Chapter 48

1216 Words
"Kenapa tak masuk?" Ara terlonjak kaget. Matanya yang melebar memandang sekeliling sampai menemukan Rui yang baru datang. Ia berhenti beberapa langkah dari Ara, dengan sebelah tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Ara mendesah tanpa sadar. Bahkan cara berjalannya tak berubah sejak dulu. Hal itu membuat Ara makin merasa bersalah. "Tidak," gumam Ara, yang ia sendiri tidak yakin cukup sebagai jawaban. Hening sesaat. Ara menunduk tanpa berani menatap langsung mata Rui. "Baiklah, karna kau tak ingin masuk," ujar Rui dingin, ia mengedikkan bahu ke arah kafe yang Ara punggungi. "Aku akan langsung ke intinya." Ara mengangguk samar. Rui memang mengajaknya bertemu di kafe ini. Tetapi Ara tidak berani masuk lebih dulu. Bahkan jika boleh jujur. Ara berharap tidak perlu lagi bertemu Rui. Apalagi hanya berdua saja seperti ini. "Apa yang membuatmu ingin menikahi Gil?" Pertanyaan Rui itu membuat Ara tersentak. Ia mendongak tepat pada mata gelap yang kini tidak memiliki kesan ramah sedikit pun. Alis Ara bertaut seolah kesakitan. Ini memang menyakitkan, bertemu dengan teman lamamu setelah sekian lama namun dalam keadaan macam ini jelas bukan sesuatu yang akan diharapkan siapa pun. Dan kenapa pula Rui memanggil sang ayah dengan nama aslinya? Setelah melihat mereka secara langsung, siapa yang bisa memberi anggapan mereka tidak sedarah? Secara utuh, Rui seolah diciptakan bagaikan duplikat Gil. Rui memiringkan kepala ke satu sisi, tanpa perlu beramah tamah sama sekali. Ia mengisyaratkan bahwa dirinya menunggu jawaban. Ara menikmati keheningan di antara mereka sekali lagi sebelum akhirnya mendesah muram. Ia tahu ini akan terjadi juga. Sayangnya, ia masih belum memikirkan jawaban yang bisa ia berikan untuk Rui. Dan tentunya ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. "Karena Gil kaya?" "Apa?" Ara bicara tanpa sadar. Setengah tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Rui menegakkan punggung. "Katakan saja berapa, aku akan memberimu sesuai yang kau minta dan pergilah." Ara terhenyak. "Apa maksudmu?" Rui mendengus tertawa. Menyembunyikan kilatan pedih dari matanya dan kembali membuat topeng dingin. "Aku datang hanya untuk memastikan, apakah benar calon pengantin Gil adalah orang yang kukenal. Karna aku melihat fotomu hari itu, makanya aku datang." Ara terdiam berusaha memahami apa arti dari topeng yang Rui tunjukkan. Kebanyakan ia terlihat dingin dan arogan. Namun Ara tidak bisa mengabaikan kepedihan yang sesekali melintas dalam mata gelap itu. Rui memang pintar menyembunyikan perasaannya di balik topeng dingin yang membalut wajah tampannya. Ara bahkan baru menyadari hal itu. Sesakit itu kah menerima kenyataan ini bagi Rui? Tapi bukan hanya Rui yang terluka di sini. Ia juga. "Kenapa?" Kini kepedihan itu terlihat jelas dalam sorot matanya. Lagi-lagi. Ara seolah meluapakan cara untuk bicara. "Ini bukan sesuatu yang bisa kubicarakan denganmu," kata Ara akhirnya setelah keheningan panjang. Raut wajah Rui kembali mengeras. "Kutanyakan sekali lagi. Berapa yang kau mau?" "Apa maksudmu?" Rui mendengus jengah. "Kau menikahi Gil karna kekayaannya, kan? Dan sekarang kuberi tahu kau aku juga kaya, aku bisa memberimu berapa pun yang kau mau asal kau batalkan pernikahanmu dengan Gil." Apa benar laki-laki ini adalah Rui yang ia kenal? Ara merasa sesuatu menusuk dadanya begitu dalam. Sakit sekali... "Aku tidak menikahi Gil karna dia kaya." "Kau tidak terlihat mencintainya," ujar Rui langsung. Benar. Ara tidak menyangka kata-kata itu juga mampu menyakitinya sedemikian rupa. Tanpa sadar, pandangan Ara mulai kabur terhalang air mata. Dengan cepat Ara mengusap matanya dengan kedua tangan, mengabaikan keterkejutan dalam mata gelap yang memerhatikan. Ara tidak tahu apa yang harus ia katakan. Rasanya sakit sekali. Ia tidak mampu berpikir jernih sekarang. "Kau boleh membenciku sesukamu, bencilah aku sampai kau muak. Aku tidak peduli. Dan sebaiknya kau belajar untuk bersikap lebih baik pada orang lain yang kau anggap lebih rendah darimu," napas Ara tersengal. Ia tidak ingin terlihat lemah. Tetapi air matanya tidak mau berhenti mengalir seberapa keras pun ia berusaha. "Kau harus tahu," Ara melanjutkan setelah bisa mengatur napas. "Tidak semua perempuan tertarik pada hartamu," selesai bicara begitu Ara berbalik pergi. Ia tidak mau menoleh lagi. Pantaskah aku menerima semua ini? Pikir Ara. Apa salahku? Kenapa hidupku harus begini? * * * Ini hal yang wajar. Ara mengingatkan diri sendiri. Orang-orang pasti akan berpikiran sama seperti Rui. Dengan perbedaan umur yang jauh, meski Gil terlihat awet muda sekali pun. Pasti lah Ara akan tetap dikira menikahinya karena harta. Ara mencoba untuk menempatkan diri di posisi Rui. Dengan begitu ia bisa sedikit memahami perasaannya. Ara menyadari, bukan hanya dirinya yang terluka di sini. Karena jika kenyataannya ia berada di posisi Rui, ia juga pasti akan marah. Ara mendesah lelah dan berguling turun dari ranjang. Menjejakkan kedua kakinya ke lantai yang dingin. Andai saja Gil bukan ayah Rui, mungkin segalanya tidak akan terasa semakin buruk. Mungkin Ara bisa belajar untuk menerimanya sedikit demi sedikit. Tetapi kebencian Rui ini, benar-benar mengusik dirinya. Ara akui itu. Belakangan. Ara mempertimbangkan kemungkinan agar ia bisa keluar dari situasi ini. Semua rencananya berakhir pada satu jalan buntu yang sama. Namun ada satu. Ara bangkit dan berjalan menuju jendela. Bunuh diri. Ara sempat memikirkan kemungkinan itu. Jika ia mati, ia akan bebas. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada sang paman jika ia sampai memilih tindakan itu. Namun Ara menyadari. Ia takut menghadapi kematian. Seberapa sakit yang akan ia alami sebelum benar-benar mati? Dan bagaimana jika ia gagal? Tentu kemungkinan yang tersisa, dirinya hanya akan merasakan sakit seumur hidup. Ara termenung. Terlalu lelah untuk berharap bisa keluar dari situasi ini. Seberapa pun ia berharap. Kenyataan tidak akan berubah. Bahkan ia kini sudah merindukan Alex. Apa yang ia lakukan sekarang? Bagaimana keadannya? Oh, Ara tersadar dari lamunan saat ponselnya berdenting. Ia berbalik ke meja untuk memeriksa benda itu. Sebuah pesan masuk dari Gil, Ara merinding dibuatnya. [ Gilbert ] Bagaimana kabarmu? Tentu Ara tidak bisa lupa saat sang paman memaksa dirinya untuk menyimpan nomor Gilbert setelah mereka bertukar nomor ponsel. Saat ini Ara baru menyadari betapa hal itu membuatnya terganggu. Juga takut. Ia masih belum terbiasa pada kesan mengintimidasi dari laki-laki itu. Ia juga tidak yakin ia akan bisa terbiasa. Ara mendesah lelah. Sekarang ketakutan itu bertambah makin kuat. Karena Rui memiliki kesan mengintimidasi yang sama. Ditambah kebencian yang terang-terangan ia perlihatkan. Sempurna sekali. Ara menyeret perhatiannya kembali pada ponsel dan mulai mengetikkan pesan balasan. "Aku baik-baik saja," Ara membaca pesan balasannya sekali lagi. Sekedar berbalas pesan saja sudah membuat jantungnya berdegup kencang. Ara tidak tahan untuk tidak memikirkan hal-hal yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya bersama Gil. Menakutkan. Ara bergidik ngeri. Ponselnya berdenting lagi. Cepat sekali Gil membalas. [ Gilbert ] Syukurlah. Aku ingin makan siang denganmu hari ini. Kau tak keberatan? Ara meringis. Meski keberatan ia tidak punya pilihan. "Tentu," Ara membalasnya singkat. Lagi. Hanya dalam waktu singkat Gil membalas. [ Gilbert ] Sampai ketemu, kalau begitu. Ara bergeming. Kemudian baru menyadari matahari sudah berada di puncak kepala. Pantas saja. Tanpa menunggu apa-apa lagi Ara berbalik untuk bersiap-siap. Ngomong-ngomong, Ara teringat. Ini kali pertama ia akan pergi berdua saja dengan Gil. Ara mencengkeram ujung-ujung pakaiannya tanpa sadar. Rasa takut itu menyelimuti dirinya lagi. Di mana sang paman? Ara menyentakkan diri. Berusaha lepas dari ketakutan itu. Kalau tidak bisa lepas dari kenyataan ia akan menikahi Gil, setidaknya ia ingin bisa lepas dari rasa takut ini. Ya! Ia harus mencari sang paman dan mengajaknya makan siang bersama. Ara yakin sekali dirinya tidak akan sanggup untuk berdua saja dengan Gil. Karena itu, alih-alih mempersiapkan diri Ara berlari keluar dari kamar tidurnya untuk mencari sang paman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD