Meninggalkan kebingungan bagi dua gadis yang dengan serius memperhatikan kemesraan Gita, Oncom dan para Anak Ontanya, kini mereka kembali menyusuri jalanan untuk menuju mobil. Setelah puas bermain dan juga berenang kini cacing dalam perut mereka berdemo meminta diisi.
Oncom menutupi tubuhnya dengan handuk karena malu memakai baju perempuan. Padahal ia sendiri perempuan, tapi selama ini Gita dan Oncom memang selalu memakai kaos laki-laki dan juga Sweater, hampir tidak pernah memakai kaos untuk perempuan, sehingga mereka merasa aneh ketika memakainya.
Hari pun sudah beranjak sore, mereka belum melaksanakan sholat ashar. Apalagi untuk Getta yang masih baru dalam melaksanakan sholat, ia begitu semangat memulainya. Rian masih membimbingnya dalam berwudhu, Rian juga yang menjadi imamnya ketika sholat.
"Cape yah?" tanya Wildan pada Gita.
"Gue laper, jadinya lemes," jawab Gita dengan lesu.
Wildan langsung berjongkok untuk menggendong Gita, tanpa diperintah Gita naik keatas punggungnya.
"Naik, Com."
Getta pun berjongkok untuk menggendong Oncom. Dengan semangat pula Oncom naik keatas punggungnya.
Mereka kembali meneruskan perjalanan dengan sedikit cepat untuk menuju parkiran. Cacing dalam perut sudah semakin mengamuk meminta diisi.
"Cari tempat makan yang deket aja ya. Gue takut usus gue robek diamuk cacing-cacing diperut," kata Oncom dengan menyandarkan kepalanya di bahu Getta.
"Makanan Sunda mau gak?" tanya Rian.
"Gue orang Sunda, Bege! Ngapain lu tanya. Kecuali lu nawarin makanan Eropa," jawab Oncom dengan berdecak kesal, pertanyaan sia-sia menurut Oncom.
"Dia kalo laper galak ya, kalo kenyang malah jadi kayak orang b**o," balas Hendrik yang membuat mereka tertawa.
Sesampainya di parkiran mereka langsung masuk, kali ini Rian yang mengambil alih kemudi, karena Rian yang hafal akan daerah tersebut. Sesuai perkataan Getta sebelumnya, mereka mampir terlebih dahulu ke toko Tante Rian untuk mengganti baju Gita dan Oncom. Sebelum kedua gadisnya kembali protes.
Setelah berganti baju dengan singkat mereka kembali masuk mobil untuk menuju rumah makan. Kebetulan tante Rian sedang keluar, jadi mereka tidak perlu basa-basi terlebih dahulu.
Rian kembali menjalankan mobilnya untuk menuju rumah makan khas Sunda. Hanya memerlukan waktu kurang dari lima menit untuk sampai di sana, Rian sudah membelokkan setir mobil kedalam parkiran rumah makan.
Mereka turun dengan semangat, mereka disambut dengan ramah oleh pramusaji, dan juga ditunjukkan pada tempat duduk berbentuk gazebo yang berada di atas kolam ikan Mas dan Gurame. Di sana juga disiapkan makanan ikan yang bisa diberikan oleh pengunjung sambil menunggu makanan datang.
Dua ekor Ikan gurame goreng besar dengan bumbu saus nanas dengan rasa asam, manis dan sedikit pedas, cumi saus padang, tempe tahu goreng, ayam goreng krispi, tumis pakis, sambel, tumis kangkung, tidak lupa nasi satu bakul sedang sudah memenuhi meja. Untuk minuman sendiri mereka lebih memilih teh hangat yang di dalamnya terdapat irisan lemon segar, untuk mengurangi sedikit rasa dingin pada tubuh, tetapi tetap tidak melupakan air putih dalam botol.
Terlebih Gita yang bahkan tangan dan pipinya sangat dingin. Getta tidak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Gita untuk memberikan sedikit rasa hangat.
"Gue suapin aja yah," kata Getta yang tidak mau tangan Gita kotor dan harus kembali mencuci tangannya.
"Gak mau," tolak Gita yang langsung mencuci tangannya di air kobokan yang telah diberi irisan jeruk limau.
"Pimpin doa," perintah Gita pada Getta.
"Belom khatam," tolak Getta dengan alasannya.
"Belajar Coy!" kata Oncom.
"Berdoa masing-masing aja," pinta Getta.
Mereka akhirnya berdoa masing-masing dengan kepercayaan masing-masing pula, karena biasanya sebelum makan mereka berdoa dengan di pimpin oleh Rian. Oncom mulai mengisi nasi setiap orang, seperti seorang ibu yang sedang membagikan makanan pada anak-anaknya, karena Gita beserta para Anak Onta nya menyodorkan piring mereka masing-masing.
Sedangkan untuk lauknya mereka mengambil sesuai keinginan masing-masing. Wildan memotong bagian tengah ikan gurame, lalu memisahkan antara daging dan tulangnya, setelah itu memberikannya pada Gita, yang diterima dengan senyum manis oleh Gita. Wildan juga menyendokkan cumi saus Padang untuk memenuhi piring Gita.
"Makan ikannya yang banyak kalo nasinya cuma dikit," perintah Wildan pada Gita, karena di piringnya hanya setengah centong nasi.
"Siap, Bos!" jawab Gita dengan sikap hormat.
"Mau ini gak?" tanya Kenn yang sedang mengambil tumis pakis.
"Gak mau, belom pernah nyoba, mau kangkung aja."
Gita memang belum pernah mencoba sayur yang bernama pakis itu. Gita takut jika lidahnya tidak menerima, jadi lebih baik memakan tumis kangkung yang sudah jelas rasanya enak untuk lidah Gita.
Kenn menyendokkan tumis kangkung untuk Gita, mereka melanjutkan makan dengan nikmat yang diiringi obrolan santai. Mereka akan kembali ke Jakarta setelah sholat magrib, tidak bisa menginap karena besok Gita dan Oncom harus bekerja.
Setelah makan dan beristirahat yang dilanjutkan dengan sholat magrib, mereka bersiap untuk pulang setelah sebelumnya membeli Peuyeum yang katanya khas Bandung. Sedangkan ditempat Gita dan Oncom disebut dengan nama Tape singkong.
Menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam, Rian membelokkan setir untuk masuk ke dalam parkiran hotel. Turun satu persatu dan berjalan secara bersisian untuk menuju kontrakan Gita.
Godaan dari para pemuda yang sedang berkumpul ketika mereka lewat tidak mereka hiraukan. Terserah mereka menganggap sombong ataupun semacamnya, mereka tidak takut jika nantinya dihadang atau apapun itu. Sangat mudah bagi mereka untuk memberikan pelajaran bagi para pemuda itu, jika sampai para pemuda itu menganggu kenyamanan mereka.
"Kita pulang dulu ya, ini buat keluarga Teh Yola."
Rian menyerahkan sekeranjang Peyeum Bandung sebagai oleh-oleh untuk Yola dan keluarganya. Yola dan keluarganya sedang pergi, sehingga mereka hanya pamit pada Gita. Seperti biasa Oncom akan menginap di kontrakannya.
"Hati-hati ya, makasih buat oleh-olehnya."
"Sama-sama, tidur jangan bergadang lu berdua. Assalamualaikum," pamit Getta setelah mengacak rambut Oncom.
"Deh! Si Pea! Waalaikumsalam," jawab Oncom dengan kesal.
Gita dan Oncom masuk setelah Anak Onta nya hilang ditikungan, mereka tidak akan mandi dan lebih memilih langsung tidur. Padahal mereka hanya duduk diam di dalam mobil, tapi badannya terasa lelah. Gita dan Oncom meminum jamu sachetan yang diberikan oleh Hendrik, untuk menghilangkan rasa lelah pada tubuh dan meningkatkan stamina mereka esok hari.
***
Para Anak Onta seperti tidak memiliki rasa lelah dalam tubuhnya, karena setelah mengantarkan Gita mereka pergi menuju rumah Setyo. Kali ini Kenn yang memegang kendali setir, sepanjang perjalanan mereka berdiskusi.
Andra sempat menelpon, tapi hanya sebentar. Karena Andra masih harus banyak beristirahat agar kondisinya cepat pulih. Perkembangan kesehatannya cukup baik karena Andra mengikuti semua arahan dokter walaupun dengan banyaknya protes.
Andra tidak menanyakan apapun selain tentang Gita, dan berpesan banyak hal pada para Onta lainnya untuk selalu mengawasi Gita. Andra hanya takut ayahnya melakukan sesuatu hal pada Gita, walaupun ia yakin itu tidak akan terjadi jika dirinya menurut.
Maka dari itu Andra berusaha sebaik mungkin untuk mempelajari semua tentang perusahaan. Bukan untuk menjadi seorang pemimpin yang sebenarnya, tapi lebih pada agar ia bisa segera pulang ke tanah air untuk menemui gadis pujaannya, yang selama tiga tahun terakhir menjadi penyemangat dalam hidupnya.
Kenn membelokkan setir menuju gerbang rumah Setyo, memencet klakson dua kali agar Setyo membukakan gerbang. Seorang wanita paruh baya membukakan gerbang dan menutupnya kembali setelah mobil Kenn masuk.
Mereka bergantian untuk bersalaman dengan menempelkan punggung tangan pembantu Setyo pada kening, sikap sopan santun yang membuat mereka semakin sempurna dimata orang lain. Karena mereka tidak pernah membedakan kasta antar sesama. Buktinya dengan pembantu pun mereka tetap hormat, hal yang selalu mengharukan bagi Sajem, pembantu Setyo.
Masuk kedalam secara bersamaan, di ruang tamu sudah ada Setyo yang menunggu kedatangan mereka dengan ditemani laptop dan juga kertas.
"Malam, Om." Kompak mereka menyapa.
"Malam juga, kalian dari mana sih? Kenapa gak dari siang coba nemuin Om nya?" tanya Setyo penasaran.
Karena sebenarnya ia sudah ingin beristirahat. Namun keponakan sekaligus kliennya ini malah ingin bertemu. Padahal tadi siang kerjaannya tidak terlalu banyak.
"Abis jalan-jalan, Mangkanya baru bisa kesini," jawab Kenn santai.
"Jalan-jalan mulu kerjanya. Kapan kamu mulai belajar ngurus perusahaan?" tanya Setyo heran.
"Kapan-kapan kalo udah siap," jawab mereka kompak dengan cengiran nya.
Setyo mendengus kesal mendengar jawaban santai para Anak Onta. Pantas saja Adi Putra menahan Andra bahkan sampai mengancamnya, karena mereka terlalu santai dan tidak mau belajar cara mengurus perusahaan.
Seharusnya sedikit demi sedikit mereka sudah harus tau bagaimana profil perusahaan keluarganya, apalagi Andra yang merupakan ahli waris satu-satunya dari Angkasa Group. Karena untuk Putri sendiri sudah menjadi ahli waris dari Sareeta cosmetics, salah satu brand paling terkemuka di dunia selama lima tahun terakhir.
"Gimana Ayah kalian gak marah coba kalo masih kayak gini aja kelakuannya. Eamang kalian gak kasian sama orangtua kalian yang udah tua? Mereka udah saatnya pensiun loh"
"Kuliah aja belom lulus, Om. Ya kali kudu belajar tentang saham. Males banget nambah-nambahin pikiran otak aja," jawab Wildan santai.
"Terus aja gitu, bentar lagi juga dapet SP kayak si Andra," balas Setyo menakuti mereka yang ternyata tidak berhasil.
Rian dan Hendrik hanya diam, karena mereka berdua memang tidak dituntut untuk itu. Apalagi untuk Hendrik yang hanya diminta untuk fokus pada pendidikannya saja, agar segera menjadi dokter. Pun Rian yang ingin menjadi seorang arsitek, sehingga mereka tidak pernah mendapatkan ancaman ataupun ceramah tentang urusan pekerjaan. Salah satu hal yang Hendrik dan Rian syukuri dalam hidup mereka, karena mereka tidak ada dalam tekanan keluarga.
Apalagi Hendrik yang ayahnya hanya seorang manager di anak cabang Angkasa. Jadi mereka berdua bisa santai dalam menjalani hidup. Tidak seperti keempat Anak Onta lainnya, yang selalu ditanya -kapan kalian atau kamu belajar mengurus perusahaan?- pertanyaan yang membosankan dan tidak bermutu bagi mereka semua.
"Berarti ya nungguin SP-nya dulu baru mulai belajar," jawab Kenn membuat mereka dengan kompak mengatakan kata -setuju. "Terus gimana buat lusa, Om?" tanya Kenn pada perkembangan kasus Sheryl.
"Semuanya aman, bukti kita udah cukup kuat dan dia gak bisa menyangkal," jawab Setyo mengeluarkan semua catatan yang akan menjadi bukti di persidangan nanti.
"Hukumannya berapa lama?" tanya Rian.
"Menurut Pasal 353 KUHP mengenai penganiyaan berencana merumuskan sebagai berikut : A. Penganiayaan dengan berencana lebih dulu, di pidana dengan pidana penjara paling lama empat tahun. B. Jika perbutan itu menimbulkan luka-luka berat, yang bersalah di pidana dengan pidana penjara palang lama tujuh tahun. Nah, karena ini menimbulkan luka berat, mangkanya tersangka dijerat pasal penganiayaan berat berencana." Setyo menjelaskan pasar yang menjerat Sheryl.
"Harusnya tuh masuk dalam pembunuhan berencana, Om. Enak amat cuma tujuh tahun doang. Harusnya lebih lama itu," gerutu Wildan yang tidak terima.
Karena menurutnya hukuman itu terlalu ringan jika dibandingkan dengan kerugian yang mereka alami. Karena mereka semua yang harus menanggung akibat dari perbuatan Sheryl. Mereka kehilangan waktu bersama, terutama Andra yang bahkan harus berpisah dari mereka semua. Begitupun dengan Getta selanjutnya yang harus segera menyusul Andra. Karena Getta diibaratkan bebas bersyarat oleh Adiputra.
"Itu pasal yang udah diatur sama pemerintah, Will. Sehari dipenjara aja rasanya kayak setahun, apalagi sampe tujuh tahun coba? Bayangin aja sama kalian. Jadi Om rasa hukuman itu udah cukup buat dia menyadari semua kesalahannya," Setyo mencoba untuk membuka pikiran mereka.
"Tapi pasti ya dia dapet hukuman segitu?" tanya Getta memastikan.
"Om gak bisa mastiin, cuma kita berusaha aja," jawab Setyo tidak mau berjanji.
Mereka melanjutkan obrolan dengan ditemani teh hangat dan beberapa camilan. Membahas terus hingga jam menunjukan pukul sebelas malam. Sidang akan diadakan dua hari lagi, dan mereka harus menyiapkan energi untuk itu.
Apalagi untuk Wildan dan Getta yang rasa-rasanya ingin sekali menonjok wajah Sheryl. Sedangkan Rian tidak akan ikut dipersidangan nanti, bukan karena ia tidak tega, tapi lebih karena tidak mau membuat Sheryl menyalahkannya untuk semua perbuatan yang ia lakukan.
Bukan bermaksud terlalu percaya diri, tapi memang benar kan jika Sheryl melakukan itu semua karena cemburu pada sikapnya pada Gita, juga dengan keputusannya yang mengakhiri hubungan mereka berdua, yang semua itu terjadi karena Gita menurut Sheryl.