part 3

1037 Words
jam sudah menunjukan pukul 21:30 aku masuk ke kamar dan tidak mendapati anak anak ku di tempat tidur, lalu aku beranjak ke kamar ibu, dan benar saja mereka sudah tidur bersama mbah utinya, lekas bergegas ke kamar untuk mengistirahatkan diri "aku harus bekerja lagi, aku pasti bisa menghidupi mereka lebih baik" ucapku dalam hati dering ponsel membuyarkan lamunanku, benar saja sudah banyak sekali pesan masuk dari mas dimas dan juga ibu mertuaku yang menyuruhku kembali ke rumah mereka "ibu maafkan hana, hubungan hana dan mas dimas sudah tidak sehat lagi, hana terima saat bapak memusuhi hana karna hana tidak seperti yang beliau harapkan, biarkan dimas bersama pilihannya bu, hana menyerah. semoga pasangan dimas kedepannya bisa sesuai ekspetasi bapak, maafkam hana bu sekali lagi , besok hana akan bicara dengan ibu, lalu kesana untuk mengurus kepindahan sekolah zahra d semester berikutnya" balasku pada pesan ibu mertua mas dimas masih berkali kali menelpon dan mengirimiku pesan tapi tidak ku buka sekalipun ting !! pesan ibu mertuaku masuk lagi " tenangkan dirimu dulu hana, dimas memang belum begitu dewasa dia khilaf, maafkan anaku, jika kalian berpisah bagaimana nasib anak anak nanti, jika kamu membawa mereka, bagaimana kamu akan menghidupinya nanti?" hatiku berdesir nyeri saat membaca pesan ibu mertua. benar kata orang bagaimana pun seorang anak tetap seorang anak, walaupun anak lelakinya sudah menghianati istri dan cucu cucunya mas dimas tetap anaknya aku tak membalas lagi. pipiku mulai basah walau bagaimanapun perjalanan cintaku dan mas dimas mengarungi ombak bahtera rumah tangga ini melalui banyak hal yang tidak bisa di lupakan begitu saja. "mas walau bagaimanapun aku masih sangat mwncintaimu, tapi hatiku terlalu sakit mas, aku lelah" setelah menangis cukup lama aku tertidur *** tok tok tok!!! "hana buka pintunya nak ,suamimu datang" teriak ibu mebuyarkan mimpiku "iya bu sebentarr" teriakku lagi "ada apa mas? "tanyaku tidak dengan basa basi aku harus segera mengakhiri ini "hana ayo pulang ke rumah, maafkan aku han, mas hilaf" mohonnya "tidak mas, silahkan pulang biar anak anak bersamaku saat ini, aku juga akan mencari pekerjaan untuk mrnghidupi mereka. km jangan khawatir" "tidak hana!!! " Bentaknya dengan nada tinggi "bukankah sudah berulang kali aku katakan kalau kamu tidak boleh bekerja? "lanjutnya lagi dengan berapi api "kenapa mas, kenapa tidak boleh bukankah nafkah yang km kasih saat ini juga telah d bagi dua dengan pelakor menjijikan itu?, kenapa kau terus menahanku dan anak anak? kenapa kau terus meminta agar aku tetap di sisi mu? sedangkan kamu mencintai bahkan tidur dengan wanita lain? Kau tidak lupa kan dengan sebutan benalu karna aku tidak berkarir seperti wanita lain? " jawabku dengan terisak aku melihat ibu lari tergopoh gopoh beliau pasti sudah mendengar semua. "ibu maafkan hana" aku berlalu ke pelukan ibuku ada raut sedih dan kecewa oada sorot matanya, dia terus mengusap2 kepalaku "nak dimas, pulang dulu ya hana masih sangat syok, biarkan dia istirahat di sini selama beberapa waktu,. biarkan dia berpikir secara jernih keputusan apa yang akan dia buat nanti" ucap ibuku "baik bu, dimas pamit dulu ya bu karna harus berangkat kantor hari ini" "hati hati di jalan nak" jawab ibu seraya menganggukan kepalanya "maafkan hana ibu, biarkan hana memilih berpisah dari mas dimas" isaku "biarkan hana dan anak anak tinggal di sini bu" "ada apa sebenernya han, ? Kenapa rumah tanggamu seperti ini? , bicarakan dengan kepala dingin han. jangan selalu pakai emosi, kamu tau bukan emosi tidak menyelesaikan apapun? " ucap ibu dengan tatapan yang begitu teduh "mas dimas selingkuh bu, hana cape. hana capeee buu" "baiklah istirahat dulu, jangan fikirkan apapun selama beberapa waktu ya" "tidurlah lagi ibu akan memasak dan mengurus anak2 istirahatlah selama di sini hana" aku menggelengkan kepalaku "tidak bu, hari ini hana mau ke tempat esti untuk bertanya barangkali di tempatnya bekerja masih membutuhkan orang, hana titip anak anak sebentar ya bu? " "kenapa terburu buru sekali hana, istirahat lah dulu. pikirkan zahra dan zifa nak kasian mereka kalau kalian sampai berpisah" "tidak bu, sudah cukup selama ini. sekarang sudah sangat fatal bu, hana mungkin terima saat mas dimas marah dia kasar sama hana , bapak mas dimas menghina keluarga kita bu, tapi tidak dengan perselingkuhan. dia tidak hanya menghianati aku bu, dia juga menghianati anak anak" "kenapa kamu baru bercerita sekarang hana, kenapa ibu baru tau kalau kamu di perlakukan seburuk ini" tangis ibu pecah juga akhirnya *flashback* "menantuku tidak bekerja dia hanya memoroti gaji anakku" ucap bapak mertuaku kepada sahabatnya pak zainal "kenapa dimas menikah dengan perempuan itu? bukanya dulu dia berpacaran dengan anak polisi? kenapa kastanya turun sekali malah menikah dengan anak janda miskin" "entahlah aku juga tidak habis pikir dengan jalan pikirannya,kenapa pula istriku sangat menyukai wanita s****n itu, aku jadi tidak bisa mengelak sampai d kasih modal segala buat usaha besar kepala pasti anak itu" samar samar aku dengar bapak mertua membicarakan dan menghinakan aku seperti ini, hatiku sakit sekali, padahal aku tidak pernah menuntut apapun dari mas dimas uang 1 juta 5 ratus yang dia berikan aku pergunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah, hasil dari ku berjualan juga tidak pernah aku gunakan untuk keperluan ku sendiri, selalu d minta sama mas dimas "hana," ucap ibu mertuaku dari belakang "kamu kenapa nak? kamu menangis?" "ada apa? " "katanya mau buka konter?" tanya nya bertubi tubi "ah iya bu, ini hana mau buka konter" langkahku memang terhenti d ruang tamu saat mendengar pembicaraan bapak mertuaku, "kenapa hana? kamu belum menjawab? kenapa menangis?" tanya ibu mertuaku lagi "ah tidak bu, hana kelilipan tadi hana buka dulu bu sudah siang takut sudah ada pelanggan datang tapi belum buka" "yasudah sana zifa biar ibu yang menjaga saat km bersih bersih, nanti kalo sudah selesai ibu antar k depan ya, ibu mau ada acara sama uwa wati nanti" "baiklahh bu, hana buka dulu" ku langkahkan kakiku keluar rumah hendak membuka ruko kecil d depan rumah tempat ku berjualan dr pagi setelah membereskan rumah, mencuci baju dan menyiapkan zahra dan mas dimas berangkat kerja dan sekolah terdengar bisik bisik dari dua orang yang baru saja ku dengan pembicaraanya, padahal mereka pun tidak bekerja hanya mengandalkan istri, ibu mertuaku yang dulu pernah bekerja di luar negri berhasil membangun rumah, kontrakan dan ruko kecil yg aku tempati ini, "aku harus kuat demi mas dimas, demi anak anak demi rumah tanggaku" yakinku saat itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD