Hari ini adalah jadwal persidangan untuk Sheryl digelar. Menggunakan kemeja putih dengan celana bahan berwarna hitam, rambutnya dikuncir menyerupai ekor kuda. Tidak ada lagi kesan cantik pada dirinya. Kulit yang biasa mendapatkan perawatan satu minggu sekali kini terasa kusam dan kasar, pun dengan rambut yang biasanya berkilau kini lusuh dan lepek.
Baru dua belas hari lamanya Sheryl berada di balik jeruji besi penampilannya sudah seperti itu. Bagaimana jika ia sampai harus berada di sana dalam waktu yang lama, sungguh Sheryl tidak bisa membayangkan itu.
Mata Sheryl menyusuri seluruh isi ruangan, berharap kedua temannya hadir menemaninya. Namun nihil, mereka tidak ada dan mungkin benar-benar telah melupakannya. Bahkan ayahnya sendiri pun tidak ada untuk memberikan dukungan padanya.
Di belakang kursi terdakwa bagian kiri hanya ada ibu tiri yang menatapnya dengan penuh kesedihan. Hatinya masih begitu keras dengan yakin mengatakan bahwa itu hanya sebuah formalitas dan aktingnya saja. Sheryl tidak butuh wanita itu, yang Sheryl butuh Mamih nya, karena ayahnya sudah jelas tidak mau mendukungnya lagi.
Di kursi sebelah kanan ada Kenn, Getta, Wildan dan Hendrik. Entah di mana Rian, mengapa ia tidak hadir, pertanyaan Sheryl dalam hati. Hatinya masih yakin bahwa Rian tidak tega dan merasa bersalah melihatnya menderita, sehingga ia tidak mau menampakkan wajahnya. Karena Sheryl memang berencana akan menyalahkan Rian atas semua rencana yang dilakukannya, jika sampai ia benar-benar harus mengakui semuanya.
Sheryl duduk di kursi terdakwa dengan tatapan lurus ke depan. Hakim masih memeriksa berkas tuntutan yang baru saja diberikan oleh jaksa penuntut umum. Sheryl berusaha tenang dalam diamnya, mensugesti pikirannya sendiri, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sheryl tidak mau lagi memohon pada Anak Onta yang kini tengah menatapnya dengan senyuman miring. Senyum yang meledek dan sangat melukai hatinya.
"Bisa kita mulai persidangannya?" tanya sang Hakim pada semua orang yang berada di ruangan itu.
"Bisa!" kompak mereka semua menjawabnya.
Hakim mulai bertanya tentang kondisi kesehatan dan identitas Sheryl sebelum memulai sidang, setelah Sheryl menjawab hakim kembali berbicara.
"Dengan ini persidangan kasus penganiayaan berencana, dengan terdakwa Sheryl Sheinafia resmi dibuka." Hakim mengetuk palu dua kali, menandakan jika sudah sudah bisa dimulai.
Sidang dimulai dengan jaksa penuntut umum yang membacakan dakwaan pada Sheryl. Dilanjutkan dengan sesi dialog atau tanya jawab antara Setyo sebagai pengacara Kenn, orang yang menuntut dan dijawab dengan lambat oleh Sheryl, sehingga membuat hakim berkali-kali menegurnya.
Budi tidak banyak membantu, karena memang semuanya sudah jelas mengarah pada Sheryl. Budi hanya sesekali mengintruksikan jika kliennya keberatan dengan bukti yang ada, yang masih bisa sedikit disangkal oleh Sheryl. Salah satunya yang mengatakan bahwa Sheryl melakukan itu untuk membunuh Gita.
Sheryl mengatakan hanya ingin mencelakai Gita untuk memberi nya pelajaran, yang sayangnya justru mengenai Andra. Budi juga sempat mempertanyakan keberadaan Gita yang seharusnya menjadi saksi, karena untuk Andra sendiri sudah jelas tidak bisa hadir.
Setyo menjawab Gita tidak dilibatkan dalam kasus tersebut karena masalah psikisnya, karena video keterangan Gita dari pihak kepolisian saja sudah cukup. Setyo juga melampirkan rekaman CCTV di lokasi kejadian, mendatangkan orang yang pertama kali menolong Andra dan Gita pada saat kecelakaan. Setyo juga mendatangkan orang yang menghubungkan Sheryl dengan Alex sebagai saksi.
Sheryl hanya bisa menunduk dalam tangisnya yang terisak-isak, ketika hakim memutuskan hukuman untuknya. Tujuh tahun penjara, karena korbannya mendapatkan luka yang berat. Karena Setyo melampirkan hasil rekam medis Andra dari Singapura.
"Sabar, Sayang. Sabar," ucap Widia mencoba menenangkan Sheryl yang masih duduk terisak pelan.
Sheryl tidak menolak maupun menerima pelukannya. Sheryl masih shock dengan keputusan yang diberikan oleh hakim. Lidahnya belum mampu mengucapkan sepatah katapun, tubuhnya terasa mati rasa, otaknya tidak mampu berpikir. Sheryl masih berharap ini semua hanyalah mimpi, ia minta tolong untuk segera dibangunkan.
"Tolong," lirihnya pelan dalam isakan.
Widia berkali-kali mengecup puncak kepalanya, air matanya tak kalah deras menetes, hatinya sakit harus melihat putri yang belum menganggapnya sebagai ibu kini harus menderita dalam waktu yang lama.
"Lepaskan," ucap Sheryl yang baru bisa mengendalikan dirinya.
Menyadari siapa orang yang sedang memeluknya, salah satu wanita yang dibencinya membuat Sheryl merasa jijik.
"Mamah janji bakal jenguk Sye-sye setiap hari," kata Widia yang baru berani menyebutkan nama panggilan Sheryl kecil sebelum dirinya pergi dahulu.
Sheryl terdiam mendengar panggilan yang terasa tidak asing baginya, Sheryl menatap Widia dengan tatapan kosong. Widia yang mengetahui bahwa Sheryl tidak mengingat panggilan kecilnya semakin deras meneteskan air matanya.
Salahnya dulu terlalu mempercayai Kakak perempuannya yang ternyata mencintai suaminya. Akibat didikan yang tidak benar membuat Sheryl menjadi anak yang angkuh dan arogan, sehingga terjadilah hal seperti ini.
"Kamu panggil apa tadi?" tanya Sheryl pada akhirnya.
"Sye-Sye," jawab Widia dengan senyum kecil.
Widia menggigit bibir bawahnya yang bergetar, Widia yakin sedikitnya Sheryl mengingat kepingin masa kecilnya.
Umur delapan tahun Sheryl mengalami kecelakaan yang membuatnya melupakan masa kecilnya. Sehingga Sheryl tidak pernah mengetahui siapa Widia sebenarnya. Karena Widia dibawa pergi dan diasingkan oleh kakak kandungnya sendiri demi mendapatkan Jafran. Maka dari itu, yang Sheryl tahu Maminya adalah ibu kandungnya.
"Menjijikkan," balas Sheryl sambil bangun dari duduknya.
Semua sudah terjadi, Sheryl tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihannya. Sheryl akan membuktikan pada mereka semua bahwa dirinya tidak menyesal telah melakukan semua itu.
"Jika Anda memang benar menyayangi saya dengan tulus, apakah Anda mau menggantikan posisi saya?" tanya Sheryl dengan tersenyum miring.
"Mamah mau, Nak. Mamah rela," jawab Widia dengan semangat.
Dua orang polisi menghampiri nya dan memborgol kedua tangan Sheryl, membuat Widia panik dan langsung berlari keluar untuk menyusul para Anak Onta.
"Tuan, Kenn."
Widia memanggil Kenn, karena yang Widia tahu Kenn lah yang menuntut Sheryl. Semua Anak Onta berbalik, dan begitu kaget melihat Widia yang berlutut di hadapan Kenn. Widia tidak memohon untuk membebaskan Sheryl, tapi Widia memohon agar ia yang menggantikan posisi Sheryl.
Sheryl yang melihat itu begitu terharu dan tidak bisa membendung air matanya. Sheryl tidak menyangka bahwa ibu tiri yang selama ini ia benci rela mengorbankan harga dirinya dengan berlutut pada Kenn untuk dirinya.
"Tolong biarkan saya yang menggantikan posisi anak saya, Tuan."
Kenn menghampiri Widia dan berkata tegas meminta Widia bangun.
"Bangun, Tante. Kenn tidak bisa berbuat apa-apa. Semua keputusan sudah ditentukan oleh hakim. Maafkan Kenn, Kenn tidak bisa mengabulkan permintaan, Tante. Karena Kenn hanya menjalankan tugas yang diberikan Ayah Adi untuk kasus kecelakaan Andra, yang disebabkan oleh Anak Tante. Kenn tau Tante sayang sama dia, tapi Tante juga harus bisa berpikir rasional, anak Tante melakukan tindakan kejahatan. Hukuman dibuat untuk memberikan efek jera terhadap pelaku, karena jika tidak dihukum, tidak menutup kemungkinan pelaku akan kembali merencanakan kejahatan lainnya. Karena ia berpikir tidak ada yang memprosesnya. Jadi sekali lagi Kenn minta maaf," tutur Kenn panjang lebar mencoba memberikan pengertian pada Widia.
Kenn tahu ibu tiri dari Sheryl itu sangat menyayangi Sheryl, Kenn bisa melihat dari matanya. Padahal ia hanya seorang ibu tiri yang tidak pernah dianggap oleh Sheryl. Tapi Widia bahkan rela menggantikan posisinya, hal yang aneh menurut Kenn yang tidak mengetahui yang sebenarnya.
"Saya mohon, Tuan."
Widia tetap memohon, karena sungguh ia tidak tega harus melihat putrinya menderita.
Jafran yang baru datang langsung menghampiri istrinya yang sedang berlutut dengan menundukkan kepala, air matanya menetes membasahi lantai. Jafran sungguh tidak terima akan hal itu. Harga dirinya terhina oleh anak kecil seperti Kenn.
"Mamah!" panggil Jafran dengan sedikit berlari. "Apa yang kamu lakukan, mengapa harus berlutut didepan mereka?" tanya Jafran dengan menarik pelan Widia untuk bangun.
"Aku ingin menggantikan Sye-sye, Pah. Tolong, aku gak bisa liat anak kita harus menderita seperti ini," jawab Widia dengan isak tangisnya.
"Kalian benar-benar tidak mempunyai rasa hormat, sombong dan angkuh! Membiarkan seorang ibu berlutut memohon pada kalian. Tidakkah kalian berpikir jika itu ibu kalian?" tanya Jafran dingin.
"Kami tidak meminta Tante Widia untuk melakukan hal itu. Kami juga bisa pastikan hal itu tidak akan terjadi, karena kami menyayangi Ibu kami." Getta membalas perkataan Jafran lebih dingin lagi.
Tanpa mendengarkan balasan dari Jafran yang akan menyulut emosi, para Anak Onta lebih memilih meninggalkan mereka. Membiarkan Sheryl dipenuhi rasa penyesalannya. Tugas mereka selesai, kini mereka hanya tinggal memikirkan bagaimana cara agar mereka bisa kembali seperti dulu. Hidup tenang damai dan bahagia bersama Gita, Oncom dan Enam Anak Onta.
Jafran dan Widia menghampiri Sheryl yang saat ini sedang menunduk untuk menyembunyikan wajahnya, mungkin karena rasa malunya yang selama ini selalu menganggap Widia berakting akan kasih sayangnya. Mereka berpelukan dengan diiringi tangis yang memilukan.
"Maafin Sheryl."
Dengan suara yang bergetar Sheryl meminta maaf entah pada siapa. Widia begitu sakit mendengar permintaan maaf Sheryl. Jika diberi pilihan, Widia lebih baik memilih Sheryl bersikap tidak sopan padanya, asalkan ia tetap bebas di dunianya. Daripada Sheryl menyesal dalam keadaan terpuruk seperti ini. Hatinya sungguh tidak rela, anak yang selama sembilan bulan ia kandung dengan penuh perjuangan, juga yang baru ia lihat wajahnya selama satu tahun terakhir itu harus menderita di balik jeruji besi.
Hidup Sheryl sudah menderita dari dalam kandungan, daan saat ia remaja, Sheryl harus kembali menderita. Sungguh Widia tidak bisa menerima itu semua.
***
Dua minggu pasca putusan sidang Sheryl, kini lima Anak Onta, Gita dan Oncom kembali berkumpul di tempat biasa mereka. Kali ini Gita membawa kabar buruk untuk para Anak Onta nya.
Wildan dan Hendrik yang menjemput Gita dan Oncom. Mereka membawa motor untuk kali ini, karena sedang ada perbaikan jalan, jadi jalanan selalu macet. Membawa motor adalah kendaraan paling pas untuk saat ini.
Seperti biasa Gita akan protes pada Wildan karena membawa motor Ninja. Gita tidak menyukai motor gede seperti itu, karena menurutnya susah ketika naik untuk dirinya yang mempunyai ukuran tubuh yang minimalis. Juga duduk yang harus sedikit menungging untuk berpegangan.
Jangan lupakan pula jika tiba-tiba hujan turun, tentu saja baju bagian belakangnya akan kotor terkena cipratan air dari ban yang tidak memiliki tutup sebagai penghalang, sungguh Gita tidak menyukai hal itu.
Berbeda dengan Oncom yang justru bersemangat, postur tubuh yang mendukung membuat Oncom sering belajar mengendarai motor yang disebut Moge itu. Membuat Gita terkadang mendengus kesal karena kakinya yang tidak sampai jika ingin belajar mengendarainya.
Kali ini pun Oncom yang membonceng Hendrik, dari mulai kontrakannya sampai pada Kontrakan Gita. Karena untuk dijalan raya Anak Onta belum mengizinkannya, takut jika Oncom belum bisa mengimbanginya.
"Edas! Oncom keren euy!" seru Yola ketika Oncom memarkirkan Moge milik Hendrik didepan konternya.
Sama seperti Oncom, Yola pun sangat menyukai motor Gede itu, Yola bahkan berniat untuk membelinya tahun depan jika tidak ada halangan. Pernah Andra menawarkan motornya untuk dipakai Yola, tapi ditolak olehnya. Yola tidak mau dibilang memanfaatkan orang lain. Pun untuk menjaga perasaan suaminya, karena bagaimanapun harga diri seorang laki-laki akan hancur jika sampai istrinya menerima pemberian dari orang lain, yang belum mampu dikabulkan olehnya.
"Atuh! Siapa dulu, Oncom gitu loh," balas Oncom dengan bangga, membuat mereka tertawa.
"Ayo berangkat," ajak Wildan pada Gita. "Jangan cemberut dong, entar gue beliin eskrim," bujuknya yang melihat Gita tidak bersemangat.
Gita naik pada bangku plastik terlebih dahulu sebelum menaiki motor Wildan, hal itu untuk memudahkan nya, yang justru mendapatkan protes dari Yola karena bangkunya kotor.
"Si Pea! Kotor eta bangku aing," kata Yola sambil membersihkan bangkunya.
"Hetik doang," jawab Gita santai.
"Berangkat Teh," pamit Wildan setelah menyalakan mesin motornya.
"Berangkat Bu Mandor," pamit Oncom dengan gayanya.
"Hati-hati," pesan Yola.
Wildan dengan sengaja memainkan gas motornya, hal itu iya lakukan untuk menjahili Gita, karena Gita tidak mau berpegangan. Sekalinya berpegangan Gita memegang pundak Wildan, hal yang membuat Wildan mendengus tidak suka.
"Gue bukan tukang ojek, Kak." kata Wildan menurunkan tangan Gita untuk memeluk pinggangnya. "Astaga, kaga ada empuk-empuknya," sambungnya dengan tertawa begitu d**a Gita membentur punggungnya.
"Si b**o!" Gita menoyor kepala Wildan karena omongannya.
"Lagian punya badan kayak triplek. Bahkan yang harusnya menonjol aja malah rata begitu," balas Wildan dengan sompralnya.
"Rataan siapa gue sama si Oncom?"
"Si Oncom mah emang bukan cewek, jadi wajar kalo gak ada juga."
"Emang lu udah pernah periksa?"
"Gak juga sih. Cuma gue 'kan bisa nerawang." Wildan tertawa lagi dengan perkataan konyolnya.
"Wah! Gue curiga sama, Lu. Jangan-jangan kemaren lu ngintip ya waktu kita di Cibodas?" tuduh Gita.
"Enak aja! Tidak bermoral sekali gue seolah-olah," jawab Wildan.
Mereka sampai di tempat yang biasa, Kenn, Getta dan Rian sudah berada ditempat dengan ditemani minuman soda nya. Pembahasan tentang kelanjutan pendidikan mereka harus berhenti ketika mereka mulai melihat yang lain sudah datang. Mereka tidak pernah menyangka bahwa malam itu adalah malam terakhir mereka berkumpul ditempat itu.