Cici mengambil alih piring-piring yang sudah dicuci Kayla, dia mulai mengelapnya lalu diletakkan pada rak piring hingga tidak ada lagi piring basah yang tersisa.
"Bi Cici udah lama kerja di sini?"
Entah karena nyaman atau alasan lain, Kayla lebih leluasa berbicara dengan kepala asisten yang bekerja di rumah Reno. Walau pun sudah berumur, namun Cici masih asyik diajak bercanda bahkan bergosip sekali pun.
"Awal kerja si waktu den Reno masih umur lima tahunan Non, emang kenapa, kepo ya sama den Reno waktu kecil?" Cici mesam-mesem sendiri, dia senang sekali menggoda Kayla dengan tatapan menyebalkannya. "Dari kecil sampe sekarang den Reno gantengnya ngga abis-abis, Non."
Cici menduduki kursi di samping Kayla yang kini ada di ruang makan tak jauh dari dapur, tanpa rasa canggung sedikit pun, Cici langsung menceritakan informasi sewaktu Reno kecil.
"Nih ya, Non, bibi kasih tau. Dari kecil sampe segede gini, den Reno kagak banyak omong. Kalo lagi urjen pun ngomongnya bisa keitung alphabet-nya, sama nyonya sama tuan pun gak ada bedanya." Cici menjelaskan, dia menarik napasnya dalam-dalam. "Tadi pas den Reno ngasih tau kalo Non Kayla itu pacarnya, bibi kaget banget, Non. Berasa mau terjun dari atas asbes, apa lagi waktu den Reno ketauan bibi lagi duduk di ubin dapur."
Kayla terus memasang wajah penasarannya.
"Seumur-umur nih, Non, den Reno kagak pernah mau yang namanya duduk di lantai emperan kayak tadi gitu. Den Reno itu ngga suka yang jorok sekali pun lantainya udah di pel pake sabun sultan. Bibi heran deh, Non pokoknya. Non liat sendiri 'kan waktu bibi dateng den Reno langsung jutek lagi, langsung berdiri? Padahal sebelum bibi nampakkin diri, bibi tau kalo den Reno lagi kepingin dimanjah jelitah sama Non Kay."
Kayla tersipu malu. Namun setelah dipikir-pikir, benar juga ya?
"Ini kali pertamanya juga den Reno bawa perempuan, Non. Biasanya kagak pernah, bahkan temen cowoknya pun jarang, palingan cuma den Dion aja, itu pun temen kecilnya. Pokonya kalo perempuan, Non Kayla yang paling first."
Cici menjelaskan lagi.
"Bibi lanjut kerja lagi ya, Non. Non Kayla ke kamar den Reno aja, orangnya udah nungguin tuh."
Mata Cici melirik ke lantai dua, tepat di sana Reno sudah berdiri melihat ke arah Kayla dengan tatapan dingin. Mengetahui itu, Cici langsung pergi meninggalkan Kayla sendiri, membuat perempuan itu takut dan bimbang. Bagaimana jika Reno memarahinya? Karena dilihat dari tatapannya, Reno terus menatapnya tanpa ampun.
"Kayla, emutin."
Ternyata... dugaan Kayla salah.
***
"Cuma luka kecil, kok, paling besok sembuh."
Kayla menutup kotak obat, dia langsung meletakkannya di atas nakas. Reno yang sejak tadi tidak ingin ditinggal oleh Kayla, masih terus mengempit tangan perempuan hitam manis itu dengan posesif.
"Tidak, ini akan lama sembuhnya."
Kayla memicingkan matanya pada Reno, kenapa pria itu semakin berlagak seperti anak kecil ya? Mengingat cerita yang dijabarkan oleh Cici, sepertinya sangat berbeda dengan kenyataannya, contohnya saja seperti sekarang; saat ini Reno meminta untuk dielusi kepalanya.
"Nghh, R-Ren, emang kamu mau ngga sembuh-sembuh?" Kayla memberikan pertanyaan, tanpa ada rasa canggung seperti yang sudah-sudah, dia langsung menatap manik hitam pekat milik sulung Athalas.
"Tidak apa asal ada kamu."
Kayla memutar bola matanya, dia jengah dengan sifat Reno, tetapi dia sayang. Bagaimana ceritanya, ya?
"Gak gitu, Ren. Kalo gak sembuh nanti gimana kerjanya?"
"Tidak kerja pun, tabungan aku masih cukup untuk membiayakan kamu hingga tujuh turunan."
Sombongnya~
"Ren, aku mau nanya."
Kayla berhenti mengelusi kepala Reno, membuat pria itu menatapnya dalam-dalam.
"Mau bertanya apa? Soal ART yang menceritakan kisah aku sejak kecil? Benar, kok, kamu adalah perempuan pertama yang aku ajak ke rumah."
Kayla menggeleng, bukan itu pertanyaannya.
"Um... kita beneran udah jadian?"
Takut-takut, Kayla langsung menunduk, dia masih tidak berani menatap Reno dengan mata telanjangnya. Bagaimana pun, Kayla masih memiliki pikiran jika Reno hanya bergurau saja mengenai mereka yang sudah 'jadian'.
Namun bukannya mendapat jawaban, Kayla langsung mendapati Reno yang sudah berdiri, memakai jaket lalu mengambil kunci mobilnya yang berada dekat kotak obat tempat di mana Kayla meletakkannya tadi.
"Ayo!" ajak Reno, pria itu langsung menggenggam tangan Kayla.
"M-mau ke mana?"
"KUA."
"H-hah?!"
"Kamu masih tidak percaya dengan aku, l3bih baik aku nikahkan kamu sekarang juga."
"Ren! Kamu apa-apaan sih."
Kayla menghempaskan genggaman tangannya begitu saja. Reno yang awalnya bersemangat langsung menampilkan puppy eyes-nya kembali. Kayla sudah tidak peduli, perempuan itu langsung berjalan menuju pintu keluar kamar Reno.
"Lovely~"
Baru saja Kayla memegang knop pintu, tapi tangan kekar Reno sudah memeluk pinggangnya dengan erat.
"Lepasin, Reno!"
Bukannya melepas, Reno justru menyembunyikan wajahnya di cekuk leher Kayla, membuat perempuan beriris cokelat madu itu terkekeh geli karena ulah kekasihnya.
Hih, menggelikan.
"Lepas, Ren!"
Kayla berhasil melepaskan tangan Reno dari pinggangnya, perempuan itu langsung berjalan menjauh karena Reno terus saja mengejarnya.
"Duduk di kasur, Ren!" Kayla memerintahkan, Reno pun langsung menurut. Bagaikan hewan peliharaan yang sudah dilatih, Reno sudah tidak mengejar Kayla lagi, membuat Kayla tersenyum lalu menatap tajam mata Reno.
"Aku gak suka ya kalo kamu kayak tadi!" tegas Kayla.
Reno diam, seperti bocah yang sedang dimarahi oleh ibunya.
"Ngerti gak?!"
Entah keberanian dari mana, Kayla menjadi tidak takut pada Reno. Menurut Kayla, semakin Reno berada di dekat Kayla, sifat Reno semakin lama semakin mirip dengan sifat anak kecil. Mungkin mulai saat ini Kayla harus berhenti dan menjaga jarak agar Reno kembali pada kehidupan normalnya, bukan seperti bayi kebesaran seperti sekarang ini.
"Aku mau pulang."
Kayla meraih knop pintu, dia membuka lalu menutupnya kembali. Reno yang melihat itu langsung berlinang air mata, Kayla-nya sedang marah, lalu apa yang harus Reno lakukan? Dia tidak bisa jauh-jauh dengan perempuan itu.
Bersama Kayla, rasanya sudah seperti candu.
Reno langsung berjalan menuju balkon, mengintip Kayla yang sudah berdiri di hadapan gerbang rumahnya. Bagaimana ini?! Apa yang harus Reno lakukan agar Kayla tidak pergi menjauh? Kakinya sudah kelu, bahkan, untuk berteriak pun rasanya sudah terlambat.
Reno menyesali tindakkannya. Seharusnya dia tidak berlagak seperti itu pada Kayla, seharusnya pula sifatnya tidak seegois tadi agar Kayla tetap berada di sampingnya.
Hingga ada air yang mengalir dari balik celana yang sedang Reno kenakan. Air hangat itu langsung merembes tanpa ampun, dan ini untuk yang pertama kali di usianya yang sudah menginjak dua puluh delapan tahun.
Reno... mengompol.
Kan sudah dibilang jika Reno tidak bisa jauh-jauh dari Kayla!
"NAJIS IEUH, DITINGGAL KAYLA AJA LO SAMPE NGOMPOL KAYAK GITU KAK?! SUMPAH, INI BAKALAN JADI BERITA TER-TRENDING BUAT MAMI SAMA PAPI! HAHAHA~"
Rere datang lagi. Tanpa mengetuk pintu perempuan berambut ikal itu sudah menyaksikan kejadian langka yang bahkan sudah tidak mungkin dilakukan pada pria dewasa seperti Reno.