4. Kencan bersama Om

1210 Words
"Kamu... ingin pesan apa lagi?" Reno bertanya, menatap iris cokelat madu lawan biaranya dengan senyuman yang terus mengembang sejak awal mereka berada di restoran berbintang. Kayla hanya diam, banyak sekali menu yang dipesan Reno membuatnya terus mengelus perut pertanda kekenyangan. Kayla... tidak bisa menampung lebih banyak makanan lagi. "Udah cukup, Kak, Kayla udah kenyang." Reno mengangguk, lagi-lagi pria itu terus mengulas senyumannya. Membuat nilai plus pada diri Reno menjadi berkali-kali lipat. Untuk yang pertama kalinya, Kayla memandang lama wajah Reno, pria itu ternyata tampan juga, ya? Kalau dibandingkan dengan cerita Rere yang selalu bercerita jika kakaknya memiliki sikap yang dingin, Reno yang saat ini duduk berhadapan dengan Kayla adalah Reno yang ramah dan friendly, bukan Reno yang angkuh dan penuh misteri. "Kak Reno, kenapa rekan bisnisnya belum dateng juga?" tanya Kayla. Reno tersenyum lagi. Dia lupa dan dia juga sengaja kalau makan siangnya hari ini sangat khusus untuk mereka berdua. Reno sudah menjalankan acara makan siangnya dengan rapi, Kayla pun tak menaruh curiga yang lebih. "Ngh, saya lupa kasih tahu kamu kalau pertemuan dengan saya dengan client pindah di kantor, bukan di sini," jelas Reno. Kayla mengangguk saja, perempuan itu langsung membuka ponselnya karena ada pesan masuk dari Rere. Rereee: Kay, lo lagi di mana? "Siapa?" tanya Reno. Pria itu menaruh rasa penasaran, takut kalau ada pria lain yang ikut mendekati miliknya. Eh, calon miliknya. Karena ketika Kayla membuka ponsel, perempuan itu terlihat girang sekali. "Um, ini Rere, Kak." Kayla berkata jujur membuat Reno mengangguk. Reno mulai menyapu pandangannya, sudah banyak pengunjung yang datang ke restoran ini. Banyak pasang mata pula yang melihat Kayla dengan tatapan aneh, Reno yang menyadari itu mulai terusik, walaupun dia juga ditatap demikian oleh kaum hawa. "Kayla, lebih baik kita langsung ke kantor saya." Reno menggandeng tangan perempuan yang masih asyik memainkan ponselnya, tanpa sadar pula Reno berjalan dengan lancar, tidak tertatih seperti sebelumnya. Kayla terus menatap kaki Reno. Sesampainya mereka di dalam mobil, Kayla baru memberanikan diri untuk bertanya, "Kak Reno kakinya udah sembuh?" Reno... terpaku. "Tuan, kita menuju kantor atau bagaimana?" Sopir pribadi Reno bertanya. Reno bernapas lega, dia bisa mengalihkan topik pembicaraan Kayla. "Ya." Namun dugaannya salah, Kayla terus menanyakan pertanyaan yang tadi. "Kak Reno kakinya udah sembuh?" "Belum." "Tapi kenapa Kak Reno bisa jalan seleluasa tadi?" Kayla curiga, dia mulai menatap lekat-lekat wajah Reno. Namun tatapannya hanya dibalas tawa kecil oleh pria berusia dua puluh delapan tahun itu. Kayla... mulai menaruh hati untuk Reno. Tapi, itu tidak boleh terjadi. Kayla tidak boleh menyukai kakak sahabatnya, dia tidak mau dan dia juga tidak cinta dengan Reno. Kayla terus menyangkal perasaannya, pertemuan mereka pun masih bisa terhitung jari. Kayla juga tidak yakin kalau Reno akan mencintai gadis seusianya yang masih labil, lebih baik Kayla mengenyahkan pikiran nakal itu dan menatap keluar kaca mobil. "Saya akan menjelaskannya nanti, Kayla." *** Kayla jadi merasa bosan. Aneh juga, kenapa Reno memercayai orang asing yang sudah dari dua jam yang lalu menunggunya di ruangan pribadi pemilik perusahaan? Apakah itu tidak aneh? Banyak sekali dokumen-dokumen penting yang tertata rapi di atas meja besar itu. Reno juga menitipkan sebuah amanat pada Kayla jika perempuan itu tidak boleh keluar dari ruangan kerjanya. Makin aneh saja, kan? Tapi kenapa Kayla merasa nyaman diperlakukan seperti ini? Kayla... tersenyum sendiri, dia seperti jatuh cinta. Pintu terbuka, menampilkan Reno dan sesosok sekretaris cantik ber-modis yang mengikutinya dari belakang. Melihat itu, Kayla menjadi... insecure. Dia langsung mengenyahkan perasaannya untuk Reno, Kayla juga berpikir bahwa Reno hanya tertarik dengan yang ber-modis dan bertubuh seksi. Sedangkan Kayla? Dia hanya gadis yang baru lulus, dia tidak memiliki badan semontok sekretaris Reno. Kayla juga tidak bisa berpenampilan menarik seperti itu, bahkan ini kali pertamanya Kayla memakai mini dress, itu pun pemberian dari Reno. "Pak, besok pagi Anda meeting dengan client dari Malaysia." Sekretaris itu memberitahu Reno. Reno menatap sekretarisnya tanpa berkedip. "Baik." Tapi... kenapa rasanya sakit sekali. d**a Kayla seperti tertusuk jarum. Tidak mungkin kan jika dia sudah jatuh hati pada Reno? Semoga saja tidak, Kayla tidak mau hal itu terjadi. Kayla harus ingat bahwa kehadirannya hanya sebatas pelaku dari adegan penumpahan air panas kemarin pagi, dan dia hanya bertugas mengurus Reno sampai sembuh. Setelah itu, Kayla tidak akan mau bertemu Reno lagi. Tapi, kenapa Kayla harus semarah ini? Dia tidak berhak untuk marah. Dan... yang berhak marah itu hanya Reno, karena ulahnya, Reno jadi terdiagnosis tidak bisa berjalan. Berjalan ya? Kayla lupa menanyakan itu, dia langsung menatap Reno yang sudah memerintahkan sekretarisnya untuk keluar, Kayla merasa lega. "Kak Ren--" "Sudah saya bilang, kan? Sudah berapa kali pula saya ingatkan untuk tidak memanggil saya dengan sebutan kakak. Saya bukan kakak kamu, kamu hanya boleh memanggil saya dengan sebutan nama." Reno memotong ucapan Kayla. "Karena kamu tetap melanggar peraturan yang saya buat, maka saya tidak akan memberi jawaban untuk pertanyaan di mobil tadi sampai saya sendiri yang menjelaskannya." Reno mulai menatap Kayla, pria itu langsung berjalan ke arah sahabat adiknya. Reno... mendekatkan bibirnya pada telinga Kayla. "Maaf, kamu harus lebih lama sama saya." Karena saya tidak bisa kehilangan kamu. Dua jam meninggalkan kamu sendirian di sini pun rasanya sulit sekali. Saya sangat mencintai kamu. Suara pintu terbuka dengan begitu cepat, menampilkan seseorang yang tidak bisa berkutik karena menyalahartikan kedekatan kakaknya dan Kayla. "Kak- Reno!" Itu suara Rere. "KAK RENO NGAPAININ KAYLA, HAH?!" Bahkan kehadiran Rere bukan lah waktu yang tepat. Dalam keadaan Reno yang mendekatkan tubuhnya pada Kayla serta Kayla yang hanya diam tak berkutik membuat Rere tidak menyangka. "Keluar!" perintah Reno. Rere berdecap, dia takut sahabatnya diapa-apakan oleh kakaknya yang sudah dia anggap sebagai pria paedofil kelas atas. "Cih, apa-apaan tuh!" "Rere, keluar!" perintahnya lagi. Kamu mengganggu saya, mengganggu kebersamaan saya dengan Kayla. "Oke-oke Rere keluar." Rere menatap mata Kayla, sahabatnya yang masih saja diam membeku. "Kay, hati-hati ya." Rere mengingatkan. "Keluar!!!" Reno berkata tegas, pria itu menatap sengit ke arah adiknya yang masih berdiri diambang pintu. Hingga akhirnya Rere keluar setelah mencibir. Reno yang melihat Kayla justru ketakutan, dia langsung duduk di samping gadis yang akan menjadi miliknya. "Kayla... bukan seperti itu maksud saya." Bahkan Kayla bisa menilai sendiri, perlakuan Reno terhadapnya dan perlakuan Reno terhadap adiknya itu berbeda. Kayla... semakin tenggelam. Kayla masih terus diam, perempuan itu menatap lurus ke depan. Bukan karena takut, Kayla justru tengah mengusir pikiran-pikiran jahat bahwa dirinya akan mencoba memiliki Reno. "Kayla, kamu takut pada saya?" tanya Reno. Pria itu menatap Kayla dari samping. Kayla menggeleng. Dia masih tidak bisa menjawab, perasaannya tidak bisa terkontrol. Ada banyak keinginan di sana yang tidak mungkin Kayla umbar bahwa Kayla sudah mencintai Reno karena perlakuan pria itu. Walaupun pertemuan mereka hanya sesingkat puisi, tapi dia sudah merasakan hawa cinta dari dalam tubuh Reno. Entah Kayla yang memang terlalu berharap atau justru Reno yang memang baik ke seluruh wanita? "Kak Reno, Kak Reno ngga suka 'kan sama Kayla? Jawab iya Kak." Dihantui perasaan sendiri membuat Kayla harus menahan pahit. Kayla harap Reno akan menjawab 'Iya' dan semuanya akan segera selesai, karena dengan jawaban itu Kayla dapat mengusir Reno dari hatinya yang baru saja singgah. "Iya," kata Reno. Tapi... ini benar-benar pengakuan yang berhasil membunuhnya secara perlahan. Kayla jadi menderita dengan pertanyaannya sendiri. "Iya, saya tidak suka dengan orang-orang yang selalu memperhatikan kamu dan saya cinta sama kamu, Kayla. Jangan pergi dari saya, sulit rasanya harus meninggalkan kamu sendiri di sini." Reno melanjutkan ucapannya. Kayla... diam membisu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD