part 4

1138 Words
"halo assalamualaikum hana" terdengar suara d sebrang sana "hallo es apa kamu sibuk, apa ada waktu hari ini? aku ingin bertemu.kangenn" "waaah apa kamu sedang d tempat ibumu hana? oke kita ketemu di tempat tukang bakso langganan kita jam setengah 1 nanti yaa" "baiklah, sampai jumpaa" ku tutup sambungan telepon lalu gegas keluar kamar dan mandi "haaa haaa" kulihat zifa melambai lambai kepadaku, lekas ku hampiri "aaa dede mama kangen tidur sama mbah rewel ngga?" ku cium cium pipi gembul zifa, ku lihat juga zahra yang sudah ada d depan tv menonton kartun kesayangannya pagi ini "aku harus bangkit untuk mereka"aku berucap dalam hati, "mama , ayah kemana? kok ga nyusul kita?" tanya zahra yang menyadari keberadaanku d samping zifa di kasur tengah , tadi pagi saat mas dimas kesini memang anak anak masih tidur "tadi pagi ayah kesini tapi zahra dan zifa masih tidur" jawab ibu yang menyadari aku hanya termenung dengan pertanyaan itu "bu hana mandi dulu ya," "yaa sudah sana mandi sudah siang, apa kamu sudah menghubungi sahabatmu?" "ibu juga sudah lama tidak bertemu dia setelah kamu menikah," tanya ibu lagi "yaa sudah bu kita sudah janjian nanti siang, zifa biar ku bawa ya bu biar ibu tak terlalu repot" "tidak hana, biarkan zifa dan zahra di rumah. ibu masih kangen lagi pula nanti mau ibu ajak ke rumah bulik dan pak lik mu pasti mereka senang sekali "aah baiklah kalo itu keinginan ibu" "bye bye sayang mama mandi dulu" zifa hanya menggeliat saat ku elus gemas pipinya setelah mandi aku menghampiri zahra d depan tv "sayang apa kamu sudah makan? " "makan yuk bareng mama" dia hanya menggeleng "ma, apa mama berantem lagi sama ayah? apa mama di pukul lagi mah?" "kenapa zahra tanya begitu?" "zahra tau mah tadi pagi ayah kesini, apa mama sekarang membenci ayah? zahra mau tinggal di rumah mba selamanya yang penting mama tidak di marah ayah lagi" aku terperangah sejak kapan anaku bisa berfikir sedewasa ini? selama ini dia hanya diam dan memeluku saat aku bertengkar dengan mas dimas, dia tidak menangis atau mengucapkan apapun apa mentalnya baik baik saja? "tidak sayang kamu ngomong apa sih, udah ah jangan di pikirin, zahra fokus sekolah aja yaa, zahra mau sekolah di sini ? sama mba putri dan mahrin?" "mauu zahra mau mah" jawabnya dengan semangat "okeyy nanti mama urus kepindahannya yaa" "mama juga mau bekerja lagi, zahra ga boleh nakal sama mbah yaa" "oke mah, nanti kalo mama sudah punya uang zahra belikan mainan seperti punya resti ya? " "siaap bos" kemudian kita tertawa bersama resti adalah anak tetanggaku saat tinggal di tempat mertua, setiap zahra menginginkan sesuatu pasti mas dimas selalu bilang kalo itu hanya buang buang uang, "aku akan membahagiakan mereka mas, semoga kamu bahagia dengan pelakor itu dan bapakmu puas dengan pilihanmu itu" ucapku dalam hati *** aku sudah berada di warung bakso tempatku berjanjian dengan esti, aku masuk kedalam dan mencari dia, "hanaa!!!" seru seseorang "di sini han" aku lekas menghampiri sahabatku itu "aaa aku kangen banget kamu apakabar? loh mana dimas dan anak anak padahal aku sudah ingin mencium si kecil zifa" "yaa yaa yaa lain kali aku aja zifa yaa? " jawabku dengan tersenyum "baiklahh bebbyyy"serunyaa "haisst kamu masih lebay ternyata hahaha" "hehe, kamu mau pesen apa? mi ayam bakso seperti biasa kah? " "boleh" jawabku lalu dia berlalu untuk memesan makanan "ngomong ngomong ada apa han, tumben kamu pergi ga sama dimas, biasanya lengket kaya perangko" tanya sahabatku "es, sebenernya aku ingin berpisah dari mas dimas, dia selingkuh es, bahkan aku tidak tau dia sudah berapa kali tidur dengan wanita itu, aku cape" "apa!!! ya ampun muka gak seberapa nyakitinnya ga kira kira" "siapa han, siapa wanita gatal itu biar ku jambak jambak dia" seru esti dengan kesal "ah sudahlah, aku udah ikhlas, aku ingin bekerja es" "nanti zifa gimana han? " tanya esti lagi "ada ibu, juga buliku yang menjaga, aku akan menjadi single mom, aku harus menghidupi mereka" jawabku "apa ada lowongan pekerjaan di tempatmu Bekerj es? " "di tempat ku sedang tidak ada, tapi kata manager pak widi sedang mencari orang untuk menemani ibunya yg sudah sepuh, berat han, capek juga pasti" "gajinya 3 juta 500 lumayan tapi apa kamu kuat? selama ini beliau selalu berganti ganti suster untuk menjaganya katanya cerewet dan galak" sambungnya "ah tidak apa apa yang penting aku harus segera bekerja, aku tidak ingin lebih merepotkan ibuku, walaupun beliau bilang sebaiknya aku menenangkan pikiran dulu, tapi aku pikir jika aku bekerja aku akan bisa melupakan masalahku, masa depan zahra dan zifa juga masih sangat panjang es" "baiklah besok aku Akan menghubungi pak manager," jawab estii "makasiii bestiii" "permisi mbaa ini pesanannya" "ayo kita makan dulu han, jam 1 nanti aku harus kembali ke kantor" "okeyy, mas pesan bakso 3 yaa .bungkus" ucapku pada mas mas yang mengantar akan ku bawa pulang untuk ibu, dan zahra serta kakaku *** ku lihat motor bapak mertuaku ada di depan rumah, lekas ku parkirkan motor lalu masuk ke dalan rumah "assalamualaikum " "waalaikum salam"ucap semua orang yang ada di sana, lekas ku cium tangan ibu, ibu mertua dan bapak mertuaku, zahra dan zifa tidak ada di sana mungkin sedang bersama bulikku "dari mana kamu hana, anak2 di titipin ke orang malah sibuk keluyuran" ucap bapak mertuaku sinis "belum jadi janda saja sudah keluyuran begini" sambungnya "siapa yang keluyuran pak? saya habis bertanya pekerjaan kepada teman saya, alhamdulilah dapat, jadi tidak perlu lagi mengjabiskan gaji anak orang lain lagi, walupun itu adalah kewajibannya" "hana!" bentak ibu "ada apa ibu dan bapak datang kemari? " "mana cucuku, jika kamu tidak mau kembali maka kembalikan zahra dan zifa kepada kami" ucap bapak mertua lagi. ku lihat ibu mertuaku sibu menyeka matanya, "maafkan hana bu, tapi hana sudah terlalu lelah" ucapku dalam hati sambil memandangnya "sejak kapan bapak memperhatikan anak anak saya, mas dimas sudah punya kekasih lagi barangkali cocok dengan harapan bapak semoga saja bukan anak janda miskin seperti ku!" "jangan kurang ajar kamu hana, saya masih bapak mertuamu" ucap bapak tak kalah keras aku menghembuskan nafas sambil mencoba mengontrol emosi "bapak ibu silahkan datang lain kali, sepertinya hari ini bukan saat yang tepat untuk kita berbicara" ucapku lembut mencoba menghentikan perdebatan ini "hana, maafkan ibu dan bapak ya nak, istirahatlah dulu, jika sudah tenang kembalilah bersama anak anak, kami pamit sayang," ucap ibu mertua sambil membelas rambutku "tapi bu.." ucap bapak lagi "ayo pak pulang, benar kata hana kita datang d saat yang tidak tepat" "mari ibunya hana kami pamit pulang, " ucap ibu dimas sambil berlalu menggandeng tanggan bapak mertua. "hana.. " ucap ibu sedih "sudahlah bu jangan di pikirkan hana besok sudah mulai bekerja, ini esti sudah mengabari, doakan hana ya bu .titip anak anak" "ayo bu makan bakso ini hana bungkuskan untuk ibu" ibu mengangguk "yang kuat anakku" ucap ibu hana dalam hati "aku pasti bisa melalui ini" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD