Mereka mencerna semua kata yang diucapkan Getta sebagai pengumuman darinya, saling pandang sebelum mereka bertanya tentang keseriusan Getta. Bukannya tidak senang, hanya saja mereka mempertanyakan alasan Getta yang sebenarnya, hingga ia berpikir untuk melakukan hal tersebut.
"Gue mau jadi muslim," kata Getta setelah ia mengintruksikan akan mulai membuka pengumumannya.
"Lu yakin?" tanya Gita dengan serius.
"Yakin, Kak." Getta tak kalah serius menjawabnya.
"Kok tiba-tiba gini?"
"Sebenernya udah lama banget, cuma selama ini gue masih nimbang-nimbang juga masih mempelajari. Yakin buat pindah keyakinan itu baru setahunan ini, dan selama seminggu ini jadi lebih yakin lagi pas jauh dari lu," jawab Getta jujur.
Karena sudah lebih dari setahun Getta goyah akan keyakinan yang saat ini masih diyakininya. Sekarang Getta justru yakin bahwa dirinya ingin menjadi seorang muslim. Perasaannya pada Gita sebagai penambah keyakinannya untuk memeluk agama Islam.
Gita menunjuk dirinya sendiri heran dan berkata, "Kok jadi gue sih?"
"Ya emang semuanya karna lu. Gue suka sama lu dan pengen ikut lu."
"Keyakinan bukan hal main-main, Onta. Kalo lu pindah keyakinan cuma karna si Kakak, yang ada nantinya lu kecewa dan nyesel kalo gak diterima," jelas Rian.
Menurutnya Getta terlalu mengada-ada jika berpindah keyakinan hanya karena Gita. Walaupun ia juga sangat mengharapkan Gita, tapi Rian tidak akan menggadaikan keyakinannya hanya karena rasa suka.
"Gue gak maen-maen dan gak ngarep buat si Kakak suka apalagi mau jadi pacar gue. Gue cuma tambah yakin aja buat meluk Islam pas gue jauh dari lu," jawab Getta dengan menggenggam tangan Gita.
"Jadi bukan karna gue, 'kan?" tanya Gita memastikan.
"Gue gak mau bohong, lu emang salah satu alasannya. Tapi intinya gue suka sama agama Islam, gue pengen mempelajarinya lebih jauh, gue pengen lu semua bimbing gue buat belajar tentang Islam dengan baik dan benar."
Mereka akhirnya mengangguk mengerti akan penjelasan Getta. Oncom, Kenn, Wildan dan Hendrik hanya tersenyum tanpa berkomentar. Mereka tidak mengetahui tentang unsur-unsur seperti itu, biarlah Rian dan Gita yang membimbingnya, karena diantara mereka semua hanya Rian dan Gita yang memenuhi standar.
"Terus lu kapan ngucapin dua kalimat syahadat nya?" tanya Oncom.
"Ashadualailaahaillalah, waashaduanna muhammadar Rasulullah. Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan Allah. Laailahaillah, Muhammad Rasulullah."
Getta mengucapkannya dengan lantang di hadapan mereka semua sebagai jawaban atas pertanyaan Oncom.
"Semoga lu jadi muslim yang baik, selamat Bro!"
Kenn memeluk singkat Getta dengan memberikan ucapan selamat, diikuti yang lainnya.
"Buat lebih afdhol, gue udah nyiapin semuanya di masjid yang ada di komplek rumah gue. Besok Teh Yola sama A Dodo juga bakalan datang buat nyaksiin. Lu juga semua harus ikut buat jadi saksi."
Getta memang sudah mempersiapkan segalanya sendirian, lebih tepatnya meminta bantuan asisten rumahnya untuk menyiapkan segalanya tanpa sepengetahuan siapapun.
"Jadi yang lu bilang udah nyiapin mobil itu buat ini?" tanya Gita yang ingat akan perkataan Getta yang sudah menyiapkan mobil untuk keluarga Yola.
Getta mengangguk setuju, "Itu pun terpaksa gue kasih tau supaya diizinin bawa lu disini," jawab Getta jujur.
"Besok acaranya jam berapa?" Wildan akhirnya mengeluarkan suara setelah hanya diam saja.
"Jam delapan lah."
"Pagi amat sih? Ngantuk tau," protes Oncom.
"Kalo siang-siang kasian Teh Yola sama A Dodo nya"
"Lu kenapa, Kak?" tanya Hendrik yang menyadari Gita hanya diam saja.
"Masih belom percaya aja kalo dia mau jadi muslim," jawab Gita.
"Ajarin gue supaya bisa jadi calon imam lu yang baik dan benar," mereka menyoraki Getta dengan kompak karena ucapannya. "Sirik aja lu semua," balas Getta dengan merebahkan kepalanya di paha Gita.
"Bangun! Lu udah janji mau ngasih tau gue tentang si Onta," titahnya pada Getta yang berjanji akan menceritakannya.
"Nanti sih, mau tiduran dulu di paha calon bini," balas Getta yang sedang memikirkan harus mulai dari mana.
"Gak mau! maunya sekarang," tolak Gita yang sudah tidak sabar.
"Iya... Iya..."
Getta bangun dan bersiap untuk menjelaskan pada Gita dan yang lainnya tentang keadaan Andra. Gita, Oncom, Hendrik, Rian dan Kenn terdiam mendengarkan dengan seksama. Mereka tidak memotong perkataan Getta, membiarkan Getta menceritakan dengan detail.
"Begitu," kata akhir dari cerita Getta.
"Jadi kita udah gak bisa komunikasi sama sekali sama si Onta?" tanya Oncom memastikan bahwa akses untuk komunikasi dengan Andra benar-benar ditutup oleh ayahnya.
Getta mengangguk membenarkan, "Dia juga gak tau sampe kapan di sana, karena dia udah harus mulai belajar ngurus perusahaan, dan itu semua supaya dia bisa fokus."
aGetta tidak menceritakan tentang ancaman ayahnya tentang keselamatan Gita jika sampai Andra menolaknya.
"Oke kalo gitu 'kan gue gak harus mikirin lagi. Selama ini lu semua cuma jawab dia baik-baik aja, gue pengen yang detail kayak gini." Gita akhirnya mengerti dan tidak akan menanyakan Andra kembali.
"Nanti juga kita ketemu lagi," hibur Rian.
"Gue gak masalah, cuma yang gue aneh tuh dia langsung ngilang gitu aja. Seenggaknya 'kan gue mau bilang makasih dulu sama dia karna udah nyelamatin gue," balas Gita.
"Tar gue bilangin kalo ke sono lagi," lanjut Wildan.
"Gak usah, lagian bukan salah gue 'kan ya?" tanya Gita yang sebenarnya bentuk kekecewaannya.
"Bukan, Kak. Siapa sih yang nyalahin lu?" tanya Kenn.
"Yang gue takut itu, Bokapnya mikir karna gue anaknya celaka."
"Bokap gak pernah mikir gitu, Kak. Jangan dipikirin lagi ya," pinta Getta.
"Malem ini lu nginep disini," kata Hendrik yang baru datang dengan membawa selimut.
"Gak mau ah, gue gak izin. Gue gak mau dibawain golok sama Mpo gue." Gita mungkin lupa siapa Anak Ontanya.
"Udah aman Bos! Gue udah izin dong. Ngapain gue sampe kudu ngebocorin rencana gue coba kalo cuma buat ngajak lu maen," balas Getta dengan wajah dibuat seimut mungkin.
"Kebiasaan dih!" dengus Gita.
"Lagian harus diinget ya, Sayang. Setiap yang kita lakuin buat lu itu berarti kita udah izin sama Teh Yola," jelas Rian.
Getta bangkit dan berjalan menuju kamar untuk mengambil gitar, mereka akan bernyanyi agar suasana kembali ceria. Seperti biasa mereka bernyanyi bersama, kali ini lagu milik Avanged Sevenfold yang berjudul Dear God yang akan pertama kali mereka nyanyikan.
Kali ini Gita ikut bernyanyi untuk mengungkapkan isi hatinya, walaupun ia tidak mengetahui arti dari lagu tersebut, yang Gita tahu lagu itu menceritakan tentang permohonan atau doa pada Tuhan untuk memberikan satu kali lagi kesempatan dalam hidup.
"Artinya apaan sih?" tanya Gita setelah mereka selesai menyanyikannya.
"Secara garis besarnya aja ya. Artinya tuh lagu ini bermakna tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk menjaga orang yang ia cintai, yang dulu ia tinggalkan, sehingga sekarang hidupnya dipenuhi penyesalan." Wildan menjelaskan makna dari lagu yang menjadi favorit Gita.
"Gue pernah sih liat video klipnya," ingat Gita.
"Di mana?" tanya Rian.
"Di Union," jawab Oncom.
Warnet yang menyediakan fasilitas lengkap, satu jam empat ribu rupiah untuk ruangan VIP. Gita dan Oncom sering ke sana jika Anak Onta nya sedang sibuk.
"Kan dulu juga suruh pake laptop gue, Kak. Ngapain sih ke warnet kayak gitu?" tanya Getta heran, ia pernah memberikan laptopnya pada Gita, tapi Gita menolaknya.
"Buat apaan juga, orang cuma pas lagi bosen doang kok. Lagian gue gak bisa pakenya," alasan yang selalu diberikan Gita.
Mereka kembali melanjutkan acara bernyanyi dengan lagu random, ditemani makanan dan minuman sebagai pendamping, hingga waktu menunjukkan hampir tengah malam dan mereka tidur bersama tanpa berpindah posisi.
Orang lain mungkin akan berpikir bahwa Gita dan Oncom menjadi w**************n dan juga nakal. Karena bukan sekali dua kali mereka tidur bersama seperti itu, yang orang lain pikir mustahil jika mereka tidak melakukan apa-apa.
Yang sebenarnya mereka memang benar-benar hanya tidur, karena dalam persahabatan mereka saling menjaga, terutama kenyamanan Gita dan Oncom. Bukan berarti para Anak Onta tidka memiliki nafsu, hanya saja mereka bisa menjaganya dengan baik, karena mereka menyayangi Gita lebih dari apapun. Tidak ingin membuat Gita marah apalagi kecewa, itulah yang mereka rasakan pada Gita.
***
Sesuai rencana, hari ini Getta akan melafalkan dua kalimat syahadat dengan resmi disebuah masjid yang berada didekat rumahnya.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit, Gita, Anak Onta, Oncom, Yola beserta suami dan anaknya dan juga beberapa saksi juga alim ulama yang akan membimbingnya sudah ada.
Begitupun dengan petugas dari kecamatan sudah hadir untuk langsung membuat identitas baru untuknya. Getta sudah benar-benar yakin akan keputusan yang diambilnya, walaupun diawal ia hanya berniat karena Gita, dengan harapan Gita mau menerimanya suatu saat nanti jika agama mereka sudah sama.
Itu adalah pikiran Getta diawalnya, sebelum Gita menceramahi nya panjang kali lebar, meminta Getta meluruskan kembali niatnya sebelum ia mengucapkan dua kalimat syahadat di depan para ulama, dan Getta membenarkan ucapan Getta semuanya.
"Widih! Lu ganteng juga, Gett!" kata Yola yang melihat Getta memakai sarung, baju koko dan juga peci.
"Ganteng mah udah bawaan orok, Teh. Kok baru sadar sih, heran deh?" balasnya sambil duduk ditempat yang telah disediakan.
Mereka akan menunggu Pak Ustadz yang akan membimbing Getta dalam mengucapkan dua kalimat syahadat.
"Masa grogi ya?" tanyanya dengan kekehan, jantungnya dag-dig-dug tidak jelas, seperti orang yang mengalami jatuh cinta.
"Huh, apalagi nanti pas mau ijab qobul lu. Campur aduk tau," decak Dodo melihat kelakuan Getta.
"Ya udah nanti Getta mau belajar dulu sebelum ijab qabul buat si Kakak," ucapannya mendapatkan suara tawa dari yang lain dan juga dengusan dari Gita.
"Bismillah jangan ngayal mulu," perintah Gita dengan mendorong bahunya pelan.
"Nah itu Pak Ustadz," kata Oncom yang sudah tidak sabar ingin melihat semua prosesnya.
Kenn bersiap mengeluarkan kamera, juga handphonenya dan menyerahkan pada Hendrik, Kenn mengabadikan setiap momen proses kepindahan keyakinan yang akan dipercayai oleh Getta.
Hendrik langsung menghubungi Andra untuk mendengarkan Getta yang sedang dibimbing oleh Pak Ustadz.
Acara berjalan lancar sampai selesai, Gita sampai meneteskan air mata karena rasa haru, Gita yang memang sangat perasa begitu terharu ketika Getta mengucapkan dua kalimat syahadat, yang dilanjutkan dengan membaca shalawat nabi sebanyak tiga kali.
Kelemahan Gita memang selalu menangis ketika mendengar sholawat untuk nabi Muhammad Saw. Entah karena hal apa, karena air matanya akan mendesak keluar jika mendengar lantunan sholawat, apalagi yang dibacakan secara bersamaan.
Setelah acara selesai mereka semua kembali ke rumah Getta, Chika bersorak senang dan begitu kagum melihat rumah mewah Getta. Chika berceloteh sedari ia di dalam mobil sampai kedalam rumah, berkata akan membeli rumah yang seperti itu ketika besar nanti.
Mereka melanjutkan acara dengan makan-makan di rumah Getta sebagai bentuk syukuran, Rian memimpin doa menggantikan Ustadz yang tidak bisa ikut karena ada keperluan lain.
Mereka makan dengan nikmat, suasana hangat yang semakin ramai karena adanya keluarga kecil Yola. Si kecil Chika yang tidak berhenti berceloteh ini dan itu, membuat suasana semakin meriah. Menyisakan Andra yang sedih karena tidak bisa ikut bersuka cita diseberang telepon. Karena panggilannya masih terhubung hingga Andra memutuskan sendiri sambungan teleponnya.