Andra tersenyum pahit mendengar Getta mengucapkan dua kalimat syahadat, bukan karena dirinya tidak bahagia. Andra sangat bahagia dan bersyukur jika Getta akhirnya mau memeluk agama Islam. Andra tersenyum pahit karena tidak bisa menyaksikan hari bersejarah dalam hidup sahabat yang sudah menjadi saudaranya tersebut.
Andai saja bukan Gita yang dijadikan sebagai ancaman oleh ayahnya, mungkin Andra sudah pergi menuju tanah air.
Namun sekali lagi, ini semua demi Gita dan keselamatannya, sehingga Andra tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut. Kini ia hanya bisa mendengarkan suara lantang Getta melalui sambungan telepon dari Kenn.
"Sial!" Geramnya entah pada siapa.
Saat ini Andra sedang berada di kamarnya. Di depan unit apartemennya terdapat dua orang berbadan kekar yang merupakan anak buah ayahnya. Andra kesal dan bosan, hidupnya kini bagaikan burung didalam sangkar. Selain kondisi tubuhnya yang belum sembuh sepenuhnya, Andra pula tidak memiliki akses apupun karena ayahnya.
Dadanya kembali nyeri karena emosinya, kerusakan tulang depan yang membuatnya tidak bisa meluapkan emosinya, karena ketika ia bernapas dengan sedikit kasar saja rasanya sudah ikut tertarik. Perban dan kain penyangga masih melingkar di area dadanya, membuatnya tidak bisa beraktivitas secara normal.
Emosi Andra kembali naik ketika mengingat siapa yang telah membuatnya seperti ini, membuatnya ingin sekali menampar wajah gadis tidak tahu malu dan di untung itu. Seharusnya saat ini ia berkumpul bersama Gita dan yang lainnya, tetapi karena gadis sialan itu yang membuatnya seperti orang tidak berdaya seperti saat ini.
Sebenarnya jika ingin menyalakan ini semua salah Gita, karena Gita yang membuat mereka bisa masuk kedalam lingkungan Anak Onta. Salahkan hati Gita yang terlalu baik pada semua orang, yang membuatnya mudah sekali dimanfaatkan oleh orang lain.
Namun Andra tidak bisa menyalahkan gadis manis pemilik hatinya itu, karena bagaimanapun hal itu yang membuat Andra sangat menyayanginya.
Jika harus disalahkan berarti Anak Onta lah yang salah, karena mereka tidak bisa menolak semua keinginan Gita, walaupun mereka harus merasakan ketidaknyamanan untuk hal itu.
Kembali lagi, itu semua mereka lakukan hanya untuk membuat Gita bahagia. Aneh, tetapi itulah yang mereka lakukan untuk membuat Gita tetap berada di samping mereka.
"Gue kangen sama lu, Kak."
Andra berkata lirih pada foto Gita yang ada didalam dompetnya. Rasa rindu yang menggebu menyusup di relung hatinya. Ingin rasanya Andra menangis jika saja ia tidak malu pada foto Gita yang sedang tersenyum manis yang saat ini seolah menatapnya. Ingatkan pada lirik lagu Jamrud yang berjudul Pelangi Di Matamu.
Lagu itu mewakili keadaan yang dirasakan Andra saat ini, jam dinding berwarna putih yang menempel rapi di dinding kamarnya, seolah menertawakan keadaannya yang tidak bisa berbuat apapun saat ini. Kegiatannya hanya di dalam apartemen dan lebih banyak di dalam kamar.
Jarum jam terasa begitu lambar dalam bergerak, semakin menambah ketidaknyamanannya untuk Andra.
Kondisinya tidak memungkinkan ia untuk berkeliaran. Bosan? Tentu, bahkan teramat sangat. Andra sangat bosan dengan keadaannya saat ini, Andra ingin kembali bebas bertemu dengan pemilik hatinya, siapa lagi jika bukan seorang Anggita Purnama.
Seperti namanya yang menyandang kata Purnama yang Andra artikan sebagai sinar ataupun cahaya terang. Karena bulan saja ketika bersinar dengan bulatan sempurnanya disebut dengan bulan purnama.
Begitupun seorang Anggita Purnama yang bersinar terang dalam gelapnya dunia Andra. Padahal Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata purnama adalah saat bulan bundar benar (tanggal 15 bulan kamariah). Namun bagi Andra, Purnama yang ada pada nama Gita adalah sebuah cahaya terang yang mampu menerangi hidupnya.
***
Gita begitu terharu ketika Getta mengucapkan dua kalimat syahadat dengan lantang, Gita tidak menyangka bahwa kehadirannya justru membuat keyakinan Getta untuk memeluk agama Islam semakin mantap.
Saat ini mereka semua masih menikmati acara makan-makan di rumah Getta, atau yang disebut syukuran kecil-kecilan untuk menyambut Getta sebagai muslim baru. Yola beserta keluarganya sudah pulang karena harus segera membuka konternya, jadi saat ini hanya ada Gita, Oncom dan juga para Anak Onta. Mereka masih menikmati camilan yang sudah disediakan eh Getta.
"Gimana rasanya jadi muslim?" tanya Hendrik.
"Gak gimana-gimana sih. Cuma kayak gue buka buku baru yang mesti gue tulis," jawab Getta.
"Belajar yang bener, Sholat yang utama. Ngaji, puasa. Jangan jadi Islam KTP doang," timpal Gita.
Sewaktu menjadi umat Kristen Getta bukanlah umat yang taat, dalam setahun Getta hanya beberapa kali beribadah ke Gereja. Berbeda dengan Hendrik yang merupakan umat yang taat, yang setiap minggunya Hendrik akan pergi ke gereja walau di manapun ia berada.
Sedangkan Kenn sendiri beragama Konghuchu yang juga tidak taat, Kenn hanya akan Ibadah disaat kedua orangtuanya ibadah bersamanya. Lain lagi dengan Wildan yang hanya akan beribadah disaat hari-hari besar saja.
"Siap, Sayang! Ajarin gue ya," pintanya dengan menunjukkan wajah imutnya.
"Tuh sama Pak Ustadz belajar nya, ngapa sama gue?" Gita menunjuk Rian yang sedang memakan camilan berupa puding.
"Udah beli Iqro belom lu?" tanya Rian yang kini duduk dengan menyilangkan kakinya.
"Wes selow! Udah dong," jawab Getta semangat.
"Anak pinter," sela Oncom dengan mengusap rambut Getta.
"Sekarang kan nama lu ganti jadi Syarif ya?" Getta mengangguk antusias akan nama yang diberikan oleh ustadz padanya.
"Ya udah kita panggilnya ganti jadi Sya kalo gak Rif aja," goda Wildan.
"Gak mau lah, nama gue tetep Argetta Bian Chandra Dwi Mikail. Syarif itu nama muslim gue," tolak Getta.
Walau bagaimanapun ia tidak mau merubah nama yang telah diberikan oleh Almarhum kedua orangtuanya. Getta menerima nama Syarif yang diberikan oleh ustadz yang membimbingnya, tapi itu biarlah nama dirinya sebagai muslim, toh hanya sebuah nama. Tidak akan ada yang mempermasalahkannya bukan? Itu pikir Getta.
"Gak ada hukumnya, 'kan?" tanya Getta pada Rian untuk memastikan.
"Gak masalah, karena gak ada perintah ataupun keterangan tentang seorang mualaf harus mengganti namanya. Adapun dulu Rasulullah mengganti nama seseorang ketika orang itu menjadi muslim, itu karena arti nama mereka yang berbentuk p*********n. Setau gue sih kayak gitu," jawab Rian seingatnya.
Karena dalam sebuah situs ada seseorang yang bertanya akan penggantian nama ketika orang tersebut menjadi mualaf, dan di jawab oleh ustadz yang berbunyi.
Hampir semua sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dulunya mualaf. Dalam arti, mereka pernah mengenyam ajaran agama lain. Kecuali para sahabat yang lahir di tengah kaum muslimin, seperti Abdullah bin Zubair, Hasan dan Husain bin Ali.
Dan dalam sejarah, tidak semua sahabat yang masuk islam, diubah namanya oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selama nama itu tidak masalah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengubahnya. Beliau hanya mengganti nama-nama yang bermasalah. Karena terkadang orang jahiliyah menamakan anak mereka dengan bentuk p*********n kepada selain Allah, seperti Abdul Uzza (hamba Uzza) atau Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah). Atau nama-nama yang buruk lainnya.
Sahabat Abdurrahman bin Auf, di zaman Jahiliyah bernama Abdul Ka’bah, kemudian diganti oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama Abdurrahman. (al-Mu’jam al-Wasith, 253)
Sahabat Abdurrahman bin Abu Bakr, dulu bernama Abdul Uzza. Setelah masuk islam diganti oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Abdurrahman. (al-Mustadrak, 3/538)
Referensi: https://konsultasisyariah.com/24648-haruskah-mualaf-mengganti-namanya.html
"Alhamdulillah jadi gue aman," kata Getta dengan mengusapkan kedua tangannya pada wajah.
"Abis ini kita mau ke mana?" tanya Kenn yang baru datang setelah menyerahkan urusan alamnya.
"Mau ke mana, Kak?" Wildan melemparkan pertanyaan pada Gita.
"Seterah," jawab Gita yang bingung akan kemana.
"Ada tempat yang pengen lu datengin gak?" tanya Hendrik.
"Apa ya?"
Gita memang selalu bingung jika ditanya ingin ke mana, jiwa rebahan nya selalu muncul setiap saat.
"Ke daerah yang adem-adem kek, mau gak?" tanya Getta.
"Ke Bandung? Rumah si Onta? Gak mau gue," tanyanya balik bermaksud ke rumah Rian. Gita tidak nyaman dengan sikap Mami nya yang selalu menilai dari ujung ke ujung.
"Ya gak lah. Jawa Barat 'kan banyak tempat wisatanya, Kak. Tinggal pilih," jawab Getta lagi.
"Gimana, Com?"
Kenn melemparkan pertanyaan pada Oncom yang saat ini sedang menyandarkan kepalanya pada bahu Hendrik. Jika saja ada Kimmy, mungkin ia akan marah karena melihat kekasihnya yang sedang memanjakan Oncom.
"Berangkat lah," jawab Oncom tanpa pernah berpikir terlebih dahulu. Berbeda dengan Gita yang terlalu banyak berpikir plus minusnya.
"Gimana?" Hendrik memastikan Gita terlebih dahulu.
"Jalan kalo gitu," akhirnya Gita menyetujui untuk berwisata ke daerah Bandung.
Mereka pergi dengan menggunakan mobil Getta, Hendrik yang mengendalikan setirnya dengan ditemani Oncom disebelahnya. Getta dan Rian duduk dibelakang, karena Getta akan belajar hal-hal dasar pada Rian. Walaupun sebenarnya ia sudah mengetahuinya, hanya saja Getta ingin tahu secara benar dan jelas.
Karena selama ini dirinya hanya sekedar tahu dari penglihatan saja, tanpa pernah memperhatikan secara detail dan juga memahami. Rian menjelaskan hal yang paling wajib sebagai umat islam, yaitu tentang sholat. Sedangkan Kenn, Gita dan Wildan duduk di bagian tengah.
Kemacetan cukup panjang terjadi di arah pintu keluar tol karena ini merupakan weekend, yang sudah dipastikan banyak yang berlibur ke daerah sejuk tersebut.
Hendrik mendengus kesal karena mobil yang dikendarainya tidak bisa bergerak maju. Di sampingnya Oncom dengan setia menyuapinya keripik jagung, jika dilihat dari luar mereka bagaikan pasangan yang sangat mesra.
Sedangkan di area tengah, Gita sedang menyandarkan kepalanya di d**a Wildan karena dirinya mengantuk, setelah ia menghabiskan satu bungkus keripik kentang rasa rumput laut kesukaannya.
Tangan Wildan mengusap-usap kepalanya perlahan membuat matanya kian mengantuk, tak lama kemudian Gita sudah masuk ke alam mimpinya. Di kursi belakang Rian masih menjelaskan banyak hal tentang hukum islam pada Getta.
"Bantal mana, Nyet?" tanya Kenn pada Rian dan Getta.
Rian menyerahkan bantal kecil pada Kenn dan kembali berbicara dengan Getta. Kegiatan mereka berdua tidak diganggu oleh yang lainnya, karena sejujurnya bukan hanya Getta yang mendengarkannya, tetapi mereka semua. Maka dari itu obrolan mereka kali ini tidak jauh dari pembahasan agama yang sedang dijelaskan oleh Rian.
kenn mengangkat kaki Gita agar berada di atas pangkuannya, sedangkan Wildan menaruh bantal di atas pahanya dan memindahkan posisi Gita, kepalanya kini berada di atas bantal yang ada di pahanya. Wildan kembali mengusap-usap kepala Gita agar tidurnya menjadi nyenyak kembali.
"Jangan berisik-berisik, Com. Ntarnya si Kakak bangun," tegur Kenn pada Oncom yang saat ini sedang tertawa ngakak karena ulahnya sendiri dengan Hendrik.
"Bangunin aja sih," balas Oncom asal.
"Mau gue turunin disini gak?" canda Hendrik dengan melirik tajam Oncom.
"Mata lu serem Onta!" dengan tersenyum Oncom menunjuk mata Hendrik.
Mereka tertawa mendengar perkataan Oncom, mobil masih diam tak bergerak karena kemacetan. Seandainya Gita tidak terbangun sudah pasti mereka akan tertawa bersama dengan banyak tingkah konyol, tapi Gita sedang tertidur, jadi mereka tidak ingin mengganggu tidur nyenyak nya.
Gita terlihat seperti kelelahan dalam tidurnya. Pipinya masih sedikit bengkak, semalam mereka tidur hampir menjelang subuh. Jadi wajar jika Gita kelelahan, karena fisik Gita tidak sekuat fisik Oncom, yang walaupun tidak tidur selama seminggu akan tetap baik-baik saja, Mungkin.