9. Hampir Cemburu

1091 Words
Apa lagi yang harus Kayla lakukan? Dia sudah tidak bisa membujuk Reno yang terus meminta dipakaikan popok. Bagaimana pun juga, Kayla masih memiliki pemikiran yang waras. Dia tidak ingin hal-hal yang seharusnya tidak terjadi justru harus terwujud. Tidak! Kayla tidak mau, lagi pula dia dan Reno baru saja saling mengenal. Itu pun belum genap sebulan. Kayla yang memiliki hubungan pun rasanya masih belum seratus persen memercayainya. Apa lagi untuk memakaikan Reno popok, gila saja! Kayla rasa pertemuannya dengan kakak sahabatnya itu terlalu cepat dan tentu saja tidak jelas. "Reno, udah dua jam loh kamu mojok di situ terus." Kayla menatap Reno, pria itu duduk berlutut di sudut lemari. Benar dengan apa yang Kayla katakan, sudah dua jam Reno tidak ingin mengganti celananya. Bahkan sudah dua jam pula mereka berdua masih berada di dalam kamar. "Gendong." Rasanya Kayla tergelitik dengan ucapan dan tingkah-laku sulung Athalas. Tapi... kenapa dia harus tersenyum ya? Sekarang pipinya sudah bersemu merah. Seharusnya Kayla marah, seharusnya pula Kayla berkata tegas pada Reno agar pria itu tidak bersikap layaknya bocah kecil. Reno merentangkan tangannya. "Gendong aku, Kay." Mulut Kayla sudah siap siaga untuk menolak. Namun lihatlah, kaki Kayla berjalan mendekat ke arah Reno. Tangan mungilnya juga sengaja dia rentangkan pada pria yang kini memasang wajah lugunya. Kayla sudah tidak bisa lagi menyinkronkan dirinya sendiri, dia terlalu menyukai Reno. Apa iya dalam waktu secepat ini? "Aku ngga mungkin kuat." Walau berkata demikian, namun tangan Kayla terus menelisik ketiak Reno. Dia memperagakan tangannya seperti ingin mengangkat seorang balita. Namun naas, Kayla tidak kuat, tubuh Reno jauh lebih besar dan berat dari tubuhnya sendiri. "Ugh!" Kayla meringis. Tubuhnya terjatuh karena tidak kuat mengangkat beban tubuh pria di hadapannya. "Reno...." Kayla mencoba bangkit, dalam posisi terduduk di kedua kaki Reno bukanlah hal yang baik untuk kesehatan jantungnya. Ini adalah kali pertama Kayla menjadi seintim ini, apa lagi ketika Reno menarik tubuh perempuannya agar terus mendekat. Membiarkan napas mereka saling bertabrakan, serta netra yang berbeda warna itu dibiarkan untuk menatap satu sama lain. Deguph. "Lovely, kamu deg-degan sama aku ya?" Trrrttt! Trrrtttt! Trrrrt! Belum sempat Kayla menjawab untuk menepis pertanyaan Reno, kini pandangan pria itu langsung mencari keberadaan ponselnya. Nada dering telepon itu terus berbunyi berkali-kali. Nama 'Dion' terus muncul menghiasi layar ponselnya. Dengan gerak cepat pula, kesempatan ini membuat Kayla segera bangun dari pangkuan Reno. Ketemu. Ponselnya ada di bawah kasur, mungkin ketika Reno merebahkan diri hingga akhirnya terlelap dalam keadaan memeluk Kayla, di saat itu pula ponselnya terjatuh. Reno terlihat sigap, apa mungkin itu kolega bisnisnya, ya? Mungkin saja, Reno yang awalnya bersikap manja kini langsung berubah menjadi Reno yang acuh dan hanya mementingkan pekerjaannya. Terlihat sebagaimana keseriusan Reno hingga dahinya berkerut dalam, membuat Kayla penasaran. "Dion?" lirih Kayla. Dia menepuk keningnya tanpa menghasilkan suara, dia baru ingat dengan sesuatu. Ucapan Cici mengingatkannya pada nama 'Dion', Dion itu bukan koleganya Reno, melainkan sahabat terdekatnya. Ya, Kayla baru ingat sekarang. Rasa penasarannya pun semakin membabi-buta. "..." "Saya ke sana sekarang," jeda, Reno langsung mengambil kunci mobil yang dia letakan di atas nakas milik Kayla. pria itu terlihat gusar, wajahnya sudah memucat, entah apa yang kini sedang Reno pikirkan. "Saya akan segera datang." "..." "Jaga Luana baik-baik." Setelah selesai dalam perbincangan singkat yang mampu membuat Kayla berpikir keras, Reno langsung merogoh saku celananya, mengambil kunci kamar Kayla dan membukanya. Tanpa pamit, tanpa meninggalkan seuntai kata-kata indah yang biasanya berhasil membuat Kayla bersemu, kini sulung Athalas sudah enyah bersama mobil mewah yang dia bawa semalam. Kayla masih membeku, dia memikirkan sesuatu. "Luana?" Kenapa Reno menjadi berubah secepat ini? Lima menit yang lalu Reno masih bersikap layaknya bayi pada Kayla. Namun sekarang, kehadiran Kayla pun tidak dilirik oleh pria itu. Pria yang tanpa sadar sudah membuat Kayla terus memikirkannya tanpa ampun, pria yang sudah memorak-porandakan hatinya. "Mungkin... adiknya kak Dion." Lagi, Kayla bermonolog. Dia sampai lupa bahwa Reno belum mengganti celananya. Bahkan dia mulai berpikir jika kehadiran Reno malam tadi hanya lah sebatas penginapan sementara. Memangnya, sulung Athalas pikir rumah Kayla adalah rumah sewaan, begitu? "Ck, padahal aku baru ganti kemarin loh." Kayla langsung menarik seprei putih polosnya. "Gara-gara kamu, Ren." *** Beruntung jika jalanan pada pagi hari menjelang siang ini tidak terlalu padat dan ramai. Jadilah pria berusia dua puluh delapan tahun itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, seakan-akan dia adalah seorang buronan yang saat ini dikejar oleh ratusan polisi. "Tunggu saya," lirihnya. Sesekali Reno memukul setirnya dengan pelan. Dia harus kembali ke rumahnya lebih dulu, setelah itu dia akan menuju ke kediaman rumah Dion, sahabatnya. Tidak butuh waktu lama. Reno sudah memarkirkan mobilnya secara asal di halaman rumahnya, membuat Rere yang telah menyembulkan kepalanya dari pintu utama yang sengaja dibuka sedikit mendengus sebal. "Minggir!" usir Reno. Rere memicingkan matanya, perempuan berambut ikal tersebut langsung menyeringai lebar. "Abis dari rumah Kayla, ya?" "Tidak perlu ikut campur." Sifat dinginnya Reno mulai keluar. "Ngaku gak lo!" "Minggir.” Terpaksa, Reno mendorong kepala Rere ke dalam. Kemudian pria itu membuka pintu dan melewati Rere begitu saja. Sedangkan Rere yang diperlakukan seperti itu mulai mengikuti langkah kakaknya. "Barusan Kayla nelfon Rere." Trap. Reno berhenti berjalan, ada apa perempuannya menelepon Rere? Lalu Reno menoleh, memutar tubuhnya hingga kini berhadapan dengan adiknya. Reno menatap tajam mata hitam pekat milik Rere, dia terlihat sangat serius, rahangnya sudah mengeras. Reno... sedang terburu-buru. "Jelaskan!" "Kayla nelfon, nanyain kenapa Kak Reno pulang gitu aja tanpa pamit sama dia, bahkan ninggalin sepatah katapun enggak." Kini, Rere lah yang menatap tajam mata kakaknya. "Jangan bilang mau ke rumah kak Dion lagi ya? Ngaku!" Reno mengabaikan ucapan misuh adiknya. Dia tidak peduli, dan bagaimana bisa Reno melupakan Kayla begitu saja? Pria itu tampak berpikir, kakinya terus dia langkahkan menuju kamarnya sendiri. Dia masih terburu-buru, untuk sekarang Reno memilih abai pada Kayla. Karena... ada sesuatu hal yang lebih diutamakan dibandingkan dengan kekasihnya tersebut. "Maaf, Lovely." Reno meringis, dia segera membersihkan diri dan mengganti baju. Lalu kembali memasuki mobil yang berbeda, mobil sedan berwarna hitam dengan nomor polisi yang berinisial namanya. Pria tinggi berkarisma itu mengambil ponselnya, dia ingin menghubungi Kayla. "Lovely...." Terdengar seseorang sedang mendengus dari sambungan teleponnya. "Gak usah manggil aku lovely-lovely, Reno!" Reno bersedekap d**a, lampu merah menghalangi laju mobilnya. "Loh, ada apa Lovely sayangnya aku?" Manjanya Reno mulai keluar, pria itu terlihat lemah walau hanya mendengar suara Kayla. "Kamu gak sayang sama aku, Ren. Kamu sayangnya sama Dion, sebegitu sayangnya kah kamu sampe pergi dari rumah pun gak ninggalin petuah kayak biasanya?" Kayla-nya sedang cemburu. "Lovely, kamu- jealous--?" Tut. Sambungan telepon telah diakhiri oleh Kayla. Reno masam-mesem sendiri, pria itu tampak kegirangan. Namun tidak bertahan lama ketika panggilan telepon dari Dion mulai menghiasi layar ponselnya kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD