5. Saya Sayang Kamu!

1052 Words
Sudah terbang sangat tinggi, namun Kayla harus menahan agar bisa menepi. Kayla tidak yakin dengan ucapan cinta Reno, mengingat tentang usia mereka yang berbeda sepuluh tahun. Harapan Kayla yang sudah terwujud segera dia hapus, Reno tidak pantas untuknya, Reno juga jauh lebih dewasa dibandingkan dengan dirinya sendiri. Namun... kata orang-orang kedewasaan itu tidak dilihat dari segi usia, jadi, bisa saja kalau Reno lebih bersifat kekanak-kanakan dari pada Kayla, kan? "Kamu tidak percaya dengan saya?" tanya Reno. Kini mereka berada di dalam mobil menuju rumah pria yang terus saja memberikan Kayla pertanyaan yang sama. "Apa yang harus Kayla percayain dari Kakak?" Kakak itu tampan, kaya, luar biasa, jadi Kakak bisa mendapatkan perempuan yang baik melebihi Kayla. Kayla merasa tidak pantas kalau harus bersanding sama Kakak nantinya. Kayla membatin, dia menatap sendu mata sulung Athalas. "Kamu perlu bukti apa?" Mobil sudah tiba di halaman rumah Reno, membuat pertanyaan yang belum dijawab Kayla harus terjeda sampai mereka bersinggah di sofa ruang tamu. "Kayla, kamu perlu bukti apa?" Reno mengulang pertanyaannya. Kayla tidak bisa menjawab, memangnya harus seperti apa jawaban yang Reno inginkan? Bahkan untuk menggapai dan menggenggam Reno pun adalah suatu hal yang mustahil dan tidak akan pernah terjadi, dunia mereka terbalik. "Apa saya harus sujud di kaki kamu?" Kenapa ucapan Reno menjadi seperti itu? Kayla tidak yakin kalau Reno benar-benar menaruh hati padanya. Lebih baik Kayla diam saja, setelah Reno selesai bicara Kayla akan langsung pamit pulang. Anggap saja ini pertemuan terakhir mereka, jika pun Reno mengatakan dia akan bersujud, coba saja dilakukan. Kayla ingin tahu apakah pria itu memang benar-benar mencintainya atau karena dasar lain? Kayla menarik napas, dia menetralkan suhu yang semakin mendingin. Dia... terkejut ketika Reno sudah bersimpuh di bawahnya, memegang erat pergelangan kakinya dan terus mengucapkan kata-kata yang Kayla sukai. "Kayla, saya sayang kamu." Reno... terus bersujud. Karena Kayla merasa dirinya sudah keterlaluan. Akhirnya dia berdiri, mengajak Reno berdiri juga hingga mereka saling berhadapan tanpa bisa memalingkan mata mereka masing-masing. "Saya tidak ingin tahu, kamu harus sayang dan cinta sama saya." Reno menampilkan puppy eyes-nya, dia memegang lembut kedua pipi tirus Kayla. "Kalo sampai kamu tidak suka sama saya, saya tidak bakal mau makan, kerja bahkan mandi. Ini janji saya, apa kamu masih tidak percaya?" Kayla terpaku, dia merasa diancam namun hal itu yang membuatnya tersenyum sekarang. Jika Reno saja bisa bersimpuh di kakinya tanpa tahu malu, apakah Reno bisa mewujudkan ucapannya untuk mogok makan, mandi dan kerja setelah janjinya barusan? Tentu saja iya. "Kak Reno kenapa ngomong gitu sih?" "Kamu harus panggil nama saya saja Kay, yang boleh panggil saya 'kakak, tuan, bapak, bahkan om' itu cuma orang lain, dan kata-kata itu tidak pantas buat kamu." Kayla menggeleng, apakah secepat ini? Kenapa semuanya langsung berubah secara drastis? "Kepala ka-kamu kebentur tembok ya?" tanya Kayla. Reno menggeleng lucu, dia memainkan bibirnya seakan-akan ingin menangis. "Hari ini kamu harus jadi pacar saya, gak boleh jawab enggak. Saya memaksa dan kamu bolehnya cuma jawab iya." Reno tidak memedulikan pertanyaan Kayla, menurutnya itu tidak penting. Toh, Reno yang sebenarnya memang seperti anak kecil, kan? Namun dia selalu memilah orang untuk menampilkan kelakuannya yang bahkan lebih manja dari bocah. Bahkan, ini kali pertama Reno memperlihatkan kelakuan aslinya di hadapan orang. Lebih tepatnya di hadapan calon masa depan yang sudah ada dalam genggaman tangannya. "TERIMA AJA LAH KAY! KASIAN GUE NGELIATNYA. HAHAHA~" Rere berteriak, sejak kapan perempuan itu ada di rumah? Kayla langsung menatap Rere, sahabatnya semakin tertawa hingga terpingkal setelah menyaksikan drama yang telah dibuat oleh kakaknya. Rere pun tidak menyangka dengan ucapan dan kata-kata Reno yang dengan mudahnya terlontar pada Kayla. Reno berlalu pergi, tanpa pamit dan mengucapkan sepatah kata pun untuk adik dan calonnya. Dia... malu. *** Kayla sudah berada di kamar Rere setelah kejadian memalukan tadi. Sebenarnya Kayla menolak, namun Rere tetap bersikeras melarangnya pulang dengan alasan di luar sedang hujan deras dan guntur-guntur pun saling bersahutan. Setelah dilihat, cuacanya memang tidak mendukung. Walaupun begitu, Kayla memilih untuk keluar ke balkon kamar Rere dan menikmati angin hujan yang terus menembus kulitnya perlahan-lahan. Kayla tidak menyadari jika balkon kamar Rere dan balkon kamar Reno tidak memiliki batas apa pun selain pagar tembok yang kecil. Tanpa sadar pula mata Kayla menatap ke arah balkon Reno. Betapa terkejutnya ketika mata mereka beradu kembali. Reno melihat Kayla dengan begitu dingin, pria itu terlihat marah dengan Kayla. Namun, ketika mulut Kayla bergerak untuk menegur dan meminta maaf, Reno justru meninggalkan balkon kamarnya dan menutup pintu dengan kencang. Kayla masih tetap berdiri di tempat yang sama, rupanya dia sudah terpengaruh dengan aura yang Reno pancarkan. "KAYLAAAA! HAPE LO BUNYI TERUS NIH." Suara itu berhasil membuatnya terkesiap. Kayla memasuki kamar Rere dan mengambil ponselnya. Ada sebelas pesan masuk dari Reno. Pantas saja Rere merasa terganggu. Kak Reno : maaf Kak Reno : maaf karena perlakuan yg tadi Kak Reno : bisa ke kamar saya sekarang? Kak Reno : saya butuh kamu kay Kak Reno : kayla Kak Reno : kayla, kamu bisa ke kamar saya? Kak Reno : kayla saya minta maaf Kak Reno : ingat, jgn panggil saya kakak Kak Reno : saya tidak suka Kak Reno : cepat ke kamar saya Kak Reno : saya ingin membahas kesalahpahaman yg tadi Kesalahpahaman, ya? Kayla langsung tersenyum kecut, hatinya mencelos. Rupanya pernyataan yang Reno berikan tadi hanya lah kesalahpahaman? Beruntunglah Kayla belum menjawabnya. Tetapi... kenapa rasanya pedih sekali? Dadanya sesak bukan main, bahkan untuk menuju ke kamar Reno saja sangat tidak mungkin dilakukan jika itu hanya membahas kesalahpahaman yang membuat hatinya terluka. Tanpa sadar... Kayla mengharapkan hal yang lebih. "Kay, gue mandi dulu ya. Lo jangan pulang, awas aja lo!" Rere mengancam, dia langsung menuju kamar mandi dengan handuk yang sudah disampirkan di bahunya. Kayla hanya mengangguk, dia melihat derasnya hujan dari jendela kamar Rere. Tidak terlalu deras, guntur pun sudah tidak bersahutan lagi. Mungkin lebih baik Kayla pulang saja, dia tidak peduli dengan ancaman Rere. Toh, hatinya sudah merasakan sakit seperti dicampakkan. "Gue... pulang, Re," lirihnya. Kayla terus berjalan, dia sudah berada di hadapan pintu keluar. Matanya memburam karena air mata yang menumpuk di pelupuk. Bahkan, Kayla sudah bertekad untuk tidak kembali lagi dan berharap bisa melupakan Reno. Tangan kanannya berhasil memegang knop pintu yang mewah, namun ada satu tangan lain yang berhasil menghalangi niatnya untuk keluar dari rumah sahabat dan pria yang tanpa sadar telah membuatnya jatuh hati. "Jangan pulang, saya tidak bisa berlama-lama tanpa kamu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD