"Kau akan tetap menikahinya?"
Ara terdiam memandang tatapan Alex yang dingin sarat kemarahan. Kehangatan yang biasa menyelimuti sepasang mata cokelat indah itu kini sudah tidak ada lagi. Alex, mantan kekasih Ara yang sebenarnya masih ia cintai, namun harus ia putuskan karena akan menikah dengan orang lain.
"Ya," sahut Ara dengan suara tercekat. Berusaha keras menahan tangisnya yang hampir pecah.
"Kau tidak serius, kan?" Kemarahan dalam mata Alex meredup berganti kepedihan.
Ara bergeming. Yakin jika memaksakan diri untuk mengucapkan sepatah kata lagi sekali pun, ia tidak akan bisa menahan diri. Mengabaikan kenyataan betapa ia ingin memeluk Alex dan mengusap kepedihan dari raut wajahnya, Ara berpaling membuang muka dari Alex. Meski sulit, ia tahu ia harus melupakan laki-laki yang dicintainya itu.
"Aku tidak mengerti," ucap Alex dengan suara serak. "Aku bahkan tidak membuat kesalahan apa pun."
Ara sadar betapa pedihnya kata-kata Alex membuat relung hatinya serasa disayat. Tapi sekali lagi, ia menguatkan diri. Kedua tangannya mengepal erat sampai buku-buku tangannya memutih. Mengabaikan rasa sakit yang menjalar di kulit karena tusukan kuku-kuku jarinya.
"Ini tidak adil untukku, Ra."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Alex memanggil Ara dengan nama aslinya. Hal itu membuat Ara tersentak dan tanpa sadar menoleh sehingga kini mereka saling bertatapan. Detik itu juga Ara tahu, ia akan sangat merindukan suara Alex yang memanggil dirinya dengan panggilan sayang. Yang mulai saat ini, tak akan pernah bisa ia dengar lagi.
"Kenapa kau diam? Kenapa kau tidak mencoba menjelaskan yang sebenarnya?"
Bulir air mata Ara mulai berjatuhan tepat saat dilihatnya mata Alex mulai berkaca-kaca.
"Jika kau ingin menyakitiku, jika kau ingin menghancurkan hatiku, maka sekalian saja," setetes air mata Alex jatuh melintasi pipinya yang halus bak pualam. "Katakan betapa kau mencintai tua bangka b******k itu. Katakan betapa kau memang sangat ingin menikahinya."
Ara mulai sesenggukan tanpa bisa ia tahan. Melewati dua tahun bersama-sama, membuat Alex memahami banyak hal tentang dirinya. Termasuk satu kenyataan bahwa Ara tidak pernah bisa berbohong padanya.
Alex tersenyum nanar. "Aku tahu kau berbohong, kau masih mencintaiku."
Jika ditanya apa hal yang paling ia inginkan untuk dilakukan saat ini. Maka Ara akan menjawab, ia ingin mengiyakan pernyataan Alex itu. Ara tahu benar dirinya masih sangat mencintai Alex.
"Aku," Ara memaksakan diri untuk bicara. "Aku tidak mencintaimu lagi."
Dengan jelas Ara dapat melihat keterkejutan dalam sepasang mata cokelat Alex. Dan hal itu sungguh-sungguh menorehkan luka yang besar dalam hatinya.
"Aku akan menikah dengan seseorang yang aku cintai. Aku muak terus berpura-pura menyukaimu!"
Alex seolah terpaku pada lantai yang dipijaknya.
"Jadi, jangan ganggu aku lagi. Menyingkirlah dari hidupku."
"Kau bohong!" Alex berkata tajam walau jelas hatinya juga tercabik-cabik. "Kau menikah karena paksaan dari pamanmu. Kau tidak mencintai laki-laki itu, Ra. Kumohon, ikutlah denganku, kita bisa memulai hidup di tempat yang jauh. Lupakan pamanmu, jangan karena kau berhutang padanya lantas dia bisa seenaknya merenggut hidupmu! Kumohon..." Suara Alex melemah di akhir kalimat. Permohonan tulus itu bukan yang pertama kalinya ia sampaikan.
Semua yang dikatakan Alex memang benar adanya. Sejak kecil, Ara sudah tidak memiliki orang tua. Ia diasuh oleh sang paman dan hal itu membuat ia berhutang padanya. Melebihi uang dan materi. Dan kini sang paman ingin ia menikahi salah satu temannya yang kaya. Ara bisa saja menolak dan dengan senang hati mengikuti permohonan Alex. Hanya saja, laki-laki yang akan menikahinya itu sudah membayar sejumlah uang besar pada sang paman. Dan sang paman mengatakan jika Ara tidak mau menikah dengannya, maka ia akan dibunuh. Tega kah Ara membiarkan seseorang yang sudah merawatnya sedari kecil mati di tangan orang lain?
"Alex," Ara bicara dengan suara dalam. Ia kini berhenti menangis. Mungkin juga hatinya mulai mati menerima semua kenyataan memuakkan ini. "Kumohon berhentilah."
Hening begitu panjang di antara mereka.
Ara diam mempertahankan raut wajahnya tanpa ekspresi. Sementara berbagai macam emosi melintas di wajah Alex yang rupawan. Hingga kemudian, kekecewaan yang berbalut kemarahan menjadi ekspresi yang terakhir Ara lihat darinya.
"Kau akan menyesal."
Ya. Ara tahu itu. Belum apa-apa ia sudah menyesal setengah mati karna harus meninggalkan Alex.
Kemudian tanpa berkata apa pun lagi. Alex berbalik pergi.
Ara kehilangan kekuatan untuk berpijak. Tubuhnya merosot tanpa tenaga ke lantai dan tangisnya pecah kembali. Berharap, dengan sangat, ia bisa keluar dari kenyataan yang menimpanya saat ini dan bisa hidup bahagia bersama Alex.
Sebagai satu-satunya kebahagian yang ia miliki selama dua tahun terakhir, Ara hanya bisa melihatnya menjauh pergi.
* * *
"Tersenyum, Ra," ucap sang paman mengingatkan. "Sudah berapa kali kuingatkan kau untuk tersenyum?"
Ara bergeming dan menarik sudut-sudut bibirnya hingga membentuk seulas senyum yang dipaksakan. Tanpa mengalihkan pandangan sedetik pun dari luar jendela.
Hari ini, ia akan bertemu dengan Gilbert, calon suaminya. Dan kini mereka berada di sebuah restoran mahal yang sudah dipesan oleh laki-laki itu.
Ini adalah kali kedua Ara bertemu dengan Gil, begitu sang paman memanggilnya. Kali pertama, Ara mendapat kesan Gil adalah laki-laki dingin dan tak berperasaan. Tubuhnya besar dan jangkung. Sorot mata gelapnya tajam mengintimidasi. Membuat Ara tak nyaman menatapnya berlama-lama. Kali ini, Ara hanya berharap ia bisa lebih terbiasa dengan aura mengintimadasi dari laki-laki itu.
"Ah, itu mereka, tersenyumlah, Ra!" Ujar sang paman antusias.
"Mereka?" Ara menoleh kaget, tepat saat melihat dua laki-laki jangkung yang berjalan ke arah mereka, saat itu juga, Ara merasa seperti disambar petir.
Laki-laki yang bersama Gil saat itu adalah Rui Inoue, salah satu temannya semasa SMA. Baru dua tahun berlalu sejak kelulusan, mana bisa Ara melupakan kesan mengintimidasi yang sama darinya?
Sesaat Ara menyadari satu fakta ini. Rui bukan tipe orang yang banyak bicara. Ia pendiam, selalu terlihat dingin dan sulit didekati. Bukankah hal itu sama persis seperti yang dirasakannya saat pertama kali melihat Gil? Jangan-jangan... Benarkah hubungan mereka...
"Oh, aku lupa memberitahumu. Gil datang bersama putra sulungnya, Rui. Dia seumuran denganmu."
Mata Ara membelalak tak percaya. Takdir macam apa yang ia terima saat ini? Menikah dengan ayah temannya sendiri? Demi Tuhan... Tidak adakah yang lebih buruk dari itu?
Bahkan sejauh yang Ara ingat selama tiga tahun mengenal Rui. Tidak pernah sekali pun ia melihat tatapan benci yang kentara sekali diperlihatkan oleh mata gelapnya. Seketika Ara mengerti. Rui benar-benar membenci dirinya.
Dulu, meski nyaris tak pernah bicara pada orang lain di kelas mereka. Setidaknya Rui tetap bersikap baik pada Ara. Namun semua kebaikan itu kini sirna dalam sekejap mata.
Ara menundukan pandangan sedih. Masih ada kah sisa harga dirinya untuk merasa malu? Sudah pasti Rui membenci dirinya, Ara bisa mengerti itu. Lagipula, siapa juga yang menginginkan orang tua yang seusia denganmu? Benar-benar sinting.
Kali ini. Ara sangat berharap bisa menghilang dari tempat itu. Duduk berhadapan dengan Rui membahas pernikahan antara Ara dan ayahnya adalah hal terakhir yang Ara inginkan. Ah tidak, Ara mengoreksi diri sendiri. Kalau bisa ia ingin sekalian saja menghilang dari muka bumi. Mungkin dalam kurun waktu, selamanya.
* * *
Ara tidak mengingat sebagian besar percakapan mereka sewaktu makan malam tadi. Ia sendiri tidak tahu perlukah ia bersyukur karna Gil masih belum membahas tentang penikahan. Namun di lain sisi, hal itu justru membuat Ara tidak tenang. Rasanya seperti dihadapkan pada mimpi buruk yang entah kapan akan datang.
Selain itu, kehadiran Rui di antara mereka juga membuat Ara tidak berani mendongak lagi. Ara merasa tidak memiliki harga diri lagi untuk sekedar bertukar sapa dengan temannya yang satu itu.
Ara termenung sejak semalam sampai nyaris tak bisa tidur. Ia juga tidak tahu dan seolah segalanya tidak nyata ketika tiba-tiba di pagi hari mendapat sebuah pesan dari nomor asing. Ternyata itu Rui, mengatakan cukup terbantu karna Ara belum mengganti nomor ponselnya sejak lulus. Ara sendiri heran, sejauh yang ia ingat, Rui tidak pernah bertukar pesan dengan siapa pun. Jadi jelas Ara bahkan tidak tahu Rui menyimpan nomor ponselnya dan dari mana mendapatkannya.
Masih dalam keadaan tak percaya dan seolah semua ini tak nyata. Ara menuruti permintaan Rui untuk bertemu. Ara benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya berharap bahwa semua ini tak nyata. Bahwa Rui bukanlah calon anak tirinya. Ara mengerang frustasi. Ingin menangis. Ia yakin ia bisa gila karna memikirkan hal ini.
Tidak. Tidak. Ia memang sudah gila. Mana mungkin ia bisa menikah denga ayah temannya sendiri? Alex benar! Seharusnya ia kabur bersamanya saja!
Tidak... Ara yang siap melangkahkan kaki untuk pergi langsung terhenti. Jika ia pergi, maka sang paman akan mati. Ara termenung. Kenapa segalanya begitu rumit?
Rui. Ara teringat. Apa dia tahu jika ayahnya mampu membunuh orang lain dengan mudahnya? Dan apakah dengan orang macam itu Ara harus menghabiskan seumur hidupnya?
Ara memeluk diri sendiri dengan kedua tangan. Sudahlah... Jangan dipkirkan dulu. Hiburnya pada diri sendiri. Lantas setelah itu memutuskan untuk menunggu Rui dengan sikap lebih tenang. Siapa tahu Rui justru membawa kabar baik di luar kebencian yang sempat ia tunjukkan kemarin.