6. Kapan Jadiannya?

1092 Words
Bagaimana bisa seperti ini? Sudah dua hari Kayla dikurung layaknya burung. Kayla pun diharuskan untuk selalu ada di samping Reno tanpa diperbolehkan melakukan suatu kegiatan apa pun selain untuk keperluannya sendiri. Tetapi... kenapa rasanya senang seperti ini, ya? Saat ini, di pagi ini tentunya, sulung Athalas sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Lalu... di mana keberadaan Kayla? Sekarang perempuan cantik itu hanya duduk manis bagai sinden di sofa dalam kamar Reno. Dia terus memerhatikan sulung Athalas yang kini menatap ke arahnya dan tersenyum seraya memakai dasi dengan lihai. "Kak Reno, mama sama papa Kayla kenapa ngga nanyain kabar Kayla, ya?" Kayla bertanya bingung. Reno menyengit, dia menatap Kayla dalam-dalam lalu tersenyum dengan merekah. "Saya sudah bilang sama mama dan papa mertua saya kalau anaknya ada di sini sampai kapan pun, kamu tenang saja." Kayla hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja, perempuan hitam manis itu tidak memedulikan Reno yang mulai berjalan ke arahnya dan menempati tempat duduk di sampingnya pula. Kayla menelan ludah pelan-pelan, dia tidak ingin Reno mengetahui kalau Kayla sedang gugup. Bagaimana pun, Kayla harus menjaga image-nya di hadapan sulung Athalas. "Khem." Kayla berdeham, menetralkan jantungnya yang sudah berpacu lebih cepat. "Kak-, Kak Reno ngapain di sini, nanti telat ke kantornya." "Sudah saya bilang sejak beberapa hari yang lalu, jangan panggil saya kakak. Kamu lupa atau sengaja melupa?" Sengaja melupa tentunya. Bagaimana bisa Kayla memanggil Reno tanpa kata bantuan di depannya? Itu sama saja tidak sopan, apa lagi menyangkut segi usia mereka yang berbeda sangat jauh. Lagi-lagi karena segi usia. "Kalau kamu tetap panggil saya seperti itu, saya akan mengurung kamu lebih lama lagi." Reno... mengancam, ya? Sisi dinginnya mulai terbuka, sepertinya Reno mulai kesal dengan Kayla yang susah diberitahu dengan kata-kata. Apa seharusnya dia melakukan hal-- ah, tidak-tidak. Tapi apa katanya barusan? Jadi, Kayla dikurung selama dua hari karena panggilannya itu? "Iya Ren." "Nah, harusnya memang seperti itu, Lovely." Reno memeluknya erat sekali, pipi Kayla langsung bersemu. Dipanggil 'Lovely' tanpa ada ikatan itu benar-benar seperti melayang ke awang-awang, ya? Bagaikan dilakban seperti mumi, pelukan Reno sangat membuatnya sesak dan-- hangat. Harum tubuh Reno pun sangat menusuk indra penciumannya. Dan Kayla sangat menyukai ini. "Aku tidak jadi kerja." Tadi panggilnya saya, sekarang aku. Maunya apa? "Loh, kenapa?" tanya Kayla, perempuan itu langsung melepas pelukan Reno, dia sudah tidak kuat menahan degup jantungnya yang semakin memberontak. "Tidak ingin jauh dari pacar." Sebelum Kayla bertanya tentang siapa pacar Reno, Reno lebih dulu memegang wajah Kayla dan menatap manik cokelat madu itu dalam-dalam. "Kayla Nadinda, kamu sudah jadi pacar Reno Athalas dua hari yang lalu. Kamu lupa sama pacar sendiri?" "Loh, kapan jadiannya?" *** "Lovely, tangan aku berdarah." Kayla menyudahi acara mencuci piringnya, perempuan itu langsung berjalan ke arah Reno yang saat ini menangis karena jari telunjuknya terkena pisau akibat memotong daun bawang untuk campuran telur dadar. Setelah kejadian awkward di kamar -mengenai perihal kapan jadiannya- Reno dengan lantang menjelaskan bahwa; tanpa aku nembak kamu pun, kita sudah jadian. Jadi kamu tidak bisa menolak aku dan aku akan selalu jadi pacar kamu sekali pun kamu nikah sama orang lain. Menyebalkan memang, Reno membuat daya pikir Kayla menjadi lebih ekstrak. Tetapi mau bagaimana lagi, hatinya dengan lapang sudah menerima Reno, walaupun desas-desus mengenai sikap dan sifat aslinya belum Kayla temui secara detail. "LEBAY BANGET LO KAK, WAKTU KENA AIR PANAS AJA LO GAK NANGIS KENAPA CUMA KEBESET PISO LO JADI NANGIS? HIKS, GEULEUH." Itu suara Rere, adik Reno itu berteriak keras dari lantai dua. Matanya yang selalu menebar kebencian pada sifat Reno terus menatap kakaknya dengan sinis. Reno tidak ambil pusing, pria matang itu justru menghiraukan Rere dan semakin berlaku manja pada Kayla. Sepertinya, Kayla sudah mulai tahu bagaimana watak asli sulung Athalas. "Lovely, emutin." "H-hah?!" "Emutin jari aku yang berdarah, Lovely." Deguph. "Jorok Reno!" Bagaimana pemandangan Reno saat keinginannya ditolak Kayla? Saat ini, pria itu sudah menjatuhkan dirinya di lantai, kakinya terbuka lebar seperti kebanyakan bocah saat meminta dibelikan mainan kesukaannya. Melihat itu Kayla menjadi terperangah sendiri. Bagaimana bisa pria yang sudah berkarier seperti Reno melakukan hal ini? Bahkan bocah berusia sepuluh tahun pun akan berpikir dua kali jika melakukan apa yang Reno lakukan saat ini. "Reno, bangun." Kayla menyuruh, Reno masih bergeming. Pria itu tidak memedulikan ucapan Kayla. "Tidak mau, maunya diemutin dulu." Reno menyodorkan jari telunjuk ke arah Kayla, pria beriris hitam pekat itu memajukan bibir bawahnya. Gemas. "Den Reno, tumben duduk di lantai dapur." Reno dan Kayla langsung menatap ke sumber suara yang Reno. "Khem." Reno berdehem, pria tinggi itu langsung bangun dan menepuk-peluk bagian bokongnya. Wajah yang awalnya terlihat seperti bayi manja kini sudah berubah menjadi papan bangunan. "Kenapa di sini?" Reno bertanya, pria itu mengalihkan pembicaraan. Bi Cici adalah kepala Asisten Rumah Tangga di rumah Reno. "Anu, Den. Bibi mau bersihin dapur." Reno... diam. Tanpa membuka suara dia langsung menatap Kayla. Sedangkan perempuan yang ditatap sudah menahan tawa karena perubahan drastis pada diri Reno hari ini. "Eh... Non ini temennya non Rere, ya?" Cici bertanya, menatap manik mata cokelat madu milik Kayla. Kayla mengangguk, baru saja dia ingin menjawab namun suara Reno sudah membuatnya bungkam. "Dia pacar saya." Cici terlihat senang, wanita baya itu ingin bertanya lebih banyak lagi namun Reno sudah melenggang pergi, meninggalkan Kayla dan Cici tanpa sepatah kata pun. Tidak sopan. Target Cici kali ini adalah Kayla, dia langsung menatap perempuan manis itu dengan tatapan keingintahuannya. Maklum, Cici ini sudah berkepala tiga menjelang kepala empat, jiwa-jiwa gosipnya sudah mulai menggila. "Non, beneran pacarnya den Reno?" Kayla gelagapan, dia harus menjawab apa ya? "SUDAH SAYA BILANG, DIA PACAR SAYA." Reno... berbicara keras seraya menaiki anak-anak tangga. Cici terlihat senang, wanita itu seakan menemukan titik terang dari kegelapan. Sudut bibirnya pun tak pernah menurun, kepala asisten rumah tangga itu tampak berbahagia layaknya mendapat dorprize. "Kapan jadiannya, Non?" Pertanyaan yang ditanyakan Cici adalah pertanyaan yang juga ditanyakan oleh Kayla. Sebenarnya, kapan ya? Tetapi setelah mengingat ucapan Reno, Kayla mulai mengingat kapan mereka jadian. Malu juga sudah menjalin kasih tetapi tidak tahu tanggal jadiannya. "Dua hari lalu, Bi." Menyengir, Kayla langsung pamit meneruskan acara mencuci piringnya. Cici langsung ikut membantu, dia juga sudah meminta Kayla untuk tidak mengerjakan pekerjaan yang memang sudah menjadi tugasnya. Namun, Kayla menolak. "Gak pa-pa, Bi. Biar Kayla aja yang nerusin nyuci piringnya, lagi pula kata orang jaman dulu kalo kerjanya ganti-gantian sama orang lain nanti jodohnya ketuker." Cici tertawa geli. "Hiks, Non Kay takut ya kalo den Reno jadi jodohnya Bibi terus suami Bibi jadi jodohnya Non?" Cici mengelap meja, wanita itu senang sekali menggosip. "Tenang aja, Non, Bibi gak suka berondong. Lagi pula suami Bibi masih gagah untuk urusan ranjang." "Uhuk- uhuk!" Kayla... tersedak ludahnya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD