"Halo, Kay!!!" Rere memanggil sahabatnya melalui sambungan telepon yang baru saja terhubung.
"Iya, Re. Kenapa?"
"Lo cepetan ke rumah gue!!! Kak Reno kakinya makin parah sampe dia gak bisa jalan!" Rere mengadu, berharap Kayla khawatir atas kesalahannya kemarin pagi.
"Hah--!"
Tut!
Sambungan telepon dengan sengaja diakhiri oleh Rere atas perintah seseorang. Membiarkan Kayla semakin merasa bersalah dan kelimpungan sendiri di sana.
"Puas?!" Rere menatap sinis ke arah kakaknya.
Reno yang sejak tadi hanya menyimak dialog antara adik dan calon masa depannya itu mulai tersenyum tipis. Menikmati kedongkolan Rere yang muak dengan misi perjodohan yang kakaknya inginkan.
Bagaimana tidak! Reno hanya tersiram air panas dan pagi ini pria itu meminta Rere untuk menyampaikan berita pada Kayla bahwa sulung Athalas terdiagnosis tidak bisa berjalan?! Sedangkan, kemarin pagi Kayla sudah mengobati kaki Reno dengan obat-obatan yang terjamin sembuh, efektif dan efisien bagi kalangan atas.
"Great!"
"Awas aja kalo sampe bikin Kayla kenapa-napa, dia sahabat gue yang paling pengertian!" Rere mengoceh. "Lima belas menit lagi kayaknya dia bakalan sampe. Gue mau ke minimarket. Awas aja lo!"
"Berisik, keluar." Reno berujar dingin, membuat Rere langsung pergi dan membanting keras pintu kamar sulung Athalas.
Sudah lima menit berlalu Reno hanya merebahkan diri di kamar, menunggu baby sitter yang akan mengurusnya datang. Jika dibayangkan, lucu juga ya? Reno sudah besar, bahkan dua tahun lagi dia akan menginjak kepala tiga, dan sebentar lagi pula dia akan memiliki seorang baby sitter! Ck, pantaskah jika Reno disebut sebagai pria dewasa?
Tok! Tok! Tok!
Reno menatap pintu kamarnya, melihat knop pintu yang mulai bergerak.
"Kak Reno... beneran ngga bisa jalan?"
Orang itu menyembulkan kepalanya dari luar kamar, dia menatap Reno yang juga menatapnya.
Yeah! Yang mengetuk pintu kamarnya adalah Kayla, dan itu membuat Reno bersorak ria di dalam hatinya.
Kayla langsung memasuki kamar Reno. Perempuan manis dengan pakaian yang kelewat santai itu datang lebih cepat dari perkiraan waktu yang sudah ditentukan oleh Rere.
Reno tidak ingin menjawab pertanyaan dari Kayla. Dia akan bersikap cuek seakan-akan tengah menaruh kekesalan yang besar pada Kayla. Reno pun memejamkan mata, membuang muka ke arah lain yang tidak bisa dijangkau oleh Kayla yang masih berdiri jauh darinya.
Dan di sini, di kamar ini Kayla dan Reno menjadi canggung.
"Kak Reno," panggil Kayla. Dia langsung berjalan mendekat ke arah Reno. Ah... lebih tepatnya ke arah kaki Reno. Matanya menyapu ke arah luka yang tidak terlihat parah, tetapi, kenapa Rere bisa berkata bahwa Reno terdiagnosis tidak bisa berjalan, ya?
Dengan napas yang ugal-ugalan karena gugup dan... takut. Kayla memberanikan diri untuk memegang kaki Reno.
"Kayla... bener-bener minta maaf, Kak."
Mata cokelat madu itu meneliti di mana bagian luka yang parah, tetapi, Kayla tetap tidak menemukannya. Justru dia melihat bulu-bulu kaki Reno yang tebal, serta bekas kemerahan yang sudah memudar. Lantas, apa yang harus Kayla lakukan saat ini?
"Kak, mau Kayla buatin s**u hangat?" Kayla bertanya, dari pada harus merasa canggung berada di ruangan ini, lebih baik Kayla pergi untuk membuatkannya s**u hangat, kan? "Kalo Kak Reno mau, Kayla bakal buatin. Kak Reno udah makan atau belum?"
Blush!
Reno membuka matanya, dia bergerak untuk duduk membelakangi Kayla.
Dan... apa-apaan ini! Dengan begitu mudahnya Kayla berhasil membuat pipi Reno memanas.
"Kalo kamu mau membuat s**u hangat, silakan. Saya juga belum makan, tapi sehabis itu kamu langsung kembali ke sini, temani saya sampai waktu yang akan saya tentukan."
Kayla... mengangguk. Seperti ada yang aneh dengan kata-kata pria dua puluh delapan tahun itu. Tetapi, Kayla tidak ambil pusing, toh tujuannya ke sini hanya untuk merawat Reno saja. Setelahnya, dia akan pulang.
Itu pun kalau bisa pulang dengan perasaan yang baik-baik saja.
"Kalo gitu, Kayla ke dapur dulu."
Reno diam, setelah mendengar suara pintu tertutup, pria itu langsung berjalan santai ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
Sama seperti kemarin, Reno memandangi wajahnya kembali di cermin.
"Harus profesional. Tidak boleh terbawa suasana untuk sekarang." Reno bermonolog, seakan-akan tengah menyembunyikan sikap dan sifatnya yang asli tanpa ada seorang pun yang tahu.
***
Pukul sepuluh pagi.
"Kayla, hari ini saya ada meeting, kamu bisa temani saya."
Tidak-tidak. Itu bukan sebuah kalimat ajakan, lebih tepatnya kalimat perintah tanpa tanda seru. Kayla... ingin menolak, dia lapar. Tapi apa boleh buat, kan? Kayla tidak mungkin mengingkari janjinya untuk merawat Reno. Jadi mau tidak mau Kayla menjawab, "Iya, Kak."
"Jangan panggil saya kakak, saya bukan kakak kamu." Persis seperti pertemuan kemarin, Reno berucap seperti itu. "Panggil saya Reno, saya tidak suka dibantah."
Reno... jadi banyak maunya.
"I-iya."
"Iya apa?" Reno bertanya.
Kayla diam.
"Iya apa, Kayla?" Reno bertanya lagi.
"Iya Kak Reno."
Reno berdecap. Dia berjalan tertatih menuju cermin besar yang berada di pintu lemari. Reno berkaca, membenarkan jas hitam dengan kemeja cokelat s**u yang sudah dia kenakan sebagai pelengkap pakaian kerjanya.
"Ucap sekali lagi, Kayla. Kamu panggil saya apa?"
"Ngh--" Kayla bingung sekali, tidak sopan jika harus memanggil Reno tanpa embel-embel kakak di depannya. "I-iya, Reno."
"Nice! Gadis penurut." Reno tersenyum megah. "Sekarang kamu ganti baju, kita akan ke kantor."
Kayla memandangi pakaiannya sendiri. "Tapi--"
"Bajunya sudah disiapkan."
Reno membuka lemarinya, mengambil kotak berwarna cokelat pastel lalu memberikannya pada Kayla. "Saya tunggu di sini, kamu bisa ganti baju di toilet."
"I-iya."
Kayla menuruti apa yang sudah Reno katakan. Perempuan manis itu terlihat gugup sekarang. Kenapa dia diperlakukan seperti ini? Reno... sangat berbeda dengan Reno yang diceritakan Rere jika dibandingkan dengan Reno yang saat ini sedang bersama Kayla.
Apa Rere berbohong, ya?
"Halo, Re."
Kayla memulai sambungan teleponnya bersama Rere.
"Kenapa, Kay? Kak Reno ngejahatin elo ya?"
Kayla menyengit, "Engga kok, cuma gue bingung, kok gue disuruh ganti baju ya?"
"HAH APA?! LO DISURUH BUKA BAJU? GILA TUH KAKAK GUE--"
"Bukan Re! Bukan gitu maksudnya." Kayla, menggigiti buku jarinya, dia berbicara sambil berbisik. "Gue diajak ke kantor kakak lo, disuruh ganti baju dari pemberian dia, dan gantinya juga di kamar mandi kok."
"Oooh, yaudah ikut aja lah. Gue lagi mampir di salon nih, lagi menikyur-pedikyur. Gue kira lo mau ditelanjangin. Udah ah jangan ganggu gue."
Tut!
Apa katanya?! Rere lagi bersenang-senang di salon padahal dia tahu jika kakaknya sedang sakit?
Kayla menghela napas, dia bercermin di kaca, memegang rambut sebahunya lagi yang masih saja rontok. Dari pada harus bingung sendiri, lebih baik dia langsung mengganti bajunya dengan pakaian yang diberikan Reno.
Kayla mulai membuka kotaknya.
Dia tersenyum senang melihat mini dress yang sudah dilengkapi dengan heels dan mini bag yang cantik.
Setelah selesai mengenakan pakaian, Kayla membuka pintu kamar mandi, sesaat itu juga tatapan mata mereka beradu. Seakan-akan saling mengagumi satu sama lain.
"Kayla." Reno langsung memanggil.
"I-iya Kak Reno."
Kamu cantik sekali, saya sangat suka. "Sebagai hukuman karena kamu tetap memanggil saya kakak, kamu harus temani saya makan siang dengan client."
Kenapa... Reno tidak mengajak sekretarisnya saja?