Sudah lebih dari sepuluh hari Salsa dan Kimmy tidak bertemu dengan kekasihnya. Setiap hari mereka mencoba untuk menghubungi Getta dan Hendrik, melalui telpon biasa maupun chat. Namun hasilnya selalu nihil, mereka tidak pernah mengangkat telponnya atau membalas chat yang mereka kirimkan.
Salsa dan Kimmy beberapa kali mendatangi rumah Getta dan Rian, untuk menanyakan keberadaan Hendrik dan Getta. Karena hanya dua rumah itu yang mereka ketahui, tapi menurut pembantunya mereka tidak ada di rumah, dan sedang keluar entah kemana.
Bahkan pernah sekali Salsa dan Kimmy memaksa untuk masuk ke rumah Rian karena tidak percaya, membuat Elah menggelengkan kepalanya dengan menggerutu kesal.
Hari ini giliran pembantu di rumah Getta yang harus merasakan kekesalan akibat ulah kedua gadis itu, karena lagi-lagi mereka berdua memaksa untuk masuk ke dalam rumah Getta. Dengan sikap angkuh dan tidak sopan mereka berdua bahkan membentak Kesih, ketika pembantu Getta itu menahan mereka.
"Den Getta gak ada di rumah, jadi kalian berdua gak bisa masuk. Nanti Bibi yang kena marah," cegah Kesih yang sebenarnya malas meladeni mereka berdua.
Sebenarnya Getta tidak pernah memarahinya, itu hanya alasannya saja agar dua gadis tidak tahu sopan santun itu segera pergi.
"Kita mau mastiin dulu Bibi bohong apa gak nya. Bisa aja 'kan Bibi bohong," kekeuh Salsa dengan nada membentak.
"Terserah kalian," jawab Kesih pada akhirnya.
kesih berjalan terlebih dahulu untuk menuju kedalam, diikuti oleh Salsa dan Kimmy dibelakangnya.
"Jadi pembantu kok songong," kata Salsa yang kesal dengan sikap Kesih yang menurutnya songong.
Padahal dirinya lah yang tidak tahu malu. Kesih hanya bisa menahan kesal mendengarnya.
"Kalo pembantu gue udah gue pecat serius. Gak sopan," timpal Kimmy.
"Untung saya gak kerja di rumah kalian," balas Kesih dengan kesal. "Saya gak bohong, 'kan? Sekarang kalian silahkan pergi dari sini," usir Kesih pada keduanya.
"Kita belom liat ruangan lain loh, Bi. Maen usir aja," kata Kimmy belum puas dengan pemeriksaan nya. Mereka memang hanya sampai di ruang tamu.
"Kalian mau pergi atau saya panggilin security depan?" ancam Kesih.
"Awas Lu ya, gue bilangin Kak Getta biar mecat lu. Pembantu gak sopan," ancam Salsa dengan kesal.
"Silahkan," balas Kesih tidak takut.
Kesih tahu bagaimana sikap majikannya pada gadis tidak sopan yang berstatus sebagai kekasih Getta itu. Jadi Kesih tidak perlu takut dengan ancamannya.
"Ayo kita pergi. Awas lu!"
Mereka pergi dengan kesal, ternyata hanya sekelas pembantu saja tidak menghormatinya. Lagi-lagi mereka tidak berhasil menemui kekasihnya itu.
***
Sedangkan di dalam ruangan kecil tempat Sheryl ditahan, keadaannya masih sama seperti dari awal dirinya menempati ruangan pengap itu. Sheryl masih sering menangis di setiap harinya, membuat kedua orang yang berada satu sel bersamanya terkadang kesal karena suara tangisnya. Untung saja ia ditempatkan di sel yang penghuninya hanya dua orang ibu rumah tangga.
Sheryl tidak bisa membayangkan jika ia harus disatukan dengan orang-orang yang jahat sesungguhnya. Yang ia dengar dari keduanya, mereka hanya merupakan korban fitnah dari temannya, karena berasal dari keluarga tidak mampu dan tidak bisa membayar kuasa hukum, maka mereka harus dengan ikhlas menerima hukuman dari dosa yang tidak pernah mereka perbuat.
Mereka bercerita tanpa diminta, dengan maksud untuk menenangkan Sheryl. Sheryl tidak peduli dengan cerita mereka berdua, Sheryl hanya mendengarkan sekilas saja. Karena ketika mereka bercerita, pikirannya melayang jauh pada semua kejadian yang telah ia perbuat, pada semua dosa yang telah ia lakukan pada banyak orang, dan pastinya banyak menyakiti hati orang lain.
Sheryl tersenyum kecut ketika mengingat kedua sahabatnya, mungkin mereka tidak bisa disebut sahabat, karena tidak pernah ada disaat ia sedang kesusahan. Mereka hanya ada disaat bersenang-senang saja.
Buktinya saat ini, bahkan dari hari pertama ia berada di penjara, Salsa dan Kimmy tidak sekali pun datang untuk menjenguknya, setidaknya untuk memberikan dukungan padanya.
Namun, sepertinya mereka berdua mungkin sudah melupakannya. Padahal ia berpikir jika semuanya berhasil sesuai rencananya, mereka juga yang akan menikmati hasilnya.
"Kalian bahkan tidak menjenguk ku sama sekali." Sheryl berkata dalam hati, matanya lurus ke depan dengan tatapan kosong.
Sheryl seolah melihat bayangan ia dan teman-temannya saat mereka bersama, sebelum obsesi untuk menjadikan Rian sebagai kekasihnya hadir pada dirinya. Mereka memang selalu bersama, walaupun ia akui dari awal pertemanannya dengan Salsa hanya karena uangnya saja. Karena diantara mereka bertiga, Salsabila Dewanti yang orang tuanya paling kaya. Sedangkan ia dan Kimmy memang sudah berteman sejak sekolah menengah pertama.
Dua hari lagi sidang untuk dirinya akan digelar, perasaan Sheryl menjadi semakin tidak karuan. Sheryl takut, jika Budi, pengacara yang diutus oleh ayahnya tidak bisa menyangkal semua bukti yang telah di kumpulkan oleh Kenn.
Sheryl tidak mau berada dalam jangka waktu yang lama di ruangan pengap, dingin dan kotor seperti ini. Badannya terasa sakit semua karena tidur di atas lantai yang hanya beralaskan karpet tipis. Selimut tebalnya hanya mampu untuk melindungi tubuhnya dari gigitan nyamuk yang setiap malam mengganggunya. Kepalanya terasa pecah jika kembali memikirkan putusan hakim disidang nanti.
Sheryl berharap dan berdoa pada Tuhan semoga Budi benar-benar bisa membantunya. Bukan hanya sekedar kata-kata untuk menenangkannya saja. Karena entah mengapa saat ini perasaannya kembali tidak tenang, Sheryl takut jika putusan hakim tidak sesuai harapannya.
Sheryl takut jika dirinya akan berada di balik jeruji besi dalam waktu yang lama. Sheryl tidak mau itu terjadi. Hidupnya ini sudah hancur saat Mamih nya dulu meninggalkannya, jika sampai ia harus dipenjara dalam jangka waktu yang lama, mungkin Sheryl lebih baik mati daripada hidupnya harus kembali menderita, dengan derita yang lebih parah lagi. Sheryl merasa terhina karena ia harus di penjara karena gadis kampungan yang bernama Gita.
***
Sedangkan Gita, Oncom dan Anak Onta nya saat ini masih menikmati keseruan mereka di bawah guyuran air terjun. Gita beberapa kali duduk pada batu besar dipinggir kolam, Anak Onta nya bergantian menemaninya.
Seperti saat ini Gita yang tengah ditemani oleh Hendrik, mereka duduk di atas batu besar dengan kaki bersila. Sampai ada satu gadis yang dengan pakaian basah dan ketatnya memberanikan diri untuk meminta tolong padanya, entah itu benar atau hanya usahanya saja dalam mendekati Anak Onta.
"Permisi, Mas. Bisa minta tolong fotoin kita gak?" tanyanya dengan senyum manis dan menunjuk teman-temannya.
Pakaiannya sungguh menggoda, hotpants yang dipakainya memperlihatkan paha putih mulusnya, kaos kuning ketat mencetak pakaian dalamnya yang berwarna pink.
Hendrik tersenyum miring ketika meliriknya. Posisi gadis itu memang berada dibelakang Hendrik. Sedangkan Gita menahan senyumnya sambil mengedikkan bahu.
"Maaf, Saya bukan tukang foto," jawab Hendrik tanpa menoleh padanya.
"Tapi bisa moto, 'kan?" gadis itu masih berusaha agar Hendrik mau membantunya.
"Berenang lagi yuk, Yang!"
Tanpa menghiraukan gadis itu Hendrik bangun dan mengajak Gita untuk kembali berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Dengan sengaja Hendrik menekankan kata Yang untuk memperjelas statusnya yang tidak ingin diganggu. Membuat gadis itu kembali pada teman-temannya dengan perasaan kesal.
"Cie yang abis digodain cewek sekseh," goda Oncom begitu Hendrik dan Gita bergabung dnegan mereka.
"Ribet banget sumpah. Ada aja pengganggu ketenangan hidup gue," dengus Hendrik dengan kesal.
"Lu kaga nafsu?" tanya Oncom yang langsung dijawab oleh Hendrik dengan memutar bola matanya, "Sekseh, nyeplak pink gitu, padet lagi keliatannya. Melon itu kalo diibaratin," kata Oncom dengan mata yang melihat pada gadis tadi.
Mereka melihat bagaimana pakaian basah gadis itu yang mencetak dengan jelas bagian atasnya.
"Gue lebih suka yang rata tapi masih orisinil, daripada yang kayak melon tapi bekasan orang," jawab Hendrik dengan mengedipkan matanya genit pada Oncom.
"Nyinggung gue secara halus itu mah," kata Gita yang membuat mereka semua tertawa.
"Yang penting 'kan orisinil. Iya gak, Com?" tanya Hendrik
"Au ah gelap," balas Oncom membuat mereka kembali tertawa.
"Udahan yuk, bibir lu pucet banget, Kak."
Rian mengangkat Gita untuk keluar dari kolam, membuat Gita memekik kaget karenya. Begitupun dengan Kenn yang mengangkat Oncom, mereka menggendong ala bridal style, hal itu kembali menjadikan mereka sebagai tontonan yang tidak dipedulikan oleh mereka.
Pakaian mereka sudah tersedia dengan lengkap, begitupun dengan pakaian dalamnya. Tante Rian seolah tahu ukuran mereka semua, terutama pakaian untuk Gita dan Oncom, dengan ukuran pakaian dalamnya yang kecil. Rian bahkan melemparkan dan bergedik ngeri ketika tangannya memegang bra dengan ukuran paling kecil berwarna navy.
"Ih! Itu apaan?" tanya Rian dengan melemparkan bra kecil, entah milik Gita ataupun milik Oncom. Membuat mereka semua tertawa.
"Si b**o!" seru Gita dengan menangkap bra yang dilemparkan oleh Rian.
"Itu benda keramat coy! Maen lempar aja lu," sambung Oncom yang menangkap bra miliknya.
"Ya udah ganti duluan sono."
Perintah Wildan pada Gita dan Oncom. Hanya ada tiga kamar mandi yang tersedia, dan tidak dipisah antara laki-laki dan perempuannya.
"Awas kalo ngintip," ancam Oncom pada Anak Onta nya.
"Gak nafsu, Com. sumpah," balas Kenn dengan tertawa.
Gita dan Oncom masuk ke dalam kamar mandi masing-masing. Anak Onta bertugas untuk menjaga di luar disebuah bale bambu yang tersedia. Getta masuk terlebih dahulu pada kamar mandi yang satunya. Tinggallah Kenn, Wildan, Hendrik dan Rian.
***
Seperti mendapatkan kesempatan yang sedari tadi ditunggu, dua orang gadis yang baru datang satu jam yang lalu, langsung menghampiri para Anak Onta yang sedang menunggu giliran untuk membersihkan diri. Dua gadis itu berjalan menghampiri mereka dan berpura-pura akan berganti baju.
"Permisi, Kak. Penuh ya?" tanya salah satunya yang berambut sebahu.
"Hem," Kenn hanya bergumam sebagai jawabannya.
"Boleh kita duduk, pegel berdiri aja," pintanya dengan harap bisa duduk disebelah Kenn.
Spontan Anak Onta bangun dari duduknya dan lebih memilih pergi untuk menjauh. Membuat dua gadis itu sedikit memanyunkan bibirnya.
"Yang cepetan dong! aku kedinginan ini," teriak Kenn di depan pintu kamar mandi yang digunakan Oncom.
Gita dan Oncom sudah hafal dengan kelakuan para Anak Onta, yang dimana jika mereka memanggil dengan sebutan Yang itu tandanya mereka ada yang menggangu dan tidak suka.
Gita keluar lebih dulu sudah dengan pakaian rapi, handuk besar melilit di kepalanya, "Yang! Ini bajunya ketat, aku gak suka."
Gita yang tidak pernah suka memakai pakaian yang hampir membentuk tubuhnya, walaupun masih sedikit longgar.
"Aku masuk duluan," Rian masuk ke kamar mandi bekas Gita
"Pake ini."
Wildan memberikan Sweater pada Gita yang langsung dipakai olehnya. Selain bajunya yang terasa ketat, Gita juga cukup kedinginan. Wildan juga membantu Gita untuk mengeringkan rambutnya menggunakan handuk yang masih melilit di kepalanya. Hal itu menjadikan dua orang gadis yang ada didepannya dilanda rasa penasaran yang begitu tinggi.
Oncom dan Getta keluar secara bersamaan, Getta menggosok-gosokan handuk pada rambutnya, sedangkan Oncom sendiri protes pada baju yang dipakainya.
"Ini bajunya kayak gini banget sih? Tukeran, Yang. Aku gak suka," pintanya pada Kenn.
"Yang ada robek kalo aku yang pake. Kamu aneh-aneh aja," heran Kenn sambil masuk ke dalam kamar mandi bekas Oncom.
Sedangkan Hendrik masuk ke dalam kamar mandi bekas Getta. Wildan sendiri masih menggosok-gosok kepala Gita.
"Yang ini gimana sama baju aku?" tanya Oncom dengan manja entah pada siapa.
Baju yang dipakainya sama seperti Gita, Oncom maupun Gita begitu aneh ketika memakai baju tersebut. Tapi daripada tidak memakai baju, lebih baik mereka pakai yang ada.
"Tutupin pake handuk aja, Yang. Nanti diluar kita beli baju baru lagi," saran Getta.
Dua gadis yang masih memperhatikan mereka menjadi bingung sendiri dengan Oncom yang memanggil mereka semua dengan sebutan Yang karena mereka ingin tahu siapa yang menjadi kekasih Oncom sebenarnya.