Merindukan Andra

1861 Words
Mobil yang dikendarai Hendrik akhirnya bisa bergerak maju setelah setengah jam lamanya terjebak dalam kemacetan. Hendrik segera menginjak pedal gas untuk sampai ketempat tujuan mereka. Hendrik membawa mobilnya ke arah Kebun Raya Cibodas, yang terletak di Kompleks Hutan Gunung Gede dan Gunung Pangrango, Desa Cimacan, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Topografi lapangannya bergelombang dan berbukit-bukit dengan ketinggian kurang lebih 1.300 s.d. 1.425 meter di atas permukaan laut dengan luas 84,99 hektar. Suasana tenang dan sejuk merupakan hal yang tidak didapatkan di daerah panas seperti Jakarta. Maka dari itu, mengunjungi kebun yang memiliki ratusan jenis pohon rimbun dengan suasana asri begitu memanjakan mata. Membuat jiwa terasa tenang dan juga damai. "Turun sekarang apa nunggu si Kakak bangun?" tanya Hendrik setelah mobil diparkiran secara sempurna. "Dibangunin kasian, gak dibangunin takut marah. Aku harus bagaimana?" tanya Kenn membuat Oncom melemparkan keripik yang ada ditangannya. "Lebay banget bahasanya," kata Oncom dengan kembali memakan keripiknya. "Sayang, bangun!" Wildan mengusap-usap pipi Gita lembut, bermaksud untuk membangunkannya. "Bukan bangun, Ta. Yang ada dia makin ngorok," decak Oncom yang melihat cara Wildan membangunkan Gita. "Kak, Kakak. Bangun, Sayang." Wildan kembali membangunkan Gita. Bukannya bangun Gita justru merubah posisinya menjadi menyamping dan memeluk Wildan. "Ngantuk!" Gita bergumam pelan, dengan sengaja Gita menduselkan kepalanya di perut Wildan. "Geli, Kak. Lu ngapain dah?" tanya Wildan heran. "Perut lu wangi.$ Gita kembali mendusel-duselkan kepalanya di perut Wildan dengan menghirup aroma tubuh Wildan, yang entah mengapa tercium begitu harum. "Geli, Kuya! Ada yang bangun loh ntarnya," kata Wildan ambigu. "Tidurin lah kalo bangun, susah amat," jawab Gita enteng tanpa perasaan. "Lu waras, Kak?" tanya Kenn heran dengan tingkah Gita. "Bangun, Ah. Kita turun. Daripada gue makan lu disini," balas Wildan yang merasakan geli diperutnya karena kelakuan Gita. Namun bukannya melepaskan dan bangun Gita justru semakin sengaja. "Git ari sia kunaon?" tanya Oncom heran dengan kelakuan sahabatnya. "Kaki lu ke mana-mana ini, Kak." Kenn pun terkena imbas dari aksi kejahilan Gita, karena kakinya masih berada di atas kaki Kenn. Wildan menggelitik pinggang Gita, yang membuat Gita tertawa dan meminta ampun. "Ampun, Ta. Ampun," mohon Gita yang memang tidak kuat dengan area pinggangnya. Gita bangun dan merapikan rambutnya yang berantakan, begitu rapi Getta dengan sengaja kembali mengacak nya, membuat Gita mendengus kesal. "Onta, Ih. Berantakan lagi," dengan kesal Gita kembali merapikannya. Begitu rapi Rian yang kali ini mengacak nya lagi, membuat Gita menatapnya dengan tajam. "Jangan di kuncir mulu," perintah Kenn yang kali ini merapikan rambutnya. "Gerah coy! siang begini," jawab Gita. "Coba dulu aja." Kenn mengambil tali rambutnya dan menyimpannya di dalam kantung celananya. Gita memonyongkan bibirnya akan hal itu. "Bibirnya gak usah dimonyong-monyongin. Gue cipok gosong nih." Wildan menepuk bibir Gita pelan. "Nih... Nih!" Gita semakin memonyongkan bibirnya pada Wildan, senang sekali menggoda para Anak Onta nya seperti itu. Kenn membekap mulut Gita dari belakang, membuat Gita meronta-ronta dengan diiringi tawanya. "Com lu kenapa?" tanya Hendrik yang menyadari bahwa Oncom diam sedari tadi. "Kekenyangan jadinya ngantuk," jawab Oncom dengan menguap lebar. "Lagian makan gak kira-kira," balas Kenn dengan mengacak rambut oncom. "Aku sungguh tidak bisa menahan godaan keripik kentang," balas Oncom drama. "Kita mau turun gak?" tanya Getta yang baru selesai mengecek handphonenya. "Mau gue cium gak?" goda Gita pada Getta setelah Kenn melepaskan tangannya. "Gak waras nih anak," ujar Rian yang melihat kelakuan Gita. "Stress gara-gara ditinggalken si Onta," sela Oncom. "Anda siapa ya? Onta itu siapa" tanya Gita pura-pura amnesia. "Wah! Gila beneran nih orang," sambung Wildan. "Gak ada yang mau gue cium ini?" tanya Gita dengan senyum sok manis. "Turun-turun, sebelum setannya makin parah," ajak Kenn yang tidak mau menanggapi tingkah konyol Gita. Kenn takut akan kebablasan jika Gita terus melakukan hal konyol seperti itu. Mereka akhirnya turun dan mencari tempat yang cocok untuk duduk. Kebun yang luas dengan suasana yang begitu sejuk dan tenang membuat Gita berseru senang. Gita berlari dengan merentangkan kedua tangannya, menghirup udara segar sedalam-dalamnya untuk memenuhi rongga paru nya. Oncom dan Anak Onta nya hanya tersenyum melihatnya dari belakang. Gita sedang berputar-putar seperti adegan di film India. Jika Gita begitu semangat, maka berbeda dengan Oncom yang terlihat lesu karena kekenyangan. Oncom berjalan dengan lesu mengikuti mereka semua. "Gendong, Ta. Lemes," pinta Oncom dengan manja entah pada Anak Onta yang mana. "Hareh! Makan mulu sih jadinya 'kan begini," balas Wildan dengan membukukan badannya. "Ayey!" Oncom berseru senang dan dengan semangat menaiki punggungnya. Wildan mengikuti Gita yang masih berputar-putar sambil menggendong Oncom. Membuat Oncom memekik kaget dan tertawa. "Kita maen kucing-kucingan yuk," ajak Gita yang kini sudah ada dihadapan mereka. "Maennya gimana?" tanya Rian antusias. Permainan dari Gita selalu menyenangkan, maka dari itu mereka selalu mengikutinya. Permainan ala anak kampung yang tidak pernah Anak Onta mainkan sebelumnya. "Jadi gini, kita hompimpa kayak biasa, terus yang kalah jadi kucingnya. Tugas kucing itu nangkep salah satu dari kita, cara nangkepnya cukup dengan ngenain kulit aja, yang kena jadi kucing gantiin yang tadi. Terus kita juga bisa jongkok buat menghindari tangkapan si kucing, yang jongkok itu gak bisa ditangkep yang artinya dia lagi istirahat dalam permainan, dia bisa ikut lagi kalo dibangunin dengan cara bersalaman sama temennya. Paham gak?" tanya Gita yang melihat para Anak Onta nya diam memperhatikan semua aturan mainnya. "Nih gue contohin. Ayok, Com." Gita mengajak Oncom dalam mempraktekkan cara bermainnya. Karena Oncom pun tahu aturan mainnya, sama-sama hidup di kampung membuat Oncom tahu permainan yang bernama Ucing-Ucinga yang akan dimainkan oleh Gita. Gita dan Oncom mempraktekkan permainannya, juga mengajak Getta dan Rian. Setelah dirasa Anak Onta nya mengerti, mereka memulai permainan yang diawali dengan hompimpa. Getta yang menjadi kucing pertama, karena ia kalah suit dengan Oncom. Getta mulai mengejar teman-temannya untuk menggantikan posisinya, lahan yang luas membuat mereka bebas dalam bergerak. Getta mengejar Hendrik yang paling lambat dalam berlari, karena belum begitu paham, Hendrik akhirnya tertangkap. Padahal ia bisa jongkok ketika tidak bisa menghindar dari kejaran Getta. Posisi kucing berubah menjadi Hendrik. Hendrik mulai mengejar teman-temannya. "Pittt!" intruksi Gita dengan mengangkat tangan kanannya. Pittt artinya jeda dalam permainan. "Apaan?" tanya Kenn mewakili Anak Onta lainnya. "Jeda bentar," jawab Oncom. "Aneh aja bahasanya," ucap Getta yang membuat mereka tertawa. "Tali rambut, Ta. Gerah," pinta Gita pada Kenn. Rambut Gita yang belum di kuncir membuatnya sangat kegerahan, tali rambutnya masih berada di dalam kantung celana Kenn. Kenn menghampiri Gita dan menyerahkan tali rambutnya, Gita menunduk dan menyatukan semua rambutnya ke depan, setelah dipastikan tidak ada rambut yang menempel di lehernya, Gita menguncir nya dengan mencepol tinggi. "Harus banget ya sampe nungging gitu?" tanya Wildan heran. "Biar dapet semua rambutnya," jawab Gita. Detelah kembali menegakkan tubuhnya. Rambutnya sudah dicepol tinggi tanpa menyisakan anak rambut sedikitpun. "Gini 'kan enak rapi. Mulai lagi yok," ajak Gita yang disetujui oleh semuanya. Mereka kembali bersiap, Hendrik kembali mengejar mereka. Hingga satu jam permainan posisinya belum berubah membuat Hendrik mendengus kesal. "Hahaha, di kere!" sorak Oncom dan Gita. Hendrik sedang mengatur napasnya yang ngos-ngosan. "Apa lagi itu?" tanya Wildan yang berada disebelah kanan Gita. "Kayak si Onta itu yang jadi kucing gak ganti-ganti," jelas Gita yang tidak tahu apa namanya dalam bahasa Indonesia. "Apes gitu?" sambung Rian yang berada disebelah kiri Gita. "Apa ya? Bingung gue, pokoknya kek cemen, bloon gitu karna gak menang-menang," jelas Gita yang memang tidka mengetahui bahasa bakunya. "Onta lu dikatain bloon sama si Kakak!" teriak Wildan untuk memanas-manasi Hendrik. "Bangke! Awas lu ya," teriak Hendrik dan kembali mengejar. Kali ini Hendrik menargetkan Gita. Gita berlari dengan diiringi tawa, membuat yang lainnya masih santai, karena Hendrik hanya fokus mengejar Gita yang berlari dengan meledeknya. "Kakek-kakek ngejar anak kecil ya gak bakalan kekejar," ledek Oncom. "Cape woi!" teriak Hendrik yang saat ini terkapar di atas rumput dengan napas ngos-ngosan. Lagi-lagi mereka tertawa melihat Hendrik yang begitu kelelahan. "Pada cepet banget sih larinya?" tanyanya dengan kesal. "Udahan weh kasian, takut pingsan dia." Oncom mengakhiri permainan karena kasian melihat Hendri "Love banyak-banyak buat Sayangnya gue," kata Hendrik dengan menarik tangan Oncom, membuat Oncom jatuh mengenai perutnya. "Adaw!" teriaknya ketika tubuh Oncom mendarat sempurna diatas tubuhnya. "Sakit Bege!" kesal Oncom yang menjambak rambutnya. "Aku datang," teriak Wildan yang ikut menimpa Oncom. "Aku juga," Kenn ikut menimpa mereka. "Paeh aing, Pea!" teriak Oncom yang merasakan berat ditubuhnya karena Wildan dan Kenn. "Mati anak Pak Lurah woi!" Gita menarik tangan Kenn untuk bangun. Kenn justru menarik Gita agar menimpa padanya, Gita terjatuh menimpa tubuh Kenn, kemudian Kenn berguling ke samping dengan Gita. Yang lain tertawa melihat itu, sedangkan Hendrik dan Oncom mendengus kesal ketika Kenn dan Wildan menyingkir dari tubuhnya. "b**o dipiara," gerutu Hendrik dengan kesal. "Lu macem-macem aja, gue mati 'kan ntarnya sekampung sedih," balas Oncom yang membuat mereka menyorakinya. "Gue rasa orang kampung bakalan Alhamdulillah, Com. kalo lu mati," ledek Getta yang membuat mereka kembali tertawa. Posisi mereka saat ini berbaring bersama untuk mengatur napas, terutama Oncom dan Hendrik. Tangan Rian menjadi bantal untuk Oncom, sedangkan tangan Getta menjadi bantal untuk Gita. Mata mereka terpejam dan sedang mencoba melukis langit dengan imajinasi masing-masing. Untuk Gita sendiri lebih ke arah berkhayal dengan imajinasinya, karena dalam imajinasi Gita saat ini, ia beserta mereka semua sedang berada disebuah perahu ditengah danau kecil, mendayung bersama dengan diiringi nyanyian. Bibirnya mengukir segaris senyum ketika membayangkan hal tersebut, tapi sedetik kemudian, Gita melihat Andra di ujung dermaga kecil sedang menatap mereka dengan sedih, hal itu pula yang membuat Gita menarik senyumnya. Apa ia merindukan Andra saat ini? Sehingga dalam imajinasinya pun Andra hadir dengan raut wajah sedih. Tidak mau larut dalam bayangan yang membuat sedih, Gita lebih memilih membuka matanya. Menatap langit yang siang ini terlihat begitu cerah dengan warnanya yang seperti air laut. Untuk seterusnya akan tetap seperti ini keadaan mereka, di mana mereka akan berlibur tanpa hadirnya Andra sebagai pelengkap. Gita sudah tidak akan pernah menanyakan kapan Andra akan pulang, karena Gita sadar siapa Andra dan dirinya. Gita hanya berdoa semoga suatu saat nanti ia bisa kembali bertemu dengan Andra. Walaupun bukan untuk melepas rindu, karena mungkin nanti Andra sudah memiliki pasangan hidupnya. Gita hanya ingin mengucapkan rasa terima kasihnya pada Andra, yang telah menyelamatkan dati kecelakaan itu. Gita juga ingin meminta maaf atas semua perlakuannya, ia sadar bahwa selama ini sudah sering mempermainkan perasaan Andra. Bukannya Gita tidak memiliki perasaan lebih terhadap Andra. Gita hanya mencoba untuk sadar akan siapa dirinya dengan para Anak Onta nya, terutama Andra. Karena status mereka bagaikan langit dan bumi. Terbiasa hidup dengan menekan keinginan membuat Gita dengan mudah mengatasi perasaannya. Gita tidak mau terlalu hanyut dalam perlakuan mereka. Gita juga tidak mau mengungkapkan segala keinginannya. Banyak yang mengatakan jika dirinya bodoh karena tidak memanfaatkan perasaan Anak Onta nya, yang jelas-jelas akan melakukan apapun untuknya. Gita bisa meminta apapun pada mereka, selagi mereka mampu, pasti akan mereka berikan. Gita mempunyai hobi traveling. Gita ingin mendatangi seluruh wilayah Indonesia. Padahal dengan mudah Anak Onta bisa mengabulkannya. Anak Onta selalu mengajak dan menanyakan ia mau ke mana. Baik dalam negeri bahkan luar negeri sekalipun. Yang selalu di jawab tidak mau olehnya, dengan alasan takut naik pesawat. Maka dari itu Anak Onta nya selalu mengadakan perjalanan dadakan yang tidak bisa ditolak oleh Gita, dengan tujuan masih sekitar Jawa Barat. Karena mereka tidak berani mengajak Gita untuk keluar provinsi jika harus menaiki pesawat, mereka takut jika Gita marah dan kapok. Betapa beruntungnya seorang Anggita Purnama, yang selalu di prioritaskan kenyamanan dan kebahagiaannya oleh para Anak Onta nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD