1:30 A.M.
Sudah satu hari penuh Reno ditinggal oleh Kayla. Hari pun sudah berganti, tetapi dia masih memikirkan netra cokelat madu yang sudah memikat hatinya delapan belas tahun ini. Kan sudah dibilang jika Reno tidak bisa berjauhan dengan Kayla. Beruntung jika kemarin dia hanya mengompol, bayangkan saja kalau Reno sampai kehilangan kesadaran dan mati? Apa mereka tidak akan menyesali kepergiannya?
"Kayla."
Pria itu terus berjalan mondar-mandir mengelilingi kasurnya, setiap beberapa menit sekali selalu melirihkan nama Kayla.
Sungguh, Reno tidak akan melakukan hal-hal yang bisa membuat Kayla marah besar lagi padanya seperti kemarin. Tetapi jika kejadian kemarin direka ulang, menurutnya mengajak Kayla ke KUA bukanlah hal yang salah. Lagi pula, Reno memang sudah 'mantap' untuk menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius lagi.
Sungguh.
Lalu... mengingat Rere ketika mengetahui jika dirinya mengompol adalah sesuatu hal yang secara tidak langsung sudah menjelekkan martabatnya. Citranya sudah rusak dalam sekejap, Rere sudah mengetahui sisi anak kecil yang selama ini sengaja dia sembunyikan hanya untuk diperlihatkan pada sosok seperti Kayla Nadinda.
Reno mulai merogoh saku celananya yang sudah dia ganti, lalu mengambil ponsel dan menelepon seseorang.
"Halo, tante." Reno menyapa, tengah malam menjelang pagi ini dia menelepon seseorang, rasanya memang tidak sopan, tetapi Reno tidak bisa melakukan cara lain selain berbicara pada perempuan yang seusia dengan maminya.
"Ngh, iya nak Reno. Ada apa?"
Menyengir, Reno menggaruk kepala belakangnya.
"Tante Clara lagi di rumah, kan?"
"He'eungh, kenapa memangnya nak Ren? Kamu nyari Nadin, ya?"
Tebakan yang benar, Reno langsung tersipu malu. Dia sadar, dia sudah mengganggu orang tua Kayla malam-malam seperti ini, dan yang lebih tidak sopannya adalah Reno menghubungi Clara selaku mamanya Kayla hanya untuk menanyakan tentang anaknya saja.
"Iya, tante. Reno boleh ke sana?"
Suara di seberang telepon langsung terkekeh pelan, wanita yang seusia dengan maminya itu langsung berdeham, berbicara lagi dengan suara seraknya sehabis bangun tidur.
"Boleh, nak. Kalo perlu nginep sekali pun juga ngga pa-pa."
Setelah berbincang, Reno memutuskan sambungan teleponnya. Tanpa berpikir panjang dia langsung mengganti pakaiannya dan pergi menuju ke kediaman Kayla. Jangan ditanya perihal mengapa Reno tahu rumah Kayla? Pria bernetra hitam pekat itu sudah mengetahui seluk-beluk bahkan bibit-bebet-bobot Kayla dari adiknya.
Pengetahuan Rere memang patut diacungi jempol.
Semuanya sudah siap, Reno mengeluarkan mobil mewah berwarna putih miliknya dari pekarangan rumah, lalu melewati jalanan yang sudah gelap gulita dengan penerangan yang dihasilkan dari lampu dan cahaya rembulan saja, Reno tidak peduli, yang dia inginkan adalah bertemu Kayla.
Tangan dan kakinya sudah mendingin, bukan karena cuaca malam ini, tetapi karena dia sudah tidak sabar untuk menjumpai Kayla yang telah dicap menjadi miliknya dan hanya akan menjadi miliknya. Reno memang egois, demi Kayla dan demi perempuannya agar tidak diambil orang lain.
Kayla... nyawanya Reno.
Setelah tiba di hadapan rumah Kayla dan orang tuanya. Reno langsung mematikan mesin mobil, bersamaan dengan itu Clara -selaku Mamanya Kayla membukakan pintu rumah dan menyapa hangat kedatangan Reno.
"Nak, Reno," sapa Clara, wanita itu sedikit tertegun melihat penampilan Reno.
Gagah, tinggi, dan... tampan. Reno menggambarkan dirinya seperti sosok Raka, membuat Clara tersenyum getir, mengingat masa lalunya yang sudah terjadi belasan tahun lalu. Tanpa banyak berbincang, Clara mengizinkan Reno untuk memasuki rumahnya.
"Nak Reno, Kayla ada di dalam kamarnya. Mau tante panggilin?"
"Ngh, tidak perlu. Biar Reno saja yang ke kamarnya."
Clara mengangguk, "Ya sudah, Tante balik ke kamar dulu ya."
Reno balas mengangguk dan tersenyum tipis, pria itu langsung berjalan menuju kamar Kayla. Membuka pintu kamar perempuannya perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara dan membuat Kayla-nya terbangun.
Maklum, sesosok balita seperti Reno memang masih tidak bisa berjauhan dengan induknya.
"Aku jadi ingin menyusu, Kay."
Ambigu sekali.
Reno... menutup pintu kamar Kayla seperti semula, dia mengunci dan menyimpan kunci itu ke dalam saku celananya.
***
Ayam terus berkokok, membuat Kayla mengedipkan matanya berkali-kali karena terganggu. Netra cokelat madu itu tertidur dalam keadaan telentang, dia melirik jam yang menempel di dinding.
Sudah pukul lima pagi.
Kayla membuka matanya lebih lebar lagi, memperjelas pandangannya ketika ada sebuah tangan besar melingkar diceruk lehernya. Lalu merasakan ada benda jumbo yang menindih kedua kakinya, ingin melihat tetapi tidak bisa. Kayla hanya bisa melirik ke bawah, siapa yang memeluknya dalam keadaan tertidur seperti ini?!
Untuk bergerak pun rasanya susah sekali.
"Ungh," dengusnya.
Kayla mencengkeram erat lengan pria yang dia tidak tahu siapa. Mengapa pria itu bisa berada di kamarnya, ya? Setahu Kayla, dia tidur sendiri. Mengapa ketika bangun justru sudah ada orang asing di sampingnya?
"Umh, Kayla."
Mata Kayla membola, tangan dan kaki Reno yang entah sejak jam berapa sudah berada dalam keadaan memeluk Kayla langsung tersingkirkan oleh sang empunya sendiri. Perempuan beriris cokelat madu itu langsung terduduk, melihat Reno yang sudah berganti gaya menjadi memeluk pinggang ramping Kayla dengan posesif.
"Reno!"
"Ungh."
"Kamu kok bisa di sini?!"
"Aku kangen, Kay.”
Kayla berniat untuk segera beranjak bangkit, dia mencoba meninggalkan kasurnya, namun sesuatu mulai dia rasakan ketika bergeser sedikit ke tempat yang Reno tiduri.
"Reno! KAMU NGOMPOL, YA?!"
"He'eungh."
Dengan wajah polos, pria berusia dua puluh delapan tahun itu semakin mengeratkan pelukannya. Kayla frustrasi, bagaimana bisa pria dewasa seperti Reno masih berperilaku seperti bocah berusia satu tahun? Mengompol sembarangan!
"Bangun Reno!" seru Kayla.
Reno menggeleng, dia semakin mengencangkan pelukannya.
"Reno, ganti celana kamu!"
"Enggak."
"Terus maunya apa kalo gak mau ganti celananya, hah?!"
Kesal sekali, kasurnya sudah basah. Seharusnya hari ini Kayla bisa beristirahat sejenak, menetralkan pikiran dari bayang-bayang Reno yang selalu menjumpainya. Tetapi kenyataannya berbeda, wujud asli Reno sendirilah yang sudah membuat Kayla kelimpungan setengah mati saat ini.
"Inginnya dipakaikan popok!"
Benar-benar sudah tidak waras.
"Reno, jangan ngadi-ngadi."
"Buka celana aku, ceboki, pakaikan popok lalu temani tidur lagi."
Plak!
Kayla memukul betis Reno. Dia tidak habis pikir dengan perilaku kekasihnya yang sudah seperti bayi besar.
Semakin hari semakin menjadi-jadi.
"Kalo gak bangun, aku pergi, Ren."
Bukannya menuruti ucapan Kayla, Reno justru tersenyum bahagia.
"Coba saja."
Kayla sudah ditantang, dia akan membuktikan ucapannya. Perempuan hitam manis itu melepas paksa pelukan Reno, lalu berjalan menuju pintu kamarnya, berniat untuk membuka dan segera pergi meninggalkan Reno.
Tapi... apa-apaan ini?! Kayla langsung menatap ke arah Reno, pria itu sudah duduk di tepi kasur.
"Aku minta maaf, Kay. Hari ini adalah hari wajib kamu temani aku di kamar ini. Ehhe."
"RENO!!!"
"Pakaikan aku popok, Mama."
Reno... berdiri, mengambil sebuah popok dari atas nakas.
"KAMU DAPET DARI MANA PEMPESNYA?!"
"Aku pesan di go-belanja, nghehehe." Reno berjalan mendekat. "Ayo pakaikan aku popok agar tidak mengompol lagi."
Reno sudah mempersiapkan semuanya.
"Paint my love, Lovely."