Pea. Gak niat banget rayuan lu," gerutuan Gita membuat Getta tertawa.
"Kangen banget gue sama lu," balas Getta dengan menarik kaki Gita.
"Sakit, Begoo!" bentak Gita yang semakin membuat Getta tertawa.
"Uh... Sayang... Sayang!" balas Getta dengan mengacak rambut Gita pelan.
"Pea sumpah hidupnya," dengus Gita yang kesal karena Getta terus tertawa.
"Hayu ih cepetan, si Oncom udah telpon tuh."
Handphone Gita memang berdering, dan panggilan itu dari Oncom yang sudah diberitahu oleh Kenn jika Getta akan menjemputnya.
"Keluar lu sono," usir Gita yang akan berganti baju. Anak Onta nya tidak akan pergi sebelum ia menuruti kemauannya.
Getta berdiri, mengacak rambut Gita dan mengecup kepalanya singkat, berjalan untuk menunggu Gita di depan konter Yola sekalian untuk izin. Getta akan meminta izin agar Gita bisa menginap, Getta juga akan menjelaskan rencana hidupnya yang hanya ia sendiri yang mengetahuinya. Membuat Yola beserta suaminya tersenyum dan menyetujui akan permintaannya.
Yola dan Dodo ikut untuk acaranya besok, yang dijawab dengan kata Insyaallah oleh pasangan itu. Gita turun dari kamarnya setelah ia berganti pakaian, izin terlebih dahulu pada Unang yang kebetulan baru pulang kerja. Setelah itu ia menghampiri Getta yang sedang mengobrol dengan kakaknya.
"Hayu," ajaknya pada Getta.
"Berangkat dulu, Teh. Besok ada supir yang ngejemput ya," pesannya sebelum berangkat membuat Gita bingung.
"Berangkat ke mana?" tanya Gita penasaran.
"Jalan-jalan lah, mumpung ada yang bayarin."
Dodo menjawab pertanyaan Gita, hanya Dodo dan Yola yang mengetahui tindakan yang akan diambilnya, itupun demi memuluskan rencananya agar diizinkan mengajak Gita menginap. Dan ternyata Yola mengizinkannya, setelah awalnya Yola mempertanyakan mengapa harus karena Gita keputusan yang diambil oleh Getta. Dan Getta pula menjelaskan alasannya yang membuat Yola menyetujuinya.
"Edas! Ikut lah," balas Gita.
"Oh tidak bisa," tolak Dodo. "Udah Gentong lu pergi sono, bosen gue liatnya," usir Dodo.
"b*****h sekali anda menjadi kakak ipar."
Dodo tertawa mendengar perkataan Gita, bagi orang lain akan terdengar sangat tidak sopan, tapi bagi keluarga Gita itu merupakan sebuah bentuk keakraban antara saudara.
Keluarga Abah Husni memang terkenal dengan sifat keakraban dan kekompakan keluarganya. Mereka tidak pernah membedakan antara ipar dan kandung, hal yang tidak terjadi pada keluarga lain di kampungnya.
Getta yang melihat perdebatan Gita dengan kakak iparnya hanya terkekeh pelan. Sudah biasa mereka berdebat seperti itu, jadi sudah tidak mungkin kaget lagi. Akhirnya Gita dan Getta berjalan menuju mobil Getta yang terparkir di tempat biasa.
Getta membukakan pintu untuk Gita, setelah Gita masuk dan menutup pintu Getta langsung memutari mobil dan masuk ke dalamnya. Menjalankan mobil untuk menuju kontrakan Oncom yang sudah berkali-kali menelponnya karena sudah menunggu lama. Padahal sebenarnya Oncom hanya menunggu kurang dari sepuluh menit.
"Lama banget sih lu?" dumel Oncom begitu naik ke dalam mobil.
Oncom sudah menunggu di depan kamar kontrakannya yang memang jalan raya.
Getta menggerakkan ekor matanya menunjuk Gita, "Apa lu nunjuk gue?" ketus Gita yang melihat pergerakan mata Getta.
"Apa sih, Kak. Gue nunjuk juga gak, liat nih tangan gue dari tadi megang setir. sensi banget heran," sanggah Getta yang hanya mendapat tatapan tajam dari Gita.
"Sabar, Nak. Ini ujian," ledek Oncom yang baru sadar jika Gita sedang marah pada Anak Onta nya.
"Jangan ngajak gue gelut, Com. Lagi gak bawa tameng soalnya gue," balas Getta yang membuat Oncom semakin tertawa, sedangkan Gita hanya mendengus dengan diiringi senyum kecil.
"Cemen lu, buat lawan gue aja kudu bawa tameng. Maju pake tangan kosong kalo berani," tantang Oncom yang membuat Getta tertawa dengan ekor mata yang melirik Gita.
"Gue kudu kursus beladiri dulu buat lawan lu. Abang belum kuat," kata Getta membuat Oncom tertawa. "Ketawa aja kali gak usah ditahan," godanya pada Gita.
"Kita mau ke mana sih?" tanya Gita masih ketus.
"Ke penghulu mau gak?" balas Getta dengan mencolek dagunya.
"Ogah," jawab Gita langsung.
"Sedih banget, Ya Allah. Ditolak tanpa berpikir lagi."
"Kalo gue mah langsung operasi plastik itu ditolak mentah-mentah kayak gitu," Oncom kembali meledek Getta.
"Gue udah ganteng paripurna, Com. Kalo gue operasi plastik lu gak bakalan bisa bayangin gimana jadinya," balas Getta penuh dramatis.
"Berisik lu berdua, gue mau tidur."
Gita memejamkan matanya untuk menghindari lirikan Getta. Gita tidak pernah kuat untuk menahan tawanya.
"Sayang marahnya jangan lama-lama dong," cegah Getta yang melihat Gita akan memejamkan matanya.
"Berisik, Ta. Nyetir aja yang bener," balas Gita dengan dengan mata terpejam.
"Pilih kasih lu, Ta. Giliran gue yang ngambek gak pernah dirayu kayak gitu," sela Oncom.
"Emang lu pernah ngambek, Com?"
"Ini gue juga lagi ngambek loh sebenernya, cuma lu nya aja gak sadar."
"Gue gak tau serius kalo lu lagi ngambek, lagian ngapain ngambek sih. Tar lu tambah jelek 'kan repot urusannya."
"Ya Allah. Terkutuk sekali kau jadi manusia," balas Oncom dramatis.
"Ini mau ke rumah si Kenn?" tanya Gita yang sudah hapal jalan menuju rumah Kenn.
"Iya, Sayang. Gue mau ngasih kejutan sama lu semua," jawab Getta dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Apaan?" sela Oncom memajukan kepalanya.
"Kalo gue kasih tau bukan kejutan, Com. Tunggu aja oke," jawab Getta penuh rahasia.
Mobil sudah terparkir sempurna di halaman rumah Kenn, Gita turun terlebih dahulu sebelum Getta membukakan pintu untuknya.
"Masih marah aja," gumamnya dengan menghela napas kasar.
"Salah lu kaga ngasih kabar sama sekali," balas Oncom ikut turun.
Di dalam rumah Gita mendelikkan matanya ketika melihat Wildan, membuat Kenn, Rian dan Hendrik menahan tawanya. Gita berjalan dengan kesal menuju sofa, mendudukkan diri di tengah antara Rian dan Hendrik, tidak memperdulikan sapaan Wildan sama sekali.
"Jangan ngomong sama gue," hardiknya sebelum Wildan kembali berbicara
"Maaf yang Mulia!" usaha Wildan tidak membuahkan hasil karena Gita memilih mengabaikannya.
"Ada acara apa sih?" tanyanya dengan ketus.
"Tau tuh si Onta," jawab Rian.
"Halo semua, Oncom datang!" teriak Oncom yang baru masuk bersama Getta.
"Berisik, Com. Kuping gue pecah ini mah dengar lu teriak."
Oncom tidak memperdulikan ucapan Hendrik, ia memilih duduk di sebelah Kenn.
"Koko kok sibuk banget sih?" tanyanya pada Kenn yang sedang memainkan handphonenya.
"Sejak kapan kumpul boleh maenin handphone?" tanya Gita sengit.
Kenn menampilkan cengirannya, "Maaf," dengan perlahan Kenn menyimpan handphonenya.
"Lu katanya ada berita bagus, apaan?" tanya Kenn mengalihkan tatapan tajam Gita.
Bukan hanya pada Getta dan Wildan, tapi Gita juga masih dalam mode off kepadanya.
"Gimana kalo kita ke atas, gue pengen suasana yang enak," saran Getta. "Tapi sebelumnya gue sama si Onta minta maaf dulu sama lu, tolong jangan marah ya." Getta menggenggam kedua tangan Gita.
"Gue bakal maafin lu berdua, asal kasih tau gue gimana kabar si Onta. Jangan cuma jawab dia baik-baik aja," balas Gita yang sangat penasaran dengan kondisi Andra saat ini.
"Oke nanti gue kasih tau kondisinya, tapi maafin dulu."
Gita mengangguk, mereka berjalan menuju balkon rumah Kenn yang sudah dirapikan tadi sore oleh Anak Onta. Karpet bulu tebal sudah terpasang, menyingkirkan kursi penghuni balkon. Mereka juga menambahkan bantal di sana untuk mereka merebahkan diri, Getta ingin berita yang disampaikannya dalam suasana tenang dan indah.
Suasana seperti itu sangat disukai oleh Gita, maka dari itu Getta sengaja menjadikan area balkon yang langsung menghadap pantai sebagai tempatnya.
Berita yang akan disampaikan oleh Getta akan membuat mereka semua saling pandang dengan tatapan tidak percaya. Mereka mempertanyakan tentang keputusan Getta yang diambilnya karena Gita, apalagi Gita dan Rian yang sedikit mengerti. Sudah pasti memprotesnya, karena niatnya salah jika memang itu benar hanya karena Gita. Membuat Getta harus menjelaskan kembali dengan rinci.
Hanya Andra yang mengetahui rencananya, pada saat Getta menjelaskan Andra mendengus kesal dan menolak, karena Gita yang dijadikan alasannya. Membuat berdebat terlebih dahulu sebelum akhirnya Andra menyetujui semua rencananya.
Getta dan Andra membicarakan itu disaat Wildan pergi mencari oleh-oleh untuk Gita, Oncom dan Chika. Karena saat Getta akan ikut dilarang oleh Sam yang mengatakan ada hal penting yang harus disampaikan.
Getta mengingat saat Wildan kembali dengan kesal setelah berbelanja sendirian. Banyaknya wanita yang tebar pesona dan secara terang-terangan mendekatinya membuatnya risih. Beberapa kali menggerutu dengan diiringi u*****n pelan setiap ia didekati oleh para wanita.
Sifatnya yang dingin dan cuek membuat banyak wanita banyak yang penasaran padanya. Yang justru membuatnya mendengus dan tidak suka. Tidak jarang Wildan memandang dengan tatapan menilai dan merendahkan, jika ada wanita yang dengan tidak tahu dirinya mendekati dan genit terhadapnya. Yang membuat Gita harus berkali-kali menegurnya