Apa yang akan kalian perbuat jika sedang merasakan rindu ditengah keadaan fisik yang sedang sakit, juga dengan penjagaan yang ketat?
Apakah kalian akan melakukan hal sama seperti Andra?
Yang Andra lakukan hanya berdiam diri di kamar dengan segala perasaan yang ada. Marah, kesal, sedih semua menjadi satu. Marah dengan keadaan yang ada, kesal karena dirinya tidak bisa berbuat apapun, juga sedih akan rasa rindu yang menggebu.
Andra Merindukan kehidupannya tiga tahun terakhir yang sudah sempurna menurutnya. Gita yang telah merubah hati gelapnya menjadi terang dan bahagia, para sahabatnya yang dipanggil dengan Anak Onta yang selalu ada untuknya, juga Oncom yang selalu ceria. Lagi-lagi Andra harus meringis merasakan dadanya yang sakit ketika ia menarik napas dalam karena kesal.
Andra kembali mengingat siapa orang yang telah membuat hidupnya kembali berantakan seperti ini. Gadis tidak tahu diri yang memaksa masuk kedalam kehidupan mereka semua. Andra sudah berjanji akan memberikan pelajaran pada gadis itu, karena telah berani mengusik kehidupan bahagianya.
Salah satu tujuannya menghindar dari Gita adalah agar ia leluasa memberikan pelajaran pada Sheryl. Karena jika sampai Gita mengetahuinya, pasti Gita akan menghalanginya, Andra yakin itu pasti akan terjadi, mengingat betapa baiknya hati gadis yang dicintainya itu.
Andra meminta pada Setyo pengacaranya untuk membuat Sheryl mendapatkan hukuman yang pantas, entah berapa lama hukuman yang pantas menurut Andra. Karena ketika Setyo menyebutkan pasal untuk kasus Sheryl yang menyebutkan hukumannya bisa sampai 15 tahun, Andra mendengus tidak terima. Andra ingin seumur hidupnya Sheryl merasakan hukuman, agar dia tahu bagaimana rasanya jika ia berani mengganggu orang-orang yang disayanginya.
Kenn tidak pernah absen memberikan kabar kepadanya tentang semua kegiatan mereka, membuat Andra semakin menderita. Bukan salah Kenn, karena itu memang atas permintaannya yang ingin terus mengetahui bagaimana keseruan mereka tanpa dirinya. Tapi sepertinya ia mengambil keputusan yang salah, karena hal itu justru membuatnya semakin merasa bahwa hidupnya tidak berguna.
"Ayo, Ta. Sembuh! Biar semuanya cepet kembali lagi."
Andra memotivasi dirinya sendiri, hal itu untuk mengembalikan semangat dalam hidupnya. Andra tidak memiliki kegiatan lain selain berdiam diri didalam kamarnya, bingung setiap harinya apa yang harus dilakukannya, demi membunuh rasa bosan yang menderanya.
Kemarin ia gunakan untuk mulai mempelajari management perusahaannya, tapi hari ini ia kembali merasakan bosan. Umurnya baru 21 tahun, dan ia sudah dibebankan dengan tanggung jawab yang sangat besar, sungguh menyebalkan. Sedetik kemudian Andra kembali berpikir dan mengambil laptopnya lagi, Andra akan kembali belajar untuk mengurus perusahaan.
Andra kembali berpikir dengan ia yang cepat menguasai semuanya, maka akan semakin cepat ia kembali ketanah air dan bertemu kembali dengan kekasihnya. Sampai saat ini Andra masih menganggap Gita sebagai kekasihnya, dan tidak peduli dengan cibiran teman-temannya.
***
Gita bangun dari berbaring nya, diikuti oleh Getta yang merasakan pergerakan pada Gita. Teman-temannya yang lain masih memejamkan mata, Gita dan Getta melihat Oncom yang bahkan sedang tersenyum, sepertinya Oncom sedang membayangkan hal indah dalam imajinasinya.
"Ngapain lu berdua ngeliatin gue?"
Tanya Oncom tanpa membuka matanya, membuat Gita dan Getta saling berpandangan karena heran. Oncom seperti mempunyai mata batin yang bisa melihat tanpa membuka matanya. "
Gak usah heran gitu ngeliat gue bisa tau kalo lu berdua lagi ngeliatin gue," sambungnya lagi dengan mata yang tetap tertutup.
"Lu serem, Com. Ngeri gue," balas Getta dengan mengusapkan tangan kanannya pada wajah Oncom.
Kenn, Hendrik, Wildan, juga Rian membuka matanya mendengar ucapan Oncom. Mereka juga memperhatikan Oncom yang masih menutup matanya. Rian tidak bisa bangun karena tangannya masih menjadi bantal Oncom. Rian hanya memperhatikan dari samping.
Rian memegang kening Oncom seperti memeriksa sebelum dirinya berkata.
"Gak panas."
Oncom membuka matanya dan menatap Rian horor, membuat Rian refleks memundurkan kepalanya, sedangkan teman-temannya yang lain tertawa melihat kekagetan Rian.
"Serem Bege!" kata Rian bangun untuk duduk karena Oncom juga sudah bangun.
"Lagian lu ngapain?" tanya Oncom pura-pura bingung.
"Lu punya kekuatan supra natural, Com?"
Tanya Getta yang masih heran dengan Oncom yang berkata dengan mata yang terpejam, dan menebak dengan benar bahwa dirinya dan Gita memperhatikannya.
"Huh! Dasar, masa begitu aja lu pada gak bisa sih?" tanya Oncom dengan meledek.
Mereka menggelengkan kepalanya secara bersamaan, karena mereka memang tidak bisa melakukannya.
"Coba sekarang lu praktekin deh," perintah Oncom pada Hendrik.
"Gue?" tanya Hendrik dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Bunga Bangke yang dibelakang lu. Ya lu lah! Orang gue nunjuknya lu kok." Oncom sewot sendiri dengan Hendrik yang tiba-tiba menjadi lemot.
"Caranya gimana?" tanya Hendrik dengan wajah polosnya.
"Lu tidur terus ntar lu tebak siapa yang merhatiin lu," perintah Oncom. Hendrik kembali merebahkan dirinya, "Santai woy! Ngapa lu jadi tegang sih?" tanya Oncom yang melihat gestur tubuh Hendrik yang tegang.
"Sekarang coba tebak siapa yang lagi merhatiin lu?" perintah Oncom setelah Hendrik merilekskan tubuhnya.
"Wildan."
Hendrik menebak Wildan yang sedang memperhatikannya, karena yang ada di bayangannya memang Wildan yang sedang memperhatikannya.
"Kok lu bisa tau?" tanya Wildan.
Karena memang benar dirinya yang memperhatikan Hendrik. Sedangkan yang lainnya membelakanginya.
"Lu gak ngintip, 'kan?" tanya Getta.
"Orang yang ada di bayangan gue dia kok," jawab Hendrik menunjuk Wildan.
"Nah bener, 'kan?" tanya Oncom yang telah berhasil membuktikan teori nya.
"Itu uraiannya kenapa ya?" tanya Kenn, karena biasanya untuk hal seperti itu ada penjelasannya bukan.
"Mungkin itu yang disebut dengan insting ya, tapi gue gak tau juga sih. Cuma emang kalo gue sendiri lagi merem, bahkan lagi beneran tidur pun gue bakal tau, kalo ada yang merhatiin, terus muka orangnya kayak muncul gitu di hadapan gue," jawab Oncom yang memang seperti itu adanya.
"Keren sih lu kayak orang yang punya indera keenam," kagum Rian pada Oncom.
"Jujur nih ya, setiap gue nginep dan tidur sama lu semua, hati gue gak pernah tidur. Kalo nanya kenapa? Jawabannya gue juga gak tau. Bukan karena gue takut di apa-apain sama lu semua, cuma karna emang gak bisa aja."
Oncom pada akhirnya memberitahunya tentang keadaannya selama ini yang memang tidak pernah tidur secara hatinya. Oncom hanya memejamkan matanya, tapi tidak dengan hatinya. Karena Oncom selalu mengetahui setiap apa yang terjadi disaat mereka tidur bersama.
Contohnya Wildan yang lebih sering memperhatikan mereka semua ketika yang lainnya sudah terlelap. Wildan tidak menyangkal itu, karena memang benar adanya, ia selalu memperhatikan semua teman-temannya ketika mereka tertidur, terutama Gita dan Oncom yang berbeda jenis kelamin dengan mereka. Entah apa yang dipikirkan Wildan.
"Gue tanya, itu kalo kita semua lagi tidur lu ngapain merhatiin kita?"
Pertanyaan Oncom membuat mereka semua menolehkan kepala pada Wildan. Wildan yang mendapatkan tatapan penuh keheranan dari teman-temannya menjadi salah tingkah.
"Ngapain pada ngeliatin gue kayak gitu sih?" tanyanya heran.
"Itu bener?" tanya Rian.
"Bener," jawab Wildan langsung.
"Dalam rangka?" tanya Gita.
Getta mendengus mendengar pertanyaan Gita.
"17 Agustusan, Kak." Gita dan Oncom tertawa mendengar jawaban Getta.
"Apa ya? Gue juga gak tau sih, kadang gue mikir kok kita bisa sedeket ini gitu, karena semua Anak Onta itu gak pernah sedeket ini sama cewek, karena gue pribadi cuma pernah deket sama satu cewek yang sekarang udah sama Tuhan. Jangankan buat deket, kenalan aja kita males. Bener gak?" tanya Wildan pada Anak Onta yang lain, mereka mengangguk setuju.
"Bener kata lu, Kak. Waktu kita di puncak itu, kalo misalnya lu berdua gak ada rasa takutnya sama kita semua. Lu berdua percaya banget sama kita, gak takut kalo kita khilaf. Tapi bukannya gue nilai lu berdua cewek gampangan ya," jelas Wildan membuat Gita dan Oncom tersenyum.
"Gue juga waktu itu jawab, 'kan. Kalo gue orangnya gampang percaya kalo emang gue udah nganggep orang itu sebagai temen. Dan gue juga pernah bilang, silahkan kalo emang lu semua bisa ngapa-ngapain gue sama si Gita. Bukannya ngeremehin ya, cuma emang kenyataannya, 'kan? Gak perlu pake bantuan kalo cuma buat ngelawan lu semua, gak perlu berdua juga. Gue sendiri atau dia sendiri juga bisa," balas Oncom santai.
"Mangkanya gue kesel kalo lu geplak, pake tenaga dalem mulu."
Getta yang sering menjadi bahan sasaran Oncom memang merasakannya, pukulan Oncom walaupun hanya tepukan itu sangat terasa.
"Mpo gue gak bakalan ngizinin gue maen sampe malem apalagi sampe nginep kalo beladiri gue belum khatam," sambung Gita.
Karena mustahil bagi Gita mendapatkan izin dari Yola jika ilmu beladiri nya belum sampai tahap akhir.
"Iya juga sih," balas Rian yang juga dibenarkan oleh mereka semua.
Setelah pembahasan itu mereka bangun dan mulai menyusuri kawasan sekitar, mereka singgah di air terjun Ciwalen yang lokasinya ada di 300 meter dari pos piket. Hanya dengan menempuh perjalanan selama 10 – 15 menit sembari menikmati hijaunya vegetasi di sepanjang jalan.
Mereka disuguhkan dengan tantangan berupa jembatan gantung yang cukup tinggi, diantara dua pohon besar. Dengan melewati jembatan itu, mereka bisa melihat eksotisme luar biasa dari air terjun Ciwalen itu.
Mereka berseru dengan senang ketika sampai di air terjun Ciwalen, dengan semangat langsung membasuh wajah dengan air dingin yang sangat terasa menyegarkan. Tidak banyak pengunjung yang datang pada air terjun yang satu ini, sehingga membuat mereka merasa lebih nyaman dan tidak menjadi pusat perhatian.
Berjalan melewati bebatuan agar tubuh mereka terkena cipratan air terjun tersebut. Bersama-sama merentangkan tangan dan saling berpegangan, mendongakkan kepala sambil memejamkan mata. Menikmati percikan air yang seolah menyapa wajah mereka.
Suasana yang begitu tenang, damai dan indah seperti ini tidak pernah mereka dapatkan di ibukota, maka dari itu mereka mencoba merilekskan tubuh dan pikirannya dengan cara seperti itu.
Suara gemuruh air yang turun secara bersamaan dari atas tebing itu seolah menjadi irama yang begitu menenangkan, membuat mereka enggan membuka mata. Hal itu justru menjadi tontonan bagi para pengunjung lain yang tidak lebih dari sepuluh orang. Menilai dari atas hingga bawah perbandingan antara Anak Onta dengan Gita dan juga Oncom yang sangat jauh berbeda. Berdecak kagum pada fisik para Anak Onta, dan memandang dengan heran pada fisik Gita dan Oncom.
Mereka tidak peduli dengan bisik-bisik dari pengunjung lain, biarlah orang lain menilai apa, untuk saat ini mereka, terutama Gita hanya ingin fokus pada ketenangan yang disuguhkan alam.
"Mandi yuk," ajak Gita untuk pertama kalinya, entah mengapa ia ingin sekali berendam di air dingin itu.
"Lu yakin, Kak?"
Tanya Getta tidak percaya, lebih tepatnya khawatir dengan fisik Gita yang tidak kuat dingin. Sedangkan suhu air di sana pasti akan sangat terasa dingin untuknya. Berbeda dengan mereka yang justru akan merasakan kesegaran jika mandi di air terjun itu.
"Yakin lah, eh tapi 'kan kita gak bawa baju plus anduk ya," jawab Gita lagi setelah berpikir, karena memang mereka tidak membawa handuk dan baju ganti.
"Gak ada signal lagi," keluh Wildan yang baru saja akan menelpon temannya yang berada disekitar sana.
"Kang!" panggil Wildan pada petugas jaga yang sedang berkeliling.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas itu dengan sopan.
"Saya mau minta tolong, boleh?" jawab Rian yang diangguki olehnya. "Tolong ke toko pakaian yang ada di seberang jalan depan ya, Kang. Mintain lima pasang pakaian cowok, dua pasang pakaian cewek ukuran remaja tanggung, tujuh handuk sama satu sweater yang tebel ya. Kasih ini ke yang punya tokonya, bilang dari Rian anak Mami Erika. Pin-nya tanggal kelulusan Rian gitu ya, pastiin dapet semua ya, Kang."
Rian menyerahkan kartu ATM miliknya. Toko pakaian yang dimaksud adalah milik bibinya, adik dari Maminya.
"Baik, silahkan ditunggu."
Petugas itu pergi meninggalkan mereka untuk menjalankan perintah dari Rian.
Akhirnya mereka bisa mandi di bawah guyuran air terjun yang memiliki kolam yang cukup luas untuk mereka berenang. Airnya yang dingin begitu menyegarkan tubuh mereka, kecuali Gita yang merasakan kedinginan.
Mereka banyak mengambil gambar menggunakan kamera yang selalu dibawa oleh Getta. Beberapa pengunjung mungkin merasa terganggu karena mereka yang berisik dengan candaannya. Para Anak Onta beberapa kali mengangkat Oncom dan Gita, kemudian melemparkannya pada kolam.
Seperti biasa, tetap ada beberapa gadis yang berusaha tebar pesona pada para Anak Onta, yang tentunya diabaikan begitu saja oleh mereka. Bahkan mereka secara terang-terangan menolak dan tersenyum miring seolah meledek para gadis itu.
Wildan dengan tatapan mengintimidasinya membuat para gadis yang berusaha mendekatinya langsung menciut, membuat Gita dan Oncom tertawa akan hal itu.